Bab 12

1056 Words
"Dika, aku mau ke aula acara perpisahan kakak kelas, kak Alan memintaku datang, aku bilang ke kamu karena kamu ngga suka aku deket sama kak Alan, jadi aku minta izin kamu, boleh apa ngga aku ke sana? Atau kamu mau ikut ke sana juga bareng aku?" Tanya Zelin "Terserah kamu, aku melarang kamu pasti bakal kesana kan?" "Dika.. Sebenarnya kamu yang salah tapi kenapa malah kamu juga yang marah? Aku itu bingung aku salah apa lagi ke kamu selain deket sama kak Alan? Kamu benci juga sama aku yang suka nyontek kerjaan temen? Tadi aku udah minta maaf ke Rose, Meli, Nia dan kamu.. Cuma mereka yang pernah aku contekin tugasnya, kalau kamu marah marah ngga jelas kaya gini terus, aku takut jadi benci kamu " Zelin menyapu rambut depannya,"Kalau dipikir lagi kak Alan ngga ada salah ke aku, ngga adilkan menjauhinya secara sepihak.. Aku ke aula sekarang, terserah kamu mau kesana juga apa ngga" Zelin keluar membawa bingkai foto bertiga dirinya, Alan dan Dika sewaktu snorkeling liburan kemarin. Dia membungkusnya di dalam kotak kado. Zelin menunggu di depan gedung aula, terlihat Alan sedang berdiri di atas podium bersama kakeknya mendapat penghargaan sebagai siswa dengan nilai tertinggi di sekolah sekaligus tertinggi senasional. Ada yah laki-laki yang punya semuanya, dari wajah, otak sampai kekuatan keluarga.. Wew, aku aja yang cewek cemburu gimana yang sesama cowo.. Tapi ngga jadi cemburu deh, tiap hari jadi pusat perhatian juga ngga nyaman.. Beberapa saat setelah pidato kepala sekolah selesai, Alan dan kakeknya meninggalkan acara terlebih dulu. "Kakek, aku mau ngobrol sebentar sama temen ku.. Karena besok aku bakal di Jerman lama, kakek bisa kan kasih aku waktu sebentar?" "Kakek tunggu di mobil, jangan lama-lama.. Jetnya udah parkir diatas kantor" "Iya kakek" Alan langsung menghampiri Zelin "Kakek keliatan saingan sama ayah kak Alan nih" "Haha, iya.. Kakek antusias banget gantiin ayah dateng" Zelin memberikan kado yang dipegangnya pada Alan, "Makasih" Alan memeluk Zelin dengan erat "Tapi.. Ini terakhir kalinya juga kita temenan ya kak.. Dika cemburu sama kakak, biar kakak mukul Dika karena belain aku, tapi aku tetep ngga suka ama kekerasan.. Kalian berdua temen terbaik Zelin, sampai kapanpun Zelin bakal menanti kalian berdua berbaikan" "Zelin.. Apa cuma itu yang mau kamu katakan? Aku bakal lama ninggalin kamu" tangan Alan yang dingin perlahan merambati leher belakang Zelin dan Zelin sedikit memundurkan kepal ya sehingga kini mereka saling menatap dari dekat "Kak.. Ini terlalu dekat, nafas kakak terasa dimuka Zelin" Zelin mendorong Alan "Karena kakak sempurna, pasti di tempat manapun kakak bisa beradaptasi dengan baik" Gimana kalau kalimatnya diubah, karena aku sempurna aku pasti bisa dapetin kamu.. Leher kecilnya yang segenggamanku, yang rasanya hanya sekali tekan dapat langsung terputus.. Aku menginginkannya.. "Aku pergi" Alan melangkah menjauh Setelah ini aku akan ganti nomor hp.. Hanya teman dekat yang bakal tau nomer ini, tapi yang pasti ngga akan aku berikan pada Dika, kak Alan maupun Rose.. Zelin membuang sembarang sim cardnya. *** Kesalah pahaman yang terus berlanjut tanpa adanya penjelasan menggali keretakan yang perlahan menimbulkan lubang, dan lubang tersebut akan sulit untuk tertutup walaupun sekeras apapun ditimbun. Tiga tahun berlalu dan selama itu pula hubungan Dika dan Zelin merenggang. Tidak ada main bersama, tidak ada suara tawa bersama hanya raut wajah serius ketika berpapasan. Dika menyesali perbuatan gegabahnya tapi ia merasa sudah sangat terlambat untuk meminta maaf. "Udah lama mama ngga liat Dika main, kalian ngga lagi berantemkan?" Tanya mama Zelin "Hmm? Ngga kok, Dika lagi fokus sama ujian minggu depan" Sahut Zelin berbohong, terakhir kali operasi keadaan ibunya tidak menampakkan kemajuan dan sekarang rumah sakit seperti rumah kedua. "Ini enak, Zelin buat sendiri? Beneran bukan beli?" Setelah ibunya selalu dirawat di rumah sakit, Zelin mulai belajar memasak sendiri. Di rumah ia sering sendiri karena ayahnya lebih sering di kantor dan rumah sakit menemani istrinya. "Iya beneran mama, karena itu mama jangan khawatir sama Zelin udah makan apa belum, ok?" Zelin memeluk erat mamanya "Kamu bisa liat catatan memasak yang ada dilaci kamar mama, sepertinya Zelin punya bakat memasak kaya mama nih.. Masakan yang enak juga besok ke Dika, tanyakan apa makanan kesukaannya" "Hmm.. Ok" Zelin tersenyum getir karena tidak bisa menceritakan semua yang sudah terjadi Di rumah Zelin berpapasan dengan ayahnya yang mengambil beberapa baju untuk dibawa ke rumah sakit. "Ayah, aku ngga mau lanjut di Smp heaven school" "Ada apa? Kenapa ngga mau lanjut sekolah disana? Nanti Zelin adaptasi lagi ngga apa?" Uang bulanan di heaven school lebih besar dari biaya perawatan mama, mana bisa aku egois lanjut sekolah di sana.. Sekolah di mana aja sama aja.. "Cari suasana baru? Zelin harus punya banyak kenalan kan? Niatnya Zelin mau daftar sekolah negeri yang ngga kalah bagus dari heaven" Pak Firman ayah Zelin mengusap rambut anaknya sembari tersenyum, "Sejak kapan anak ayah sedewasa ini? Ayah menyesal ngga banyak memperhatikan pertumbuhan Zelin, jangan cepat besar ya nak.. Ayah sedih karena belum jadi ayah yang baik buat Zelin" "Apaan sih, ayah.. Di dunia ngga ada laki-laki sebaik ayah, denger nih yah.. Cowo yang nikahin Zelin harus punya sifat seperti ayah" "Lalu Dika udah mirip ayah belum?" Pak Firman mengacak rambut putrinya untuk mencairkan suasana Zelin tidak ingin menjawab tapi akhirnya terucap juga, "Mana mungkin.. Ayah adalah satu-satunya di dunia jadi ngga mungkin ada laki-laki yang sama seperti ayah" "Baiklah.. Ayah pergi ke rumah sakit dulu yah, hati hati di rumah" *** "Gimana? Ucapanku sewaktu kelas 3 masih kamu ingat? Udah punya cara untuk membuat Zelin ngga lanjut sekolah di Heaven?" Tanya Rose pada Dika, keduanya berada di kelas paling awal Tidak menyadari Zelin berdiri di belakang memasang wajah menahan tangis, "Kalian ngga perlu repot buat rencana, karena aku sendiri yang mutusin ngga lanjut di Heaven.. Kalian menang, jadi jangan repot repot buat rencana jahat ke aku" "Kenapa kalian bertiga keliatan tegang? Ayolah, ujian ini pasti lulus semua" Ucap Nana teman sekelas yang baru saja masuk, ia tidak mendengar pembicaraan "Iya Na, aku tegang banget" Tes, tes, tes, air mata Zelin mengucur deras memeluk Nana "Zelin? Jangan nangis dong, aku juga tegang tapi kita kan udah banyak belajar, tambahan les sekolah juga.. Pasti lulus, ih" Ucap Nana ikut berkaca kaca, ia tidak mengetahui alasan sebenarnya Zelin menangis Baiklah, benci aku sepuas kamu.. Retaknya udah ngga ada harapan bisa di tambal lagi.. Busuk batin Dika "Aku bukan mau memperkeruh suasana, maafkan aku" Bisik Rose ke Dika "Kesalahannya udah berlangsung sejak lama, jadi percuma buat minta maaf" Balas Dika
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD