Bab 3

1005 Words
Uhukkk.. Dika jatuh tersungkur dengan wajah lebam dan hidung berdarah. Ia merasa mati rasa pada sekujur tubuhnya. "Yang kirim pesan ke bu Anita kamu kan? Aku menyuruh mu jaga dia, mana tanggung jawab mu sebagai lelaki?" "Wahahaha.. Uhukkk.. Monster gila! Aku ngelakuin itu juga bukan tanpa alasan. Dia harus tau kenyataan dunia.. Dengan sikap manja dan ketergantungan nya itu bisa menjerumuskan nya.. Dia harus menyelesaikan masalah nya sendiri biar lepas dari cengkraman orang gila kaya kamu.. Kak Alan " " Aku suka kepekaan mu.. Karena itu aku merestui kalian bertunangan, kamu naif, lemah terhadap yang lemah, kuat saat berhadapan dengan ketidakadilan, pintar membaca situasi, kuat berkelahi.. Tapi aku tidak mengizinkan mu menyakiti boneka ku" Duk! Alan menginjak kaki Dika kemudian berlalu pergi, beberapa saat kepergian nya Rose masuk ke dalam kelas dan tenggorokan nya tercekat melihat keadaan Dika yang tak berdaya. Dika memejamkan matanya, ia merasa lelah setelah berkelahi dengan Alan, dalam tidur nya ditengah sekarat ia bermimpi pertemuan pertama nya dengan Alan. Kalau saja hari itu aku tidak membujuk Ayah mengundang kak Alan untuk menghadiri pesta pertunangan, siapa yang mengira dia datang ke acara pegawai biasa yang bekerja diperusahaan milik kakeknya.. Orang tua ku dan Zelin berteman sejak sekolah menengah dan mereka berjanji akan menjodohkan masing masing anak mereka apabila lahir berlawanan jenis. Pak Hari Ayah Dika bekerja menjadi manajer cabang salah satu perusahaan S. J Grup. Suatu hari mengajak Dika menghadiri pesta ulang tahun perusahaan yang ke 70. Perusahaan empat generasi dengan pondasi yang sangat kuat, selalu masuk jajaran perusahaan dengan nilai jual produk tertinggi, tidak ada yang bisa menganggap remeh perusahaan tersebut. Menguasai bidang properti, industri, teknologi dan juga bank. Saat itu Dika berusia 6 tahun kelas 1 sekolah dasar dan Alan berumur 9 tahun. Bukan rumor baru kalau Ketua Direktur, kakek Alan menyayangi nya melebihi semua anaknya dan juga cucunya yang lain. Alan memenuhi semua persyaratan menjadi penerus perusahaan kakeknya. Diberkahi IQ di atas rata-rata, selalu mendapat nilai tertinggi di sekolah serta selalu memenangkan semua kejuaraan olimpiade yang diikuti nya yang bukan hanya ditingkat nasional sekolah dasar, ia juga ikut serta perlombaan fisika umum mengalahkan senior setingkat Smp dan Sma. Hal yang selalu dibanggakan Direktur. Selain itu dia di anugerahi wajah tampan dan perilaku yang elegan. Seakan Tuhan sengaja membuat manusia edisi terbatas, dan semua itu ada pada Alan. Dika tidak dapat berhenti menatap laki-laki sempurna tersebut, aura intimidasi yang tidak bisa dijelaskan. Pesona dingin bak boneka manekin berbalut suasana dingin kutub Utara, seperti itulah ia dengan lantang dalam hati mengidolakan Alan. Kedua bola mata Dika tidak dapat berhenti memperhatikan Alan. Satu bulan kemudian Dika dan Zelin melangsungkan upacara pertunangan di hotel milik keluarga Zelin. Kenapa dia ada di sini? Ayah beneran mengundang nya? Aku kira Ayah hanya bercanda.. Dika terkejut melihat Alan memasuki aula hotel seperti biasa pesona nya membuat Dika terperangah. "Jangan hanya berdiri, makan ini atau mau aku ambilin minum? Hmmm, kakak tampan aku ngga kenal kamu, apa kamu tamu undangan Dika?" Zelin menyodorkan piring kecil penuh kue, karena Alan hanya terdiam, Zelin menarik telapak tangan Alan menghadap ke atas dan menaruh piring nya ke telapak Alan. Dika mengambil piring dari tangan Alan, kemudian ia membungkukan badannya," Maaf tuan muda, saya tidak tahu anda akan datang. Perkenalkan ini tunangan saya namanya Zelin" "Hah? Dika apa dia anak bos perusahaan tempat paman bekerja? Kalau gitu aku tinggalin kalian yah, mengobrol lah dengan akrab" Masih berdiri di samping Dika, Kepala Alan mengikuti arah Zelin pergi. "Tuan muda, apa anda datang sendiri ke sini?" Tanya Dika "Selamat atas pertunangan nya, biarpun perjodohan konglomerat sudah biasa dilakukan sejak kecil, tapi saya ngga mengira Pak Hari buat perayaan nya saat umur anak nya masih 6 tahun" Alan tidak mengindahkan pertanyaan Dika, ia mengalihkan pembicaraan "Hehe.. Iya, keluarga kami bukan keluarga konglomerat. Acara ini dimajukan karena ibu Zelin sakit sakitan. Jadi orang tua kami memutuskan merayakan nya sekarang" Alan menepuk bahu kiri Dika, "Kado ku telat, nanti aku kirim lewat pos" Setelah itu Alan berlalu pergi Hmm.. Trus kado yang dipegang nya itu untuk siapa? Apa dia salah bawa hadiah? Batin Dika melirik pada kado yang dipegang Alan Pertemuan mereka berlanjut di sekolah, Dika turun dari mobil jemputan dan melangkah memasuki gerbang. Dari kejauhan Zelin melambaikan tangan dengan ekspresi ceria, disamping nya ada Alan berdiri berjejer dengan nya. Seperti nya akhir akhir ini, aku sering ketemu kak Alan.. Dika merasa senang karena idola nya mau berteman dekat dengan kalangan bawah seperti nya. Sama sekali tidak terbesit dalam benak nya bahwa orang yang dia kagumi memiliki maksud lain yang tersembunyi. "Dika, kak Alan memberikan ku jam tangan cha...l edisi terbatas, kamu juga dikasih, pakai ini.. Kita couple tiga" Zelin memakaikan jam tangan ke Dika "Couple tiga?" Tanya Dika "Kebetulan lagi promo beli dua gratis satu, stok terakhir.. Kamu ngga kecewa kan Dika ama hadiah nya?" Tanya Alan yang tampak halus didengar tapi apabila dicerna dengan baik ia sedang menekan lawan bicara nya "Mana mungkin saya berani kecewa dengan hadiah istimewa pemberian tuan muda, apa lagi Zelin terlihat sangat menyukai nya juga" Dika menggaruk kepala nya yang tidak gatal Alan memegang bahu Dika dan sedikit menekan nya diiringi senyum tanda tanya, "panggil aku Alan aja, kita satu sekolah ngga perlu sekaku itu bicara nya. Lagi pula aku bukan atasan kamu, kan hanya ayahmu yang bekerja dibawah kakek. Dan kedepannya aku akan sering main bersama dengan kalian" Kalian? Maksud ucapan nya aku dan Zelin?.. Apa kak Alan nganggep Zelin sebagai adik nya? Sejak dari pesta pertunangan kak Alan ngga berhenti memperhatikan Zelin... Bisik batin Dika "Dika.. Hey.. Kenapa bengong? Ayo sini, bentar lagi bel masuk" Zelin menyambari Dika dengan merangkul lengan Dika dan menyeret nya Kemudian mendekati posisi berdiri Alan, sekarang Zelin berjalan beriringan dengan dua lelaki disamping kanan Dika dan disebelah kiri nya Alan, membuatnya menjadi pusat perhatian siswa yang melihat Hari demi hari kami sering bertemu dan menjadi semakin Akrab. Alan sering mengerjakan tugas Zelin, Dika dan Alan sama-sama memasuki ekskul silat, diluar sekolah terkadang makan malam bersama di rumah Dika, berkemah di Villa milik kakek Alan atau berenang di kolam hotel milik keluarga Zelin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD