Gia dan Ganesh

2192 Words
Gia butuh waktu. Ia meminta waktu untuk berpikir jernih. Sebenarnya tadi Gia langsung mau menerima tawarannya. Tetapi karena ada Ganesh, semuanya berubah. Cowok itu terlihat seperti memohon. Gia yang tidak tega akhirnya mengurungkan niatnya. Ia butuh bicara dengan Ganesh setelah ini. "Lusa kami harap lo udah buat keputusan ya, Gi. Kabarin via WA aja. Kalau dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam lo belum juga hubungin salah satu dari kita itu artinya lo nggak deal kontrak ini." ucap Giri mengantarkan Gia sampai depan pintu utama. Gia menganggukan kepala. "Siap!" "Gue harap sih lo mau. Karena pikir aja keuntungan yang lo dapet tuh lumayan. Ya meskipun dibalik keuntungan itu lo harus puasin hasrat gue, Ganesh, dan Garda." berjeda. Giri meraih tangan Gia. Percayalah soal menaklukan cewek percayakan semua pada Giri. Cowok berdarah Jawa itu memiliki pesona tersendiri di mata para kaum hawa. "Pikir lebih jauh lagi, Gi. Daripada lo ngelayanin p****************g diluaran sana—yang nggak lo tahu udah tercemar penyakit atau nggak, mending lo main sama kami bertiga. Gua yang jamin sendiri kalau kami bersih. Sembari nunggu lo mikir besok kami akan tes kesehatan." sambungnya menjelaskan. Yang dikatakan Giri benar. Daripada Gia melayani pria sejenis Om Bro, mending ia bermain dengan tiga pria idaman mahasiswi kampusnya. Gia tahu siapa Giri terutama Garda. Nama Garda benar-benar tak asing di telinganya. Tapi selama ini ia hanya mendengar namanya saja. Dan malam ini Gia tahu wajah cowok bernama lengkap Immanuel Gardana Ishak. Apa yang dikatakan mahasiswi kampus juga teman sekelas Gia benar jika Garda memang menawan. "Iya, Ri. Gue bakal pertimbangin baik-baik." jawab Gia seadanya. Giri menyungingkan senyum. Membuatnya terlihat puluhan kali lebih manis. Hal tak teduga dialami oleh Gia. Giri mencium telapak tangan cewek itu mesra. Manis sekali. Perlakuan itu membuat Gia salah tingkah. "Oke kalau gitu see you." ucap Giri melepaskan pegangan tangannya. Gia membalasnya dengan senyum kecil. Di detik selanjutnya ia pamit pada Giri. "Kalau gitu gue balik sekarang ya. Salam buat Ganesh dan Garda." Ah, iya tinggalkan Gia yang sedang berpamitan pada Giri. Mari kita cari tahu di mana keberadaan dua pria yang baru saja disebut Gia namanya. Ganesh dan Garda. Dua cowok itu sedang berdebat sekarang. Lebih tepatnya, Ganesh yang disiksa. Sama seperti tadi tangan cowok itu diikat dengan gesper. Bukan hanya tangan, tapi kedua kakinya juga. Dan sekarang Garda sedang menunggu kehadiran Giri untuk menyiksa Ganesh. Garda dan Giri sedang kesal. Bagaimana tak kesal jika Ganesh membuat Gia menjadi ragu. Garda dan Giri tahu kalau Ganesh cinta pada pandangan pertama dengan wanita. Tapi ayolah. Ganesh tidak boleh dibiarkan egois. Mereka menyewa jasa Gia bersama-sama. Tak etis saja jika wanita itu ingin dimiliki seutuhnya oleh satu orang saja. "Ga, lo udah gua anggap sebagai kakak gua sendiri. Sekarang lo pikir deh mana ada sih kakak yang nyakitin adiknya sendiri?" ujar Ganesh berjeda. "Bukain, Ga. Sakit tauk tangan sama kaki gua!" sambungnya mengeluh. Sebenarnya Garda juga tak tega melihat Ganesh tersiksa seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sedang kesal pada Ganesh. "Diem lo! Mau gua plester juga mulut lo?" jawabnya sarkas. Ganesh menurut. Bibirnya cemberut. "Gini amat hidup gua. Punya bokap bego. Punya nyokap murahan. Punya kakak pada kejam. Oh My Jesus Christ, aku rela mati malam ini. Dan jika aku mati nanti terimalah aku di Surga-Mu. Biarkan aku jadi pelayan setia-Mu." eluh Ganesh tulus dari dalam hati. "Mulut lo gak pernah disekolahin ya?" itu bukan suara Garda melainkan Giri. Pria itu sudah kembali. Dan sekarang sudah duduk di sebelah Ganesh. "Ri, lo udah gua anggap sebagai dedek emes gua. Bukain tangan Mas Ganesh ya? Sakit banget ini tolong." kali ini Ganesh ganti mengadu pada Giri. Sebenarnya mereka bertiga lahir di tahun yang sama. Hanya saja beda bulan. Garda lahir di bulan Maret. Ganesh di bulan April. Sementara Giri di bulan Mei. Hanya berjeda satu-dua bulan saja. Konyolnya mereka saling memberi gelar satu sama lain. Meskipun kesal, Giri juga sama tak teganya seperti Garda. Keduanya bermain mata. Berkomunikasi melalui mata dan batin. Hingga akhirnya Garda dan Giri saling menganggukan kepala. Mereka sepakat untuk melepaskan gesper dari tangan dan kaki Ganesh. "Thanks God." ucap Ganesh menatap langit—seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan Tuhan. "Thanks adik dan kakakku!" sambungnya memeluk Garda dan Giri bersamaan. "Najis tralala!" ucap Garda-Giri bersamaan. Ganesh kembali mengerucutkan bibirnya ke depan. Lucu. Saking lucunya Garda sampai gemas. Ia mencubit bibir Ganesh. "Mulut lo ngalahin mulut ikan cupang!" "Lo kenapa sih, Nesh? Gegara lo Gia jadi mikir dua kali. Dia yang tadinya mau bilang iya jadi ragu." sambung Garda bertanya. "Iya! Gue sebel sama lo, Nesh! Andai aja tadi Gia setuju malam ini kita udah main sama perawan. Ck!" tambah Giri tak kalah kesal. Ganesh masih sayang pada Gia. Ia masih berniat menjalin hubungan serius. Bahkan sampai sekarang plan menikah dengan Gia masih ada. Meski ia pernah ditolak oleh kedua orangtua Gia, tapi Ganesh yakin jika suatu saat nanti hubungannya akan direstui. Ganesh pikir ini hanya masalah waktu. Ia yakin suatu hari nanti akan ada masanya memetik sesuatu yang indah. "Gue nggak suka seseorang melakukan pekerjaan karena terpaksa." jawab Ganesh. "Gia nggak terpaksa. Dia suka hati melakukan itu!" ucap Giri. Ganesh menolehkan kepala. Senyum kecutnya tersungging. "Bocah jangan sok tau!" "Cewek macam Gia tuh banyak di luaran sana. Mereka rela jual diri demi bisa bergaya hidup mewah. Sebagian terpaksa memang, tapi lo pikir dia terpaksa demi bisa milikin duit instan. Kerja cepat dapat uang banyak." Suasana ruang tengah mulai memanas. Tiga orang pria disatukan dalam satu ruang yang sama. Yakinlah pasti akan ada perbedaan pendapat. Sebentar lagi adegan adu mulut akan terjadi. Ganesh kembali tersenyum kecut. Yang dikatakan Giri benar. Banyak wanita rela menjual diri demi memenuhi kebutuhan gaya hidup mewahnya. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Lihat saja ibu dan kedua kakak Ganesh. Tiga wanita yang ada dikenalnya menjajahkan diri demi beberapa lembaran uang untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan pribadi, tepatnya. Ganesh tahu bagaimana rasanya menjadi anak wanita tidak benar. Semua bermula ketika ayahnya diberhentikan dari tempatnya kerja. Ada pengurangan pekerja, alasannya. Sejak saat itu semua berubah. Ibu dan kedua kakak Ganesh tidak tahan jika hidup dalam kesusahan. Mereka tipe wanita suka foya-foya. Untuk itu mereka mulai menjual diri demi memenuhi kebutuhan hidup mewah. "Gue yakin dia bukan tipe cewek yang mengutamakan hidup mewah." sanggah Ganesh. Garda dan Giri tertawa. Menertawakan Ganesh yang buta akan brand fashion dan sebangsanya. Kasihan sekali si Ganesh. Ia tak tahu mana baju mahal dan mana baju goceng. Bagi Ganesh harga bukanlah hal penting. Yang terpenting adalah selama si baju nyaman digunakan, ia tak akan memermasalahkan. "Gua tanya ke lo ya, Nesh. Lo tahu nggak harga sendal yang tadi Gia pake?" Ganesh menggelengkan kepala. "Sekitar sepuluh juta!" ucap Garda membuat Ganesh melotot tak percaya. Perasaan sendal yang dipake Gia tadi hanya sendal cewek biasa. Ganesh tak menyangka jika harga barang yang diciptakan untuk diinjak saja mencapai puluhan juta. Gila! Ini sebabnya Ganesh tak suka berganta-ganti pasangan. Ia dan dompetnya belum kuat jika harus menghidupi hidup mewah pasangannya. "Ah, ngaco lo berdua!" kata Ganesh berusaha menyangkal. "Mana ada kami ngaco. Makanya ya Bambang lain kali kalau diajak ke Plaza Senayan tuh ikut. Gua ajak ke store-nya Gucci biar lo melek harga." ucap Garda. Ganesh kalah omongan. "Sekarang ke rumah Gia sono lo! Pokoknya lo harus bujuk dia supaya mau nerima kontraknya." ucap Giri menjauhkan tubuh Ganesh. Kesempatan bagus untuk ngobrol berdua dengan Gia! Ganesh beranjak berdiri. "Harus banget ya gue temuin dia?" tanyanya akting. Giri menganggukan kepala. "Haruslah!" Senyum Ganesh tersungging samar. "Yaudah gue berangkat sekarang." pamitnya melangkah pergi. "Jangan balik lo kalau belum bisa bawa Gia ke sini!" teriak Giri mengiringi kepergian Ganesh. Ganesh tak mengindahkan teriakan Giri. Sekian detik berlalu cowok itu benar-benar menghilang. Ganesh tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Malam ini ia harus berbicara dengan Gia. Ganesh harus merubah pikiran mantannya. ... Ganesh dan Gia tidak bertemu di kontrakan. Setelah mendapat nomor Gia, Ganesh langsung menghubunginya untuk membuat janjian ketemuan. Mereka sepakat bertemu di salah satu caffe yang ada di Kemang. Ganesh hapal betul jika Gia suka sekali ke caffe yang sedang dipijaknya kini. Ia sendiri senang duduk berlama-lama sembari melihat jalanan kota Jakarta. Yang tidak gembira di sini adalah kantongnya. Apalagi saat akhir bulan seperti ini. Ingin rasanya Ganesh mengajak Gia ketemuan di alun-alun kota atau flayover juga bisa. Ganesh sudah memesan hot capucino beserta makanan ringan. Ia bersyukur ternyata uang di dompetnya masih ada. Ganesh sudah menghabiskan setengah gelas kopi dan snacknya. Tetapi yang ditunggunya belum datang juga. Ganesh jadi khawatir. Kira-kira Gia kenapa ya? Ganesh P: Gi, udah sampai mana? Ganesh P: kamu baik-baik aja kan? Gia sempat membaca pesan yang dikirimkan Ganesh saat ia berada di parkiran caffe. Senyumnya mengembang. Ganesh masih sama. Ia masih peduli terhadapnya. Gia tak membalas pesan sang mantan. Sesudah melepas helm ia langsung masuk ke dalam caffe. Katanya, Ganesh berada di lantai dua outdoor dan tanpa menunggu lebih lama ia langsung menaiki anak tangga. Dari tempatnya berdiri, Gia bisa melihat tubuh Ganesh dari belakang. Ia tersenyum. Dulu, sewaktu pacaran Gia sering sekali memeluk tubuh itu diam-diam. Ganesh sendiri tidak pernah marah waktu dipeluk. Bukannya marah ia malah membalikan badan untuk membawa tubuh Gia ke dalam dekap hangat yang sebenarnya. "Hai, Nesh," Gia muncul ke hadapan si pria. Sempat terlihat raut keterkejutan Ganesh. Ganesh beranjak berdiri. Ia sendiri tidak sadar jika berdiri. Ganesh mendadak jadi orang bodoh. Ia salah tingkah karena kehadiran Gia. "H-hai, Gi." jawab Ganesh kikuk. "Duduk, Gi," sambungnya memersilakan. Gia mengangguk patuh. Ia menuruti permintaan Ganesh. "Sudah pesan?" tanya Ganesh memulai perbincangan. "Belum." jawab Gia singkat. "Mau aku pesanin?" tawar Ganesh. "Bentar lagi pelayannya bakal samperin." Dan apa yang dikatakan Gia ada benarnya. Ganesh lupa jika mantannya itu sering sekali datang ke sini. Ia lupa kalau Gia adalah member tetap caffe ini. Gia menyebutkan pesanan pada si pelayan. Setelah puas menyebutkan dan membayar, Gia kembali berhadapan dengan Ganesh. Mereka sempat saling berdiam diri. "Ada perlu apa kamu mau ketemu aku, Nesh?" tanya Gia tak betah jika harus berdiam diri lebih lama. "Aku mau—mmm..." "Soal kontrak itu ya?" tebak Gia, benar. Ragu, Ganesh menganggukan kepala. Gia meresponnya dengan senyum kecut. "Kamu kaget ya, Nesh? Atau sudah pernah nebak kalau akhirnya aku bakal jadi kayak gini?" tanya Gia pedih. Ganesh menggelengkan kepala. "Nggak pernah sama sekali, Gi. Aku nggak pernah bayangin dan nggak percaya kalau kamu jadi kayak gini." jawabnya menatap sendu Gia. "Harusnya kamu senang dong, Nesh. Dulu Papa aku pernah ngerendahin Ibu dan kedua kakak kamu. Sekarang kamu bisa balas perlakuan Papa." ucap Gia. Ganesh kembali menggelengkan kepala. "Aku nggak mau kamu terjerumus dalam dunia seperti itu, Gi. Aku nggak mau kamu masuk dunia itu." Gia balas menatap Ganesh. "Sayangnya aku sudah masuk, Nesh. Aku sudah masuk ke dalamnya." "Kalau gitu aku akan selamatkan kamu. Aku yang akan bantu—" "Selamatkan? Bantu? Dengan cara apa?" potong Gia mulai emosi. Ganesh meraih tangan Gia. Mengelusnya perlahan. "Dengan cara apapun. Demi Tuhan, Gi. Aku nggak mau kamu terjerumus dalam dunia itu." Gia menarik tangannya. Senyumnya kembali tersungging. "Asal kamu tahu, Nesh. Papa aku masuk penjara. Mama aku pergi tanpa jejak. Aku ditinggalkan sendirian." perlahan, tapi pasti air mata Gia mulai menetes. Dengan cepat ia langsung menghapusnya. "Keluargaku hancur. Aku ditinggalkan tanpa bekal." sambungnya menatap Ganesh. Ganesh tak kaget jika mendengar Brian masuk penjara. Ia sudah tahu sejak beritanya keluar. Yang Ganesh baru tahu adalah Widuri pergi meninggalkan Gia. Ya Tuhan... Ganesh pikir cewek itu masih tinggal dengan sang Ibu meski hanya di sebuah rumah kontrakan. Namun ternyata Ganesh salah. Gia tinggal sendiran. "Kamu tahu Jakarta keras 'kan? Sekarang aku sudah nggak punya apa-apa, Nesh. Uang untuk bayar kontrakan pun aku hutang." jujur Gia. Ganesh kembali dikejutkan. Segitu parahnya kehidupan Gia sekarang. "Tapi, bukan berarti kamu bisa jual diri kamu, Gi!" ucapnya emosi. "Masih ada pekerjaan halal di luar sana." sambungnya mengingatkan. Senyum Gia kembali tersungging. "Apa? Kerja apa yang menghasilkan banyak uang?" "Manjadi pelayan caffe lebih mulia daripada jual diri." jawab Ganesh berjeda. "Nanti aku tanya Garda, Gi. Aku tanyain masih adakah lowongan untuk kerja di caffenya." Fyi, Garda memang punya caffe kecil-kecilan. Ia membuka caffe dari uang hasil mengontakan rumahnya. Dan minta tambahan kedua orangtuanya sih. Yang jadi pelayan dan barista juga kedua temannya. Garda hanya memerkerjakan satu dua orang asing. Satu untuk mencuci satu lagi untuk memasak menu makanan. Selebihnya Garda mengandalkan Ganesh sebagai barista dan Giri sebagai pengantar pesanan. Caffenya sendiri sudah sepuluh bulan berjalan. Pengunjungnya lumayan. Kalau Garda ada rezeki ia ingin membuka cabang di tempat lain. "Jangan terima kontrak kerja kami. Aku mohon—" "Kamu bukan siapa-siapa aku. Jadi, kamu nggak berhak larang-larang aku." potong Gia telak. Ganesh diam sesaat. Ucapan Gia berhasil menamparnya. Jangan sakit hati, Nesh. Luluhkan Gia! Ganesh kembali meraih tangan Gia. Ia kembali menatap lekat manik bening mantan kekasih. "Oke kalau kamu nggak mau nurutin aku karena kita udah nggak ada apa-apa." berjeda. Jantung Ganesh bedetak cepat. Keringat di wajahnya mulai bercucuran. Calm down, Nesh. Selow. "Dan supaya kamu mau nurutin permintaan aku. Aku mau kita kembali menjalin cinta." sambungnya ambigu. "Maksud kamu?" tanya Gia mengerutkan keningnya. "Kamu mau kan balikan sama aku?" jawab Ganesh membuat Gia kehabisan pasokan udara. Ya Tuhan... Ingin rasanya ia meninggal dunia. tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD