Setelah pingsan selama tiga jam akhirnya Zelin sadar, keringat dingin mengucur deras dan nafasnya sedikit tersengal, ia bermimpi buruk ketika tertidur tadi. Alan duduk di samping tempat tidur ia berjaga untuk mengompres Zelin. "Kak Alan.." Ucap Zelin lirih
"Ada yang sakit? Syukurlah udah sadar" Alan mengusap pelan rambut Zelin
"Kak, kamu ngga ngasih tau mama papa Zelin kan?"
"Belum, aku niatnya mau ngasih kabar setelah Zelin bangun"
"Kalo gitu jangan.. Hiks hiks" Zelin menundukkan kepala kemudian Alan dengan pelan menarik Zelin untuk bersandar dibahunya
"Bagian mana yang sakit? Mau ke rumah sakit?"
"Ngga ada yang sakit.. Hiks hiks, ngga perlu bawa aku ke rumah sakit"
Alan menepuk pelan punggung belakang Zelin, ia menunggu Zelin sendiri yang mengungkapkan keresahannya.
"Hari ini mama operasi, sehari sebelum kak Alan ngajak berlibur, aku ngga sengaja dengar pembicaraan papa mama, mereka berniat menitipkan aku ke rumah kakek nenek selama masa liburan tapi karena kak Alan ngajak ke vila jadi aku lebih milih pergi ke vila. Kenapa masalah besar mereka nggak bilang aja ke aku, aku juga mau disamping mama, mau semangatin mama juga.. Hiks hiks "
Alan mengubah posisinya, sekarang kedua tangannya memegangi pipi Zelin," Zelin pasti tau sendiri alasan mama papa Zelin ngga bilang ke Zelin, mereka pasti nggak mau Zelin cemas, sekarang Zelin banyak berdoa yang terbaik buat mama Zelin "
"Janji yah kak rahasiain masalah aku jatuh dari pohon"
"Iya" Sahut Alan lalu mengecup kening Zelin
"Kak Vika ama Intan ngga keliatan" Zelin mengamati sekeliling kamar, hanya ada Alan dan Dika yang tertidur di atas sofa
"Mereka udah pulang duluan, dari awal mereka tamu yang ngga diundang"
"Sayang sekali, jadi ngga tau siapa yang menang pertandingan"
"Besok kita naik speedboat, sekarang Zelin harus istirahat yang cukup"
"Speedboat?"
"Iya, disini pemandangan pantainya bagus, sayang kalau melewatkan diving sama snorkeling"
"Itu kosakata yang baru aku dengar, apa itu snor.. Senior? Senor?"
"Besok Zelin cobain sendiri aja biar langsung tau arti kosa katanya"
Sebenarnya Dika hanya pura-pura tertidur, diam diam dia mendengar percakapan Zelin dan Alan.
Kenapa mereka berbicara dengan jarak yang begitu dekat.. Mau nganggap adik kakak pun pasti ada jarak kan?..
Tanpa Dika sadari, ia ternyata sedikit cemburu dengan skinship yang dilakukan Zelin dan Alan
***
Pesona birunya langit, hamparan pasir putih yang terasa hangat dan lembut, jernihnya air laut yang membentang nan bening karena diterobos oleh sinar matahari, ditambah dengan sepinya suasana selama perjalanan menggunakan speedboat ketempat tujuan sungguh membuat mata tak bisa berhenti untuk takjub.
Alan menyewa jasa instruktur untuk memberi arahan pada Zelin dan Dika. Karena yang memiliki sertifikat diving hanya Alan, jadi Zelin dan Dika hanya melakukan snorkeling dipermukaan air.
Snorkeling biasanya dilakukan oleh semua orang, tidak perlu teknik apapun karena snorkeler biasanya hanya menikmati objek dengan mengambang di permukaan saja.
Untuk peralatan snorkeling hanya membutuhkan diving mask, sepasang fin dan snorkel yang biasanya berbentuk huruf L atau J. Berbeda dengan diving yang membutuhkan peralatan yang lebih banyak dan lengkap. Seperti tabung Oksigen , Regulator , Oktopus , Deep gauges, Presure gauges, BCD, Weight belt, Wetsuit, Masker dan Fin.
"Hati hati! Jangan sampe nyenggol terumbu karangnya! Nanti luka lagi gimana?" Omel Dika
"Lah aku kira ngga keras kalo kesenggol, kalo liat dari air keliatan goyang goyang" Sahut Zelin dengan polos
"Kak Alan, dibawah ada apa?" Tanya Zelin karena ia belum ahli hanya diperbolehkan berenang di tempat dangkal
Alan menunjukkan gambar yang dia ambil saat menyelam tadi.
"Udah cukup, bentar lagi air pasang.." Teriak instruktur dari atas speedboat
"Mas instruktur bisa fotoin kami bertiga?" Tanya Zelin kemudian memberikan DSLR
Cekrek! "Nanti foto ini aku cetak buat kenangan"
Menggenggam telapak tangan Alan, "Kak Alan, makasih buat hari ini, hari kemarin dan sebelum dan sebelumnya.. Kita sahabatan terus ya kedepannya" Senyum Zelin bersinar karena terkena pantulan cahaya matahari, membuat Alan terpaku sejenak.
Aku ingin membisikkan dia, untuk lari sejauh mungkin dan jangan sampai tertangkap.. Berusahalah agar tidak sampai tertangkap oleh ku.. Kalau sampai tertangkap, aku juga tidak tau apa yang akan ku lakukan..
Tiba tiba Dika melingkari lengannya dileher Zelin, ia sengaja menariknya untuk menjauhi Alan, "Cepat ganti baju, nanti masuk angin"
"Hmm? Oh iya, ya udah deh aku ganti dulu"
***
"Zelin aku dapat pesan, operasi tante berhasil.. Tapi kamu disuruh nginep di rumah ku dulu sampe tante sembuh pasca operasi"
Zelin memeluk erat Dika sembari menangis sesenggukan, "I.. Iya, a.. Aku bakal nurut dirumah nanti"
Di kamar Vila tempat Alan, salah satu pelayan laki-laki mendatanginya dan memberikan ponsel yang terhubung dengan Direktur Wisnu Alatas.
"Hari ini jadwal makan keluarga, cepat pulang dari main mainnya"
"Iya kakek, tunggu Alan.. Ini udah siap siap mau pulang" kemudian Alan menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pelayan
Acara membosankan, ada banyak cucunya kenapa selalu mencari ku..
"Zelin, Dika.. Aku ngga bisa pulang bareng kalian, ada acara mendadak, aku harus terbang ke Eropa sekarang.. Nanti pak Maman yang anter kalian pulang"
"Iya, kak.. Makasih udah diajak tinggal di sini, diajak snorkeling juga"
"Hati hati dijalan, aku titip Zelin" Alan meremas bahu Dika
"Zelin bakal baik baik aja sama aku, kak" Sahut Dika yang merasa tidak nyaman dengan maksud ucapan Alan
***
Biarpun mama Zelin sudah menjalankan operasi tapi perkembangan kesehatannya tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Waktu liburan telah usai dan para siswa mulai beraktifitas di sekolah seperti biasa.
Intan berlari ke arah kelas Alan, ia hendak meninju perut tapi ditahan dengan cengkraman telapak tangan Alan. "b******k!! Kamu bilang apa ke papa? Kenapa dia tiba-tiba nyuruh aku sekolah di Jepang? Balas dendam kamu udah keterlaluan kali ini, Alan!! Manusia munafik, jelek"
"Ada yang terluka.. Harus ada yang tanggung jawab.. Saat acara makan bersama kemarin aku hanya bilang ke paman Irwan, kalau kakek memintaku ambil kelas akselerasi di Jerman, apa aku salah?" Alan menyeringai, semakin membuat Intan ingin memukulnya
"Kamu provokasi papaku! Ah, dasar psikopat gila"
Dia balas dendam sama acara liburan kemarin.. Padahal Zelin terluka karena ulah nya sendiri yang ngga hati hati!!
Intan memberikan jari tengah pada Alan sebelum berlalu pergi. Mengamukpun tidak akan berguna, karena papanya sudah mengurus surat perpindahan.
Nasib yang sama berlaku juga pada Vika, plak! "Beraninya menggoda cucu kesayangan presdir S. J?! Mau buat perusahaan Ayah bangkrut?" ia mendapat tamparan keras dari orang tuanya saat mendapat foto telanjang anaknya dari Direktur Wisnu. Dan membuat orang tua Vika memilih memindahkan Vika ke sekolah lain.
Hah, lalat pengganggu mulai berguguran..
Intan berpapasan dengan Dika saat hendak mengambil tasnya, "Hati hati sama Alan, dia itu ular.. Kelihatannya tenang tapi sebenarnya sedang bersiap menerkam, yang paling berbahaya adalah taringnya.. Sebaiknya jangan berteman dekat dengannya"
"Aku tahu.." Balas Dika pendek
"Yah, sepertinya kekhawatiranku sia sia"
"Nona muda, sudah waktunya pergi" Ucap sopir Intan
Aku tahu, tapi Zelin udah terjerat lilitannya.. Yang harus ku lakukan sekarang adalah melepaskan lilitan dengan hati hati..