"Hari ini kita makan malam di rumah ku yah, mama udah masak banyak buat kita" Zelin terlihat bersemangat mengajak tunangan dan sahabat nya tersebut
"Pake mobil ku aja yah, halaman parkir rumah ngga bakal muat buat tiga mobil. Apalagi mobil limosin milik kak Alan panjang banget" Lanjut Zelin
"Pak nanti jemput jam delapan malam di rumah Zelin, sekarang pulang dulu aja" Ucap Alan pada sopir ya begitu juga dengan Dika
Sesampai rumah Zelin sudah tersedia cemilan dan jus buah di ruang tamu. Sembari menunggu mama Zelin selesai masak ketiga nya asyik mengobrol.
"Kak kenapa kamu cepet banget tinggi? Apa rahasianya? Katakan.. Minum banyak s**u ama sayur kan?" Zelin bertanya dengan menghadapkan wajahnya ke arah Alan
Alan balik mendekati Zelin sehingga hanya menyisakan lima senti diantara keduanya, "Kenapa? Zelin mau tumbuh tinggi juga? Ini udah keturunan, Ayah ku tingginya 180 cm, kakak ku 183 cm. Menurut Zelin aku bisa setinggi apa?"
Zelin mengerutkan kening nya, ia fokus berfikir perkiraan tinggi Alan sehingga tanpa sadar rambut nya menempel dibibir Alan.
"Rambut Zelin wangi, pakai sampo apa?" Tangan Alan perlahan memegang beberapa helai rambut Zelin dan menciumi nya. Dika tidak memperhatikan karena sedang asik bermain game online di hp nya.
"Kak jangan ajak aku bicara dulu, aku lagi fokus mikir" Zelin menggeser duduk nya menjauhi Alan
Greb.. Lengan panjang Alan melingkari pinggang mungil Zelin dan menariknya ke samping, karena posisi yang tidak siap membuat Zelin terjatuh ke pelukan Alan
"Kak Alan, dari tadi gangguin mulu, kamu belum jawab loh gimana caranya biar tinggi.. Aku khawatir Dika bakal cebol nanti"
Plukk.. Sebuah bantal sofa mendarat ke wajah Zelin
"Huwaa.. Sakit Dika!! Sebagai tunangan aku khawatir kalo kamu itu kurang gizi, harus nya kamu berterima kasih ke aku yang punya inisiatif tanya ke kak Alan" Zelin balik melempar bantal ke Dika tapi tidak mengenai nya. Akhirnya Zelin mengejar Dika yang sudah lari melarikan diri
"Zelin.. Berhenti lari lari di rumah.. Sini bantu mama siapin makanan di meja" teriak mama Amel, ibunda Zelin
Tidak ada jawaban karena Zelin masih berlari mengejar Dika, sedangkan Alan dengan sigap membantu menyiapkan piring dan mangkok berisi sup.
"Ngga cuma tampan yah, sikap Alan juga sopan. Kasih tau tante cara mendidik anak biar sedewasa Alan. Tante bangga loh, Zelin punya temen kaya Alan. Dia anak tunggal jadi manja, kemauan nya harus keturutan, tante minta tolong ke Alan sering ingatkan Zelin yah supaya lebih feminim"
"Makasih pujian nya tante. Jangan khawatir, Zelin punya pesona tersendiri yang membuat orang lain menyukai nya"
Terdengar suara nafas tersengal dan hentakan kaki, "Loh udah rapi? Mama ama kak Alan emang yang terbaik.. Hehe" Zelin merangkul manja mama nya. Mereka berdua akhirnya berdamai setelah Dika menyerah dan mendapat slentikan jidat dari Zelin.
"Nih sayur nya di makan" Zelin nyengir kuda, ia dengan sengaja memasukkan banyak sayur ke dalam mangkok milik Dika
Dika terlihat dongkol dan tertunduk lesu, "Kak Alan, apa ini masukan dari mu, agar bisa cepat tinggi?" Dika membalas Zelin dengan memberikan sayur penuh juga dimangkuk Zelin
"Kamu juga harus banyak makan sayur, bukannya kamu paling pendek di kelas" Dika tersenyum puas balik mengejek tunangan nya
"Aku perempuan ngga perlu terlalu tinggi" Zelin menatap sebal pada Dika
"Eh, kak Alan! Kak.. Kenapa?" Teriak Zelin semua yang melihat berlari khawatir mendekati Alan yang tiba-tiba jatuh tergeletak, nafas nya tak beraturan dan keringat dingin mengucur deras. Tanpa aba aba mama Amel membawa Alan ke rumah sakit. 30 menit kemudian keluarga Alan tiba. Ibu, ayah, dan kakek nya terlihat marah bercampur cemas.
"Makanan apa yang kalian kasih ke cucu ku?! Kalau terjadi apa-apa, jangan harap kalian bisa lolos dari tuntutan" Direktur Wisnu, kakek Alan menatap tajam pada keluarga Zelin dan Dika
Gawat! Apa ayah terancam kehilangan pekerjaan.. Dika membalikkan badannya mengamati kedua orang tuanya yang terlihat tenang
"Hiks hiks.. Gimana kalo kak Alan ngga sembuh.." Zelin menangis sesenggukan dipelukan ibunya
"Mah, kayanya kita bakal gadein hotel buat ngadepin tuntutan pak Direktur" ceplos pak Firman, Ayah Zelin. Ia berniat mencairkan suasana tapi hanya tatapan kesal yang ia dapatkan.
"Sayang jangan bercanda di situasi genting begini.. Untung tadi langsung dibawa rumah sakit jadi cepat ditangani" mama Amel menasihati suaminya
Di dalam kamar Alan di rawat inap, "Dari banyak orang kenapa bergaul dengan mereka? Alan.. Cuma kamu satu satunya harapan kakek, bertemanlah dengan orang yang sederajat"
"Kakek, ini cuma kecelakaan kecil. Salah ku ngga bilang kalau aku alergi udang. Mereka bukan melakukan nya dengan sengaja, kakek.." kali ini tatapan mata lembut Alan berubah dingin
"Aku udah turutin semua kemauan kakek, nilai tertinggi di sekolah, peringkat atas setiap ikut olimpiade, apa aku ngga boleh bermain sedikit dengan boneka ku sendiri"
Dika yang diam diam mengintip dari lorong pintu yang terbuka sedikit, mengurunkan niat nya untuk masuk
Boneka? Apa kak Alan suka bermain boneka? Kayanya terakhir bermain di kamar nya ngga ada satu pun boneka..
Dika mengabaikan ucapan Alan yang didengar nya tadi tanpa tahu maksud dibalik makna tersembunyi ungkapan Alan tersebut
"Baiklah, kakek ngga akan ikut campur masalah pergaulan mu.. Tapi kamu harus ikut kelas akselerasi di Jerman"
"Ayah mertua, bukan kah di negara kita juga punya sekolah akselerasi yang ngga kalah bagus, umur nya saat Smp masih terlalu muda buat sekolah jarak jauh" Sahut mama Alan
Berisik.. Rutuk Alan dalam hati
"Iya kakek, aku pastikan Smp, Sma dan kuliah masing masing waktunya 2 tahun. Aku mau istirahat, ayah pulang lah antar kakek"
Seketika sunyi, karena sudah tidak ada pembicaraan lain, Alan memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah.
Setelah kakek dan ayah nya pulang, Alan memposisikan dirinya duduk, hanya ada mama Rita, ibunya yang menjaga sendirian, tertidur di atas sofa. Telapak tangannya menutupi mata kanan nya dan kemudian bergeser ke atas menyibak rambut depan nya.
Aku memberi mu kesempatan Dika.. Saat aku ngga ada, kamu harus menjaga dengan benar boneka ku yang rapuh..
Jemari Alan dihadapkan lurus ke depan, seolah melihat suatu benda yang mudah dihancurkan ia menggenggamnya dengan erat.
Alan izin tidak masuk selama tiga hari, membuat perasaan bersalah Zelin menumpuk. Ia yang menyarankan ibunya membuat kaldu udang untuk sop sayur.
Setiap hari ia bolak balik mengintip kelas Alan yang tak kunjung berangkat, setiap kali ia mendatangi rumah Alan penjaga rumah selalu mengusir dirinya, untuk meminta maaf jadi tidak ada pilihan lain selain menunggu Alan masuk sekolah.