Bab 18

1197 Words
Akhirnya masalah Dika tuntas, dan uang jajanku selama satu bulan habis buat traktir temen-temennya Reino, huft.. Aku lelah mau tidur sebentar.. Zelin tanpa sadar tertidur dalam keadaan masih memakai seragam. Waktu menunjukkan pukul 21.14, Zelin mengedip-ngedipkan kedua matanya sesaat setelah bangun. Rambut dan seragam yang ia kenakan sangat berantakan. Aku lapar, ternyata aku ketiduran yah.. Padahal tadi siang aku makan tiga porsi bakso.. Zelin bergegas mengganti pakaiannya menjadi baju tidur kemudian melangkah ke dapur. Ia menyincingkan matanya melihat sosok yang tengah duduk sendiri di meja makan sembari minum alkohol. "Ayah, bukannya udah janji ngga minum-minum lagi" Zelin langsung mengambil botol dan gelas yang ada di atas meja kemudian membuangnya ke kantong plastik "Jangan sampai ginjal ayah kumat, Zelin ngga mau ngurusin orang sakit lagi.. Kalian tuh jahat banget, kenapa ngga jaga kesehatan dengan baik? Ngga mikirin apa ada orang yang selalu khawatir" Zelin tanpa sadar menitihkan air matanya "Ngga, bukan itu maksud ayah.. Zelin jangan menangis, maafin ayah melanggar janji.. Maaf ayah ngga berfikiran jauh, maafin ayah yang cuma mentingin diri sendiri" "Jangan ingkar janji lagi, yah.. Sekarang kita cuma berdua. Hmmm.. Ayah udah makan? Zelin mau masak, mungkin ayah mau request makan apa" "Ayah udah makan tadi bareng rekan di hotel, sekarang karena ayah udah sadar dari mabuk, ayah mau lanjutin kerja dulu" "Ok, nanti Zelin siapin cemilan" "Zelin.." Ucap ayah Zelin, terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya "Ya? Kenapa yah? Mau makan lagi? Zelin aja tadi makan tiga mangkok bakso, sekarang udah laper lagi.. Saat setres kerjaan makan banyak tuh cara terbaik" Zelin menaik turunkan alisnya "Bukan itu.. Huh, tadi Hari cerita ke ayah kalau kamu berhasil bujuk Dika buat pulang ke rumah. Makasih ya nak, kamu masih peduli sama dia. Setelah kamu minta putus pertunangan, ayah kira kalian bakal bermusuhan.. Ayah ngga tau kalau kamu terpaksa bertunangan karena keegoisan kami, ayah dan orang tua Dika menganggap kalian bakal saling suka ketika sudah terikat, padahal ayah aja ketemu mamamu karena kehendak ayah sendiri bukan karena perjodohan, sekarang Zelin bebas suka sama siapapun. Dan siapapun yang disukai Zelin, ayah pasti mendukung " Ayah dan om Hari masih berteman? Syukurlah.. Aku takut hubungan mereka merenggang gara-gara aku.. Zelin memeluk ayahnya,"Makasih ayah, udah pengertian sama keinginan Zelin" *** Berita terhangat, secara tiba-tiba Dirut Wisnu Alatas memberikan jabatannya kepada cucunya yang baru saja menyelesaikan studi. Belum ada pengalaman tapi sudah diberikan tanggungan berat, seberapa kompetennya dia sampai membuat pak presdir yang hingga saat ini tidak mengakui anak-anaknya, sekarang tiba-tiba memberi kepercayaan pada cucunya tersebut! "Wah, kemarin kena tampar sekarang berita akuisisi jabatan.. Bukankah biasanya pengusaha jarang diliput berita yah" Komen Angel menatap layar ponselnya "Seperti katamu waktu pesta kalau yang hadir diacara ulang tahun Nana kemarin tamunya kebanyakan anak pejabat, terus kak Alan yang ngga seangkatan sama kita dan bukan kalangan pejabat tiba-tiba datang ke pesta, bukan sebagai tamu untuk memberi ucapan selamat, tapi sebagai tamu hubungan politik" "Wow, analisimu masuk akal, ayo lanjutin lagi maksudnya politik gimana?" Angel terlihat antusias "Ini hanya dugaan, kakek Alan orangnya sangat ambisius, jadi setelah punya banyak uang dan menjadi orang yang membawahi banyak pekerja, menurutmu hal itu akan cukup?" "Hah? Jangan belibet ngomongnya, katakan dengan jelas, otak ku ngga nyampe nih" "Kakek kak Alan ingin membawahi negara, sekarang dia berambisi menjadi presiden" Prok Prok Prok, Reino yang sedari tadi mengamati memberi tepuk tangan pada analisis Zelin. "Gila.. Kok bisa ada pikiran ke sana! Jadi biar lebih dikenal masyarakat mereka punya taktik sering muncul diberita? Cara kerjanya halus tapi pasti yah! Iya sih, sekarang kalau mau dikenal emang harus fleksibel. Apa lagi pemilihnya nanti kalangan milenial, harus bisa menarik perhatian dari kesukaan mereka, kaya medsos" Angel membenarkan penjelasan Zelin Ting tong Ting tong, bel istirahat berbunyi tanda untuk melanjutkan aktivitas pembelajaran. "Hari ini ada bimbingan karirkan? Katanya seluruh anak kelas XII disuruh kumpul di aula?" Tanya Zelin "Tumben, biasanya Bu Niken ngasih kertas kuesioner, kita mau lanjut di mana? Apa cita-cita kita, bakat minat dan bla bla bla" Sahut Angel "Lihat nanti aja pembicaranya siapa, kayanya biar kita ngga jenuh deh" "Yang, kita pisah di sini yah.. Tempat duduk cewek cowok dipisah" Angel memanyunkan bibirnya "Iya, tenang aja.. Habis ini aku ajak kamu nonton" "Uwu.. Makasih" "Najis, jadi obat nyamuk.. Aku masuk dulu" Ucap Zelin dengan raut datar "Eh, Zelin.. Tunggu" Angel berlari mengejar "Kayanya kalian jadi sering jalan, apa ngga capek habis les tambahan sekolah pulang jam lima harus nyempetin jalan" "Ini karena aku berniat kuliah di luar kota, tapi Reino ngga dibolehin kuliah di luar kota, jadi buat nyiasati Ldr nanti, kita mau maksimalin waktu bersama sesering mungkin" "Bucin.. Eh? Tadi ngomong apa? Kamu mau kuliah dimana? Kok ngga bilang aku? Sekarang aku ngga dianggap?" "Upz.. Lupa.. Maaf" Angel merengek manja berharap Zelin memaafkannya "Di kota apa? Aku ikut juga apa yah? Aku udah capek ketemu Dika ama kak Alan di kota ini" "Di kota B.. Iya kuliah bareng aja kita, nanti bisa kos bareng juga, uh.. Beneran loh ya kuliah bareng nanti" Angel tampak kegirangan dengan ide Zelin, ia terus menerus merangkul lengan Zelin Tes tes tes, kepada semua siswa untuk tenang, karena acara akan segera dimulai.. Pembawa acara mulai mengambil alih situasi aula, tak tak tak, langkah sepatu tamu undangan memasuki aula membuat gempar sesat. Pembicaranya kak Alan?! Zelin dan Angel menoleh bersamaan saling menatap satu sama lain. Acara berlangsung dengan damai dan tentu saja mereka sangat antusias mendengarkan karena pembicaranya selain tampan juga Dirut S. J Grup yang baru. "Dia laki-laki penuh pesona" "Hmm, aku mau dinomor duakan kalau setampan dia" "Bisa ngga aku jadi dasinya" "Baru lulus langsung jadi orang penting, apalah aku yang hanya hembusan angin lewat" Komentar mereka ngga semuanya aneh, pft.. Hembusan angin katanya.. "Aku cukup prihatin mereka memuji dengan kalimat menggelikan, tapi yah wajahnya emang terlalu mempesona, aku ngga bisa nyalain karya Agung Tuhan" Kata Angel "Ekspresimu sama sekali ngga nunjukin rasa prihatin deh" Sahut Zelin "Cepetan kita keluar, aku ngga mau papasan ama kak Alan" Zelin menarik Angel "Zelin.." Samar-samar seseorang memanggilnya "Zelin.." Kali ini lengannya dipegang kuat untuk berhenti berjalan, karena refleks ia jadi melepas pegangan Angel dan jalan terpisah dari kerumunan siswa yang hendak keluar. Kak Alan?! Baiklah, di sini ramai jadi dia ngga akan berani macam-macam.. "Kak lepasin! Aku masih ada les tambahan!" "Zelin.. Kenapa?" Tanya Alan menatapnya lurus tapi Zelin menoleh ke arah lain Kali ini Alan memegang kedua pundak Zelin, "Kenapa kamu tidak pernah menatapku? Aku tahu tidak seharusnya membawamu dengan cara seperti itu kemarin, aku tahu. Tapi waktu itu kamu melarikan diri dariku. Dan hanya sekedar bicara dengan aku saja kamu menolak. Apa yang harus aku lakukan untuk membawamu yang seperti itu? Kamu yang menolakku?" Wajah tampan yang dingin itu kini menunjukkan ekspresi menahan amarah "Apa harus ku kurung dengan kaki di rantai seperti binatang buruan? Bagaimana? Apa aku harus melakukan hal seperti itu? Supaya kamu hanya menatap ke arahku saja" Tubuh Zelin bergetar tidak mempercayai ucapan laki-laki yang selama ini dia anggap orang yang hangat. Saking terkejutnya membuat mulutnya terkunci, padahal ia sudah siap untuk berteriak. Alan mengguncang Zelin yang membatu, karena guncangan Alan, tubuh kaku Zelin mulai bisa digerakkan lagi. Ia tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk berlari sekencang mungkin. Kak Alan yang barusan serem banget, rasanya kalau aku ngga segera lari dia bakal menerkam ku..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD