Gia dan Takdir Hidupnya

1706 Words
jangan lupa tap love yaa, guys. happy reading. #sasaji .... Satu kopi espresso yang terkenal dengan kepahitannya berhasil dihabiskan oleh cewek berambut curly itu. Manik bulatnya memejam seakan menahan air matanya agar tidak keluar. Tapi percuma. Seberapa keras ia mencoba hasilnya akan tetap sama. Air mata keramatnya akhirnya tumpah juga. "Maafkan Om yang tidak bisa membujuk Mama kamu pulang." dengan rasa sesal Widura mengutarakan pesan pada keponakam tercintanya. Pendengarannya menuli. Air matanya mengalir. Hatinya terasa perih. Sudah satu tahun semenjak tertangkapnya Brian-nama papa Gia-, Widuri melarikan diri. Wanita yang pernah melahirkan seorang putri itu pergi dari tanah kelahiran menuju negeri sebelah. Ia pergi tanpa kata pisah dan meninggalkan tanda tanya. "Om sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Mama kamu, tapi hasilnya nihil. Mama kamu tetap bersikeras tinggal di negara tetangga." berjeda. "Luka yang ditorehkan Papa kamu terlalu dalam, Gi. Mama kamu masih belum bisa berdamai dengan masalalu." sambung Widura pedih. Gia tahu. Ia tahu betul ayahnya sudah melukai hati sang Mama sebegitu parahnya. Namun yang harus Widuri-nama sang Ibu- tahu adalah bukan hanya dirinya saja yang terluka. Gia juga terluka. Bahkan lebih parah. Selain karena luka yang ditorehkan sang ayah, gadis berusia dua puluh tahun itu juga kehilangan segalanya. Ia kehilangan gaya hidup mewah, status di mata teman-temannya berubah, dan paling parah adalah ia mendadak jadi sebatang kara. Brian Ksatria Mahehandra sudah ditangkap polisi karena kasus korupsi. Widuri yang tak tahan dengan omongan orang-orang terdekat juga memilih pindah dari negara kelahiran. Tinggalah Gia sendirian. Gadis yang baru masuk kuliah semester tiga itu ditinggalkan kedua orang tuanya dalam sebuah bangunan yang dulunya disebut rumah. Namun, sayangnya sekarang sudah disita. Gia tinggal sendirian dalam sebuah kontrakan yang tak besar. Ngomong-ngomong soal kontrakan ia jadi ingat jika sekarang sudah jadwalnya membayar hunian bulanan. Btw, sudah terhitung tiga bulan Gia menunggak bayar kontrakan. Bisa jadi nanti malam atau besok siang ia akan diusir lalu menjadi seorang gelandangan. Gia benci. Ia benci terlahir dari rahim Widuri. Bukannya apa-apa, tapi wanita itu sudah meninggalkannya tanpa bekal. Gia saja tidak tahu jika Widuri akan pergi selama ini. Yang ia tahu adalah saat terbangun tiba-tiba saja sudah sendiri. Ayahnya sudah tertangkap saat malam hari lalu pagi giliran ibunya yang pergi. Ini terlihat seperti mimpi, tapi sayangnya terjadi. "Gi, maaf." ucap Widura mengelus punggung ponakannya. Gia hanya bisa menangisi takdir hidupnya. Ia tak tahu harus apa. Tabungan peninggalan Brian sudah terpakai semua. Bukan untuk foya-foya, tapi untuk kebutuhan sehari-hari. Jujur Gia lelah menjalani hidup seperti ini. Ia ingin kembali ke masa lalu. Masa di mana Gia dilimpahi kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. "Kamu baik-baik di Jakarta ya, Gi. Selesaikan kuliahmu. Tunjukan ke Widuri kalau kamu bisa membanggakannya nanti." Soal biaya kuliah memang Gia tak perlu ambil pusing. Semua biayanya sudah ditanggung oleh Widura. Ya, setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban di pundaknya. Karena percayalah biaya kuliah di universitas swasta benar-benar menguras kantong. Gia jadi menyesal sudah mengiyakan keinginan Brian yang memintanya kuliah di universitas swasta terbaik Jakarta. "Dan ini," Widura membuka dompet kulitnya. Ia mengambil satu amplop berwarna putih yang sudah disiapkan sebelumnya. "Ini Om ada sedikit uang untuk membantu keperluan kamu hingga beberapa minggu ke depan." sambungnya menyerahkan amplop putih itu pada Gia. Gia yang tadinya bersedih seketika menghapus air mata. Ia meraih amplop pemberian Widura. Dalam hati Gia tersenyum. Setidaknya uang yang di tangannya kini bisa menyelamatkannya dari omelan Ibu kost galak. "Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungin Om. Kalau mau cerita juga nomor ponsel Om aktif dua puluh emapt jam." ucap Widura mengelus pucuk kepala Gia. Gia menganggukan kepala. Detik selanjutnya ia sudah masuk ke dalam dekap hangat om tercintanya. "Terimakasih, Om. Terimakasih banyak." ucapnya tulus. Di tengah ketidakberuntungannya, Gia masih bersyukur. Ia bersyukur karena masih mempunyai Om sepengertian Widura. Disaat kedua orangtuanya pergi setidaknya Gia masih memiliki Widura sebagai orangtua pengganti. ??? *toktoktoktok* Ketukan-atau lebih pantas disebut dengan gedoran- pintu itu terdengar kasar dan tak beraturan. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Gia yang tadinya masih tertidur nyenyak dengan selimut biru tebalnya terpaksa membuka mata. Walau maniknya terasa berat untuk dibuka, tapi ia harus melihat siapa pengetuk pintu sialan itu. Masih dengan piyama garis-garis, Gia beranjak dari tempat tidurnya. Ia tidak sempat mencuci muka atau gosok gigi karena gedoran pintu semakin keras. Kalau dibiarkan lebih lama Gia pastikan pintu itu bisa-bisa jebol. "Woi sabar bentar napah!" teriak Gia di tengah perjalanannya. Berhasil. Ketukan pintu tak terdengar lagi. "Siapa sih masih pagi udah bertamu ke rumah-" ucapan Gia terhenti bersamaan dengan terbukanya pintu rumah. Seketika itu manik indah Gia mendapati wanita berdaster batik. Bu Milah-para anak kost memanggilnya— sudah berdiri tepat di depan pintu kontrakannya. Gia menepuk jidat. Tamatlah sudah riwayatnya pagi ini. "Uang kontrakan." ucapnya to the point. Gia memejamkan mata. Semalam sepulang bertemu dengan Widura di salah satu kedai kopi terkenal, Gia tidak langsung pulang. Ia tertarik untuk pergi ke mall yang letaknya tak jauh dari kedai kopi. Niatnya hanya untuk mengelilingi mall. Dan kalian tahu sendiri yang namanya wanita gimana. Niatnya memang hanya untuk berkeliling- melihat-lihat dari satu outlet ke outlet lain. Namun, kenyataanya adalah Gia tak hanya melihat-lihat saja. Semalam ia menghabiskan setengah uang yang diberi oleh Widura untuk membeli beberapa baju dan satu pasang sepatu baru. Lalu seperempatnya lagi digunakan untuk perawatan diri(r: mengecat rambut dengan warna baru, mewarnai kuku, dll). Gia lupa diri. Ia lupa jika kontrakannya belum dibayar. Ck, kebiasaan! "Tiga bulan bukan waktu yang sebentar dan karena keterlambatan kamu saya jadi tidak bisa masak enak." cibir Bu Milah garang. Gia hanya bisa mendengarkan. Kalau sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukannya hanya meminta maaf lalu berjanji akan membayar uang kontrakan secepatnya. Dan kenyataanya tidak begitu. Setelah mendapat uang, Gia akan lupa dengan tunggakan bulanan. Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar keperluan pokok malah dihamburkan untuk membeli keperluan yang tidak perlu-perlu amat. "Bayar sekarang atau kamu dipersilakan angkat kaki dari sini." ucap Bu Milah menatap tajam Gia. Gadis yang ada di hadapan Bu Milah hanya bisa meneguk ludahnya susah payah. Angkat kaki alias pergi dari kontrakan ini? tanya Gia dalam hati. Lalu jika ia pergi, mau tinggal di mana selanjutnya? Kolong jembatan? Ck! Masa mahasiswi yang dikenal satu kampus seperti Gia harus jadi gelandangan baru? Gia menggeleng-gelengkan kepala. "Heh, kamu! Malah geleng-geleng nggak jelas." gertak Bu Milah berjeda. "Bayar kontrakannya sekarang juga!" sambungnya. Gia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Mm... Anu, Bu-" "Anu, anu, apa?! Saya nggak mau dengar alasan klasik kamu ya! Sudah muak saya dengar janji manis kamu lagi." "Saya ada uang, tapi cukup untuk bayar satu bulan-" "Satu bulan katamu? KAMU SUDAH TIGA BULAN TIDAK MEMBAYAR WAHAI ANAK MUDA!" potong Bu Milah cepat. Mendengar kalimat itu membuat Gia memejamkan mata. Sial. Bisa dipastikan setelah ini penghuni kost sebelah akan keluar untuk menyaksikan drama yang tak kalah seru dari sinetron azab di tivi-tivi. "Bu, kita bisa bicarakan ini baik-baik." ucap Gia mencoba meluluhkan hati si singa betina. "BAIK-BAIK KATAMU? BAIK GIMANA KALAU SETIAP SAYA TAGIH KAMU SELALU BERKILAH SEPERTI INI!" Gia harus menyiapkan resiko yang akan terjadi. Terutama reskiko malu. Lihatlah beberapa penguhi kontrakan sebelah sudah mulai keluar untuk menyaksikan. Sial. "Bayar sekarang atau pergi dari sini!" Bu Milah maju mendekat ke arah Gia. "Saya pasti bayar, Bu. Tapi kasih saya waktu-" "Berapa lama lagi?" tanya wanita yang sudah mempunyai dua orang cucu. "Saya ini kerja, Gi. Kontrakan ini saya dan suami bangun untuk menghidupi kami di masa ini serta masa yang akan datang." sambungnya lirih. "Bu," "Sebelum kamu juga sudah banyak yang melanggar. Dan saya sudah lelah jadi orang sabar." Bu Milah kembali menatap manik Gia tajam. "Kalau jadi orang baik membuat saya diinjak-injak, saya rela jadi orang jahat. "Tidak ada bantahan. Saya beri kamu waktu sampai nanti malam. Kalau nanti malam kamu belum juga membayar uang kontrakan, tanpa saya usir saya harap kamu mau angkat kaki dari sini." sambung Bu Milah telak. Gia tahu wanita yang ada di hadapannya ini sebenarnya baik. Tapi, terkadang orang hanya memanfaatkan kebaikan wanita itu saja. Sebenarnya Gia juga tidak mau seperti ini. Namun, sayangnya sudah terjadi. Gia menyakiti orang sebaik Bu Milah. "Sudah saya mau pergi. Lebih baik saya makan sate kambing bisa kenyang daripada marahin kamu, tapi bisa potensi bikin saya darah tinggi." ucap Bu Milah pergi dari hadapan Gia. Sepeninggal Bu Milah, Gia kembali masuk ke kontarakannya. Ia kembali menuju kamar tidurnya. Gia membaringkan tubuh di atas kasur lantainya. Maniknya terpejam. Dadanya mulai sesak. Takdir hidupnya lucu. Dulu Gia tak pernah kesusahan seperti ini. Lalu sekarang Tuhan memutarbalikan keadaan. Mungkin Tuhan ingin Gia merasakan bagaimana rasanya berada di bawah. Dan Tuhan berhasil. Tuhan berhasil membuat Gia merasakan bagaimana rasanya berada di bawah. "Nyali gue masih belum sebesar itu buat hutang ke bank." monolog Gia sembari menatap langit-langit kamar. "Masak iya bayar kontrakan tiga juta aja sampai hutang ke bank?" monolognya lagi. Gia menegakkan tubuhnya. Ia harus berpikir bagaimana caranya bisa membayar uang kontrakan. Manik Gia melihat ke sekitar. Banyak barang di sini. Iabisa menjual barang-barangnya, tapi tidak mungkin bisa terjual cepat. Semua butuh waktu dan tidak mungkin Gia mendapatkan uang secepat itu. Gia berpikir. Terus berpikir hingga... "Jessica!" ucapnya ketika mengingat nama temannya. Gia meraih ponselnya. Mencari kontak bernama Jessi, dan dapat! Jemari Gia dengan lihai mengetikan pesan untuk teman satu kampusnya. Gia Sarasvati: Je, ada job buat gue nggak? Gia Sarasvati: Gue udah pikir-pikir tawaran lo beberapa waktu lalu. Dan jika kemarin gue sok jual mahal dengan tidak menerima tawaran itu, mungkin sekarang gue berubah pikiran. Gia Sarasvati: lo bener, Je. Mungkin gue terlalu muna jadi cewek. Dan sekarang gue rela jilat ludah gue sendiri. Gia Sarasvati: gue mau masuk ke dunia yang lo tawarin kemarin, Je. Gue siap bekerja sama dengan lo. Gia Sarasvati: semoga lo masih berbaik hati dengan nerima gue, Je. Gia Sarasvati: gue tunggu balasan lo. ASAP. Manik Gia memejam setelah berhasil mengirim pesan itu pada Jessi. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika centang dua pada pesan yang kirimnya berubah warna. Jessi sudah membaca pesannya dan mulai mengetik balasan. Demi Tuhan sekarang Gia tidak sedang jatuh cinta, tapi mengapa jantungnya berdebar kencang? Jessica J: oke. langsung ketemuan di caffe dekat apart gue aja ya. Jessica J: gue share location setelah ini. Jessica J: see you. Gia Sarasvati: oke. see you too. Gia mematikan ponselnya. Maniknya terpejam. Semoga langkah yang diambilnya tidak salah. Semoga juga ia tidak menyesal dengan keputusan yang diambilnya sekarang. tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD