Hari demi hari berlalu, kejadian demi kejadian terjadi, dihari insiden terkenanya bola pada Zelin. Seusai Alan mengantar ke mobil, ia bergegas menuju kelas Roy. Kelas kosong ia tidak menemukan apapun. Kemudian Alan mengamati lapangan tempat pertandingan dari jendela yang ada dilorong kelas. Siapa sangka pengamatan pertama langsung membuahkan ide licik. Dilihatnya Roy sedang merundung siswa laki-laki berkacamata. Siswa tersebut tertunduk pasrah saat Roy menggunakan punggungnya untuk alas kaki.
Selalu ada celah untuk orang brengsek.. Alan menyeringai dengan ekspresi yang cukup menakutkan
Pertandingan dimulai lagi, Alan langsung mendekati siswa yang terkena buli tadi. "Kenapa hanya diam saja saat siswa lain mempermainkan kamu?" Ucap Alan dari belakang
Siswa tersebut membalikkan badan karena terkejut, matanya terbelalak melihat sosok dihadapannya sekarang, "Tuan muda mana tahu rasanya diremehkan, semua siswa menyanjung menjilat ama orang diatasnya"
"Pembicaraan jadi lebih mudah, seberapa dendam kamu dengan Roy, Alvin?" Alan membaca name tag seragam Alvin
"Apa ngga lelah dia terus menerus menginjak injak harga diri kamu? Dia ahli bertarung? Kamu juga sebenarnya bisa membalasnya, hanya sekali dorongan.. Dorong dia ke jendela, kelas kalian di lantai satu jadi tidak akan sampai patah tulang, tapi.. Mungkin berakibat sedikit memar dan jaitan.. Apa kamu mau seumur hidup dibawah bayang bayang orang rendah sepertinya? Jaitan yang nanti diterima, sebanding dengan pelecehan yang dia lakukan terhadapmu selama ini "
Alan pergi setelah mengutarakan pemikirannya yang ekstrim. Paginya gosip tentang Roy berantem dengan Alvin teman sebangkunya menyebar dengan cepat. Keduanya mendapat cidera serius saat berkelahi dimana salah satunya mendorong lawannya ke jendela kaca kelas sampai pecah dan yang terdorong menarik lawannya untuk ikutan jatuh dari jendela, sehingga keduanya mendapatkan luka goresan terutama dibagian dahi yang diharuskan untuk dijahit.
***
Duk! Alan menginjak kaki Dika kemudian berlalu pergi, beberapa saat kepergian nya Rose masuk ke dalam kelas dan tenggorokan nya tercekat melihat keadaan Dika yang tak berdaya. Dika memejamkan matanya, ia merasa lelah setelah berkelahi dengan Alan.
"Hey, bangun.. Jangan mati, b******k! Buka mata kamu, Dika" Rose menggoyang goyangkan tubuh Dika
Dika bukan anak yang ngga bisa melawan, ia cukup kuat untuk mempertahankan diri, karena Dika sampai jatuh seperti ini, seberapa kuat Alan memukuli Dika? Dia punya tenaga sebesar preman dengan muka polos munafiknya..
Sopir yang menjemput Dika datang beberapa menit kemudian setelah Rose panggil, ia tak kalah terkejut melihat keadaan majikannya. "Mas Dika punya musuh di sekolah, dek? Kenapa banyak lebam dan luka? Hidungnya juga berdarah.. Beraninya macem macem sama mas Dika, harus lapor ke guru ini"
"Bawa Dika ke rumah dulu, obati lukanya.. Nanti kita tanya siapa pelakunya" Kata Rose, sang sopir bergegas membawa Dika ke dalam mobil, sedangkan Rose mengekor membawa tas Dika.
Esoknya Dika tidak masuk sekolah, ia menitipkan surat ijin sakit pada Rose. "Dika sakit? Kenapa nggak kabari aku malah titip surat sama Rose?" Zelin bertanya tanya dengan nada lirih
Setelah kejadian pelaporan kemarin, masih dapat kabar musibah lain.. Aku masih harus cari tahu siapa yang udah ngaduin aku ke wali kelas, tapi harus aku tunda.. Sekarang utamain Dika dulu yang lagi sakit..
"Hari ini mau jenguk Dika, kan? Kita jenguk sama-sama aja" Ucap Rose sepulang sekolah
"Hmm? Iya.. Nanti mampir beli bubur ama buah dulu yah" Sahut Zelin
Sesampai di rumah Dika, "Siapa yang ngelakuin ini ke kamu? Kamu ngga bisa ngelawan? Percuma ikut ekstrakurikuler silat! Hiks.. Siapa yang giniin kamu.. Hiks hiks" Zelin tidak bisa menahan air matanya, setelah kasus pelaporan sekarang kondisi Dika yang babak belur
"Zelin, sekarang aku capek.. Kamu pulang aja sekarang" Balas Dika dengan raut lelah
"Baiklah, aku pulang.. Besok aku ke sini lagi, tapi besok kamu harus kasih tau siapa orang yang udah membuat kamu jadi kaya gini"
"Ayo, Rose.. pulang" Zelin menggandeng lengan Rose
"Ros jangan pulang dulu, ada yang harus aku bicarakan denganmu" Sanggah Dika
Sejak kapan Dika jadi dekat sama Rose? Mereka punya pembicaraan yang ngga ingin diketahui aku.. Dari semua kejadian, kedekatan Dika dan Rose yang paling membuat dadaku terasa sesak..
Tubuh Zelin sedikit bergetar, ia melangkah keluar kamar tanpa mengatakan apapun.
"Kamu mata mata Alan? Sejak kapan?" Tanya Dika tanpa basa basi setelah Zelin keluar kamarnya
"Akhirnya kamu tahu juga.. Yah, aku ngga berniat nyembunyiin juga sih, tapi mana ada orang yang percaya, kalau Alan sampai nyewa mata mata buat laporin kegiatan temannya"
"Kamu ngga malu ngomong santai seperti itu? Laporan kamu buat aku dipukul habis habisan sama Alan"
"Aku juga kaget Alan yang biasanya tenang tiba-tiba mukul orang, biasanya diakan manipulasi orang buat ngehajar orang yang nggak dia sukai.. Aku minta maaf udah berkhianat, tapi itu ngga merubah apapun.. Aku dibayar sama Alan, karena udah ketahuan gini aku jadi ngga merasa bersalah untuk pura-pura dekat dengan kalian"
"Tapi.. Aku punya sedikit ide, Alan bentar lagi lulus dan masuk Smp di Jerman, ia menawarkan uang yang lebih besar karena jaraknya yang jauh.. Gimana kalau kalian pisah sekolah? Bujuk Zelin sekolah diluar yayasan Heaven school, kalau kalian beda sekolahkan sulit memantaunya" Lanjut Rose, ia menatap Dika dengan penuh keyakinan
"Udah impas yah, pikirkan baik-baik ide ku ini, dah aku pulang.." Rose melambaikan tangannya
Di depan halaman rumah Dika, Rose mengambil hpnya di dalam saku, tertulis bos ular dinomor panggilannya. "Aku udah ngomong semua yang kamu suruh, langsung transfer uangnya"
Mereka meributkan gadis polos, apa menariknya.. Maaf lagi ya Dika, dari pada kamu terus dibayangi psikopat kaya Alan, bukankah lebih baik melepasnya aja.. Obsesinya bikin merinding.. Ucap batin Rose dengan raut bergidik
***
Esoknya Dika masih belum berangkat, dan tidak ada berita pelaporan penganiayaan.
Apa pelakunya bukan dari sekolah sini? Apa Dika dikeroyok ama preman jalanan?
"Rose.. Kemarin kamu ngobrol apa sama Dika?" Tanya Zelin, ia langsung menyambar Rose yang baru masuk kelas
"Ngga ngomong apa apa, cuma dia minjem buku catatanku"
"Dika ngga bilang siapa yang udah mukulin dia?"
"Ngga.."
Hari ini aku mau jenguk Dika, tapi perasaanku bilang agar nggak bilang ke Rose.. Aku cemburu ama kedekatan Dika dan Rose, aku tunangannya ngga salahkan marah liat tunangan berduaan ama cewek lain..