Gia Dan Pekerjaan Barunya

1714 Words
Sepasang kaki beralas sneakers putih itu melangkah masuk ke dalam area caffe. Aroma kopi mulai masuk ke indra penciuman Gia. Menggoda. Bukan hanya aroma kopi saja yang mengugah selera, tapi jajaran cupcake serta makanan ringan berbahan dasar tepung lainnya juga membuat Gia ingin mengunyahnya. Ia mendadak lapar. Kue-kue manis itu berhasil membuatnya menelan ludah. Gia norak. Ia seperti orang yang baru pertama kali melihat kue warna-warni. "Gia!" panggilan serta lambaian tangan seseorang membuat fokus Gia terpecah. Gadis yang tadinya asik melihat kue dalam etalase kaca sontak tersentak. Oke, ini berlebihan, tapi sungguh terjadi beneran. Gia meneguk ludahnya sekali lagi. Setelahnya ia menanggapi panggilan Jessica—atau lebih akrab dipanggil Jessi. Gia berjalan menghampiri temannya yang duduk di bangku bagian tengah. Hell, Jessi. Cewek itu memang berbeda dengan cewek lain. Saat sebagian cewek suka menikmati kopinya di dekat jendela, Jessi malah tidak suka. Cewek itu tipe manusia pencari perhatian. Ia selalu memikirkan penampilan, kecantikan, dan t***k bengeknya. Jika penampilannya dirasa perfect dengan bangga akan memancarkannya ke sekitarnya. Jessi si manusia over confident tidak pernah sungkan jika harus duduk di bangku tengah caffe. Baginya itu satu hal yang mudah dan menyenangkan. "Hai, Jess." sapa Gia ketika sudah sampai di hadapan teman satu fakultasnya. Jessi memerlihatkan deretan gigi rapinya. Ia memersilakan Gia untuk duduk di sebelahnya. Sebelumnya Jessi memang terarik dengan Gia. Cewek itu beberapa kali ingin merekrut Gia ke dalam usaha haram, tapi sangat menguntungkan—baginya. Bagi Jessi menjadi ayam kampus memanglah menguntungkan. Karena hanya bermodal tampang cantik dan desahan manja, para p****************g akan senang. Hanya bermodalkan dua hal itu Jessi bisa mendapatkan uang juga barang idaman. Jangan bicara tentang dosa. Bagi Jessi dosa adalah urusan belakangan. Lagipula ia tak pernah absen pergi ke rumah Tuhan setiap akhir pekan. Mungkin dengan menjadi pelayan Tuhan setiap sabtu-minggu bisa membuat dosa Jessi dihapuskan. Intinya persetan! Selama Jessi tidak merepotkan orang. Selama ladang uang untuk membeli peralatan make up dan skincare-nya tersedia, Jessi tidak mau ambil pusing. Hidup di dunia hanya sekali dan demi Tuhan ia tak mau menyia-nyiakannya. Balik ke topik tentang Gia. Bagi Jessi, Gia masuk ke dalam jajaran wanita menawan. Gadis itu punya sepasang gunung cukup besar. Punya Jessi saja tidak ada apa-apanya dibandingkan milik Gia. Selain itu, Gia juga punya wajah dan tubuh yang proposional. Wajahnya cantik. Kulitnya putih bersih terawat. Tubuhnya memiliki bobot dan tinggi standart wanita. Berisi. Tidak terlalu tinggi. Pokoknya Gia adalah calon wanita idaman di kalangan mahasiswa kampusnya. Sejak bertemu dengan Gia di kelas, Jessi langsung berpikir ke depan. Otaknya yang memang selalu berpikir tentang bisnis membuatnya ingin merekrut Gia secepatnya. Baginya Gia itu komersil. Selain punya tubuh dan wajah proposional gadis yang baru saja menyebutkan pesanan pada pelayan juga memiliki kepribadian menyenangkan. Gia mudah bergaul. Ia cepat akrab dengan seseorang. Untuk itu tak perlu heran jika Gia punya banyak teman hampir di semua jurusan. "Jadi, gimana? Lo siap kerja sama gue?" ucap Jessi to the point. Dengan setengah hati, Gia menganggukan kepala. Pikirannya sudah mentok. Ia tidak bisa meminta uang pada Widura. Tidak mungkin pula meminjam uang ke temannya. Sebenarnya bisa, tapi setelahnya harga diri Gia akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Selama ini ia terkenal dengan gaya hidup mewahnya. Ya kali mahasiswi se-hits Gia tiba-tiba meminjam uang pada mahasiswa lain. "Gue mau." jawab Gia akhirnya. Senyum diwajah Jessi tersungging. Menunggu dua kata yang terlontar dari mulut Gia membutuhkan waktu cukup lama. Hampir membuat Jessi gila. Gia itu bagaikan emas. Sudah banyak mahasiswa kampus yang mengirim pesan pada Jessi. Para lelaki itu berani bayar mahal untuk bisa mencicipi kemolekan tubuh Gia. Iya. Gia memang semahal itu. Banyak cowok yang datang mendekat. Tak jarang juga cowok-cowok itu mengungkapkan niatan untuk menjadikan Gia sebagai pasangan. Namun, semua keinginan mahasiswa yang dekat dengan Gia ditolak mentah-mentah. Sejauh ini hanya ada dua mahasiswa yang berhasil meluluhkan hatinya. "Lo masih perwirawati?" tanya Jessi mendekatkan tubuhnya ke telinga Gia. Yang ditanya memejamkan mata. Anggukan mantap menjawab pertanyaan Jessi. "Lo beneran mahal, Gi!" bisik Jessi di telinga kanan Gia. Iya. Gia tahu. Ia mahal. Mahkota yang dijaganya selama ini memang sangat mahal harganya. Widuri yang mengajarinya. Didikan wanita itu terbilang ampuh. Widuri membebaskan Gia berteman dengan siapa saja. Ia juga memberi anaknya waktu bermain kapanpun. Gia diperbolehkan pulang larut. Diperbolehkan berjoget di dance floor. Nonton konser band hingga pagi. Kedua orangtuanya benar-benar memberinya kebebasan saat usianya sudah genap tujuh belas tahun. Tetapi dengan satu syarat; Gia harus bisa jaga diri. Selama dua puluh tahun perjanjian itu berlangsung. Gia memenuhi perjanjian dengan kedua orangtuanya. Itu dulu karena sebentar lagi ia akan mengingkarinya. Gia akan melanggar janji yang pernah disepakati dengan kedua orangtuanya. Lagipula apa perdulinya Brian dan Widuri? Ayah Gia sudah ditangkap polisi. Ibunya juga pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata. Kedua orangtua Gia tidak bisa melarang atau menghentikannya. "Oke! Nanti gue kirim jadwal lo ya—" "Hari ini gue dapet nggak? Gue lagi butuh uang soalnya." potong Gia cepat. Ini kali pertama anak seorang anggota dewan mengakui kesusahannya. Jessi pikir kehidupan Gia semewah kelihatannya. Tapi nyatanya? Penampilan cewek itu berhasil menipunya. Ngomong-ngomong berita tetang siapa ayah kandung Gia sudah terbongkar di beberapa telinga. Tidak banyak. Dan saat teman Gia menanyakan kebenaran kepekerjaan sang Ayah beserta berita tentang ayahnya, cewek itu selalu mengelak. Gia berakting semeyakinkan mungkin dan berhasil. Sebagian berhasil dibohongi sebagian lagi memilih tidak peduli. "Ada nggak Je?" tanya Gia lagi. Ia terpaksa menjatuhkan harga dirinya sekali lagi untuk bisa tetap tinggal di kontrakan Bu Milah. Gia tidak peduli dengan gengsi. Sudah cukup selama ini ia membesarkan gengsinya demi hidup berlimbang harta. Untuk saat ini—dalam keadaan seperti ini Gia rela melepaskan semua. Gengsi tinggi juga harga diri. Ia rela melepaskan keduanya demi bisa menghidupi diri sendiri. "Gue butuh uang buat bayar kontrakan Je..." ini yang ketiga kalinya. Gia benar-benar menjatuhkan harga dirinya di depan Jessi. Dan lihatlah suatu hari nanti saat hubungan keduanya merenggang karena satu masalah. Bisa dipastikan Jessi akan mengumbar 'aib' Gia di hadapan semua orang. Saat ini Jessi adalah pemegang kartu As Gia. Kalau suatu saat nanti Gia tidak patuh pada Jessi dengan cepat aib itu akan menyebar luas. Jessi akan menjamin sendiri. "Gue pinjemin uang gue aja ya. Lo kirim noreknya, gue yang tf." Gia menganggukan kepala. "Maaf banget ya udah ngerepotin." ucapnya menyungingkan senyum. "Santai aja sih. Kayak sama siapa aja lo." jawab Jessi menepuk punggung Gia. Gia tersenyum. Tidak apalah sekali-kali merendahkan diri demi sesuap nasi di kemudian hari. ... Jessi menepati janji. Ia sudah mentrasfer uang yang dibutuhkan Gia untuk membayar kontrakan. Sesudah dilunasi Bu Milah bisa tersenyum padanya. Gia ikut senang. Ia berterimakasih karena wanita itu mau bersabar dalam menghadapi kelakuannya. Selain berterimakasih, Gia juga meminta maaf. Ia melontarkan maaf untuk keterlambatannya. Bu Milah memaafkan. Wanita itu tidak tega jika harus melihat oranglain bersedih. Sebenarnya juga beliau tidak tega membentak anak kost untuk mau membayar kewajiban yang seharusnya dibayar tanpa harus diingatkan. Tapi kalau tidak ditagih para penghuni kostnya suka tidak tahu diri. Para anak muda itu pura-pura lupa akan kewajibannya. Dan Bu Milah yang sabar berubah menjadi wanita tegas. Gia masuk ke dalam kontrakan. Ia langsung bergegas menuju kamar untuk mengistirahatkan badan. Gia menatap langit-langit kamarnya. Senyum pedihnya tersungging. Manik indahnya berkaca. Dulu ia tak pernah berada dalam kondisi seperti ini. Gia tak pernah tidur di atas kasur lantai yang setiap harinya kian menipis. Ia tak pernah kegerahan karena AC di kamarnya selalu menyala. Setiap detik, menit, dan jam Gia tak pernah berhenti bertanya. Dosa apa yang pernah dilakukannya. Kesalahan besar apa yang pernah dilakukannya. Kenapa nasib beruntungnya berubah jadi buruk seperti ini? *tring* Di tengah kegalauannya, ponsel Gia berbunyi. Si empu memilih menghapus air bening di pelupuk manik. Gia juga menegakan tubuh. Ia meraih tas yang terletak tak jauh. Setelah berhasil diraih, Gia langsung mengambil ponsel pintarnya. Jessica J: lo udah bisa kerja malam ini. Jessica J: ada pelanggan yang mau pake jasa lo. Manik Gia terpejam sesaat. Jantungnya berdebar. Inikah saatnya melepas mahkota yang selama ini dijaganya? Jessica J: *send a pict* Gia hampir menangis saat melihat gambar yang dikirim Jessi. Haruskah ia melepas keperawanan pada seorang pria berkumis tebal itu? Jessica J: Namanya Om Broto. Dia anggota dewan. Gia tidak peduli dengan nama dan pekerjaan pria itu. Saat ini yang dipikirkan adalah nasibnya sendiri. Jessica J: dia orangnya loyal, Gi. Kalau lo bisa puasin, dia bakal kasih uang tip. Lumayan pake banget uang tambahannya. Uang tip? Selama ini Gia selalu memberi uang tip setelah makan di restoran. Lalu keadaan berbalik sekarang. Bukan Gia yang memberi uang, tapi ia yang akan diberi uang. Ya Tuhan... Jessica J: lo langsung ke hotel X aja. Om nungguin lo di basement. Jessica J: btw ini gue kasih nomor ponsel beliau. Jessica J: *send kartu nama: Om Bro* Jessica J: malam ini lo masih aman, Gi. lo ngga usah khawatir. Dia cuma butuh temen tidur doang. Dahi Gia megerut. Apa maksud Jessi? Jessica J: maksudnya Om Broto cuma butuh teman tidur. Tidur pelukan ditambah remesan doang bukan naena. Jessica J: tarif yang gue pajang buat keperawanan tuh mahal. Dan dia mau coba dulu. Kalau service lo malam ini memuaskan dia mau bayarin keperawanan lo. Oh... Gia menghembuskan napas lega. Jessica J: jadi kalau lo mau balik jadi orang kaya, lo puasin Om Bro malam ini. Jessica J: btw jam sembilan lo udah harus ada di hotel ya! Om Bro nggak sabar pengen ketemu lo. Jessica J: yaudah gitu aja. Selamat bersenang-senang! Setelah itu Jessi benar-benar mengakhiri berkirim pesan. Gia kembali merebahkan tubuh. Jantungnya berdebar kencang. Dadanya mulai sesak. "Ingat ya, Gi, kalau kamu adalah wanita. Kamu harus bisa jaga diri. Jangan mau melepas harta berharga kamu hanya dengan gombalan laki-laki atau sekarung uang." "Janji sama Mama kalau kamu bisa jaga diri, Gi. Apapun yang terjadi jangan sampai lepas mahkota berharga kamu." "Berikan mahkota berharga itu hanya untuk suami kamu. Janji sama Mama kalau kamu akan menepatinya." "Iya, Ma. Gia janji." Gia menegapkan tubuhnya. Kilasan masalalu itu... "Gia nggak akan menepati janji itu. Gia akan mengingkarinya sebentar lagi." ucapnya meneteskan air mata. Tetapi, tak lama kemudian Gia langsung menghapusnya. Hingga tak tersisa. "Jangan pernah menyesal karena gagal dan jangan pernah salahkan Gia suatu hari nanti! Gia seperti ini karena Mama dan Papa!" lanjutnya. "AKU BENCI MAMA DAN PAPA. GIA BENCI KALIAN BERDUA!!!" teriaknya menumpahkan air mata yang tadi dibendungnya. tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD