"Dika, kemarin kamu ngomong apa aja sama Rose?" Tanya Zelin yang esoknya kembali menjenguk Dika
"Ngga ada yang penting"
"Dika.. Aku tanya ulang, kemarin kamu ngobrolin apa sama Rose?"
"Kenapa lagi? Berhenti bertanya kalau kamu nggak mau menyesalinya" Dika mengusap rambut depannya dengan raut kesal
"Dika.. Kamu ngga boleh berduaan ama cewek lain"
"Kamu sendiri bagaimana? Kamu boleh berdua sama cowok lain?"
"Aku? Kapan berduaan sama cowok lain?"
"Zelin.. Kamu itu emang sifatnya bodoh apa pura pura polos?! Kak Alan menurut kamu dia bukan cowok? Berapa kali kamu berduaan sama kak Alan?"
Deg! Kenyataan yang tidak pernah terpikirkan Zelin, bahwa Dika pun merasa cemburu ketika dirinya bersama dengan cowok lain. Ia senang tapi tetap mendahulukan egonya untuk terus berdebat.
" Tapi kamu kan kenal kak Alan! Kita juga kemaren liburan bareng.. Harusnya kamu bilang kalau kamu cemburu"
"Kenal? Hak apa kamu bisa ngomong kenal? Menurut kamu seperti apa watak asli kak Alan, hah?! Seberapa besar kamu mengenali dirinya?!"
"Aku bakal menjauhi kak Alan kalau kamu nggak suka, tapi kamu juga harus jaga jarak sama Rose"
"Zelin.. Aku capek, kamu pulang aja sekarang"
Maafin aku, Zelin.. Belum ada bukti yang memperlihatkan kelakuan asli kak Alan..
Zelin meremas rok seragamnya menahan kesal, giginya menggigit bibir bagian bawah agar bibirnya tidak melanjutkan pembicaraan. Tanpa sadar air matanya menetes deras saat berjalan keluar halaman.
Dika cemburu tapi aku nggak membenarkan kelakuannya balas dendam dengan dekat sama Rose.. Aku dekat sama kak Alan karena katanya dia anak bos di perusahaan paman bekerja, juga Dika keliatan suka berteman sama anak dari bosnya... Sekarang aku yang disalahkan? Sekarang aku harus jauhin kak Alan yang ngga salah apa-apa?..
Drrt, panggilan telepon masuk dari Alan, "Zelin, kamu dimana? Aku mampir ke rumah bawain lonster kesukaan kamu"
"Aku lagi di.. Hmm, di rumah temen ngerjain tugas kelompok" balas Zelin berbohong
"Ya udah, aku titip ke tante yah"
"Kak, udah jenguk Dika?"
"Dika yah.. Dia ngga bilang? kalau dia ngga mau dijenguk aku?"
Kalian berdua diam diam udah bermusuhan, yah..
"Aku lanjutin nanti ya kak, masih banyak tugasnya, bye"
Maaf kak..
**
"Kenapa kamu buntutin aku terus?" Tanya Angel dengan muka datar
"Aku ngga punya teman, kamu juga kelihatannya ngga punya teman juga" Jawab Zelin nyengir kuda
"Ngga butuh.. Teman apaan deketin pas lagi butuh doang"
"Hehe.. Aku awalnya ngga suka Angel karena keliatan galak, tapi sebenarnya Angel cuma mencoba jujur aja ama yang ada dipikirannya"
"Kamu lagi muji aku atau lagi ngeledek? Langsung aja ngomong aku orangnya ceplas ceplos, ngga perlu diperhalus kalimatnya"
"Keliatan yah? Haha, Angel emang peka deh"
"Kamu sendiri deketin aku karena temen kamu pada pergi gara gara kak Alan ngga deket lagi sama kamu? Kemana Dika sama Rose? Mereka ikut jauhin kamu juga? Heh, aku bukan anak yang bisa dimanfaatin yah"
Zelin menunduk, semua yang diucapkan Angel tidak ada yang salah. "Kalau Angel ngga mau temenan sama aku ngga apa-apa, aku cuma mau buntutin Angel doang, biar nggak keliatan menyedihkan.. Aku ngga bakal ngajak ngobrol dulu, aku bakal jadi semacam bayangan"
"Apa pentingnya temenan sih? Enakan sendiri, mereka yang suka bilang keburukan kita dibelakang apa pantas dibilang teman?"
"Angel mau berteman sama aku?" Tanya Zelin penuh harapan
"Ngga" Balas Intan cepat, tapi ia tidak mengusir Zelin yang mengikutinya dari belakang.
***
"Zelin, kenapa susah banget ngehubungin kamu? Marah ke aku?" Tanya Alan tidak sengaja bertemu di depan pintu perpustakaan
"Pulsa ku habis"
"Aku kirim sekarang" balas Alan
"Ngga, jangan.. Batrenya lowbet, lupa belum di ces"
Alan memasukkan pinggiran rambut Zelin ke belakang kuping. "Aku salah ya? Zelin ngga mau natap kakak?"
Kenapa suasananya jadi canggung? Aku obat nyamuk nih.. Batin Angel yang berdiri di samping Zelin, kemudian ia masuk ke dalam perpustakaan
"Kak Alan ngga ada salah, Zelin cuma lagi males aja liat hp"
"Besok dateng yah ke acara kelulusan kakak"
"Kak Alan udah baikan sama Dika?" Zelin mengalihkan pembicaraan
"Dika ngga mau maafin kakak, gimana dong? Zelin marah karena masalah itu? Cuma perasaan Dika aja nih yang Zelin pikirkan?"
Zelin sekarang menghadapi dilema, di satu sisi dia berjanji untuk menjauhi Alan, disisi lain dia merasa perbuatannya tidak adil untuk Alan yang tidak memiliki salah apa apa padanya.
"Yang buat wajah Dika babak belur itu kak Alan?" Dalam keadaan bingung tiba-tiba terbesit pertanyaan tersebut
"Iya, itu perbuatanku"
Zelin mendengakan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang didengar barusan, "Kenapa? Kak Alan ngga pernah.. Bukan.. Kak Alan yang aku kenal ngga pernah pake kekerasan"
"Kau dengar alasannya? Zelin yakin ngga akan menyesal?"
Zelin mengangguk, "Dika yang kirim foto Zelin ke wali kelas, dia bilang Zelin selalu mencontek tugas teman kelas, tanyakan langsung ke Dika"
"Kenapa Dika.." Ucap Zelin lirih, ia merasa kecewa antara percaya dan tidak percaya
"Besok kakak tunggu Zelin di acara perpisahan sekolah" Ucap Alan sembari memegang lengan Zelin
Prok Prok Prok, Angel yang sedari tadi mengintip dari jendela memberikan tepuk tangan setelah Alan pergi. "Orang lain yang liat bakal ngiranya kamu sama kak Alan punya hubungan khusus, wew.. Pantesan banyak yang iri"
"Angel dari tadi nguping?"
"Mana bisa? Anak lain yang mau deketin kalian juga ngga bisa.. Kak Alan tadi bawa pengawal buat ngosongin jalan ke perpus"
Zelin membalikkan badannya, ia melihat tiga laki-laki berjas hitam rapi berjalan membuntuti Alan dari belakang
"Aku ngga sadar tadi fokus ngobrol, he.. Angel udah dapet bukunya?
"Udah.. Yuk balik kelas"
***
Sepulang sekolah Zelin menahan Dika dikelas, ia ingin mengkonfirmasikan perkataan Alan. "Dika, ada yang harus kamu jelasin ke aku"
"Jelasin apa?"
"Kamu yang kirim foto aku yang lagi nyalin tugas rumah ke wali kelas?"
"Iya" Balas Dika cepat, dan bukan jawaban itu yang diharapkan Zelin
"Minta maaf padaku"
"Aku ngelakuin itu juga demi kamu sendiri"
"Minta maaf dulu, baru jelasin semuanya" Ucap Zelin tegas
"Kamu juga harus minta maaf ke teman yang dicontekin kamu, bukan kah kamu egois cuma mikirin diri sendiri, merasa terluka sendiri?"
"Dika.. Kamu kan bisa nasehatin langsung ke aku"
"Zelin pernah gubris ucapan ku? Berapa kali aku bilang supaya kamu kerjain tugas sendiri?"
"T*i banget nih bocah, gedein masalah sepele sampe lapor wali kelas.. Wajah lebam kamu mau ditambah lagi nih?!" Teriak Angel yang tidak sengaja dengar, ia berniat ke kelas karena bukunya ketinggalan di laci meja
"Mau sampai kapan bergantung sama orang lain?" Dika tidak mengindahkan perkataan Angel
"Apa salahnya sih? Zelin masih usia anak anak, bergantung sama orang lain bukannya wajar yah? Aku kasih bogem beneran nih.." Angel sudah pose bersiap memberi pukulannya
"Ternyata selama ini Zelin udah buat susah Dika yah, kalau gitu Zelin minta maaf, besok Zelin bakal minta maaf ke teman yang udah sering kasih contekan tugas"
"Angel ayo pulang bareng, aku traktir es krim te*** ge***o" Zelin menggandeng lengan Angel keluar kelas
"Dika tunangan kamu kan? Bilang ke orang tua suruh batalin aja"
"Mama ku habis operasi, kesehatannya belum normal, aku ngga bisa asal cerita yang membuat kepikiran mama"
"Ah, benar.. Ya udah biar aku yang traktir es krimnya"
"Hmm? Sekarang kamu anggap aku temen kan?"
"Ngga"
"Ayolah, kamu udah traktir aku.. Berarti sekarang kita temen"
"Terserah kamu aja"
"Yeye.. Aku menang, bisa temenan sama Angel" Teriak Zelin sembari lari
"Hei, jangan keras keras.. Malu maluin tau" Angel ikut berlari mengejar Zelin