Gia dipersilakan masuk. Ia menuruti. Sekarang Gia duduk berhadapan dengan tiga pria tampan. Tetapi sejak bertemu dengan sang mantan Gia menjadi lebih pendiam. Pikirannya masih belum bisa menerima keadaan yang sedang dihadapi.
"Oh iya, Gi. Kenalin ini teman gue, Ganesh dan Garda." ucap Giri mengenalkan dua temannya
Gia menyungingkan senyum pada Ganesh juga Garda. Sedikit canggung. Ia juga mengulurkan tangannya untuk dijabat kedua cowok itu. "Gia." kenalnya menyalami tangan Ganesh dan Garda bergantian.
"Ganesh."
"Garda."
Setelah itu hening. Gia menunduk malu sementara tiga pria yang ada di hadapannya bingung harus berbuat apa. Gia benar-benar malu. Dulu ayahnya tidak merestui hubungannya karena latar belakang keluarga si cowok bermasalah. Mantan kekasihnya bukan berasal dari keluarga baik-baik. Ayahnya bunuh diri karena tak sanggup memenuhi gaya hidup sang istri. Bukan hanya itu, tapi ibu dan kedua kakaknya rela menjual diri demi bisa bergaya hidup mewah. Dan kalian benar jika menebak si pria itu adalah Ganesh. Hanya cowok itu yang mempunyai kisah hidup cukup rumit dibanding kedua temannya.
Soal hubungan Ganesh dan Gia tidak ada yang tahu. Ganesh sendiri bukan tipe cowok yang suka mengumbar hubungannya. Tapi hubungan mereka terjalin saat Ganesh belum pindah ke rumah Garda. Hubungan Ganesh dan Gia bertahan cukup lama. Keduanya sama-sama nyaman. Karena cukup lama Gia berencana untuk mengenalkan kekasihnya ke hadapan kedua orangtua.
Keduanya masih ingat. Malam itu malam sabtu. Gia sudah bilang pada Brian dan Widuri akan mengenalkan kekasihnya. Untuk itu Widuri memasak makanan spesial. Detik berganti menit, menit berganti jam, hingga akhirnya malam pun datang. Dengan semangat Gia menyambut kehadiran Ganesh.
Malam itu Ganesh datang dengan tampilan kinyis. Sederhana saja. Ia memakai kaos polos putih dengan celana jeans panjang juga topi baseball sewarna dengan atasan yang dikenakan. Tak perlu berpakaian macam-macam, Ganesh selalu tampil memukau. Gia menantikan kehadiran sang kekasih di depan rumah. Sama seperti biasa cowok itu selalu tepat waktu.
Gia mengajak Ganesh masuk ke dalam rumah. Awal yang baik ketika Widuri ikut bergabung dengan Gia di ruang tengah. Mereka berbincang sembari menunggu kepulangan Brian. Ketiganya nampak akrab. Widuri kelihatan senang dengan kehadiran Ganesh. Semua baik-baik saja hingga Brian datang satu jam kemudian. Pria itu langsung menemui Ganesh. Dan tatapan ketidaksukaan terpancar dari kedua maniknya.
Brian meminta Gia dan Widuri pergi menyiapkan makan malam. Tentu saja kedua wanita itu menuruti. Sepasang anak ibu itu pergi meninggalkan Ganesh dengan Brian. Suasana ruang tengah mendadak tegang. Tatapan intimidasi Brian tak kunjung surut. Bukannya surut pria itu malah semakin menatap tajam Ganesh.
Interview singkat mulai dilaksanakan. Selama Gia menjalin hubungan dengan Ganesh, Brian memerkerjakan seseorang untuk mengawasi. Katakan mata-mata. Si mata-mata itu bertugas untuk mengamati dan menyelidiki latar belakang keluarga Ganesh. Fakta mengejutkan didapat. Ganesh besar di lingkungan keluarga kurang baik. Ayahnya meninggal bunuh diri. Ibu dan kedua kakaknya adalah pemuas hasrat lelaki hidung belang. Sebenarnya dari awal Brian sudah tahu akan hal itu. Tapi sengaja ditahan. Hingga akhirnya waktu yang dinantikan Brian datang juga. Malam ini waktunya memutuskan jalinan cinta putrinya.
Ganesh diintrogasi ini itu. Panjang lebar. Hingga tiba saatnya Brian mengungkapkan ketidaksukaannya. Dan malam itu menjadi saksi bisu rasa sakit yang diderita Ganesh. Ia tak memerlihatkan kesedihannya pada Gia dan Widuri. Ganesh terlihat baik-baik saja hingga malam jamuan usai. Lalu keesokan harinya seperti intupsi dari Brian, Ganesh harus memutuskan Gia. Ini sulit, tapi terpaksa dilakukan jika ia tak ingin berhadapan dengan masalah.
Ganesh hilang arah sejak ayahnya meninggal dunia. Ia berubah menjadi manusia dingin. Tapi sejak mengenal Gia semua berubah. Ganesh si manusia tak tersentuh akhirnya bisa luluh. Dan malam seusai jamuan ia harus merelakan hubungannya dan Gia kandas begitu saja. Ganesh si manusia tak punya apa-apa harus memutuskan hubungan demi kebaikan Gia.
Sore itu di parkiran fakultas Gia, Ganesh mengungkapkan semua. Tentang semalam sewaktu Brian memintanya memutuskan Gia. Semua Ganesh ceritakan. Akhir pertemuan sore itu adalah berakhirnya hubungan Ganesh dan Gia. Sebenarnya mereka sama-sama tidak mau melepas. Mereka sudah berada di puncak zona nyaman. Gia sudah menantapkan hatinya pada Ganesh. Begitu pula sebaliknya.
Mereka sudah punya plan masa depan. Menikah. Pikiran Gia dan Ganesh sudah sejauh itu. Mereka memang serius menjalani hubungan kali ini. Karena keduanya bukan tipe manusia yang suka bermain-main dengan perasaan atau sebuah hubungan. Namun, rencana indah Gia dan Ganesh tak terlaksana. Hubungan keduanya tak mendapat restu dari orangtua Gia.
Gia tersenyum pedih. Ingatan tentang masa lalu terputar jelas ketika ia menatap wajah Ganesh. "Ehem." dehaman Giri membuyarkan lamunan manusia yang ada di ruang tengah itu.
"Gi, kita bisa ngomong sekarang ya?" tanya Giri hati-hati.
Yang ditanya menganggukan kepala. "Bisa." jawabnya.
Kini giliran Giri yang menganggukan kepala. Detik selanjutnya ia mulai menyuarakan tujuan utama. "Jadi, gini, Gi. Gue, Ganesh, sama Garda tuh butuh seseorang untuk ngerawat rumah. Bersih-bersih, cuciin baju, juga masakin kita." awal Giri menjelaskan.
Manik Gia menajam. Jadi, tiga pria yang ada di hadapannya ini sedang mencari pembantu? Gia ingin bersuara. Menyuarakan isi hati. Tapi belum sempat bersuara Garda menambahi ucapan Giri. "Tadinya kita mau cari bibik yang usianya matang. Tiga puluh ke atas lah. Pokoknya yang bisa ngurus rumah dan t***k bengeknya." berjeda. Garda melirik Ganesh dan Giri bergantian. "Tapi, bukan hanya itu aja yang kami cari, Gi. Selain butuh orang untuk bersih-bersih kita juga butuh seseorang untuk muasin harsat kita sebagai seorang pria. Biar sekalian bayarnya." sambungnya sangat berhati-hati.
Sekian detik Gia diam. Mencoba mencerna ucapan Garda. Dan maniknya langsung melotot ketika ia tahu maksud dari ucapan itu. Menyadari reaksi Gia membuat Giri beranjak lalu duduk dan mengelus bahu Gia. "Gue nggak tahu harus bilang dari mana, tapi coba lo pikirin keuntungan yang didapat. Oke sebelumnya gue minta maaf. Yang gue dengar dari Jessi lo ngontrak kan? Itu artinya setiap bulan lo ngeluarin duit buat bayar kontrakan."
"Nah kalau lo terima tawaran kita, lo nggak perlu bayar uang kontrakan lagi. Lo akan tinggal di sini sama kami bertiga. Dan bukan hanya itu aja, tapi perbulannya lo juga akan mendapatkan gaji." tambah Garda memberitahu.
"Gue kerjanya cuma bersih-bersih, cuciin baju kalian, sama masak aja 'kan?" tanya Gia menatap Garda dan Giri bergantian. Ia terlalu malu jika harus menatap wajah Ganesh.
Garda dan Giri menggelengkan kepala. "Eh, Nesh, lo daritadi diam aja. Sekarang lo yang jelasin!" titah Garda.
Ganesh gelagapan. Daritadi ia diam bukan tanpa alasan. Ganesh sedang menetralisir perasaannya. Ia juga berusaha menyangkal kenyataan yang sedang dihadapinya. Ini terlihat seperti mimpi, tapi sungguh terjadi. Tidak mungkin Gia—mantan kekasih yang dikenalnya sebagai cewek baik-baik— seorang w************n. Ganesh benci kenyataan ini. Ia kecewa juga.
"Nesh, speak up dong!" ucap Giri.
Ganesh yang tadinya menunduk kini menegakan kepalanya. Ia menatap manik Gia. Masih sama. Tatapan sendu gadis itu masih bisa memporakporandakan hatinya. Rasa itu masih ada. Padahal tadinya Ganesh ingin membunuhnya. Tapi ternyata harapan tak pernah sesuai dengan realita. Ganesh masih mencintai Gia.
"Nesh," panggil Garda.
Yang dipanggil menerjapkan mata. "Iya." sahutnya.
"Iya apaan?! Buru ngomong!" titah Garda.
Ganesh menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Kenapa harus kamu, Gi? Tanyanya dalam hati. "Ganesh ih! Gua tau Gia emang memesona, tapi ya tolong lo harus profesional dong! Belum juga apa-apa udah klepek-klepek aja." kata Giri kesal.
Kedua teman Ganesh tidak tahu. Garda dan Giri tidak tahu bagaimana rasanya jadi dirinya. Ganesh menyungingkan senyum kecut. "Enggak, Gi." berjeda. Rasanya campur aduk saat ia memanggil nama Gia. "Lo nggak cuman beberes rumah ini. Tapi lo juga harus layanin kami." sambungnya datar.
Padahal jantung Ganesh sedang berdentum kencang. Seluruh tubuhnya juga seakan diremukan. Sakit. Bagaimana bisa gadis yang dulu—hingga sekarang— menguasai hatinya beralih profesi sebagai w************n. Gia jual diri. Demi Tuhan kenyataan macam apa ini?
"Yang jelas dong, Nesh. Elah lo payah banget dah!" cibir Giri.
"Gak usah salahin Ganesh. Gue sudah tahu apa maksudnya." kata Gia menahan sesak dalam dirinya.
"Oh pinter deh kalau lo langsung paham." berjeda. "Gue kasih tahu, Gi. Pekerjaan yang kami tawarin ini bersifat kontrak. Selama satu tahun full." sambung Giri mulai menjelaskan.
"Dalam satu bulan itu ada empat minggu kan, Gi? Jadi, perminggu lo bakal diapa ya namanya? Digilir—duh b******k banget, tapi ya lo bakalan digilir oleh kami bertiga dalam satu bulan. Maksudnya perminggu lo bakalan melayani kami secara bergantian."
Pendengaran Gia menuli.
"Dan lo pasti punya jadwal menstruasi 'kan, Gi? Selama datang bulan itu lo free. Tapi setelah kelar kami bakalan mainin lo secara bareng. Tiga lawan satu. Di atas ranjang yang sama." jelas Giri dengan brengseknya.
Jujur Ganesh menyesal. Ia menyesal pernah mengajukan usulan bodohnya.
"Lo juga masih perawan 'kan? Nah saat merawanin kita juga akan beraksi bertiga." tambah Garda.
Manik Gia memejam. Ia tak bisa membayangkan adegan menjijikan. Bagaimana bisa Gia digilir oleh tiga orang pria sekaligus.
"Selama terikat kontrak lo nggak boleh main sama oranglain. Begitu juga dengan kami." ucap Giri.
Garda kembali menganggukan kepala. "Ini bertujuan untuk mencegah datangnya penyakit. Btw kalau lo nerima tawaran ini kami bertiga akan langsung cek kesehatan guna memastikan 'kebersihan' kami." ucapnya menambahi.
Gia membuka maniknya. Kembali menatap wajah ketiga pria yang ada di hadapannya secara bergantian.
"Tapi, Gi, kalau keberatan lo bisa nggak nerima tawaran ini kok—"
"Nesh, lo apaan dah!" potong Giri cepat. "Harusnya lo bantu kita untuk meyakinkan Gia." sambungnya pelan.
"Nggak boleh ada paksaan, Ri! Gue nggak mau Gia kenapa—" berjeda. "Gue nggak mau Gia terpaksa, maksudnya." ralatnya cepat.
"Heleh tai ayam!" ledek Garda. "Kita udah dapat perawan, Nesh. Lo jangan nyia-nyiain kesempatan!" bisiknya di telinga Ganesh.
Yang dibisiki hanya bisa menelan ludah susah payah. Ganesh diam. Giri kembali bersuara. "Pikir lagi deh, Gi. Daripada lo menjajahkan tubuh lo pada pria yang nggak jelas asal-usulnya lebih baik lo main sama kami bertiga. Gua masih belum tahu, tapi gue berani jamin kalau kami bersih."
Gia diam.
Garda menganggukan kepala. "Iya, Gi. Lagipula kami nggak selalu minta naena. Dalam satu minggu itu kami sudah membuat kesepakatan kalau hanya akan bercinta seminggu sekali. Lebih dari sekali lo boleh minta uang tambahan." tuturnya.
Giri mengerutkan dahi. Sejak kapan kesepakatan itu terlontar? "Kapan kita bikin kesepakatan kek gitu, Ga?" tanyanya.
Garda mengedipkan sebelah matanya. Giri menganggukan kepala tanda mengerti. Melihat dua temannya yang sedang berkonspirasi membuat Ganesh geram. Bagaimanapun caranya ia harus menyelamatkan Gia. Entah atas dasar apa Ganesh melakukan ini. Tapi anggap saja ini panggilan hati.
"Kam—lo nggak harus nerima tawaran ini kok, Gi. Kalau keberatan bisa tolak." ucap Ganesh.
Gia masih diam. Giri memelototi Ganesh begitu pula Garda. Keduanya kompak menatap Ganesh dengan sorot penuh ancaman. Tapi bukan Ganesh namanya jika ketakutan. Bukannya takut ia malah balas menatap Garda dan Giri. "Apa? Gue salah bicara ya?" tanyanya bodoh.
Andai saja Gia tak ada di sini mungkin Garda dan Giri sudah menghabisi Ganesh. Tapi sudahlah. Ganesh urusan belakangan. Sekarang yang terpenting adalah apakah Gia mau atau tidak. Sudah itu saja.
"Gue nggak mau lo menjalani ini dengan berat hati. Sekali lagi lo bisa tolak kalau keberatan." ucap Ganesh menatap lekat manik Gia.
Kali ini Garda tidak bisa diam. Ia memiting leher temannya. "Bacot lo!" katanya.
Sementara Garda mengurusi Ganesh, Giri bertugas menanyai Gia. Ia meraih kedua tangan gadis itu. "Jangan dengerin yang nggak perlu didengar. Lo pikir keuntungannya. Kalau lo kerja sama kami, lo nggak perlu jual diri ke p****************g di luaran sana." ucap Giri mencoba menyakinkan.
Giri benar, tapi Gia masih ragu. Kenapa sulit sekali? Padahal ia hanya perlu menjawab ya atau tidak. Ck! Semua terasa lebih berat karena kehadiran Ganesh.
"Jangan melakukan sebuah pekerjaan kalau lo nggak ikhlas—"
"Ganesh bacot!" potong Garda membekap mulut Ganesh dengan tangannya.
Gia menatap Ganesh. Mereka bertukar pandang. Ada sorot permohonan dalam tatapan Ganesh. Gia semakin bingung. Tatapan itu tak berlangsung lama ketika Giri menolehkan kepala Gia untuk kembali menatapnya. "Jangan dengerin dia, Gi. Dia manusia muna."
Gia kembali menatap Ganesh, tapi dengan cepat Giri mencegahnya. "Jadi gimana? Lo mau 'kan?" tanya Giri menatap manik Gia lekat.
Gia sempat memejam sebelum akhirnya. "Gue..."
Manik Ganesh berkaca. Hatinya bergetar. Demi Tuhan jika bisa ia meminta agar kedua telinganya tak bisa mendengar sekarang. Ganesh tidak siap. Sampai kapanpun ia tak pernah siap menyaksikan sang pemilik hati dimiliki atau dinikmati oleh orang lain. Ya Tuhan... Andai saja Ganesh terlahir dari keluarga terpandang. Mungkin ia bisa menyelamatkan Gia.
tbc.
#sasaji