Bab 2 — Suara Yang Menarik

635 Words
Rixsen terus berjalan cepat di lorong kampus, sampai tak sadar sudah melewati kelasnya. Ia baru menyadarinya saat sudah berada di ujung lorong. "Sialan, kenapa aku malah nyasar ke sini?" gumamnya, memarahi diri sendiri. Ia mengangkat lengan dan menatap gantungan kuncinya. Tiba-tiba ia teringat sentuhan kulit gadis itu, dan perasaan aneh itu muncul lagi di dadanya. Ia buru-buru menggelengkan kepala. *Apa sih? Gadis itu cuma bakal merepotkan hidupmu, Rix. Ingat itu baik-baik!* batinnya, lebih seperti upaya menegaskan jati dirinya yang hampir tenggelam oleh perasaannya. Akhirnya ia berbalik dan melangkah menuju kelas yang tadi terlewat, kali ini lebih santai. *Kenapa aku bodoh banget hari ini? Mulai dari nyuruh Arga minggir padahal dia gak ngalangin jalan, bikin alasan paling bodoh soal ujung tembok, sampai sekarang malah melewati kelas tanpa sadar.* Ia menghela napas lelah. "Eh, Kak? Kita ketemu lagi." Ciesel tersenyum di depannya. Wajah ketus Rixsen otomatis terpasang saat melihat gadis itu tepat di hadapannya. "Iya, lalu?" "Gak apa-apa sih. Kakak gak suka aku ya? Maaf deh, udah sok asyik." Ciesel terkekeh, lalu melanjutkan langkahnya. Rixsen tiba-tiba panik, dan ia sendiri tidak mengerti kenapa. "Tunggu." Ciesel berhenti dan menoleh. "Iya, Kak?" "Aku bukan gak suka kamu. Maksudku—" Rixsen mengacak rambutnya dengan kasar. Ciesel tertawa kecil. "Iya, Kak, aku paham kok. Gak usah pusing mikirin kata yang tepat." "Baguslah kalau kamu paham. Dan maaf tadi langsung pergi begitu saja. Pokoknya, terima kasih." "Gak masalah, Kak. Tadi teman Kakak udah mewakili, kok." Rixsen mengerutkan kening. *Valdan sialan itu!* "Aku duluan ya, Kak." Ciesel berbalik dan melanjutkan langkahnya. *Sial, aku belum tanya namanya—* Ia mendengus. *Ngapain juga aku tanya namanya? Hah, lucu banget kamu, otak sialan.* --- Jam makan siang tiba, tetapi Rixsen masih duduk di kursinya. Alih-alih membuat catatan ringkasan materi, ia malah menggambar asal-asalan di buku tulisnya. "Woi, Rix, ngapain kamu? Yuk, ke kafetaria!" ajak Arga sambil merangkul pundak Rixsen. "Duluan aja sana. Aku lagi malas makan," jawab Rixsen tanpa menoleh, matanya tetap fokus menggambar. Arga melirik gambar di kertas itu dan menggeleng. "Aneh banget kamu, Bro. Ambil jurusan ekonomi, padahal jago gambar begini. Kenapa gak ambil jurusan seni rupa atau desain aja?" "Ah, berisik. Bukan urusanmu." Arga mengangkat bahu. "Ya udahlah. Kamu kayaknya lagi *bad mood* banget hari ini." "Iya, biasa tuh, cowok lagi datang bulan," kata Valdan yang baru datang. Arga tertawa. "Hei, Bro, dari mana aja baru kelihatan nih?" Rixsen menghela napas. *Nambah lagi orang nyebelin.* Walau batinnya berkata begitu, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Ayolah, Tuan Muda Rixsen, makan itu penting," ledek Valdan bercanda. Rixsen akhirnya menutup bukunya. "Ah, ribet banget kalian! Ya udah, cepetan!" Arga dan Valdan saling menoleh, lalu tertawa lepas. "Tuan muda, tuan muda," kata Arga di tengah tawanya sambil memukul pundak Rixsen agak keras. "Kalau kalian mau ketawa kayak orang gila, ya udah, aku duluan!" Rixsen melangkah lebih dulu. "Hei, tunggu kami, Tuan Muda!" --- Sementara itu, di ruang musik, terdengar denting piano berpadu dengan suara yang lembut. Suara Ciesel menyatu tepat dengan lantunan pianonya. [TEMPEL LIRIK ASLI BAB 2 DI SINI] Suaranya melambung tinggi. Ciesel menarik napas dan tersenyum melihat karakter kesukaannya di atas piano. Emily di belakangnya bertepuk tangan penuh semangat. "Hebat, Cie! Aku bangga jadi temanmu. Yuk, kita nikah aja!" Ciesel terkekeh, tangannya menutupi mulut seperti biasa. "Jangan dong. Gimana aku nolaknya nanti?" Mereka berdua tertawa bersama. "Yuk ah, udah jam makan siang nih. Aku mau makan salad buah, kayaknya segar!" kata Emily sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Iya, ayo ke kafetaria. Aku mau salad sayur." Emily mengernyitkan dahi. "Suka banget sih kamu sama sayuran." "Suka dong! Sayuran kan enak, apalagi yang mentah. Manis dan bergizi banget," kata Ciesel penuh semangat. "Terserah kamu deh. Yang penting, ayo kita serbu kafetaria!" Emily menarik lengan Ciesel, dan mereka melangkah menuju pintu keluar ruang musik. Seorang pria yang sejak tadi memegang harmonika membetulkan kacamatanya. *Suara yang menarik,* batinnya penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD