Baru beberapa langkah Devano keluar setelah pintu lift terbuka, dia sudah dikejutkan oleh suara seorang pemuda di depannya.
“Baby?! Ya, ampun, kenapa bisa begini, si?”
Pemuda tersebut langsung mengenali gadis yang digendong Devano. Kepanikan juga terlihat dari wajahnya, dan tanpa basa-basi lagi langsung mengambil alih tubuh Hana dari Devano.
“Pacarnya?” tanya Devano iseng.
“Lo apain dia sampe pingsan gini, huh?!”
Devano terkejut, pemuda itu mendadak sewot padanya. “Tanya aja sendiri pas dia sadar nanti!” jawabnya tidak mau ambil pusing. “Enggak ceweknya, enggak cowoknya. Sama-sama ngeselin.” Dia membatin sekaligus melengos pergi meninggalkan Hana.
Entah kenapa hari ini dia seperti tertimpa kesialan berulang, dia pikir jika sudah dimarahi ibunya, dia tidak akan mendapat hal serupa dari orang lain. Sungguh ... apa dia sudah mimpi buruk semalam? Ah, sepertinya ini memang pagi menyebalkan.
***
Devano mendatangi sebuah pameran perhiasan yang diselenggarakan pengusaha ternama asal London. Ada banyak jenis perhiasan dari yang termewah dibentuk dengan sangat apik oleh tangan-tangan ahli menjadi sebuah seni berbentuk aksesori yang layak digunakan oleh kaum wanita.
Kedatangannya ke sini pun bertujuan untuk mencari inspirasi, di mana dia akan belajar bagaimana cara mengembangkan desain miliknya agar menjadi sebuah karya yang juga layak digunakan oleh semua usia.
Bisnis aksesorinya yang mengincar konsumen dari segala usia itu menuntutnya untuk terus mencari ide terbaru dan lebih fresh. Datang ke tempat-tempat seperti ini memang sangat membantunya lebih mudah mendapatkan ide-ide baru.
“Van?!”
Pemuda yang memiliki rambut sedikit ikal berwarna kecokelatan itu menoleh saat sepenggal namanya dipanggil seseorang. Dia lantas tersenyum lebar, menyambut lambaian tangan Ricky—sahabatnya sejak sekolah dasar, yang menghampiri bersama kekasih barunya.
“Gue kirain lo nggak bakal datang, taunya paling gesit duluan kek mau daftar pembagian sembako,” celetuk Ricky seenaknya.
“Yaelah, omongan lo, Ric! Gue jadiin patung emas juga nih, lama-lama makhluk satu!” timpal Devano sedikit kesal.
Pemuda blasteran Inggris-Indo, Jawa Tengah itu tertawa renyah seakan puas melihat sahabatnya diliputi kekesalan. Devano tidak terlalu peduli sebenarnya, sebab dia dan Geng Sultannya yang berjumlah enam orang itu sudah terbiasa seperti ini.
Namun, kelakuan sahabatnya yang satu ini benar-benar membuat Devano ingin memasukkannya ke dalam panci, lalu mengirimnya ke benua Afrika.
“Oh, ya. Belom kenalan, ini cewek gue. Namanya Farah ....” Ricky mengenalkan seorang gadis muda berperawakan jangkung di sebelahnya. Devano menyambut dengan senyum tipis. “Dia masih punya temen cewek, kalau lo mau biar gue yang atur tempat sama waktunya.”
Ricky sedikit berbisik jail, Devano menghela napas malas. “Ogah! Lo enggak inget? Terakhir kali lo kenalin gue cewek, ternyata dia penyuka sesama jenis! Sekarang lo mau sodorin gue cewek modelan apa lagi, hah?” katanya mengingatkan kelakuan Ricky tempo hari.
Lagi-lagi Ricky tertawa renyah mendengar kesialan Devano.
“Iya, iya, sorry. Itu namanya kesalahan teknis, mana gue tau si Vera begitu? Tapi yang ini gue yakin enggak bakal nyesel, Van. Dia masih kuliah di fakultas kedokteran, nyokap lo juga enggak bakal banyak protes apalagi mereka punya kesamaan. Jadi gimana? Mau nggak?” tanya Ricky lagi memastikan.
“Nggak boleh!” sahut sebuah suara gadis muda di sekitar mereka bertiga. Seorang lagi datang menghampiri Devano, gadis berperawakan jangkung, berkulit putih bersih dan mengenakan atasan merah muda berdada rendah. Rok mini putih dua jengkal di atas lututnya menunjukkan setiap inci kulit pahanya yang putih mulus tidak ada cacat sedikit pun.
Dia adalah Sophie—salah satu anggota Geng Sultan, sahabat Devano dari semenjak sekolah dasar. Gadis itu menyilangkan lengan di perut, lalu menunjukkan protes keras dari ekspresi wajahnya yang ketus.
“Siapa bilang kamu bisa seenaknya ngenalin Vano sama cewek lain? Dia juga belum tentu suka sama cewek yang kamu sodorin.” Sophie berkata lagi melayangkan protesnya.
“Kalau belom dicoba mana tau hasil akhirnya, Sop.”
“Kamu jadiin Vano bahan percobaan?!” Sophie hampir saja melayangkan tas kecilnya ke wajah Ricky, gerakannya tertahan karena Devano memberi kode menggunakan pandangan mata dingin.
“Eh? Kerjaan lo udah selesai kan, di sini?” tanya Ricky mencoba memutus tegangan antara Devano dan Sophie.
“Udah.”
“Kalau begitu kita ke tempat anak-anak, tadi Kevin udah shareloc buat kita ketemuan,” ujar Ricky seraya melihat jam di tangannya sebentar.
“Oh, oke—“
Belum sempat Devano menjawab, tangannya lebih dulu ditarik Sophie ke luar area pameran menuju mobil yang sudah menunggunya di depan. Devano menarik tangan dari genggaman gadis tersebut sebelum mereka masuk ke mobil.
“Gue bisa masuk sendiri,” kata Devano datar, dia lebih dulu masuk di kursi belakang sebelum Sophie melayangkan perintah.
Gadis itu sekarang sudah duduk di sampingnya, Devano mengeluarkan earphone dan menyalakan musik cukup keras dari ponselnya.
“Kita perlu bicara, Van.”
“Tinggal bicara, masih kedengeran, kok,” jawab Devano. Dia menyandarkan tubuh di jok sambil memejamkan mata, mendengarkan dua suara sekaligus di telinganya.
Devano bukan ingin mengabaikan Sophie, tapi traumanya terhadap mobil masih belum hilang sepenuhnya. Dua kali terlibat kecelakaan membuat Devano mengidap PTSD (Post Traumatic Stres Disorder)/gangguan kecemasan berlebihan sejak kecil, dan mengalihkan perhatian kepada musik adalah salah satu cara agar dia bisa menaiki mobil.
Semua sahabatnya tahu, maka dari itu sekarang Sophie tidak protes.
“Mau sampai kapan kamu begini terus, Van?” tanya Sophie.
“Maksud lo apa?”
“Tentang kamu yang selalu nerima cewek yang ditawarin Ricky. Itu buat apa? Sementara kamu sendiri enggak pernah mau membuka hati buat orang lain.”
Devano tersenyum, lalu membuka mata untuk melihat ke arah Sophie. “Iseng aja. Buat ngehargain usaha Ricky yang mau repot-repot nyariin cewek.”
“Iseng?!” Suara Sophie agak mengeras. “Tujuh tahun kamu kayak gitu karena iseng? Apa kamu nggak pernah mau serius, Van? Berhenti buat main-main, kita bukan anak SMA lagi.”
“Justru karena kita bukan anak SMA lagi, gue nggak mau salah pilih.”
Pandangan Devano dan Sophie bertemu cukup lama, Devano menyadari gadis itu ingin masuk lebih dalam lagi mempertanyakan sikapnya terhadap para gadis yang dikenalkan Ricky selama 7 tahun terakhir.
“Apa aku enggak pernah termasuk jadi pilihan terbaikmu, Van?”
“Lo yang terbaik dari semua sahabat gue, Sop.”
“Tapi kamu tau aku mau kita lebih dari sekedar sahabat, kamu tau semua tentangku. Bahkan orang tua kamu udah kenal aku dengan baik. Apa lagi yang jadi pertimbangan kamu?”
Devano terdiam, sejenak terlintas bagaimana gigihnya Sophie mendekatinya dari mereka duduk di Sekolah Dasar sampai detik mereka mampu berdiri tegap dengan karier masing-masing. Memang tidak diragukan lagi.
“Dan lo tau kita udah terlalu deket, Sop. Gue nggak bisa jamin cinta yang gue kasih bisa ngebuat lo bahagia, luka itu paling sakit diberikan oleh pasangan. Ketika tanpa sadar gue melukai perasaan lo nantinya, hukuman jenis apa yang akan gue tanggung setelah ngerusak persahabatan kita selama belasan taun?” Devano memberikan alasan yang sejujurnya, kenapa dia memilih tidak menerima perasaan Sophie sampai mereka dewasa.
“Ini salah satu alasan kenapa aku menyukaimu,” jawab Sophie. Dia mengerjap beberapa kali untuk mengurangi basah di kedua matanya. Ingin menangis, tapi itu jelas bukan dirinya. Sampai dia memilih memutus pandangan dari Devano lebih dulu agar perasaannya lebih baik.
***
Devano menggeliat, sedikit merenggangkan otot-ototnya yang pegal setelah duduk di kursi pesawat selama belasan jam lamanya. Dia tersenyum seraya mengabsen sekeliling, akhirnya dia bisa melihat wajah-wajah khas Indonesia yang dirindukannya selama beberapa hari terakhir.
Suasana di bandara tempatnya berpijak sekarang terpantau ramai, banyak orang bepergian di hari libur dan memulai aktivitas mereka di hari sibuk. Begitu pula Devano yang sudah diteror telepon semenjak dia menginjakkan kaki di sini.
Panggilan dari ibunya, dari ayahnya yang berada di Jerman, dari adik laki-lakinya yang berkata akan menjemput. Ponselnya tidak bisa berhenti berdering selama setengah jam terakhir.
Namun, meskipun begitu. Devano risi juga kalau harus seperti ayam petelur di bandara menunggu jemputan datang. Dia pun meraih ponsel, kembali menghubungi adiknya yang entah masih tersangkut di belahan bumi mana.
“Eh, masih nyelip di mana, si? Udah setengah jam ini, enggak tau udah tepos karena kelamaan duduk dari kemaren!” Devano langsung menyemprot ketika panggilannya diangkat.
“Iya, sorry, Kak. Aksa udah di jalan, kok! Tapi ini baru keluar dari pom bensin, tadi nggak tahan dapet panggilan alam. Sekarang otewe ke sana!”
Tud!
Panggilan mendadak berakhir, adik super kalemnya itu pasti kalang-kabut menyadari akan ada granat yang akan dilempar ke arahnya dari Devano.
“Buset, dah. Pamor gue kalah sama buang hajatnya dia?!” Devano akhirnya beranjak, tidak tahan lagi ingin segera bertemu bantal dan kasur kesayangannya. “Dahlah, terpaksa nyari taxi juga.”
Dia pun menyeret kopernya, memilih pulang sendiri menggunakan taxi. Padahal dia sangat menghindari menggunakan kendaraan umum karena tidak ada orang yang dipercayai menyetir selain anggota keluarganya.
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering lagi. Devano langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya, tapi dia yakin pasti Aksa.
“Aksayton kamvreto, udah jangan jemput! Kakak mau nyari—“
“Masih juga manggil adeknya begitu?! Mau dikutuk jadi kodok burik, apa kakek cangkul, hah?”
Devano menjauhkan ponsel dari telinga, ternyata yang menelepon adalah Yasa.
“Eh, Papa. Itu ... tadi itu nggak sengaja. Padahal udah Vano bikin catetan supaya lupa nggak manggil anak kesayangannya begitu.”
“Alesan ....”
Devano tertawa garing. “Kenapa nelpon lagi? Masih kangen sama Vano?”
“Jangan ngawur!” sahut Yasa sewot. “Papa nelpon cuma mau mastiin kamu bawa pesenan papa, nggak? Tadi nelpon kelupaan nanya. Jangan sampe nggak dibawa, apa lagi lupa. Kalau enggak, papa suruh kamu balik lagi ke London!”
Devano terkejut, dia langsung memeriksa isi tas yang berada di atas kopernya. Memastikan pesanan Yasa dibawa, itu adalah sebuah paket perhiasan limited edition yang diburu Devano sewaktu di London kemarin. Susah payah dia berebut dengan emak-emak sampai ribut selama dua jam untuk perhiasan ini. Gawat sekali kalau sampai ketinggalan.
“Ada ... iya, ada. Udah Vano bungkus malah, tinggal ngasih sama princes—“
Brak!
“Aduh!” Seseorang merintih setelah tidak sengaja menubruk Devano yang berhenti di tengah jalan.
Devano sendiri melongo, paket perhiasan untuk ibunya yang sudah dibungkus sangat cantik itu tersenggol sebelum akhirnya terjatuh dan terinjak oleh si penabrak.
“Paket gue!” Devano buru-buru memutus panggilan, telinga Yasa sangatlah tajam, apalagi mulutnya yang bisa saja membuat telinga Devano menghilang jika tahu paket perhiasannya rusak.
“Ya, ampun, Om lagi!”
Suara gadis itu memekik, tapi Devano terlalu sibuk memungut paketnya dengan perasaan waswas. Dia takut isinya benar-benar rusak ... ini kiamat baginya.
“Syukurlah, isinya masih bagus. Selamat hidup gue ....” Devano tersenyum memeluk paket miliknya yang seharga ratusan juta tersebut.
“Ya, ampun. Aku nggak percaya ternyata bener dunia itu cuma selebar daun ketapang. Setiap kali ketemu, aku pasti kena sial!”
Devano baru menengok ke arah sumber suara, ternyata dia bertemu lagi dengan gadis polos yang ditemuinya di London kemarin.
Hana bertolak pinggang, memasang wajah galak berharap Devano bisa takut padanya.
“Hah, daun ketapang? Daun kelor kali!”
Krik
Krik
Krik
Hana mematung sebentar. “Iya, itu maksudnya sama aja!”
Devano menggelengkan kepala, tidak habis pikir masih ada gadis sejenisnya yang salah, tapi tidak terlihat merasa bersalah sama sekali.
“Lagian ngapain si anak kecil lari-larian di bandara gini? Sendiri lagi! Gara-gara kamu paket buat mama jadi rusak, ini tuh mahal. Sampe ratusan juta aku beli! Kamu harus ganti rugi kerusakannya!” kata Devano iseng seraya menunjukkan kotak paketnya yang rusak.
“Hah, ga—ganti rugi?” Mata bulat Hana terbelalak, langkahnya otomatis mundur tanpa diperintah melihat isi kotak berisi perhiasan mahal itu.
Devano yang menyadari Hana akan kabur langsung menarik tas di punggung gadis itu, sampai Hana hanya bisa lari di tempat.
“Suruh ganti rugi, mau kabur?”
“I—iya, nanti aku ganti. Tapi sekarang aku nggak punya uang ratusan juta. Aku juga pasti diomelin mama kalau minta uang sebanyak itu.”
“Nah, itu tau masih minta duit ke orang tua. Kenapa masih nakal juga? Enggak minta maaf lagi udah ngerusak barang orang!”
“Iya, iya, maaf!” Hana berhenti berlarian di tempat dan berbalik arah. Menyatukan kedua telapak tangan, lalu menangis di hadapan Devano. “Tapi tolong jangan suruh ganti rugi, dong. Aku itu baru aja lulus SMA, baru sebentar masuk kuliah, masa Kakak mau minta duit ke anak sekolahan?”
Devano menghela napas kasar. “Baiklah, aku nggak akan nuntut ganti rugi—“
“Hah, beneran?!” Air mata Hana berhenti mendadak.
“Tapi ....”
“Tapi?”
Devano berjalan dua langkah mendekati Hana, gadis itu tertunduk. Takut membalas tatapan dingin yang tertuju padanya. Wajah mereka sangat dekat, Devano seakan sengaja melakukan itu untuk menakut-nakutinya. Padahal Hana bukanlah tipe gadis yang mudah untuk ditakuti secara fisik.
“Ke—kenapa?” tanya Hana gugup.
“Apa kamu lagi PMS? Di belakang rokmu ... itu tembus,” kata Devano dengan suara sangat pelan.
“Ha-hah?” Kedua pipi Hana memerah, dia segera menutup rok belakangnya dengan tangan. “Aaaaa! Mama! Mamaaa!”
Melihat Hana langsung berlari sangat kencang, Devano menggelengkan kepala sambil terkekeh kecil.
“Dasar bocil.”