“Dimas!”
Dimas yang sedang duduk di salah satu meja kantin segera mengangkat kepalanya dan mendapati Luna yang sudah berjalan mendekatinya.
“Lo ngapain masuk ke kelas gue tadi?” Tanya Luna sesaat setelah ia membanting almamaternya di atas meja.
“Selaw, Lun. Duduk dulu.” kata Dimas. “Gue mau ikut kelas lo aja. Tapi kenyataannya gue di usir. Yaudah, gue keluar deh.”
“Emang lo nggak ada kelas hari ini?”
“Nggak.”
“Terus, ngapain lo ke kampus?”
“Emang kampus punya lo sampe bisa ngelarang gue dateng kesini?”
“Paling nggak lo bisa melakukan hal yang lebih penting daripada ngacauin gue di kampus. Kerjain skripsi lo, misalnya.” Kata Luna lalu beranjak pergi dari hadapan Dimas.
“Tunggu,” Kata Dimas seraya bangkit dari kursinya dan mengejar Luna. “Lo mau kemana?”
“Pulang.”
“Gue anter ya? Masa kita udah dua tahun temenan tapi gue nggak tau rumah lo.”
Wajah Luna berubah panik. Dimas tahu, Luna tidak pernah membawa satupun teman ke rumahnya. Namun hal itu tidak berlaku untuk Dimas. Ia harus bisa membuat Luna menjadikan dirinya sebagai teman pertama yang tahu dimana rumahnya. Atau paling tidak ia bisa menjadi satu-satunya teman yang tahu keberadaan rumahnya.
“Gue bisa pulang sendiri kok.”
“Ayolah, sekali ini aja.”
“Nggak usah maksa deh, Dim.”
“Gue kakak asuh lo, loh. Masa gue nggak tau rumah lo dimana. Nanti kalau lo ada masalah terus gue di panggil dan di tanya sama dosen pembimbing akademik lo, gimana? Lo mau gue di skors cuma karena gue nggak tau rumah lo?” Kata Dimas sedikit berbohong.
“Gue udah bukan adik asuh lo lagi, Dim. Itu cuma berlaku saat orientasi dua tahun lalu. Lo aja yang ketagihan deket sama gue.”
“Ih, lo aja nggak tau kalau gue harus mengawasi lo sampe semester enam. Itu tugas mahasiswa pembimbing.”
“Gitu?” Tanya Luna polos.
Dimas menjawabnya dengan anggukan yakin.
“Oke. Lo boleh nganter gue sampai ke ujung jalan rumah gue.”
“Ya ampun, tanggung amat, Lun.”
“Terus lo maunya apa?”
“Mengantarkan tuan puteri sampai ke depan rumah.” Kata Dimas lalu tersenyum untuk mengakhiri kalimatnya.
Luna menghela napas panjang. Memejamkan matanya sejenak lalu kemudian menatap Dimas sambil menjawab, “Terserah lo aja deh.”
“Oke, tunggu di sini. Gue ambil mobil dulu.”
Dimas tidak menyangka bahwa akan semudah ini membuat Luna mau mengajaknya ke rumahnya. Karena selama ini yang Dimas tahu, Luna sangat menjauhi semua temannya dari kehidupan pribadinya. Namun Dimas masih tidak mengetahui apa alasan sebenarnya mengapa Luna melakukan hal tersebut. Selama mereka saling mengenal, mereka tidak pernah mau mencampuri urusan satu dengan yang lainnya. Namun mulai saat ini, Dimas harus bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dalam kepalanya selama ini. Pertanyaan tentang kehidupan seorang perempuan bernama Luna.
***
Isi papan pengumuman yang berada di tengah koridor pagi ini mampu membuat emosi Luna meledak. Beberapa foto dirinya dengan Dimas yang baru turun dari mobil di rumahnya tertempel disana. Ditambah lagi dengan kalimat yang ada di dalam foto tersebut, Luna benar-benar ingin memusnahkan orang yang menyebar gosip ini.
“Nggak bener ini.” Kata Luna sambil mencabut beberapa foto yang tertempel di sana.
Luna bisa merasa sedikit lega karena pagi ini fakultas masih sepi sehingga ia masih memiliki banyak waktu untuk mencabut semua foto itu yang tersebar di seluruh fakultas. Langkahnya ia percepat agar bisa mencabut semua foto itu.
“Luna!” Gaby berlari ke arah Luna dengan foto yang sama di tangannya. “Apa-apaan ini?”
“Gue nggak tau.”
“Gimana lo bisa nggak tau? Ini elo, sama kak Dimas, masuk ke rumah yang entah rumah siapa.”
“Duh, ini rumah gue. Kemarin Dimas nganterin gue pulang dan dia mampir sebentar. Kami berdua nggak macem-macem. Serius.” Kata Luna sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Tunggu, ke rumah lo? gue bahkan nggak tau rumah lo.”
“Udahlah, nggak penting. Lebih baik sekarang lo bantu gue untuk cabut semua foto ini sebelum banyak mahasiswa yang ngeliat.”
“Iya, iya. Ayo.”
Luna sudah terbiasa menerima pandangan sinis dari beberapa perempuan yang ada di fakultasnya hanya karena mereka menilai Luna adalah perempuan yang tidak ingin bergaul. Padahal Luna berteman dengan siapa saja. Tapi yang sangat dekat hanya dengan Gaby. Namun kali ini pandangan mereka berbeda. Sedari Luna keluar dari kelas keduanya hari ini, mereka seperti memandang rendah Luna. Mungkin beberapa dari mereka sudah melihat foto yang—sebenarnya—hanya menampilkan dirinya dan Dimas yang baru turun dari mobil dengan latar belakang rumah Luna lalu bergosip dengan teman-temannya.
“Udah, Lun, biarin aja,” Kata Gaby sambil mengelus punggung Luna. “Lagian siapa sih yang nggak ada kerjaan nyebar foto itu?”
“Gue juga nggak tau, Gab. Mungkin anggota majalah kampus yang lagi nyari-nyari gosip tentang Dimas.”
“By the way, kok lo tiba-tiba ngajak dia ke rumah lo, sih? Gue aja belum pernah.”
Luna tertawa kecil. “Dia kemaren maksa gue untuk dianter pulang. Gue juga kasihan kalau dia harus kena skors gara-gara gue.”
“Skors?”
Luna mengangguk. “Gue baru tau kalau kakak asuh itu bertanggung jawab sampai adik asuhnya semester enam. Makanya, gue mau nggak mau ngasih tau rumah gue. Gue takut saat gue ada masalah dengan kampus terus dia sebagai mahasiswa pembimbing ditanya dan nggak bisa jawab apa-apa, malah dia kena skors.”
“Gue juga baru tau kalau seorang Aluna Bimala yang kuliahnya lurus-lurus aja sangat mudah dibohongi oleh seonggok Dimas Gemilang.”
Dengan cepat Luna menatap Gaby di sebelahnya dengan pandangan penuh tanya. “Apa?”
Gaby mengangguk. “Lo sudah dibodohi sama kak Dimas, Lun.”
“Jadi, dia—”
“Dia udah berhasil membohongi lo. Mahasiswa pembimbing itu cuma saat orientasi doang.”
Wajah Luna memerah menahan amarahnya yang hampir meledak untuk yang kedua kalinya hari ini. segera ia meraih ponselnya dan menelpon Dimas.
“Ngapain sih lo nelpon pagi-pagi?” Suara Dimas di ujung sana terdengar serak.
“Ini udah jam dua siang, Dimas.”
“Oh, jam dua. Eh, JAM DUA? ASTAGA, GUE ADA KELAS JAM SEPULUH!”
“Nggak ada guna, udah kelar kelas lo.”
“Iya juga. Yaudah, udah beres belum lo ngomong sama gue? Mau lanjut tidur lagi nih.”
“Kita harus ketemu. Ada yang mau gue omongin sama lo,” Kata Luna mencoba setenang mungkin. “Setengah jam lagi gue tunggu lo di depan gedung dekanat. Kalau sampai lo nggak dateng, gue aduin ke dosen pembimbing akademik lo.” Kata Luna alu memutuskan hubungan telponnya.
“Lun, gue nggak mau ikut-ikutan deh, ya. Gue mau balik, udah mendung. Bye, Lun.” Kata Gaby seraya bangkit dari kursinya.
“Hati-hati Gab.” Jawab Luna sambil melambaikan tangannya.
Luna berjalan menyusuri koridor menuju gedung dekanat. Selama ia berjalan, banyak hal tentang Dimas yang ada di pikirannya. Kenapa Dimas tidak nakal? Kenapa Dimas tidak seperti yang orang-orang katakan? Kenapa Dimas membohonginya? Dan masih banyak kenapa-kenapa lainnya di dalam kepala Luna.
Luna masih tidak mengetahui apa alasan sebenarnya mengapa Dimas melakukan hal tersebut. Selama mereka saling mengenal, mereka tidak pernah mau mencampuri urusan satu dengan yang lainnya. Namun mulai saat ini, Luna harus bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dalam kepalanya selama ini. Pertanyaan tentang kehidupan seorang laki-laki bernama Dimas.