Gia dan Ya!

1939 Words
Kepala Gia terasa berat. Ia butuh sesuatu untuk meredakan rasa sakitnya. Minum obat sudah tidak mempan. Beberapa saat lalu Gia sudah meneguk dua obat sakit kepala sekaligus. Hasilnya nihil. Bukan rasa sakitnya menghilang yang ada malah Gia semakin kesakitan. Mungkin obat yang dikonsumsinya sudah beralih fungsi. Yang semestinya menghilangkan rasa sakit ini malah menambahi sakit. Hhh... Sakit kepala Gia disebabkan karena banyak pikiran. Gadis itu sedang memikirkan dua jawaban. Soal penawaran Triple G juga ajakan balikan Ganesh. Gia memegangi kepalanya. Rasanya ingin sekali ia membenturkan kepala ke tembok atau benda apapun yang mempunyai tekstur keras. "Kamu mau 'kan balikan sama aku?" tanya Ganesh beberapa jam lalu. Tadi Gia hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Ganesh. Bukannya tak mau menjawab, tapi ia bingung harus menjawab apa. Kalau boleh jujur Gia mau-mau saja balikan dengan mantannya. Tapi kalau balikan itu sama artinya dengan ia menyerahkan takdir hidupnya pada Ganesh. Kalau Gia kembali menjalin kasih dengan Ganesh dipastikan ia tidak bisa cari uanh untuk memenuhi kebutuhan. Ingat, saat ini Gia butuh uang bukan pasangan. Sejak menyerahkan diri pada Jessi, Gia sudah membulatkan tekadnya. Ia akan bekerja menjadi wanita hina. Kata Jessi tidak papa melakoni pekerjaan ini selama Gia bisa mengimbanginya dengan ibadah. Jessi juga berjanji akan mengajak Gia beribadah setiap sabtu-minggu ke Gereja. Gia sempat tertampar keadaan. Jessi yang sudah senior dalam dunia malam saja masih ingat pada Tuhan. Lalu Gia? Gadis itu memilih berhenti percaya pada kuasa-Nya semenjak keluargnya terpecah. *Toktoktok* Suara ketukan pintu terdengar. Membuat manik Gia tertuju pada jam dinding kamarnya. Pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Gia menegapkan badan. Ia berlarian kecil untuk bisa membukakan pintu si tamu. "Puji Tuhan gue nggak salah ketuk pintu rumah orang." Jessi. Tamu itu adalah Jessi. Gia membelalakan maniknya. Ada perlu apa cewek itu datang ke kontrakannya? Apa ada masalah atau sesuatu yang penting? "Masuk, Je." ucap Gia memersilakan. Jessi menuruti apa kata Gia. Ia masuk dan duduk di karpet. Hell, kontrakan Gia tak ada sofa atau kursi. Semua tamu di rumah ini akan dipersilakan duduk di lantai yang sudah dialasi karpet. "Maaf, Je, beginilah keadaan kontrakan gue." ucap Gia tak enak hati. "Btw lo mau minum apa?" sambung Gia bertanya. "Apa aja." berjeda. "Tapi kalau ada yang dingin ya." tambahnya nyengir kuda. Gia menganggukan kepala. Ia masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang. Di kontrakannya tak ada kulkas jadi Gia putuskan untuk membelikan Jessi minuman dingin di warung dekat kontrakan. Gia berpamitan pada Jessi. Jessi yang baru tahu sebuah fakta baru membuatnya tidak enak hati. Ia meminta Gia untuk mengurungkan niat. Tapi sudah terlanjur. Gia sudah keluar rumah menuju warung depan. Sepeninggal Gia, Jessi melihat-lihat kontrakan sederhana ini. Melihat ke sekitar. Ke langi-langit ruangan. Selama ini Jessi masih kurang bersyukur. Ia meminta uang pada Ayahnya untuk membelikan unit apartemen baru. Yang lebih luas. Yang lebih bagus. Tapi setelah melihat kondisi kontrakan Gia pikiran Jessi langsung berubah. Ia lebih bersyukur. "Maaf lama." ucap Gia entah sejak kapan muncul ke hadapan Jessi. Gia mengeluarkan dua botol teh kemasan juga dua kaleng minuman soda. Ia menyuguhkannya di hadapan Jessi. "Seadanya ya, Je. Hehe." katanya tersenyum garing. Jessi langsung mengambil minuman kaleng, membuka lalu meneguknya. Tengorokannya kering. Hawa dalam kontrakan ini juga panas. Hal itu mmebuatnya kegerahan. Gia yang tahu gelagat Jessi menjadi tak enak hati. Tapi bukankah ini salah Jessi sendiri? Siapa suruh datang ke kontrakannya? Gia tersenyum pedih. Andai saja keluarganya masih utuh. Andai istana megahnya tak disita. Mungkin ia bisa mengajak siapa saja datang ke rumahnya. Gia tak akan malu jika ditanya di mana ia tinggal. Semua itu... Sudahlah! Tidak baik jika terus berangan-angan. Karena bukannya kesampaian yang ada malah kesakitan. "Oh iya btw lo pasti nanya kenapa gue ke sini kan?" Jessi yang sudah menyelesaikan minumnya langsung menanyai Gia. Yang ditanya menganggukan kepala. "Iya kenapa?" Jessi membenarkan posisi duduknya. "Om Bro mau pake jasa lo. Dia berani bayar lo dua kali lipat dari harga normal." ucapnya memberitahu. Dua kali lipat? "Lo bayangin aja kelipatan dua puluh lima juta berapa. Lima puluh juta, Gi! Dengan uang segitu lo bisa nyicil apartemen." berjeda. "Lo bisa tinggal di gedung yang lebih layak dari ini." sambung Jessi. Memangnya hunian yang ditinggali Gia ini kondosinya parah ya? "Maaf ya, Gi. Bukannya apa-apa, tapi... I know what you feel. Pasti nggak gampang 'kan tinggal di rumah seperti ini?" Mau tak mau Gia menganggukan kepala. Apa yang dikatakan Jessi benar. Butuh adaptasi yang cukup lama untuk Gia bisa tinggal dalam kontrakannya. Ia tak ingin muna. Kenyamanan itu baru bisa dirasakannya akhir-akhir ini. Jessi meraih tangan Gia. "Gue niat bantu lo, Gi." ucapnya tulus. "Lo sama Giri juga belum deal 'kan?" sambungnya menatap Gia. Gia menggelengkan kepala. "Ya udah kalau gitu lo mau ambil tawaran Om Bro ya?" tanya Jessi. Dan pertanyaan itu berhasil membuat kepala Gia terasa lebih sakit. ... "Hari ini nggak kelas?" Garda muncul dengan sepiring roti isi telor mata sapi. Pria itu menaruh sepiring roti yang baru saja selesai dibuatnya ke atas meja makan. Giri langsung mengambil dua. Sesuai dengan jatahnya. "Enggak, Ga. Males gua ada matkul dosen bucin." jawabnya sembari menyuap roti. "Gimana lo mau lulus kalau nggak pernah masuk." cibir Garda berjeda. "Gue dong bentar lagi wisuda!" sambungnya menepuk-nepuk d**a tanda bangga. Giri memutar kedua bola matanya. "Ya percaya dah kakak tertua memang tidak ada yang bisa mengimbangi." berjeda. Giri menatap Garda. "Soal bolos kuliah gua akan tobat kalau gua dah berobat ke Ningsih Tinampi." sambungnya tersenyum samar. "Ningsih Tinampi, siapa?" "Lo nggak tahu siapa dia? Itu youtube lo, lo buat nonton apaan?" "Ningsih Tinampi siapa sih, Nesh?" tanya Garda pada Ganesh yang sedang membuat s**u untuk menemani makan roti. Yang ditanya mengerdikan bahu. "Lah mana gua tauk. Siapa sih, Ri?" jawab Ganesh balik nanya Giri. "Elah payah bat lu berdua!" berjeda. "Ningsih Tinampi tuh orang sakti yang bisa nyembuhin manusia kena santet. Nanti kita lihat vlognya rame-rame dah. Seru asal lo berdua tahu!" Garda mendelik. "Lah lu kena santet, Ri?" paniknya beranjak berdiri lalu berjalan menghampiri tempat duduk Giri. "Gigi lo kena santet!" maki Giri menjauhkan tubuh Garda. "Ya terus ngapain lo ke tempat begituan? Lo bersin semen? Beser batu-bata?" tanya Garda sok panik. Yang dicek langsung buru-buru menjauhkan tangan Garda. Giri beranjak berdiri. "Dih amit-amit. Dah ah males gua sama lo. Mending gua kembali rebahan aja." ucapnya pergi meninggalkan Garda. "Ri ini s**u lo!" teriak Ganesh baru saja bergabung dengan dua gelas s**u. Giri berhenti melangkah. Ia membalikan badan. "Nanti aja, Nesh! Males gua sama Garda. Bercandanya nggak asik soalnya." jawabnya kembali melanjutkan perjalanan. Ganesh mengerdikan bahu. Ia kembali ke arah dispenser untuk mengambil s**u miliknya. "Lo apain Giri?" tanyanya duduk di sebelah Garda. "Nggak gue apa-apain. Lo lihat dan dengar sendiri kan percakapan kita tadi." jawab Garda menyesap s**u hangat buatan Ganesh. Ganesh ada di ruangan yang sama dengan Garda dan Giri. Dan seingatnya memang Garda tak melakukan apa-apa pada Giri. "Kalau gitu minuman dia ditutupin aja ya. Biar nggak dingin." kata Ganesh beranjak berdiri untuk mengambil tutup gelas. "Semalam gimana, Nesh? Lo beneran udah ngomong sama Gia?" Ganesh menghentikan aktivitasnya sesaat. "I-iya lah! Gue beneran ngobrol sama dia semalam." "Terus kata dia apa?" "Dia mau mikir, Ga." berjeda. "Udahlah nggak usah mikirin Gia. Nggak usah omongin juga. Biarkan dia berpikir dengan tenang." sambungnya mengunyah roti isi. Manik Garda memicing. "Lo nggak racunin otaknya 'kan?" tanyanya mendekat. Sebenarnya Ganesh bukan tipe pria suka berbohong. Tapi, kali ini ia harus melakukan demi sebuah kebaikan. Walaupun sebenarnya Ganesh egois karena memikirkan dirinya dan Gia saja. Tapi sekali lagi biarkan. Ia harus melakukan ini demi sebuah kebaikan. "Nesh," panggilan Garda membuat Ganesh tersadar dari lamunannya. Ganesh menolehkan kepala. "Iya?" "Jawab pertanyaan gua!" ucap Garda meninju pelan bahu Ganesh. "Pertanyaan yang mana?" jawab Ganesh balik nanya. Hembusan napas kasar mulai terdengar. Sudahlah! Garda malas mengulangi pertanyaan. Lagipula ia juga percaya sepenuhnya pada pria yang sudah dianggapnya adiknya sendiri. Jadi ya sudahlah. Garda beranjak. "Lo kuliah kan hari ini?" tanyanya. Ganesh menganggukan kepala. "Kuliah. Jam satu, tapi." jawabnya. "Lo mau berangkat sekarang atau gua jemput nanti?" Di rumah ini hanya ada satu kendaraan. Dan itu milik Garda. "Bareng lo aja, Ga. Biar nggak ngerepotin lo nanti." jawab Ganesh. Garda menganggukan kepala. "Oke. Kita ke caffe dulu ya abis ini." "Siap bosqu!" Garda tersenyum. Ia juga mengacak rambut Ganesh gemas. "Kalau gitu lo siap-siap. Kita berangkat abis ini." pesannya meninggalkan Ganesh. Ganesh tersenyum masam. Di tengah takdir pahitnya ternyata ia masih punya alasan untuk bersyukur. Ganesh bersyukur punya teman seperti Garda dan Giri. "Terimakasih Bapa." .... "Ri, gue ama Ganesh berangkat. Lo jaga rumah yang bener!" teriak Garda di ambang pintu kamar Giri. Yang diamanahi pesan diam. Suara dengkuran kasar menggema di kamar bercat biru itu. Sepetinya Giri sudah hilang. Kesadarannya hilang bersamaan dengan terpejamnya kedua maniknya. "Ye bocah cepat amat ngilangnya." cibir Garda kembali menutup pintu kamar. "Bocil nggak kuliah?" tanya Ganesh bergabung di sebelah Garda. Garda menggelengkan kepala. "Dia males ketemu dosen bucin katanya." Ganesh mengambil alih posisi untuk membuka pintu kamar Giri. Maniknya memicing. Ia berjalan mendekat. Suara dengkuran keras kembali terdengar. Ganesh mendekat ke arah Giri. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh serta wajah Giri. Di detik selanjutnya Ganesh memencet hidung mancung Giri. Berhasil. Pria yang tadinya asik berkelana dalam dunia mimpi langsung membuka kedua maniknya. Bersamaan dengan itu, Ganesh langsung melarikan diri. "Kita berangakat, Ri!" teriak Ganesh. "GANESH DAN GARDA b*****t!!! AWAS AJA LU BERDUA KALAU DAH PULANG YA. GUA TENGGELEMIN DI AER KOBOKAN TAU RASA!" balas Giri kesal. Tidak ada jawaban. Mungkin kedua anak setan itu sudah pergi. Giri berdecak. Mendadak ia ingin buang air kecil. Giri bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke luar kamar untuk berjalan menuju kamar mandi yang ada di luar kamar. Fyi saja di rumah ini ada dua kamar mandi. Satu kamar mandi terletak di kamar utama a.k.a kamar Garda. Sedangkan satunya terletak di sebelah dapur. Giri berlarian kecil menuju kamar mandi. Ia menuntaskan buang air kecil dengan khidmat. Setelah selesai Giri berniat kembali ke kamar. Tapi belum sempat niatnya terlaksana kedua telinganya mendengar suara. *toktoktoktok Assalamualaikum...* Giri tersenyum geli saat mendengar bunyi bel itu. Di rumah ini hanya ia satu-satunya manusia yang beragama islam. Di rumah ini pula hanya ada one and only manusia yang mempunyai pemikiran abstrak macam Giri. Bodohnya Garda mau-mau saja rumahnya dipasang bel seperti itu. Katanya tak apalah membahagiakan adik kecilnya. Memang semua manusia di ruangan ini punya pikiran ajaib. *Toktoktok Assalamualaikum..." Giri menerjapkan mata. Ia berjalan menuju pintu utama. "Waalaikumsalam—" berjeda. Pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan dua koper besar dan sedang juga tas selempang. "Ukhti." sambung Giri tersenyum senang. Wanita yang ada di hadapan Giri adalah Gia. Iya, Gia—tunggu dulu. Giri mengamati barang bawaan Gia. Dua koper. Jangan-jangan... "Gue terima persyaratan kalian. Gue terima kontrak perjanjiannya." ucap Gia menatap Giri. Yang diajak biacara hanya bisa mengedipkan mata. Apa kata Gia? Giri tak salah dengar 'kan? "Ha, apa?" respon Giri. "Gue setuju sama perjanjiannya. Gue terima—" "Pinter!" potong Giri cepat. Cowok itu mengambil tangan Gia untuk dipegangnya. "Kalau gitu ayo masuk. Lo bisa kerja mulai sekarang.“ sambungnya menarik tangan Gia. "Eh, tapi Ganesh sama Garda masih kuliah. Mmm... Sembari nunggu keduanya pulang gimana kalau lo kasih tester ke gue aja ya." ucap Giri menolehkan kepala menatap Gia. "Tester apa?" tanya Gia. "Naenanya nanti malam tunggu Ganesh-Garda. Dan sekarang lo kasih tertersnya jadi guling gue aja! Kebetulan, Gi, gue mau tidur. Lo temenin gue ya?" jelas Giri panjang lebar. "Ha?" respon Gia. "Secepat ini?" sambungnya bertanya. Giri menganggukan kepala. "Lebih cepat lebih baik." katanya kembali menarik tangan Gia untuk dibawanya ke dalam kamarnya. Giri-Giri... Tak sia-sia ia bolos kuliah hari ini. tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD