Gia dan Jessi

2013 Words
Jessica J: Gi, lo main ke apart gue ya! Satu pesan itu masuk dua puluh menit yang lalu dan Gia baru membacanya sekarang. Great! Tidur pulas membuatnya lupa aktivitas hari ini. Gia terlalu menghayati tidurnya sampai lupa bangun. Ah, tapi bukannya tadi sebelum memejamkan mata ia meminta agar Tuhan tidak membuka maniknya lagi? Lalu kenapa sekarang??? Ck! Ternyata Gia belum mati. Gia Sarasvati: maaf baru bls. Gia Sarasvati: gue ke apart lo sekarang? Gia Sarasvati: masih berlaku nggak sih? Sementara menunggu jawaban Jessi, Gia beranjak dari kasur lantainya. Ia keluar kamar dan bergegas menuju kamar mandi. Tidak mandi. Hanya untuk cuci muka dan gosok gigi. Gia beruntung memiliki paras cantik meski jarang mandi. Ia hanya perlu membasuh muka, memakai day cream dari klinik kecantikan, serta menyemprot parfum mahal ke seluruh tubuhnya saja. Ajaibnya hanya dengan melalukan tiga hal itu orang-orang tidak mengira kalau Gia tidak mandi. Jessica J: Masih dong! Langsung aja ke apart gue aja. Gia Sarasvati: ok bentar lagi gue otw. Jessica J: Siap gue tunggu di apart! Gia sudah keluar dari kamar mandi. Bertepatan dengan kembalinya ia ke kemar saat itu pula balasan Jessi masuk. Ia membaca dan membalasnya. Setelahn membaca balasan terakhir Jessi, Gia mematikan ponsel. Aktivitas yang dilakukan selanjutnya adalah memakai day cream ditambah dengan sedikit blush on dikedua pipi serta mewarnai bibirnya dengan lipstik warna nude. Gia tidak terlalu suka warna menyala. Ia akan menggunakan gincu menyala jika menghadiri acara-acara tertentu. Menemui pelanggan masuk ke dalamnya. Setelah merias wajahnya sedemikian rupa akhirnya Gia selesai juga. Ia mengakhiri aktivitas dengan menyemprot parfum mahal ke seluruh tubuh. Gia tersenyum ke arah cermin. Ia kembali mengucap syukur karena Tuhan memberinya wajah yang cantik. Tak lama kemudian senyumnya memudar. Ia meraba seluruh bagian wajahnya. Semua yang ada di wajahnya ini kombinasi dari Brian dan Widuri. Nama kedua orang itu... Lupakan! Gia benci dengan dua nama itu. Gia keluar kontrakan. Ia bersiap menaiki kendaraanya. Tapi belum sempat naik telinga Gia sudah mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak. "Itu ye si anak kost yang katanye pulang pagi." "Iya, Mpok. Kite liat aje palingan sebulan dua bulan perutnya bakalan mblendung ke depan." "Oh ntu cewek yang katanye Mpok Milah anaknya si pejabat? Elah sok-sokan pejabat. Pejabat paan yang ngebiarin anaknya tinggal di kontrakan." Selama ini Gia tidak pernah mendengar warga kampung membicarakannya. Selama ini ia dikenal sebagai anak kost baik. Gia mudah bergaul. Kalau ada acara yang mengharuskan semua anak kost hadir, ia akan datang. Intinya Gia suka bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu. "Pejabat nyang suka makan duit rakyat. Kenapa dia tinggal di sini? Karena bapaknya udah ketangkep. Gitu sih cerita nyang gua denger dari Mpok Milah." ucap si wanita berdaster bunga. Kalimat itu berhasil membuat kedua tangan Gia terkepal. Ia tak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Bisa-bisa nanti hatinya terbakar amarah. Lalu hal yang tak diinginkan terjadi. Gia menggelengkan kepala. Daripada mengobati lebih baik mencegah. Untuk itu ia segera pergi dengan motornya. "Mari, Bu." walaupun kesal dengan sekumpulan ibu-ibu tukang rumpi, tapi Gia masih punya tata krama. Ia tidak bisa melewati segerombolan manusia kurang kerjaan begitu saja. Jadilah Gia terpaksa berpamitan pada mereka. "Iya silakan, Neng." jawab salah satu ibu dari gerombolan itu. Gia pun pergi. Ia pergi dengan ditemani air mata sepanjang perjalanan menuju rumah Jessi. Gia menangis lagi? Ck! Ia janji ini adalah air mata terakhirnya. Setelah ini Gia benar-benar tidak akan menangis lagi. Janji! ... Jakarta gerimis tipis. Sejuk dirasakan oleh sukma Gia. Rasanya ia ingin berlama-lama di luar ruangan. Membiarkan air matanya bersatu dengan air hujan. Biar tak disangka habis menangis. Sayangnya Gia tak bisa berlama-lama karena Jessi sudah menunggunya di minimarket apartemennya. Gia turun dari motor lalu jalan menuju minimarket tujuan. Ia tak perlu bersusah payah mencari keberadaan Jessi karena cewek itu sudah duduk di salah satu kursi yang disediakan. Menyadari kehadiran Gia, Jessi berdiri. Ia menyapa temannya dengan cipika-cipiki khas perempuan. "Giaaa!" sapanya girang. Jessi memang sedang berbunga sore ini. Bagaimana tidak jika beberapa jam lalu setelah pertemuan di caffe Ulala ia berhasil membawa pulang satu dari tiga pria tampan pujaan mahasiswi universitasnya. Setelah sekian lama akhirnya Jessi bisa kembali merasakan kejantanan Giri. Ia puas. Sangat puas. Saking puasnya, Jessi sampai ketiduran karena kelelahan. "Udah nunggu lama ya, Je?" tanya Gia bergabung di kursi sebelah Jessi. Yang ditanya menggelengkan kepala. "Nggak juga sih. Baru juga mau ngabisin satu keripik kentang sama saru setengah botol softdrink." jawabnya. Gia meringis. Ternyata perjalanannya menuju apartemen Jessi ditempuh dalam waktu yang cukup lama. "Nggak usah minta maaf. Klasik dan potensi bikin gue mual." ucap Jessi membuat Gia mengurungkan niat untuk mengucap dua kata itu. "Oke." balas Gia berjeda. "Ada perlu apa lo minta gue datang, Je?" sambungnya menatap wajah si lawan bicara. Sebelum menjawab Jessi lebih dulu meneguk softdrinknya hingga tak tersisa. Setelah itu barulah ia balas menatap manik temannya. "Ada yang mau beli keperawanan lo." katanya memberitahu. Badan Gia menegang. Maniknya terpejam. Jantungnya berdendang. Semalam ia mendengar kalau Om Broto secepatnya akan mengambil keperawannya. Dan sekarang Gia mendengar bahwa sudah ada yang membeli mahkota berharganya? God, jangan bilang orang itu adalah Om Broto. Gia tidak mau melayani pria itu lagi. Semalam Om Bro berhasil membuatnya lelah. Gia tidak hanya dijadikan guling tidur, tapi ia juga terpaksa memberikan blowjob. Rival Brian itu memaksa Gia. Sempat terjadi tindak kekerasan tadi malam. Gia yang tidak patuh mendapat jambakan serta tamparan kasar. Om Broto memerintahkannya untuk buka mulut. Gia menangis tidak mau. Tanpa pikir panjang pria itu langsung membuka paksa mulut Gia lalu menejajalkan miliknya ke dalam mulut Gia. Jika ingat kejadian semalam, Gia ingin menangis. Memang sih sepanjang malam setelah adegan itu terjadi ia langsung menangis. Dan tangisan Gia bisa diredakan oleh Om Bro. Pria yang menyebabkan si gadis menangis ternyata sudah punya cara untuk meredakan tangisan. Sisa tadi malam Om Bro memeluk tubuh Gia dari belakang. Ia juga menciumi telinga serta leher mulus sugar babynya. Om Bro juga membisikan kalimat menenangkan juga janji manis. Berhasil. Cara itu berhasil membuat Gia berhenti menangis dan berhasil membuatnya tertidur pulas. "Lo akan dapat imbalan nominal tinggi, Gi. Seharga Iphone X Max." ucap Jessi membuat manik Gia terbuka. Ah, iya tadi karena Triple G meminta 'diskon' akhirnya Jessi sedikit meringankan harga. Yang tadinya seharga iphone 11 pro sekarang berubah seharga ip pro max. Itu semua juga karena iming-iming Giri. Kalau saja tadi cowok itu tidak tidur dengan Jessi mungkin harga keperawanan Gia masih sama. Beruntungnya Jessi bisa diluluhkan. "Lumayan 'kan Gi. Lo dapet delapan puluh persen dari hasil awal. Belum lagi kalau lo dapet uang tip. Masalah uang tip itu sepenuhnya jadi hak lo." jelas Jessi. Gia tertarik. Lumayan juga delapan puluh persen. Tapi yang jadi masalahnya adalah siapa pria itu? Siapa pria yang berani membeli keperawanan Gia dengan harga mahal? Ck, tapi seharusnya kesucian Gia lebih mahal dari itu. Mahkota dan harga dirinya lebih mahal dari apapun yang ada di dunia. "Gimana, Gi?" tanya Jessi. Gia menerjapkan mata. "Kalau gue boleh tahu siapa orangnya?" jawabnya hati-hati. Jessi langsung menatap Gia. Hal itu membuat suasana menegang. Jantung Gia semakin berdebar. Jessi memajukan badannya ke arah temannya. "Ada. Nanti gue kirimin kontak WAnya." "Bukan Om Bro 'kan?" respon Gia. Dahi Jessi mengerut. "Om Bro? Lo suka sama dia?" tanyanya. Gia menggelengkan kepala, cepat. "Gue nggak mau main sama Om-Om lagi, Je. Lain kali kalau ada klien jangan yang Om-Om ya." Senyum Jessi tersungging. "Kenapa? Enak tau main sama Om-Om tuh! Mainnya cuma bentar, tapi dapat uang tip banyak." Sekali lagi Gia menggelengkan kepalanya. "Enggak deh, thanks." Kali ini bukan senyuman lagi yang Jessi tampilkan, tapi kekehan. Ia terkekeh karena Gia. Entah kenapa melihat gelagat temannya membuatnya beropini bahwa sudah terjadi sesuatu dengan Gia. Jessi tidak akan bertanya kenapa karena tadi siang Om Bro sudah menceritakan. "Tadi dia hubungin gue pengen pake jasa lo lagi." ucap Jessi menjauhkan tubuhnya. "Terus?" "Sayangnya lo udah dikeep sama seseorang. Jadi, ya gue bilang lain kali aja." jelas Jessi. Gia menghembuskan napas lega. Sepertinya ia harus berterimakasih pada seseorang yang sudah menyelamatkannya dari Om Bro. Gia tersenyum. Setidaknya ia tidak perlu melayani pria seumuran sang papa. "Gue kirim kontak sekarang ya, Gi. Lo hubungin dia dulu. Tanya mau ketemuan di mana gitu." ucap Jessi. Gia menganggukan kepala. Ia meraih ponsel yang tadi ada di dalam sling bag hitamnya. Tak lama kemudian satu kontak bernama Giri masuk. Tanpa pikir panjang Gia langsung mengirim pesan pada si Giri-Giri itu. Sembari menunggu balasan ia kembali berbincang dengan Jessi. Banyak yang dibicarakan. Terlebih soal fashion dan kecantikan. Jessi menanyakan apa saja yang terlintas dalam benaknya. Selama ini ia penasaran dengan sosok Gia. Dan sore menjelang malam ini Jessi tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bertanya tentang apa saja. Termasuk soal berita tentang Ayah Gia. "... Jadi, apa yang gue denger itu benar?" akhir Jessi mencari kebenaran. Gia menahan napasnya untuk beberapa detik. Mungkin sekitar lima detik hingga akhirnya dihembuskan kasar. "Gue percaya lo, Je. I think sudah saatnya gue mengakhiri kebohongan ini." berjeda. Bagi Gia ini adalah hal yang sulit. Tapi ia juga tidak bisa menutupi sebuah kebenaran dalam waktu lebih lama. Gia bukan tipe manusia pandai menutup-nutupi. Sudah satu tahun lebih ia berpura-pura. Mungkin ini sudah saatnya mengakhiri semua. "Iya. Bokap gue ketangkep karena kasus korupsi." Brian Ksatria Mahendra. Salah satu anggota dewan yang terbukti menerima uang dari proyek pembangunan jalan. Tidak banyak yang diterimanya. Ia hanya menerima setengah dari uang yang seharusnya diterima. Satu sisi Brian menikmati, sisi lain juga merasa takut. Dan nasib buruk menimpanya. Banyak rekan satu partai dengannya sudah tertangkap. Brian tak sempat melarikan diri. Tepat malam perayaan ulang tahun istrinya, ia ditangkap. Brian pun mendekam dibalik jeruji besi. "Yang sabar ya, Gi." kalau boleh jujur, Jessi merasa kesal. Pada Brian juga Gia. Mereka berdua adalah dua manusia tidak tahu diri. Manusia yang tak pernah merasa puas hingga mengambil hak oranglain. Satu sisi Jessi senang karena penjahat negara seperti Brian tertangkap, tapi satu sisi ia ikut bersedih. Jessi tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orangtua. Tidak enak. Dan hal itu yang sedang dirasakan Gia. "Im okay, Je." jawab Gia. "Rasanya pasti nggak enak ya, Gi?" manik Jessi mulai berkaca. "Hidup yang awalnya enak. Bergelimang harta. Dilimpahi kasih sayang kedua orangtua. Hingga dalam sekejap mata semua sirna gitu aja?" sambungnya menatap Gia. Sebuah luka mulai terpancar dari manik Jessi. "Nasib gue hampir sama kayak lo. Bedanya bokap gue nggak senekad Om Brian." berjeda. "Bokap gue juga pejabat di daerah Jawa. Awalnya keluarga kami baik-baik saja hingga akhirnya bokap ketahuan selingkuh." sambungnya tersenyum miris. "Gue nggak tahu ini kebetulan atau apa, tapi lo pernah mikir nggak sih kenapa para petinggi negeri atau pekerja negeri kebanyakan pengkhianat? Pernah mikir nggak kenapa mereka pada serakah?" "Gue dan lo jadi kayak gini juga bukan berasal dari kemauan kan, Gi? Gue jadi wanita kek gini karena pengen bales dendam. Gue tahu gue bodoh. Nggak seharusnya gue balas dendam dengan cara murahan kayak gini. Tapi gue udah buntu, Gi. Gue lebih baik nyakitin diri sendiri daripada nyakitin orang lain." ucap Jessi panjang lebar. Gia setuju dengan kalimat yang Jessi ucapkan. Mereka seperti ini bukan karena kemauan. Ini tuntutan hidup. Gia juga tahu kalau ini salah. Tapi ayolah disamping tuntutan ini juga sebagai pelampiasan. Sekali lagi Gia tahu ini salah. Tetapi biarkanlah. Otaknya sudah lelah berpikir. "Yang kuat, Gi. Kita harus kuat. Bukan demi oranglain, tapi demi diri sendiri." ucap Jessi mengelus punggung Gia. "Kita juga harus semangat. Mulai sekarang nggak usah pikirin omongan oranglain. Bodo amat dan cuekin aja selama kita nggak minta makan mereka." sambungnya menyalurkan energi positif. "Lo nggak sendirian. Kita nggak sendirian. Masih ada Tuhan. Gue percaya dibalik ini semua pasti ada sesuatu yang indah di depan sana." untuk kesekian kalinys berjeda. "So, semangat menjalani hari-hari, Gi! Kita pasti bisa!" Gia menganggukan kepala. "Lo bener, Je." tubuhnya beranjak. Ia berjalan menghampiri Jessi lalu tanpa izin langsung memeluknya. "Thanks!" ucapnya tulus. Sepanjang sore menjelanhg malam itu keduanya saling mendekatkan diri. Mereka bercerita tentang apa saja. Tentang luka dan kesedihan yang pernah diderita. Ternyata Gia dan Jessi punya kesakitan yang sama. Dan karena kesamaan ini tak menutup kemungkinan untuk mereka berteman dekat. Tanpa sekat. tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD