bc

Melody Kampus

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
HE
badboy
goodgirl
kickass heroine
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
genius
campus
highschool
childhood crush
love at the first sight
naive
like
intro-logo
Blurb

(Gak tau lah baca aja dulu siapa tau sukak ye)

Ciesel terbiasa menanggung semuanya sendiri. Di balik senyum ramah dan bakat musiknya di kampus, ia bekerja mati-matian demi menutup beban finansial keluarga yang mencekik.

Sementara itu, Rixsen adalah mahasiswa Ekonomi yang dingin, ketus, dia mengunakan semua itu agar tidak terluka oleh orang lain. Di balik sikap acuh tak acuhnya, Rixsen menyimpan sisi lembutnya dan masa lalu kelam sebagai mantan geng motor yang reputasinya masih dibenci di jalanan.

Satu kebetulan kecil di lorong kampus membuat jalan hidup mereka bersilangan. Saat beban hidup Ciesel makin tidak tertahankan dan bayang-bayang masa lalu Rixsen mulai mendekat, gengsi besar yang selama ini mereka pertahankan perlahan mulai goyah.

Rixsen mulai memberanikan dirinya untuk bertindak saat si jenius musik dan rekan kerja Ciesel mulai menunjukkan persaingan untuk mendapatkan Ciesel.

Cerita ini menceritakan proses kedewasaan dan bagaimana cinta mengubah cara pandang hidup mereka masing-masing.

chap-preview
Free preview
## Bab 1 — Melody Lembut di Taman
Sore itu udara terasa sejuk dan angin berembus halus. Lantunan gitar yang lembut merambat, menyatu dengan angin itu. Nadanya bergema di sekitar si gadis. Gadis itu bernyanyi sambil memejamkan mata. Suaranya lembut, membuat orang-orang yang duduk di taman refleks menoleh. Ayunan tangannya di senar gitar mengalir natural mengikuti nada. Setelah nada panjang terakhir usai, ia membuka mata. Beberapa orang sudah berdiri di hadapannya dan bertepuk tangan dengan riang. Gadis itu tersenyum canggung, lalu menarik topinya hingga menutupi wajah. Dari bangku seberang, seseorang yang sedang memakan roti menatapnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Oh, kamu di sini, Rix! Mamahmu marah-marah padaku, aku udah cari ke mana-mana," ucap seorang pria yang baru datang, napasnya terengah-engah. Rixsen membuang bungkus roti di tangannya sembarangan. "Ogah. Palingan mau ngenalin cewek lagi. Malas!" "Aduh, Rix, jangan buang sampah sembarangan dong." Pria itu memungut bungkus roti yang tergeletak, lalu memasukkannya ke tempat sampah. "Lagian kamu lagi ngapain sih di sini?" Rixsen memutar bola matanya. "Ngapain aja boleh." Pandangannya tetap tertuju pada gadis bertopi di bangku seberang. Valdan menyipitkan mata. Ia mengikuti arah pandangan Rixsen, dan matanya berhenti pada gadis bertopi yang sedang merapikan gitarnya. "Oh, begitu? Jadi kamu tertarik sama gadis itu?" Nada Valdan berubah meledek. "Gak mungkin ya!" Rixsen segera bangkit dari kursi. "Lagian kamu di pihak siapa sih, Val? Kamu itu sebenarnya sahabatku atau sahabat mamahku?" Valdan mengangkat bahu. "Habis, aku datang ke rumahmu tiba-tiba diomelin mamahmu, terus disuruh cari kamu. Mamahmu itu terlalu menyeramkan, Rix." Ia menepuk bahu sahabatnya. Rixsen menepis lengan Valdan. "Halah!" Ia melangkah cepat melewati Valdan, meninggalkan temannya di belakang. "Hei, tunggu, Rix!" --- Keesokan paginya, Rixsen tiba di kampus dengan sepeda motornya. Sambil memarkirkan motor, ia menatap gedung kampus itu dan menghela napas. Namun rasa malasnya buyar saat gadis yang ia lihat di taman kemarin lewat tepat di hadapannya. *Ternyata dia mahasiswi kampus ini juga?* Ia mendengus. Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundaknya. "Woi, ngapain kamu senyam-senyum gak jelas!" Rixsen menggeram. "Sialan kamu, Arga! Bikin kaget aja!" Arga tertawa. "Lagian pagi-pagi udah bikin merinding aja." "Halah, udahlah, minggir." Ia melenggang pergi, meninggalkan Arga di belakang. *Minggir gimana coba? Aku aja gak ngalangin jalannya,* batin Arga kebingungan. --- "Ciesel!" Seseorang memanggil sambil melambaikan tangan. Ciesel berhenti, menoleh ke belakang, lalu membalas lambaian Emily dengan senyum. Emily berlari kecil menghampirinya dan menepuk pundaknya. "Selamat pagi, Cie! Kemarin aku lihat kamu nyanyi di taman. Suara kamu lembut banget!" Rona merah muncul di wajah Ciesel. "Emang iya? Kok aku gak lihat kamu?" "Sengaja gak nunjukin diri, nanti kamu malah berhenti nyanyi." Emily terkekeh. "Oh iya, maaf tadi belum balas sapa. Selamat pagi, Em." Tawa Emily meledak. "Apaan sih, lucu banget kamu! Ngapain juga minta maaf!" Ciesel menutupi tawa kecilnya dengan telapak tangan. Sesampainya di depan kelas Emily, Ciesel melambaikan tangan dan mereka berpisah di sana. Ciesel melirik ponselnya. Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. *Yah, masih ada satu jam lagi. Kalau ke ruang musik dulu, nanti lupa waktu lagi. Enaknya ngapain ya?* Rixsen, yang sedang berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba bersembunyi saat melihat Ciesel berdiri melamun di tengah lorong. "Eh, Rix, kamu ngapain di situ?" tanya Valdan yang baru datang. Rixsen gelagapan sejenak sebelum memegang ujung tembok runcing di depannya. "Enggak, aku cuma lagi lihat ujung tembok ini. Kayaknya tadi bolong, deh. Apa aku salah lihat, ya?" Valdan menghela napas panjang. "Hadeh, Rix, Rix. Kamu lagi lihat gadis yang berdiri di sana, kan? Gak usah ditutupin, udah kelihatan jelas." Ia menunjuk Ciesel yang masih berdiri di tengah lorong. "Enak aja, aku gak bohong!" Mata Rixsen bergerak ke atas sepersekian detik. Valdan menggeleng. "Berlagak gak tertarik sama cewek, tapi lihat gadis imut langsung runtuh?" Rixsen menggaruk rambutnya dengan kasar. "Ah, tahu ah! Ngeselin banget dari tadi ditanyain kenapa mulu." Ia pun menerobos maju dan menunduk saat melewati gadis yang melamun itu. "Eh, Kak, tunggu!" Tepat saat mendengar gadis itu memanggil, dadanya terasa aneh. Rixsen berhenti, lalu menoleh pelan. "Apa?" Suaranya ketus, padahal ia sama sekali tidak bermaksud begitu. "Aduh, maaf, Kak. Kayaknya Kakak buru-buru, ya? Aku cuma mau—" Ciesel menyodorkan gantungan kunci yang baru saja jatuh dari tas Rixsen. "Ini punya Kakak, kan?" Rixsen menyambar gantungan kunci itu dari tangan Ciesel. Jarinya sempat menyentuh kulit gadis itu. Tanpa berterima kasih, ia melanjutkan langkah. Ciesel tetap tersenyum, sama sekali tidak tersinggung. *Ternyata dia suka Tokusatsu juga,* batinnya. "Maaf ya, dia memang orangnya begitu," ucap Valdan dari belakang Ciesel. Ciesel menoleh, wajahnya penuh tanda tanya. "Maaf tiba-tiba bikin bingung. Aku temannya cowok tadi. Aku ucapkan terima kasih mewakili temanku." "Eh? Nggak apa-apa, Kak. Aku gak melakukan hal yang pantas diberi terima kasih, kok." Ciesel menggoyangkan kedua tangannya dengan cepat. *Jadi gadis seperti ini yang membuatmu tertarik, Rix? Menarik.*

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
579.0K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
894.5K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook