3G dan Mencari

1920 Words
Gia melangkahkan kaki masuk ke dalam kontrakan sederhananya. Pukul empat lebih dini hari. Iya, sepagi itu ia pulang ke rumah. Gia tak mau ambil pusing jika ada yang melihatnya. Kalau besok terdengar gossip yang tidak-tidak, ia hanya perlu menutup telinga dengan kedua tangan. Benar 'kan? Tangan dicipta untuk menutup telinga supaya tak mendengar hal-hal buruk yang belum tentu kebenarannya. Gia bukan manusia penyuka berita. Ia mencari berita jika ada perlunya saja. Dulunya Gia selalu up to date tentang semua berita dikalangan artis atau tentang apa saja. Tetapi semenjak Brian masuk penjara, ia mulai menutup sosial media miliknya. Gia uninstall semua aplikasi kecuali w******p. Ia yang dulunya suka menjelajahi timeline i********: juga menonton Youtube terpaksa menghapus permanen si aplikasi dari ponsel pintarnya. Gia masuk rumah bersamaan dengan suara adzan subuh berkumandang. Tadi sewaktu Gia membawa motornya masuk ke dalam gang kontrakan banyak bapak-bapak bersiap jalan ke mushola kampung. Para bapak-bapak itu menatap Gia dengan tatapan penuh penilaian. Dan lihat saja nanti pagi atau siang pasti Bu Milah akan bertandang ke kontarannya untuk memberinya siraman rohani. Tapi, persetan dengan mereka semua! Gia tak peduli. Orang-orang itu hanya bisa menilainya dari luar saja. Mereka tak tahu alasan kenapa ia—terpaksa— pulang sedini itu. Lagipula hinaan atau penilaian mereka juga tak bisa membuat Gia kenyang. Omongan pedas para tetangga tak akan memberinya uang. Jadi, biarkan. Gia tak peduli dengan apa yang terjadi nanti. Dan daripada memikirkan hal yang tidak penting mending ia mengistirahatkan badan serta pikirannya. Kalau bisa Gia ingin tertidur selamanya. Biar masalahnya hilang bersamaan dengan tertutupnya kedua maniknya. .. "Terus gimana caranya dapet cewek tipikal kita?" Giri dengan satu lembar kertas folio membuka topik obrolan. Di meja berbentuk persegi itu mereka duduk. Ganesh, Garda, dan Giri. Ketiganya baru saja menyelesaikan jam pelajaran kuliah masing-masing. Dan sama seperti hari lalu, sedudah menyelesaikan matkul mereka selalu menghabiskan waktu disalah satu kedai kopi langganan. Letaknya tak jauh dari kampus. Hanya butuh waktu lima menit jika jalan kaki dan dua menit jika membawa kendaraan. Ganesh dan Garda tak menyahuti ucapan Giri. Mereka berdua juga bingung harus mencari cewek di mana dan ke mana. "Cewek club kebanyakan kagak suka aturan. Suka dimanja. Mana ada yang mau jadi pembokat sekaligus main sama kita?" lagi, Giri kembali bersuara. Apa yang dikatakan cowok berhodie putih itu benar. Lalu mereka harus bagaimana? "Rumah bordil?" ucap Ganesh memberi usul. "Nanti kita beli ke Mami dan kontrak salah satu anak buahnya." sambungnya bersuara. Dengan cepat Garda menggelengkan kepala. "Kebanyakan cewek di rumah bordil pasti mainnya sama om-om. Lo mau masuk ke lubang bekas kakek-kakek bangkotan bau tanah?" tanyanya menatap dua temannya. "Kalau gue sih ogah!" sambungnya mengibaskan tangan. Garda juga benar. Ganesh dan Giri kembali berpikir. "Eh, gimana kalau nanya Jessi?" usul Giri. "Ah, iya Jessi!" ucap Ganesh-Garda bersamaan. "Gue pernah make cewek dari list dia. Anak buahnya. Seumuran kita dan kayaknya ada yang perawan. Soalnya gue dulu pernah ditawarin gitu." kata Giri menjelaskan. "Ya udah hubungin Jessi! Yang penting perawan deh. Soal perjanjian dan kontrak urusan belakangan." respon Garda bersemangat. Giri menatap Garda. "Masalahnya harga perawan tuh berkali-kali lipat dari harga ayam kampus biasanya." ucapnya memberitahu. "Berapa kali lipat emangnya?" tanya Ganesh. "Dulu seharga iphone 7, i think sekarang seharga ip 11 pro max yang kameranya tiga. Kek bentuk segitiga. Segitiga bermuda. Tempat tinggalnya dajjal. Hii." "Apa dah lo, Ri!" respon Garda menjitak kepala temannya. Yang dijitak mengaduh. Sempat ingin membalas, tapi tak bisa karena Garda tiba-tiba saja beranjak berdiri. Cowok itu undur diri untuk pergi ke kamar mandi. Giri pikir temannya itu hanya mau menghindari, tapi pikirannya segera ditepis ketika hidungnya mencium sesuatu. Baunya busuk. Seperti bau... "b*****t! Ngatong ya lo!" teriak Giri sepeninggal Garda. Ganesh yang telat menyadari bau gas beracun Garda pun langsung menutup hidung mancungnya. "Gilak tu bocah makan apaan dah. Baunya ngalahin TPA Bantar Gebang." komennya. "Pindah, pindah. Makanan sama minuman kita tercemar gas beracun!" Giri dengan lebaynya beranjak berdiri bersama sepiring nasi goreng dan minuman dinginnya. Ganesh mengikuti intrupsi Giri. Mereka pindah tempat di bangku dekat jendela. Keduanya membiarkan pesanan Garda tergeletak begitu saja. Biarkan saja. Salah sendiri buang angin tidak bilang-bilang. Mana baunya nggak ketolong lagi. Hadeuh. "Eh, Ri, buru hubungin Jessi." titah Ganesh. Yang diperintah menganggukan kepala. Dengan sigap Giri menyalakan ponselnya. Ia langsung membuka aplikasi chatting. Maniknya mengetikan nama Jessi dikolom pencarian kontak. Hanya dalam satu kedipan mata Giri mendapatkan kontak wanita yang dicarinya. Tanpa basa-basi ia langsung membuka kolom obrolan. "Gimana? Gua harus chat dia gimana? Perlu tanyain udah makan nggak?" tanya Giri menatap Ganesh. "Ngapain lo nanya gitu? Emangnya kalau Jessi belum makan lo mau suapin dia?" balas Ganesh balik nanya. Dengan bodohnya Giri menggelengkan kepala. "Nggak juga sih." berjeda. "Terus gimana?" sambungnya. Ganesh juga diam. Berpikir. "Tanyain langsung. Oh, tanyain lagi di mana gitu. Kalau bisa ya ajak ketemuan di sini." Giri mengangguk-anggukan kepala. Detik selanjutnya ia langsung mengetikan pesan yang akan dikirim pada Jessi. Girindrana: Je, di mana? sibuk ngga? Send. Centang dua. "Udah di bales?" Giri memutar kedua bola matanya. Cobaan sekali punya teman macam Ganesh dan Garda. "Ya belom, Oneng! Kan gua baru—" *tring* "Tuh, tuh di bales!" Ganesh benar ponsel Giri berbunyi dan satu balasan masuk dari Jessi. Jessica J: lg free nih. knp? Girindrana: bisa meet up nggak? Di caffe Ulala. Sekarang. Jessica J: oke. sepuluh atau lima belas menit lagi gue sampai. Giri tersenyum atas balasan terakhir Jessi. Fyi, cewek bernama lengkap Jessica Janica itu pernah menjadi teman seranjang Giri. Mereka berdua juga pernah menjalin hubungan. Meskipun tak bertahan lama karena Giri tahu kalau Jessi masuk ke dalam jajaran cewek matre. Jadi setelah tahu dirinya dimanfaatkan selama masa pacaran, Giri langsung memutuskan si cewek sepihak. Padahal saat itu Jessi sedang berada dipuncak sayang-sayangnya. Tapi apa boleh buat. Takdir berkehendak lain. Mau tidak mau Jessi harus menerima keputusan itu. "Dia masih ada rasa sama lo?" tanya Ganesh seusai menyeruput es kopinya. Giri mengerdikan bahu. "Bisa iya, bisa enggak." jawabnya. "Lo juga masih sayang sama dia?" "Bisa iya, bisa enggak." jawab Giri sekali lagi. "Kenapa nggak balikan aja sih?" Giri diam. Senyum diwajahnya tersungging. "Bisa miskin mendadak gue kalau balikan sama dia." berjeda. "Tiap jalan dia tuh boros banget, Nesh. Minta dua barang sekaligus. Ya kalau harganya seratus rebuan. Nah ini sepatu setengah juta sama tas seharga uang jajan gue selama sebulan. Gila nggak sih?" sambungnya. Menjalin hubungan dengan Jessi adalah satu kesalahan menurut Giri. Bagimana tak salah jika ia memacari seorang cewek matre. Yang sekali jalan bisa menghabiskan uang jutaan. Ya kalau Giri beneran kaya. Ya kalau ia seorang CEO muda. Giri tak akan memersalahkan urusan uang. Namun sayangnya di sini ia bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Jangankan punya apa-apa, uang jajan perbulan saja Giri masih mengandalkan dari kiriman kedua orangtua juga kakak kandungnya. Jujur Giri malu. Ia malu di umurnya yang sudah segitu masih mengandalkan uang dari oranglain. "Emang cewek kebanyakan gitu ya? Matrenya kebangetan." komen Ganesh. "Tapi yang matre biasanya emang sepadan sama tingkat kecantikan dan pelayanan sih. Mereka nggak sekadar porotin duit kita aja. Tapi mereka juga ngasih imbalan yang sepadan. Misal; ngasih service memuaskan." jelas Giri. "Eh b*****t ngapain lo berdua pindah?" suara itu... Garda sudah kembali. Dengan wajah bingung karena tak mendapati kedua temannya di tempat duduk. Dan rupanya dua manusia itu sudah mengkhianati Garda. Buktinya Ganesh-Giri pindah tempat. Sialan memang! Garda jalan menghampiri keduanya. Ia menyeret bangku ke belakang lalu mendudukinya. "Makanan gue mana?" tanyanya. "Lah mana kita tahu." jawab Ganesh. Garda melirik meja yang tadi mereka duduki. Sudah kosong. Tak ada makanan serta minuman miliknya. T—tunggu... Jangan bilang, "Udah diberesin sama mas-masnya ya?" berjeda. "s**t, ganti makan dan minuman gue!" ucap Garda bergantian menatap kedua temannya. "Harusnya yang minta ganti rugi tuh kami! Lo udah mencemari makanan kami dengan gas beracun lo itu!" ucap Giri menatap tak kalah bengis. Garda meluluh. "Yaelah gue kelepasan tadi. Mana bisa sih kentut ditahan. Kalau ditahan bisa jadi sarang penyakit. Dan kalau gue sakit, lo berdua mau rawat?" Yang ditanya menggelengkan kepala. "Gue sih ogah punya teman penyakitan!" kata Ganesh. "Sama. Gue mending cari temen baru." ujar Giri. Garda mengelus d**a. "Cukup tau dah gua." ucapnya hiperbola. Detik selanjutnya kedua teman Garda terkekeh bersama. Ganesh dan Giri juga kompak memeluk Garda. "Baperan amat sih bocah!" "Cup-cup-cup. Nanti kalau lo sakit gue cariin tanah terbaik di Jakarta deh. Biar gue ama Giri patungan buat beliin lo tanah di San Diego Hills—" "Woi! Amit-amit dah! Lo kira gue mau mati apa!" ucap Garda melepas pelukan kedua temannya. "Bukan gue yang ngomong ya, Nesh." "Ya kan buat prepare, Ga. Udah lo tenang aja ntar gue dan Giri pesanin. Lo tinggal nempatin aja." "Prepare, tinggal nempatin, palelu transparan!" cibir Garda kesal. Ganesh dan Giri masih tertawa. Keduanya mengabaikan Garda yang kesal. Bahkan saking asiknya tertawa, mereka sampai tak sadar jika seorang cewek sudah berdiri di sekitar. Dia adalah Jessi. Iya, ia sudah datang untuk menemui Giri. "Hallo?" sapa Jessi mengintrupsi tiga pasang telinga. Ganesh dan Giri menghentikan tawa. Sekarang ketiga cowok itu bersamaan menatap cewek berbaju tanpa lengan dengan rambut tergerai. Jessi terlihat mengagumkan. Selalu. "H—Hai. Duduk, Je," dengan kegantleannya Giri berdiri sembari menarik kursi dan memersilakan mantannya duduk. Jessi menerimanya dengan senang hati. Ia duduk. Berhadapan serta berdampingan cowok incaran para mahasiswi. Satu hal yang langka. Ah, andai saja tadi mereka ketemuan di kantin fakultas pasti banyak yang melihat dan iri pada Jessi. Lalu selanjutnya ia akan jadi tranding topic satu universitas. Ya Tuhan... Jessi ingin sekali dipuji. "Je, are you okay?" Giri ngeri melihat Jessi tiba-tiba senyum sendiri. Yang ditanya menerjapkan maniknya. "Gak papa." jawabnya. Giri menganggukan kepala. "Jadi, ada yang bisa gue bantu?" tanya Jessi to the point. Sebenarnya ia ingin berbasa-basi dengan Giri. Tapi di sini ada Garda dan Ganesh. Tidak mungkin ia meluapkan rasa rindunya di hadapan kedua teman sang mantan. "Kita cari perawan." jawab Ganesh langsung. Dahi Jessi mengerut. "Harus perawan banget?" tanyanya. Ketiganya mengangguk mantap. Hal itu membuat Jessi lesu. Padahal ia ingin merasakan kegagahan Garda dan Ganesh. Kalau Giri mah udah pernah. Tapi kalau mengulangi kejadian yang pernah terjadi, Jessi tidak menolak. Bahkan dengan senang hati ia menyerahkan tubuhnya dijajah Giri. Bukannya apa-apa, tapi cowok itu masuk ke dalam list cowok yang bisa memberi Jessi kepuasan dalam bercinta. Giri memuaskan. Sangat. "Nggak ada kalau tiga cewek sekaligus. Ya lo pada tahu kan cari perawan di Jakarta tuh susahnya kayak apa." awal Jessi bersuara. "Yes we know. Tapi kita nggak butuh tiga, kita butuh satu." ucap Garda. "Satu?" berjeda. "Buat siapa?" sambung Jessi penasaran. "Penting banget ya kita kasih tahu?" tanya Ganesh. Skakmat. Jessi tak seharusnya ikut campur dalam urusan ini. Tugasnya hanya memberi daftar list ayam kampus. Menerima uang. Lalu ya sudah. Jessi mendapatkan uang tanpa peduli anak buahnya diapain aja. Biasanya ia tidak pernah sepenasaran ini. Namun, kali ini berbeda. Jessi ingin tahu. "Berapa pasaran virgin sekarang?" kali ini Giri yang bersuara. "Seharga iphone 11 pro max." Giri tidak terkejut. Yang memasang tampang terkejut adalah Ganesh dan Garda. Dan keterkejutan itu tertangkap oleh manik Jessi. "Ini kita bicara tentang perawan lho. Perawan. Masih belum terjamah oleh siapapun." ucap Jessi menjelaskan. "Seriusan seharga ip pro max? Nggak ada diskon gitu?" tawar Garda. Jessi diam. Diskon? Mendengar kata itu membuatnya menatap Giri. "Diskon ya?" tanyanya. Giri tahu apa maksud Jessi. "Turunin ya?" ucapnya mengelus tangan sang mantan. Meski ragu, tapi Jessi menganggukan kepala. "Okay. Nanti gue kirim harga fix dan profilnya." ucap Jessi. Ketiga cowok itu menyungingkan senyum manis. Ah, tak sabar rasanya ingin segera memasuki lubang suci. tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD