Siapa Dia?

1345 Words
Hana terbangun dari tidur saat mendengar ponselnya berdering keras. Dia mengabaikan itu sebentar karena kepalanya masih terasa pening, dan baru mengangkat panggilan di ponselnya beberapa detik kemudian. “Hallo ....” “Hallo, By. Bukain pintu! Cepetan, aku bawa sarapan, nih!” sahut Aslan di telepon. Hana mengernyit, dia baru sadar kalau ini sudah pagi dan dia belum mandi. Pantas saja tubuhnya ini terasa tidak nyaman, terasa nyeri di beberapa bagian titik sensitifnya yang cukup mengganggu. Tunggu .... “Akh, sakitttt.” Hana merintih memegang dadanya, tepat di sana terasa begitu perih dan linu. Entah apa penyebabnya, padahal ini tidak pernah terjadi. Dia pun sedikit menunduk, menyingkap pakaian atas memeriksa dua buah benda keramatnya di sana ... tidak ada yang aneh. Namun, ketika Hana bergerak dari tempat tidur. Satu lagi rasa sakit menyerang di antara kedua pangkal pahanya. “Kenapa jadi begini, sih? Padahal semalem baik-baik aja.” Hana membatin, di bawah sana memang tidak sesakit di dadanya, tapi tetap saja mengganggu pergerakan Hana. Hana benar-benar lupa apa yang terjadi, bahkan dia baru sadar sudah ada di kamar hotel dengan keadaan tempat tidurnya yang berantakan. Sesaat kemudian, sebuah ingatan melintas di kepalanya. Ketika dia samar-samar melihat wajah seorang lelaki berada di atas tubuhnya dengan setengah badan tidak berpakaian utuh. Laki-laki itu ... Hana segera menutup d**a. Apa dia bermimpi? Dia hampir ingat bagaimana lelaki tersebut menjamah setiap bagian dalam dirinya. Mengajak menikmati indahnya malam mereka yang panas. Namun, tidak benar-benar ingat bagaimana wajah asli lelaki itu. “Enggak, itu pasti cuma mimpi, ‘kan? Iya, itu cuma mimpi. Pakaianku masih utuh dan pintu juga dikunci. Mana mungkin ada orang masuk?” Hana berusaha meyakinkan diri. Namun, semakin ingatan itu melintas dan rasa sakit di tubuhnya ini nyata, Hana mulai frustrasi. Dia benar-benar takut jika ada orang masuk dan melecehkannya saat mabuk. “Kak Aslan! Kak Aslaaaan!” Hana bangkit dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu kamar. Mengabaikan rambutnya yang berantakkan dan wajah kumalnya belum menyentuh air. “Ampun, dah. Kenapa, By? Kenapa kamu nangis begini?” Pemuda itu terkejut ketika Hana menubruk tubuhnya disertai suara kencang. Makanan yang dia bawa hampir saja terjatuh jika dia tidak kuat menahan beban Hana. “Tolong aku, Kak. Tolong aku ....” Hana menarik-narik lengan kemeja panjang Aslan. “Iya, iya. Aku tolongin, tapi masuk dulu. Biar bisa sekalian nyimpen ini di dalem.” Hana mengangguk, dia menarik lengan Aslan begitu cepat dan menyuruhnya segera menyimpan makanan itu di atas meja. Sementara mereka duduk di kursi, dan Aslan masih tampak keheranan dengan tingkahnya ini. “Kenapa? Gagal menang lotre?” tanya Aslan. “Bukan! Tapi ini jauh lebih penting tau!” “Hmh?” Aslan mengernyit. “Semalem aku mimpi basah.” “Uhukk!” Aslan terbatuk-batuk mendengar pengakuan polos Hana. “Mim—mimpi apa?” “Apa itu wajar, Kak? Tapi kok, kayak nyata banget, sih? Semua badan aku sekarang sakit. Dadaku juga sakit, apalagi di bagian—“ “Eheeeeh, udah, udah! Jangan diterusin!” Aslan menahan kalimat Hana yang seperti petaka baginya. “Apa enggak lebih baik kamu cerita begituan ke temen cewekmu, huh?” “Emang kenapa kalau aku cerita sama Kakak?” “Aku ini cowok, By. Mana ngerti yang dirasain cewek!” “Tapi katanya Kak Aslan sering mimpi basah. Jadi kupikir Kakak lebih berpengalaman,” jawab Hana yang membuat wajah Aslan semerah tomat, malu. “Siapa yang bilang begitu?!” “Momy Bulan. Kata momy kalau lagi nyuci selimut Kakak pasti ada aja yang basah, dan itu sering. Masa Momy Bulan bisa bohong ke aku?” “Emh ....” Aslan kehabisan kata. Dia pun memegang kedua bahu Hana dan mengarahkannya menuju kamar mandi. “Jangan ngomong yang aneh-aneh. Itu aer yang nggak sengaja tumpah ke kasur. Dan yang kamu rasain juga hal wajar, kalau mimpi basah emang begitu.” Hana mengernyit. “Beneran? Tapi ini sakit banget tau. Kalau kenyataannya ada yang melecehkanku di kamar ini, gimana?” “Itu enggak mungkin. Pintu kamar kamu ini kekunci, siapa orang yang bisa masuk? Aku aja enggak bisa, apalagi orang lain. Lagian, siapa suruh kamu minum banyak semalem, huh? Kamu itu kalau mau mati jangan bawa-bawa akulah! Ini kalau sampe Tante Enzy tau, bisa kena tebas leherku!” Aslan jadi marah-marah. Hana terdiam sebentar, ucapan kakak sepupunya itu ada benarnya juga. Ini semua pasti hanya mimpi dan efek buruknya kalau mimpi basah dalam keadaan mabuk. “Iya, maaf. Aku salah,” kata Hana pelan. “Udah cepetan mandi. Sarapannya dimakan, nanti kabarin lagi kalau udah selesai. Soalnya kita mau pulang sekarang,” kata Aslan lagi. Hana hanya berdeham menjawab perintah Aslan, lalu masuk kamar mandi tanpa bertanya lebih jauh lagi. *** “Iya, Ma. Iya, nanti Vano nginepnya di rumah Tante Clara. Sekarang udah nanggung, nanti sore Vano balik ke Jakarta. Ke rumah Tante Clara mau ngapain?” “Makanya kamu itu kalau ke London harus inget punya saudara, rumah Papa Willy sama Tante Clara ada. Kenapa harus nginep di hotel?” Pemuda berusia 25 tahun bernama Devano Mannasero itu menghela napas berat, ibunya terus mengomel sejak tahu dia menginap di hotel dibandingkan di rumah tante atau rumah ayah kandungnya di negara ini. Bagi Devano, menginap di rumah salah satu dari mereka itu berat. Rumah Clara tantenya begitu ramai oleh anak-anak, kadang sering mengganggu di kamar ketika ada pekerjaan. Sementara di rumah Willy Mannasero sang ayah, ada istri dan adik tirinya. Begitu canggung sekali tinggal di rumah ayah sendiri. Dia pernah tinggal di rumah Clara selama 2 tahun sampai lulus sekolah menengah atas, lalu pindah lagi ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas Jakarta 6 tahun lalu. Usai lulus dan mengambil alih usaha aksesoris sang ayah—Yasa Pradipta, hanya sesekali Devano datang ke London. Itu pun kebanyakan karena urusan pekerjaan. Pada akhirnya Devano memilih menginap di hotel selama pekerjaan belum selesai. Walau itu artinya dia harus siap mendapat omelan begini dari Nayla ibunya. “Vano tinggal di hotel karena deket sama klien yang bakal Vano temui di sini. Jadi bisa menghemat waktu,” jawab Devano memberi alasan. “Baiklah, kali ini mama maafin. Kalau mau pulang nanti jangan lupa kabari mama lagi.” “Iya, iya, mamaku cantik. Udah dulu, ya. Vano mau pergi ketemu klien lagi soalnya,” kata Devano sekaligus menutup panggilan dari Nayla. Dia pun melangkah masuk lift ketika pintu benda tersebut terbuka disusul seseorang yang mendadak menyeruduknya dari belakang dan terkesan tergesa-gesa. Pintu lift tertutup, Devano baru sadar orang di sebelahnya sekarang adalah gadis yang semalam mabuk berat. Sekarang penampakan gadis itu tidak jauh berbeda dari semalam, masih terlihat kusut. “Kamu lagi ....” Gadis di sebelah Devano yang ternyata adalah Hana mengernyit, matanya menyipit menatap Devano sebentar. “Siapa, ya? Apa kita pernah ketemu?” tanya Hana. “Lupa? Yang semalem muntah di jaketku dan ngerengek minta digendong sampe depan kamar, siapa ya?” Hana masih mengernyit. “Emang semalem aku begitu?” tanyanya, dia benar-benar lupa. Berusaha mengingat lagi, perutnya malah semakin mual. Di dalam kamar tadi pun dia muntah berkali-kali. Menyesal sekali karena telah meminum banyak minuman keras semalam hanya gara-gara sebal disebut anak kecil. “Kenapa? Masih belom telat kalau mau bilang makasih,” kata Devano ketika pandangan terus Hana tertuju padanya. “Nanti aja bilang makasihnya kalau aku inget sama Om. Sekarang masih lupa, kepalaku pusing kalau dipaksa inget.” Hana menjawab dengan suara lemah. Brak! Devano menghela napas melihat gadis itu terjatuh tepat di sampingnya, dia tidak terlalu terkejut. “Dasar amatir,” gumam Devano seraya berjongkok di dekat gadis yang hilang kesadaran itu. “Dia enggak mati, ‘kan?” Devano mengecek keadaan Hana sebentar, cukup berguna juga dia terlahir dari ibu yang berprofesi seorang dokter umum. Dia jadi tahu bagaimana harus mengambil tindakan saat ada kejadian seperti ini. Dia pun menggendong Hana di kedua lengannya, ke dua kali dia melakukan ini karena gadis itu. Ketika Devano memandang wajah polos Hana, seperti ada yang aneh. Hana tampak tidak asing dilihat dari dekat. Wajah bulat dan berpipi chubby, punya bulu mata panjang dan lentik menyempurnakan indah mata kecokelatannya, ditambah bibir tipis dengan hidung mungilnya. Siapa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD