Angel bolak balik memandangi sekitar dengan kedua tangan terlipat dan kaki kanan di hentak hentakkan. Kemudian ia meraih ponselnya dari dalam saku.
"Ini aneh" Ucap Angel sembari kepalanya dimiringkan ke sisi kanan kiri
Reino dan Zelin yang mengamati perilaku Angel hanya menatap dengan datar sembari menyeruput es teh yang dipesan.
"Kamu lebih aneh" Ucap Zelin dan Reino secara bersamaan
"Suasananya terlalu tenang, di media umum cuma kasih info ada cewek yang menampar calon direktur masa depan S. J Grup di acara pesta ulang tahun petinggi militer, dengan foto Zelin diblur.. Harusnya sekarang wartawan lagi semangat- semangatnya cari wanita yang kena blur " Angel terlihat antusias dengan pemikirannya
"Jangan berpikiran aneh aneh Angel! Biarkan aku tetap menjadi butiran debu" Zelin memberikan seringai pada Angel sebagai tanda peringatan
"Ini aneh Zelin, aku dapet chat dari anak Heaven, berita kamu booming di sana, tapi saat mau di upload ke ig apa sss langsung ilang malah akun mereka ada yang kena kunci.. Zelin? Ada sesuatu kan yang belum kamu ceritakan ke aku" kali ini Angel balik menyeringai pada Zelin
Mau tidak mau Zelin menceritakan awal pertemuannya dengan Alan, pertengkarannya dengan Dika dan Rose yang menjadi mata-mata bayaran Alan.
"Jangan bilang setiap cowok yang aku comblangin ke kamu pada menjauh gara-gara orangnya Alan ngancem mereka" Kasus terpecahkan setelah Zelin menjelaskan semuanya
"Terakhir aku liat kak Alan emang agak aneh sih gelagatnya, dia kan punya sepupu yang seumuran kita tapi kenapa baikinnya ke kamu doang.. Sekarang aku merinding nih, semua kejadiannya diatur sama satu anak berumur sembilan tahun, apa kita laporkan ke polisi aja?"
"Sayang, kamu mau lapor polisi atas pidana apa? Penguntitan? Udah punya buktinya belum? Jangan asal main lapor kalau udah tau lawannya siapa, kasus hari ini aja langsung bisa diredam, berarti mereka kebal hukum" Sanggah Reino dan dibenarkan Zelin yang ikut mengangguk setuju
"Sekarang ada masalah lainnya yang lebih urgent, Reino aku butuh beberapa anak buahmu sekarang" Kata Zelin dengan mata berbinar, setelah berulang kali Rose memberi pesan memohon untuk membujuk Dika pulang, sekarang karena kebenaran telah terungkap, Zelin berniat mencari Dika.
"Zel, sekarangkan kamu udah tau semua yang jadi pokok masalah kalian bertengkar, terus kalian bakal tunangan lagi?" Tanya Angel di dalam mobil, mereka sedang perjalanan ke tempat Dika yang kabur.
"Kebenarannya udah terungkap, tapi kami saling menjauh dalam waktu yang cukup lama, perasaanku padanya mulai terkikis, Dika ngga sadar perlakuannya membuat sesuatu yang terjaga menjadi retak.. Mendapat teguran wali kelas, dijauhi teman setelah kak Alan lulus dan ketika mama lama terbaring di rumah sakit, di saat aku butuh sandaran dia malah menjauh, membuat orang salah paham dan sekarang setelah aku mutusin pertunangan dia bersikap seolah menjadi korban, dasar b******k" Air mata Zelin menggenang, akhirnya ia dapat mengungkapkan segala kekesalan dan kekecewaannya.
Angel tak kalah terisak melihat sahabatnya menangis kemudian memeluknya dengan hangat. "Aku sakit hati denger ceritamu, gimana kalo ngga usah bujuk dia pulang"
"Kita udah sampai Angel, mobil kita terparkir tepat di depan Dika, cepat pasang maskernya" Kata Zelin yang langsung membuka pintu mobil
Keadaan Dika sangat kacau, rambutnya berantakan mulai memanjang tak terurus, matanya cekung dan wajah tampannya memudar. Baju seragam yang dikenakannya sangat lusuh dan kotor. Dika seperti bukan sosok yang Zelin kenal sekarang. Ia sekarang terlihat menyedihkan.
"Ini cukup bau.. Huek, kenapa anak orang berada bisa mendalami banget jadi gembel" Gerutu Angel yang sekarang berada disisi Dika yang sedang tertidur di atas kertas koran
Zelin matanya berkedip-kedip ke arah teman-teman Reino, memberikan arahan untuk melingkar.
"Ini sebabnya aku nyuruh kamu pake masker" Sahut Zelin, belum sempat dibangunkan Dika sudah terbangun sendiri, ia sedikit terkejut yang kemudian berusaha untuk lari tapi dicegah genk Reino yang berjumlah lima orang. Sebelum menjadi adu tinju, Zelin buru-buru mendekat dan menampar Dika.
"Mari kita bicara, tapi kamu MANDI DULU" Zelin mempertegas kalimat belakang ucapannya, karena tau yang membawanya adalah Zelin, Dika menurut dan tidak melawan.
Zelin membawa rombongan ke warung bakso, menunggu Dika mandi di kamar mandi warung, Zelin mentraktir anak buah Dika makan bakso. "Makan sepuasnya, ok? Aku yang traktir, nambah juga ngga papa, pokoknya aku ucapin terima kasih karena kalian udah mau bantu nangkep buronan.. Eh, teman saya tadi"
Mencegah Dika untuk kabur, Zelin menunggunya tepat di depan pintu. Beberapa menit kemudian Dika keluar dengan rambut yang masih basah.
"Seragam sekolahku cocok juga dipake kamu, ayo kita makan dulu" Ajak Zelin
Dika mengamati teman-teman Zelin yang duduk dikursi panjang, karena mereka berjumlah banyak. Sedangkan dia dan Zelin duduk berdua dibangku pojok.
"Makasih udah hidup dengan baik" Ucap Dika disela makannya
"Lalu kenapa sekarang kamu hidup menyedihkan? Harusnya aku yang hancur sekarang! Sejak kamu ngelakuin itu ke aku, harusnya kamu jelasin dengan jujur bukannya ditanggung sendiri! Masalah kita terjadi karena kurangnya pemahaman komunikasi, setidaknya dulu aku suka banget sama kamu, kalau kamu ngajak aku ke tepi jurang dan suruh aku melompatpun pasti aku mau ngelakuinnya! Dan sekarang aku mendengar penjelasan dari orang lain, sampai akhir kamu ngga mengatakan apapun" Zelin mengambil jeda sebelum melanjutkan ucapannya
"Kita udah berakhir Dika, hentikan mental menjadi korban sekarang! Dasar abg labil! Pubertas labil!!" Lanjut Zelin dengan nada suara ditinggikan, tubuhnya bergetar setelah mengutarakan semua rasa kesalnya pada Dika
"Bersandarlah padaku, itu perkataan yang memikat. Hiduplah memanfaatkanku seolah kamu tidak memiliki tangan dan kaki. Itu yang aku pikirkan ketika Alan membuat kebaikan kepadamu"
"Kamu harus tau bahwa kamu harus membayar ganjaran untuk semuanya. Lalu setelah terbiasa dengan kehidupan yang seperti itu, meskipun kamu melarikan diri nantinya, kamu pasti akan kembali dengan kakimu sendiri.. Pikiranku terlalu jauh saat itu, aku takut kamu menjadi bergantung ke Alan tanpa tahu sifatnya yang sebenarnya"
Dika tiba-tiba berlutut dengan mulut berkedut dan mata yang berkaca-kaca, "Aku minta maaf untuk semuanya, semua kesalahan yang sulit untuk termaafkan. Maaf karena aku egois, aku benar-benar minta maaf"
"Wah, salah apa dia sampai berlutut" Ucap salah satu teman Reino yang diam-diam mengamati
"Banyak, makanya dia jadi gembel buat introspeksi diri" Sahut Angel
"Sayang, nggak baik mengumpat orang kesusahan" Ucap Reino
Zelin menarik Dika agar duduk kembali. "Dika bangun, lebay tau"
"Mau percaya atau tidak percaya masalah kak Alan kan urusanku, sekarang aku udah tau semuanya dari Rose, dia yang malah ceritain semua ke aku.. Sekarang pulang lah ke rumah, om tante pasti khawatir nunggu kamu, aku udah lama maafin kamu, aku juga bersyukur kamu ngelakuin itu jadi buat aku mandiri lebih awal"
Pembicaraan telah usai, Zelin mengantar Dika pulang. Ayah Dika memukuli Dika sebentar, dan ibunya menangis melihat keadaan anaknya yang sudah berminggu-minggu baru pulang. Kedua orang tua Dika mengucapkan terima kasih pada Zelin. Hari berakhir damai hari itu.