Ciesel menutupi wajahnya dengan tubuh Nisa dan mengendus leher bayi itu dalam-dalam.
"P-permisi ya, Kak..."
Ia melangkah ragu-ragu melewati gerbang.
Setelah gadis itu masuk ke pelataran, Rixsen menyusul, lalu menutup gerbang di belakangnya.
Ciesel berjalan menuju pintu rumah, dan Rixsen mengikuti di belakangnya dengan tangan terselip di saku celana.
"Sewangi itu ya Nisa? Sampai dihirup terus tanpa henti?"
Ciesel tak menoleh. "Benar, bayi ini wangi banget. Aku suka banget aroma minyak telon kayak gini, mengingatkanku sama adik kecilku dulu."
Tanpa sadar, sudut bibir Rixsen terangkat. Matanya tak berhenti menatap Ciesel di depannya.
Gaun kasual yang lembut, rambut hitam lurus tergerai di punggungnya, dan ada pita lembut yang mengikat bagian belakang rambutnya.
"Kak, kita udah sampai di depan rumahmu. Kok kamu malah bengong?"
Rixsen menggeleng cepat dan berdehem. "Maaf, aku tadi menatap Nisa. Dia emang lucu ya."
Ciesel terkekeh di balik Nisa. "Aneh, padahal ini keponakan Kakak. Pasti sering lihat dong, masa baru sadar sekarang."
Rixsen kembali berdehem tanpa menjawab, lalu membuka pintu rumahnya.
"Silakan duduk di sofa. Aku akan ambilkan perlengkapan Nisa di kamar ibunya."
Ciesel mengangguk. "Iya, Kak. Permisi ya, maaf mengganggu." Ia melangkah hati-hati memasuki rumah itu.
*Mengganggu ya? Justru aku yang mengganggu orang yang sebenarnya cuma lewat depan rumahku,* batin Rixsen.
---
Ciesel duduk di sofa kulit itu. Kenyamanannya sangat berbeda dengan yang ada di rumahnya.
Namun ia tak memikirkan itu lama-lama dan memilih fokus bermain dengan bayi kecil di pangkuannya.
Sementara itu, Rixsen masuk ke kamar Sarah untuk mengambil perlengkapan bayi.
Keningnya berkerut melihat benda-benda aneh yang sama sekali tak ia mengerti. *Kenapa banyak sekali? Kurasa bayi cuma pakai popok dan bedak?*
Rixsen akhirnya berbalik dan keluar dari kamar Sarah. Ia memperhatikan Ciesel yang asyik bermain dengan Nisa. Tawa bayi itu bergema di ruang tamu.
Gadis itu menyadari kehadiran Rixsen. "Ada apa, Kak? Gak ketemu perlengkapannya?"
Rixsen menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya ada, tapi aku bingung mana saja yang dibutuhkan."
Ciesel tertawa kecil dan bangkit dari sofa dengan Nisa masih di pelukannya. "Ya udah deh. Aku boleh masuk kamar kakakmu? Tapi gak sopan ya?"
"Gak apa-apa, masuk aja. Bagus malah, biar kamu ambil sendiri apa yang diperlukan Nisa."
"Ya udah, permisi ya." Ciesel melangkah menuju kamar Sarah. Sesampainya di dalam, ia tak menatap ke mana-mana dan tetap fokus pada tujuannya.
Saat melihat perlengkapan bayi yang begitu banyak, matanya tiba-tiba berbinar. "Wih, lengkap banget perlengkapan bayinya. Mereknya mahal semua pula."
Rixsen di sampingnya hanya bisa terdiam, sama sekali tak mengerti apa bedanya.
Ciesel memberikan Nisa pada Rixsen. "Pegang dulu, Kak. Aku susah ngambil perlengkapannya."
Rixsen mengambil Nisa dengan hati-hati dari lengan gadis itu. Seketika bayi kecil itu rewel.
"Wah, kayaknya dia udah lebih sayang sama kakak asing ini daripada sama pamannya sendiri." Ciesel terkekeh.
"Emang keponakan nakal." Rixsen mencubit pipi Nisa main-main. Bayi itu mengayunkan lengannya dan mendarat telak di wajah pamannya, cukup untuk membuatnya meringis.
Ciesel hanya menggeleng, lalu menunduk mengambil barang-barang di keranjang.
"Sebenarnya yang dibutuhkan cuma minyak telon, bedak, tisu basah, dan popok." Ia mengambil semuanya dengan lancar.
"Nah, ini barang-barangnya, Kak." Ia menunjukkan benda-benda yang sudah ia kumpulkan.
Rixsen mengernyit. "Kelihatan sama semua."
"Jejaja!" Nisa menarik kuping Rixsen.
---
Di ruang tamu, Ciesel dengan luwes mengganti popok Nisa, seakan itu makanan sehari-harinya.
"Aduh, Kak, pantesan dia rewel. Ternyata dia buang air besar."
Wajah Rixsen mengerut, alisnya bertaut. "Loh, kok kamu gak jijik megang kotorannya?"
Ciesel cemberut. "Masa jijik sama kotoran bayi? Orang dewasa macam apa itu?"
Mendengar itu, Rixsen refleks membuang muka. *Sial.*
Setelah beberapa saat, Ciesel selesai. Bayi itu sudah bersih sekarang dan menguap mengantuk.
"Udah cantik banget si imut. Ucucu." Ciesel menggelitik pipi bayi itu dengan gemas.
"Cocok..." gumam Rixsen tanpa sadar.
"Cocok apanya, Kak?"
Rixsen bangkit dari sofa. "Bajunya Nisa. Sangat cocok dengannya."
"Iya, bener. Cocok banget baju bebe yang imut. Kakak kamu seleranya gemes banget." Ciesel mengangkat Nisa ke pelukannya dan memeluk bayi itu dengan gemas.
*Krkkk*
Ciesel tertawa mendengar suara itu. "Lapar ya, Kak? Kasihan banget anak orang."
Belum sempat Rixsen ngeles soal perutnya yang baru saja berbunyi nyaring, pintu depan tiba-tiba terbuka lebar. Langkah kaki bersemangat menyusul dari arah pintu.
"Rixsen, Kakak tercintamu pulang! Aku bawa stroberi raksasa—"