Bab 19

1128 Words
Keringat Zelin tidak berhenti menetes, matanya bolak-balik mengitari sekeliling kelas, pikirannya tidak fokus pada penjelasan gurunya. Ia berulang kali menarik nafas panjang. Sudah satu bulan ia merasa was was, pertemuannya dengan Alan terakhir kali membuat pikirannya kalut. Takut sewaktu-waktu Alan merencanakan sesuatu yang jahat tanpa diduga. Dan Zelin selalu berusaha berjalan dikeramaian. Setelah pulangpun ia hanya mengurung diri di kamar. "Zelin.. Kenapa? Masih kepikiran sama kak Alan lagi? Mau aku nginep di rumah kamu lagi? Hari ini ayahmu katanya lagi meeting sama tamu penting sampai ngga pulang?" Tanya Angel ditengah lamunan Zelin "Hehe, makasih Angel" Zelin tersenyum simpul, ia merasa terlalu sering membebankan Angel akhir-akhir ini. Waktu berlalu cepat, tanpa terasa enam bulan berlalu, ujian nasional di depan mata. Dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda kemunculan Alan. Zelin melewati masa ujian dengan damai. "Ujiannya lancar?" Tanya Dika, ia menunggu di gerbang sekolah Zelin, tangannya memegang parselan coklat kesukaan Zelin sewaktu kecil. "Sekarang aku ngga makan coklat, makan makanan manis membuat jerawatan dan gemuk" Zelin dengan tegas menolak, setelah ia berhasil membawa Dika pulang, hubungan keduanya berangsur membaik. Sesekali Dika ikut belajar bersama dengan Zelin dan Angel. "Aku ngga masalah mau kamu gendutan atau jerawatan" Zelin menyikut pinggiran perut Dika, "Berhenti menggodaku, ok? Rayuan apapun sekarang ngga akan mempan.. Kenapa kamu ngga nyoba sama Rose? Dia suka banget sama kamu, yang berulang kali hubungi aku buat bujuk kamu pulang itu dia, dia sampai ngomong jujur kalau dia mata-mata loh" "Hoy, lagi ngapain berduaan? Kalian clbk? Kaya ngga ada cowok lain" Angel mentrap mereka berdua yang terlihat serius mengobrol "Aku bawa coklat ditolak" Sahut Dika dengan muka memelas "Buat aku aja sini coklatnya" Angel menarik coklat yang dipegang Dika "Jadikan hari ini?" Tanya Zelin dan Angel mengangguk "Kalian mau kemana? Aku ikut" Tanya Dika penasaran "Mau karaoke" Balas Angel "Aku ikut ya? Ikut lah, kalo nggak coklatnya aku ambil" Rengek Dika "Boleh, tapi kamu yang bayarin" Angel nyengir kuda sedangkan Zelin terlihat dongkol "Angel, kamu janji cuma kita berdua" Zelin tampak gemas dengan sahabatnya yang tergoda rayuan coklat "Ini hari terakhir kita kumpul gini, bentar lagi persiapan masuk universitas.. Butuh delapan jam perjalanan loh, bolak balik kota B ke sini" Kata Angel ucapannya membuat Zelin tersentuh ketika mendengarnya "Angel.. Aku terharu nih, kalau kamu cowo udah ku ajak nikah beneran" Zelin langsung merangkul sahabatnya tersebut "Ngga Zelin.. Lepasin ini, aku masih waras, Reino udah janji mau nikahin aku" Angel sekuat tenaga berusaha melepas pelukan Zelin Wajah Dika langsung terlihat murung, "Kalian mau kuliah di sana? Jauh yah, apa aku coba daftar juga" "Dih, ngapain jadi buntut gini.. Jadi keinget Zelin dulu, mungkin aku harus terima kasih ke Dika nih? Kalau dia ngga ngejauhi Zelin pasti kita ngga bakal bisa sedekat ini" Ucap Angel "Hei, itu kejam.. Aku ngga berniat ngejauhi Zelin, tapi aku berniat ngejauhi Zelin dari Alan" Dika menatap lurus pada Angel, suasana sedikit menegang karena Dika menganggap serius gurauan Angel "He'em.. Jadi karaoke ngga nih? Aku mau pulang kalau nggak jadi" Zelin menengahi pembicaraan untuk mencairkan suasana "Oke.. Kita pake bis umum yah, ngga ada mobil pribadi, ayo puteri semua kota sebelum pergi ke universitas" Teriak Angel bersemangat *** Di perempatan jalan masuk menuju rumah Zelin, deretan rombongan mobil civic berhenti tepat di samping Zelin berdiri. Zelin mengamati sekeliling kompleks yang sepi dan ia mulai melangkah cepat untuk menghindar. Dugaannya tepat, ketika sosok tinggi 187 cm memakai jas rapi turun dari mobil paling depan dan melangkah mendekat. "Kak Alan! Aku akan teriak kalo kamu macem-macem.. Lihat ini aku udah memanggil polis" Ucap Zelin dengan nada gugup, nafasnya kacau, jantungnya berdetak tidak beraturan, bahkan hampir hilang keseimbangan karena terlalu takut "Kamu tau ngga seberapa kuatnya aku menahan diri ngga nemui kamu? Kita satu kota yang hanya berjarak beberapa kilo meter, dan dengan mengendarai mobil hanya ditempuh lima belas menit.. Aku laki-laki yang pengertian bukan? Aku menahan pertemuan agar kamu bisa fokus ujian" "Yah, Zelin bisa telpon polisi jadi aku bisa lebih mudah laporin paman Firman" Alan menunjukkan foto ayah Zelin yang duduk diruang introgasi diiringi senyuman licik "Kenapa ayah ada di sini? Ini di mana?" "Mereka detektif yang lagi introgasi paman, pembicaraannya akan memakan banyak waktu, gimana kalau kita ngobrol di tempat lain?" Ajak Alan Kemudian mereka berbicara panjang lebar di rumah Zelin, sampai menjelang subuh baru selesai. Inti pembicaraannya adalah Pak Firman korupsi uang hotel untuk biaya selama ibu Zelin dirawat. Dan Alan menawarkan membebaskan Ayah Zelin dengan syarat ia harus menikah dengannya. Tapi Zelin menolak untuk langsung menikah, setelah sedikit beradu debat Alan mengalah dan setuju untuk bertunangan dulu sampai Zelin lulus kuliah. Persyaratan kontrak perjanjian langsung ditulis saat itu juga. Laki-laki ini licik, dia sudah menyiapkan berlembar-lembar syarat sedangkan aku ngga ada persiapan sama sekali, dia sengaja menekanku ditengah kegentingan situasi ayah.. "Satu bulan lagi aku jemput, persiapkan diri.. Kita akan tinggal satu atap" Alan mencium kening Zelin setelah itu berlalu pergi Sepeninggal Alan, tubuh kaku Zelin tumbang di atas sofa ruang tamu. Ia lelah fisik maupun batin. Mata yang berusaha dia buka semalaman, sekarang tidak tertahankan untuk terpejam. *** Jarum jam menunjuk ke arah pukul satu siang, tanpa terasa Zelin tertidur sampai tengah hari. Ia terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka yang ternyata ayahnya baru saja pulang. Zelin langsung menyambari ayahnya dengan linangan air mata. "Ayah, kenapa baru pulang? Apa tamu ayah membuat ayah kesulitan?" Tanya Zelin pura -pura tidak mengetahui kejadian sebenarnya. "Maafin ayah ninggalin Zelin sendiri di rumah, nih ayah bawa ayam goreng kesukaan Zelin" Sahut pak Firman tak kalah terlihat lelah dari Zelin "Ayah, ada sesuatu yang harus Zelin katakan sekarang.. Tapi kita harus makan lebih dulu" Zelin mendorong ayahnya untuk melangkah ke dalam dapur. "Haha, iya.. Kita makan dulu" Pak Firman menuruti kemauan anak tunggalnya tersebut Beberapa menit seusai makan, "Uwah, perut Zelin rasanya mau pecah" "Tadi Zelin makan berapa porsi nasi? Biasanya kamu bilang lagi diet, terlalu berminyak, terlalu banyak gula" "Kali ini Zelin pikir tubuh berisi bagus juga, kenapa ngga kepikiran sampe situ" Zelin berfikir ide bagus menambah berat badan agar Alan membencinya Ah, iya hampir lupa.. "Ayah.. Aku mau tunangan sama kak Alan" Ucap Zelin secara tiba-tiba, pak Firman membulatkan kedua kelopak matanya "Kamu minta dijodohin sama Dirut S. J Grup?" Tanya pak Firman dengan gugup "Aku sama kak Alan saling suka, yah.. Ayah juga tahukan kalau kami berteman dari kecil? Sekarang kak Alan ngajak aku bertunangan" "Itu pilihan Zelin, ayah pasti mendukung" "Makasih ayah.. Dan juga kita bakal tinggal bersama setelah bertunangan" Air mata Pak Firman seketika menetes deras, ia merasa putri kecilnya sekarang telah direbut oleh orang asing. Tapi ia tidak bisa menolak permintaan putrinya. "Lakukan yang Zelin inginkan" Ayah tidak bertanya sama sekali, ayah pasti masih merasa bersalah saat pembatalan pertunanganku dengan Dika.. Ayah sekarang tinggal kita berdua, ayah udah cukup menderita Sepeninggal mama.. Zelin ngga apa-apa ngelakuin apapun agar ayah ngga masuk penjara..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD