5

1317 Words
Luna baru saja memasuki halaman rumahnya lebih lambat tigapuluh menit dari biasanya. Lalu lintas yang padat karena adanya demo membuat bus yang Luna tumpangi tadi terpaksa memutar lebih jauh. Baru saja Luna maju beberapa langkah dari pagar rumahnya saat ia mendengar klakson mobil yang dibunyikan berkali-kali. Awalnya Luna acuh. Namun saat Luna meneruskan langkahnya, bunyi klakson mobil itu semakin sering terdengar. “Lun! Buka pagernya.” Teriak Dimas dari luar pagar. “Kok lo disini, Dim?” Tanya Luna saat sudah berada di depan pagar tanpa membukanya. “Karena gue nggak disana.” “Serius.” “Serius lah, Lun. Udah, buruan buka pagernya.” “Lo nggak ada kegiatan lain gitu selain selalu ngikutin gue?” “Ada. Sebenarnya jam satu gue ada kuliah, tapi sepertinya ke rumah lo lebih memberikan pelajaran dibanding duduk diem di kelas.” “Lo ke kampus aja, belajar jadi anak rajin.” “Enakan disini. Tinggal buka aja pagernya susah banget sih, Lun.” “Ada orang tua gue di rumah, Dim.” “Terus kenapa kalau ada orang tua lo?” Luna terdiam. Ia kembali tersenyum untuk menutupi ketakutan di dalam hatinya. Perlahan ia mendorong pagar rumahnya hingga terbuka dan mobil Dimas pun bisa masuk. Luna kembali menutup pagar dan berjalan ke teras rumah. Luna duduk di sana dan di ikuti oleh Dimas yang langsung duduk di sebelahnya. Dimas mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku celananya dan ia tunjukkan di hadapan Luna. Luna yang sedang melamun langsung mengarahkan pandangannya pada amplop yang ada di hadapannya. “Apaan nih?” Tanya Luna sambil menatap Dimas. “Ini Amplop,” Kata Dimas. Dengan sekali gerakan, Luna mendorong bahu Dimas dengan sedikit keras. “Gue bener, kan?” “Terserah lo deh, Dim. Gue nyesel membolehkan lo masuk.” “Gue belum tau apa isi amplop ini, makanya gue jawab seadanya.” “Terus, kenapa belum lo buka?” “Karena gue mau lo yang buka.” “Kenapa gue?” “Ah, banyak tanya. Tinggal buka aja susah amat.” Luna mengambil amplop di tangan Dimas dan mulai membukanya. Ia mengeluarkan selembar kertas dengan sedikit tulisan di sana. Hanya ada tulisan ‘Aku sayang kamu, kak Dimas’ dengan lambang hati di akhir kalimat. Luna kembali menyerahkan kertas beserta amplopnya ke Dimas tanpa berkata apapun. Luna kembali memandang ke sembarang arah tanpa mempedulikan Dimas yang duduk di sebelahnya. Ia hanya tidak ingin banyak bicara saat ini. “Mana makanannya?” Luna segera menatap Dimas yang sudah berbaring di lantai. “Makanan apa?” “Lo nggak baca chat dari gue?” “Nggak, handphone gue di kamar.” Dimas bangkit lalu menatap Luna sambil memangku wajah dengan tangan kanannya. Luna yang melihatnya merasa risih dan kembali mendorong Dimas. Sayangnya, Dimas masih lebih kuat dari Luna sehingga ia tidak terjatuh. “Kenapa sih, Dim? Ada yang salah sama gue?” Tanya Luna. “Cerita sama gue, lo lagi ada masalah apa?” “Jangan sok tau deh.” Dimas mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah Luna. Ia mengangguk sejenak lalu kembali menatap Luna. “Ayo, kita cari tempat yang nyaman untuk lo cerita.” “Kemana?” “Bisa disebut ‘Tempat Rahasia milik Dimas’. Yuk.” *** Luna mengaku ia kagum mengetahui Dimas membawanya ke tempat ini. Sebenarnya daerah ini terletak di pusat kota, tepatnya di lahan milik keluarga Dimas. Saat mereka sedang dalam perjalanan tadi, Dimas sempat bercerita kalau keluarganya sengaja membeli lahan tersebut untuk membuat ruang terbuka hijau. Mengingat sekarang kebanyakan ruang terbuka hijau sudah berubah menjadi pemukiman warga. Namun, tidak ada satu orang pun yang mengetahui tempat ini. Mereka hanya tahu bahwa di tengah kota ada ruang terbuka hijau biasa, tanpa tahu ada sesuatu yang sangat indah di dalamnya. “Keren ‘kan keluarga gue.” Kata Dimas seraya tersenyum bangga. “Iya, tapi lo nggak keren.” Jawab Luna sambil terus memandang ke seluruh penjuru. Lahan seluas dua hektar tersebut ditanami oleh pohon-pohon rimbun yang sudah menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan setapak yang mereka lalui. Hingga kekaguman Luna bertambah saat mereka sampai di tengah-tengah lahan ini. berbagai macam bunga tumbuh subur, dari berbagai macam mawar hingga berbagai macam bunga liar nan indah yang Luna tidak tahu namanya. Tepat di tengah taman bunga itu sebuah pohon tumbuh dan terdapat rumah pohon kecil di atas sana. Sungguh, Luna sangat menyukai tempat ini. Dimas mengajak Luna untuk naik ke rumah pohon. Dengan senang hati Luna menyambut uluran tangan Dimas yang membantunya naik. Mereka duduk di tepi rumah pohon itu dan membiarkan kaki mereka tergantung bebas di udara. Dimas memulai kembali ceritanya. Bukan, bukan cerita serius yang membosankan. Melainkan cerita tentang keluarganya, sebuah keluarga yang sangat mencintai keindahan alam. Itu alasannya mereka rela membeli lahan di beberapa kota dan mempekerjakan beberapa orang untuk mengubah serta merawatnya menjadi suatu tempat yang indah. Tempat yang bisa mereka nikmati sendiri tanpa gangguan dari luar. “Dan untuk lahan ini, milik gue. Gue yang membuat lahan ini menjadi seperti ini.” Kata Dimas puas. “Kalau gue nggak percaya, boleh?” Tanya Luna. “Boleh, nggak masalah.” “Anyway, tadi lo bilang, nggak ada satu orang luar pun yang datang kesini,” Kata Luna yang di sambut anggukan dari Dimas. “terus, kenapa lo ngajak gue kesini? Secara ‘kan gue orang lain.” “Karena mulai sekarang lo bukan orang lain lagi.” “Apa?” Dimas tersenyum. Senyum tulus yang pertama kalinya Luna lihat menghiasi wajahnya. “Gue tau, lo sangat menyukai tempat tenang, itu alasannya gue mengajak lo kesini,” Kata Dimas. “Mulai saat ini sampai seterusnya, lo boleh kesini kapanpun lo mau.” “Serius, Dim?” Tanya Luna dengan mata yang berbinar. “Tapi dengan satu syarat,” Jawab Dimas dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. “Lo harus cerita apapun masalah lo, ke gue. Bukan, gue bukan mau mencampuri urusan lo. Gue cuma mau lo berbagi apapun yang menurut lo harus lo bagi dengan gue. Mau itu sedih, bahagia, marah, apapun itu.” Luna tidak bisa menatap mata Dimas saat ini. Sungguh. “Sudah dua tahun lebih gue selalu ada di dekat lo, jadi kakak asuh lo, yang membuat gue paham kalau lo sebenarnya butuh teman untuk menceritakan apa yang sedang lo rasakan. Menceritakan seluruh beban yang tersimpan di hati lo.” Luna menunduk, angin berhembus membuat rambut Luna bergoyang searah dengan hembusan angin. Apa yang Dimas katakan semuanya benar, dalam diam Luna mengakui itu semua. Tapi Luna masih bersikeras untuk tetap diam dan berlaga seperti tidak merasakan apapun, tidak menyetujui semua perkataan Dimas. Berlaga seperti mereka hanya datang ke tempat ini untuk diam dan menikmati hembusan angin. Tanpa Luna sadari, Dimas memeluknya. Erat sekali. “Dimas, apaan sih. Lepas!” Kata Luna berusaha melepaskan pelukan Dimas. “Sstt, diem. Jangan merusak suasana.” “Dim—” “Jangan ngeyel. Gue nggak bakal apa-apain lo, kok. Gue tau, ini yang lagi lo butuhin sekarang.” Sekuat apapun Luna berusaha melepaskan pelukan Dimas, ia tetap tidak bisa. Sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkan Dimas terus memeluknya. Kini Luna merasa perasaannya sedang bergejolak. Kesedihan dan amarah yang ia simpan sendiri selama ini terasa tercampur menjadi satu dan siap untuk keluar. Rasa hangat dari dekapan Dimas menjalar ke seluruh tubuh Luna, membuatnya meletakkan kepalanya di bahu milik Dimas dan membalas pelukannya. Luna memejamkan matanya, merasakan seluruh gejolak dalam dirinya yang mulai keluar sedikit demi sedikit. Air mata mulai membasahi pipi Luna, menandakan emosinya mulai keluar. “Jangan di tahan, Lun. Biarin semua keluar. Biar lo lega.” Luna mulai menangis dalam diamnya. Sedikit demi sedikit beban dalam hatinya berkurang. Ia mengeratkan pelukannya seiring dengan tangisnya yang semakin menjadi. Baru kali ini Luna merasa dirinya sangat dipedulikan oleh orang sekitarnya. Usapan lembut dari tangan Dimas di kepala Luna membuatnya kembali tenang. Hanya tersisa isakan tak bersuara dari Luna. Ia menyandarkan kepalanya senyaman mungkin di bahu Dimas, membuka kedua matanya, dan tersenyum kecil. “Makasih, Dim.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD