4

795 Words
Dimas memarkirkan mobilnya sembarang di parkiran fakultas lalu turun dan berjalan menyusuri koridor menuju gedung Dekanat tanpa menghiraukan teriakan satpam tentang mobilnya. Dimas melihat Luna yang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia terus menggulirkan layar seperti sedang membaca sesuatu. Dimas lantas segera duduk di sebelah Luna tanpa berbicara apapun. Namun setelahnya Luna malah bangun dan menghadap Dimas. “Lebih baik kita nggak bicara di sini deh, Dim.” Kata Luna sambil menatap Dimas. “Astaga, berilah hambamu ini kesabaran ya Tuhan,” Kata Dimas sambil mengelus d**a. “Tadi lo nyuruh gue buru-buru ke sini. Giliran gue udah di sini malah ngajak bicara di tempat lain. Gimana sih?” “Udah, ayo. Bakal gue jelasin nanti.” Dimas menarik tas ransel milik Luna yang membuat dirinya menghentikan langkah. “Apa yang perlu di jelasin sih?” “Ayo ikut gue makanya.” Dimas bangkit dan mensejajarkan langkahnya dengan Luna. Mereka memilih untuk berbicara di kedai kopi yang berada tak jauh dari kampus. Setelah mereka mendapatkan pesanan mereka masing-masing, Luna segera mulai menceritakan apa yang terjadi hari ini. Mulai dari foto yang tersebar, hingga Luna yang mendapatkan pandangan direndahkan dari beberapa mahasiswa di fakultasnya. Dimas melihat raut wajah Luna yang sedikit memunculkan rasa takut. Beberapa kali ia mendapati Luna tidak mampu menatap mata Dimas selama ia bercerita. Tidak biasanya Luna seperti ini. “Udah, biarin aja. Tiga hari lagi gosip itu hilang, kok. Lagipula, belum banyak orang yang liat ‘kan?” Kata Dimas berusaha membuat Luna sedikit tenang. “Bodoh juga yang cari berita. Bukannya di cari tau dulu itu rumah siapa, malah langsung di up. Jadi keliatan bodohnya si pencari berita itu.” “Mungkin gosip itu hilang, tapi pandangan orang ke gue pasti udah berubah. Meskipun itu nggak kelihatan.” “Semua orang itu pasti punya pandangan ke orang lain. Tanpa ada gosip ini pun, orang-orang pasti udah punya pandangan sendiri ke lo ataupun ke gue,” Kata Dimas lalu menyesap kopi miliknya. “Misalnya gue. Orang lain punya pandangan kalau Dimas ini begini lah, Dimas ini begitu lah, tapi gue biarin aja. Toh itu hak mereka juga untuk menilai gue. Tapi kalau sampai men-judge, itu beda cerita.” “Tapi kan... ah udahlah, nggak ada guna berdebat sama lo.” Kata Luna. Dimas tersenyum seraya menaikkan kedua alisnya. “Apalagi yang mau di omongin?” “Udah. Itu doang.” “Itu doang?” Luna mengangguk sambil meminum Cappucino pesanannya. “Kalau cuma ini ‘kan bisa di omongin lewat telepon aja, Lun. Nyesel gue udah buru-buru berangkat.” “Gue juga nyesel ketemu lo. Ternyata gue tetap nggak bisa ngelupain masalah tadi.” Dimas menghela napas. “Apa yang bisa buat lo ngelupain itu?” “Kenapa emang?” “Ya biar kita lakuin.” “Tumben? Biasanya lo langsung ngucapin ‘sampai jumpa’ terus ninggalin gue gitu aja tanpa aba-aba apapun.” “Sebenarnya biar waktu gue nggak terbuang sia-sia, sih. Masa udah keluar rumah cuma buat dengerin omongan lo doang.” Dengan sekali gerakan, Luna melemparkan gumpalan tisu ke arah Dimas yang langsung menghindar. *** Dimas mengakui, kemarin adalah hari yang menyenangkan. Setelah dari kedai kopi itu mereka berdua beranjak ke mal meski hanya untuk mengisi perut dan mengelilingi mal sambil terus membicarakan hal apapun yang tiba-tiba datang ke dalam kepala mereka. Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang saat Dimas keluar dari sekretariat himpunan mahasiswa. Rapat yang membosankan membuatnya keluar lebih dulu daripada peserta rapat yang lain. Kelasnya masih akan di mulai dua jam lagi. Dimas memilih untuk menunggunya di kantin sambil menyantap nasi goreng kesukaannya. “Kak Dimas?” Dimas mengangkat kepalanya dan mendapati Gaby sudah ada di hadapannya. “Hai. Luna mana?” Tanya Dimas. “Baru aja pulang. Tumben sendiran aja?” “Yang lain masih pada rapat. Sini, duduk.” “Ah, nggak usah kak. Makasih. Gue masih ada urusan. Ini cuma mau beli minum aja,” kata Gaby. “Oh iya, ini tadi ada titipan. Dari perempuan yang pake baju hijau. Tuh.” Dimas menerima sebuah amplop yang diberikan Gaby lalu melihat ke arah tangan Gaby yang menunjuk seorang perempuan di luar kantin yang mengenakan baju berwarna hijau. “Siapa itu?” Gaby menaikkan kedua bahunya tanda ia tidak mengetahui siapa perempuan itu. “Dia cuma minta tolong gue ntuk kasihin amplop itu ke lo. Gue duluan ya kak.” “Yo.” Jawab Dimas singkat. Dimas menatap amplop itu dalam-dalam. Seperti sedang menerawang apa isinya. Sedetik kemudian ia menaikkan kedua bahunya lalu meletakkan amplop itu di atas meja. Ia sedikit acuh dan lebih memilih menyantap nasi goreng yang sempat ia lupakan sejenak. Setelah satu piring dan segelas es teh manis habis tak bersisa, Dimas meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Luna. Gue mau ke rumah lo 15 menit lagi. Siapin makanan. Pesan terkirim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD