Queen in Your Heart

1449 Words
Malam ini adalah malam puncak ulang tahun. Gala dinner di ballroom hotel. Anya mengenakan gaun panjang berwarna silver, dengan payet di sekitar dadanya. Anya terlihat sangat cantik. Sofie saja memujinya terus. Mereka menuju ballroom hotel yang memang menjadi tempat puncak acara. Ricco menyambutnya, Ricco terlihat menarik dengan jas berwarna abu-abu. Ini nepotisme, pikir Anya, bagaimana orang luar bisa datang ke sini? Anya tertawa melihat Ricco menggandengnya. Anya melihat Evan dari kejauhan, sangat tampan dengan suit berwarna gelap. Tapi Anya belum sepenuhnya memaafkan Evan. Tidak semudah itu biar Evan tahu. "Anya," kata Ricco saat mereka duduk di meja. Sofie sedang mengambil cake. "Evan itu sakit." Anya terdiam, musik slow mengalun lambat. "Ricco, aku nggak ingin membahasnya." "Dia impotent." Anya tersedak minumannya, "Kamu bercanda nggak kira-kira." Mana mungkin Evan begitu, Anya teringat saat mereka bersama. Pernyataan Ricco membuat Anya bergidik. "Iya. Cuma bisa bangun karena kamu," kata Ricco lagi. "Memang Evan menghadiri kegiatan club tapi dia cuma nonton. Swear," ujar Ricco lagi. Anya terdiam matanya mencari sosok Evan. "Tetap saja itu mengerikan, udah ah aku mau ambil minum." Anya berdiri menuju meja. Mendadak dia tersandung dan terjerembab. Anya memekik. Tampak seorang wanita sengaja menjegalnya dan yang satunya menuangkan air ke gaunnya. "p*****r kecil. Kecentilan ke sana ke sini," kata wanita itu. Ricco yang menyaksikan kejadian itu mendatangi Anya dan membantunya bangkit. Hati Anya sakit dikatain p*****r, dia menampar wanita itu. "Tarik kata-katamu!" Wanita itu menjadi beringas dan menerjang Anya, "Apa namanya?! Lo pikir nggak ada yang tau lo keluar dari kamar GM jam dua pagi heh?" Anya gemetaran karena marah, orang-orang mulai berkerumun. "Anya," panggil Sofie. "Kenapa denganku?" Evan mendatangi mereka. Mendadak semua diam tak menyangka keributan itu akan diketahui oleh Evan. "Tidak, pak," kata Wanita itu terbata. Anya ingin menangis menjadi tontonan seperti itu. Evan menghela nafas. "Apa kalian senang merusak acara perusahaan yang harusnya penuh kegembiraan? " Dia berkata lagi. "I-ini karena wanita itu, pak. Ada yang melihatnya keluar dari kamar bapak malam tadi." "Lalu, apa urusannya denganmu?" "Masalahnya sekarang dia bermesraan dengan lelaki lain." Wanita itu masih terus mengoceh. "Perempuan gila! Mau mati, Ya?!" Ricco murka. "Pulang dari sini tulis surat pengunduran dirimu. Perusahaan tidak membutuhkan orang sepertimu." "Tapi pak ini tidak fair." "Begini," kata Evan. "Wanita ini adalah calon istriku." Mendadak kerumunan itu menjadi gaduh. "Dan laki-laki ini adalah sahabatku yang aku minta menemaninya. Sekarang sudah paham?" Wanita itu terdiam mendengar kata-kata Evan. Evan menarik tangan Anya dan berkata pada manager yang di sebelahnya, "Lanjutkan acaranya.". "Baik, pak." "Hei mau ke mana?" pekik Ricco. Anya tertatih mengikuti Evan. Evan menyeret Anya ke dalam taxi. "Mau ke mana?" "Pindah hotel." "Evaann," erang Anya. Bajunya basah dan Evan melepaskan jasnya dan melingkarkannya di leher Anya. Mereka menuju hotel lain, dan Evan segera check in. "Aku nggak bawa baju," pekik Anya. Evan diam saja, mereka masuk ke kamar hotel itu. "Buka bajunya dan tidur dalam selimut biar nggak masuk Angin," perintah Evan. Anya menurut. "Lihat ke dinding," ujar Anya. "Kenapa? Aku sudah pernah melihatnya polos." Evan berkata datar. Evan mengambil piyama yang disediakan hotel. Anya mengenakannya, gaunnya yang indah tertumpuk di atas lantai. "A-aku mau cuci muka," kata Anya. Evan tampaknya mengganti pakaiannya juga. Anya keluar dari kamar mandi. Evan telah memakai piyama yang sama dengannya dan duduk di atas tempat tidur. "Sini," kata Evan sambil menepuk-nepuk sampingnya. "Aa-aku mau tidur, capek," kata Anya. Anya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia teringat ucapan Ricco. Evan tak memeluknya. Padahal dia mendambakan sentuhannya. Tapi dia sendiri yang bilang belum ingin, harusnya Evan memaksa seperti malam kemarin. Maka Anya akan luluh. Suara nafas Evan terdengar pelan dari sebelahnya, dia tidur membelakangi Evan. "I love you." Evan berbisik di telinga Anya nyaris menggelitik. Lama mereka dalam keheningan, Anya memejamkan mata tapi dia tak bisa tertidur. "Anya." Panggil Evan lirih. "Apa kamu masih membenciku?" Evan menarik nafas, "Aku tau kamu belum tidur." "Anya, aku memang laki-laki tak tau diri, aku b******k bukan? Bukannya mendapatkan dirimu saja aku menggunakan cara yang licik. Dan kamu ... kamu memang terlalu berharga untuk aku." Evan melanjutkan. "Bersamamu merupakan masa-masa terindah dalam hidupku, kamu tau ketika orang tuaku bercerai saat aku masih SMA aku telah hidup sendirian. Aku tak pintar bergaul ataupun hidup dengan normal. Karena aku hanya memiliki Ricco sebagai orang terdekatku." "Bagi gadis sepertimu, dunia tempat aku tinggal mungkin penuh dosa dan kelam, tanpa sadar aku menyeretmu ke dalamnya. Tapi aku sangat mencintaimu, dan aku memang egois karena melakukan semua cara agar kamu tetap tinggal di sisiku." "Aku mulai mengikuti kegiatan club yang kamu lihat itu sejak kuliah semester akhir." "Hentikan!" Akhirnya Anya bersuara. Tapi Evan melanjutkan kata-katanya. "Telah bergabung berkali-kali dalam event-event tersebut. Memang sulit dipercaya bagaimana bisa seorang laki-laki normal bertahan tidak bercinta dengan wanita-wanita di party itu. Tapi saat itu aku bukanlah lelaki normal." "Apa kamu percaya kalau aku bilang hanya kamu yang bisa membangkitkan hasratku? Aku malu Anya. Aku selalu berlagak hebat di depanmu." "Ini terjadi karena sejak dulu aku telah menyaksikan perselingkuhan papiku, mereka bercinta di sembarang tempat aku melihatnya sejak masih kecil." "Evan hentikan." Anya terengah. "Kalau hidupku yang memalukan bisa sedikit saja merubah hatimu untuk mencintai aku lagi, aku akan katakan semuanya. Aku telah melakukan berbagai macam cara yang mungkin tidak bisa kamu bayangkan. Inilah aku, kelemahanku Anya." "Apakah kamu nggak bisa memberiku kesempatan? Apa sebenarnya kamu mencintai aku atau tidak, Anya?" Anya beringsut dan duduk, Evan segera menarik kepala perempuan itu ke pelukannya. Wajah Anya terbenam di d**a Evan. "Ajari aku, agar bisa bersamamu tanpa menyakiti hatimu," bisik Evan. Air mata Anya mengalir lagi, dengan mata basah dia menatap Evan. Dua tahun ini sangat menyiksa bisakah dia percaya Evan? Tapi kalau dia tak ingin percaya bagaimana dengan perasaan dan tubuhnya seluruh indranya yang merindukan lelaki itu? "Mau beri aku kesempatan?" bisik Evan lirih. Bibir Evan yang bergerak-gerak mengacaukan logikanya. Kamu memang membuatku gila, ucap Anya pelan di dalam hatinya. Anya mencium Evan dengan wajahnya yang basah. "Aku membencimu karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin percaya." Anya memukul Evan lemah. "Oh Anya, Anya." Evan memeluknya erat. *** Evan datang ke rumah Anya, bertemu dengan mama. Mama menanyai Anya bukankah selama dua tahun terakhir Anya tak mengungkit Evan sedikitpun dan tiba-tiba Evan datang melamar Anya. Evan meminta izin menikahi Anya tahun depan. Anya sangat kaget melihat tingkah laku Evan, baru seminggu sejak pertemuan terakhir mereka dan mereka sepakat untuk membuka awal yang baru. Mama berkata semua tergantung Anya kalau Anya mau mama tak akan melarang. "Ma, besok malam ada acara perusahaan di resort jadi aku nginep," kata Anya. Mama mengangguk dia tak curiga pada kebohongan Anya, karena setau mama, Evan telah pulang dua hari yang lalu. Anya menuju ke resort tempat Evan menginap, resort yang indah menghadap pantai. Kamar Evan juga menghadap pantai yang di depannya telah dibuat cekungan-cekungan yang membuat air laut menggenang indah. Evan memeluknya erat seperti telah menunggu. Malam ini mereka akan dinner di restaurant resort dengan nuansa romantis. Anya tertidur karena kemarin dia lembur di kantor sehingga sekarang mengantuk. Anya terbangun hampir pukul tujuh malam. Astaga, keluh Anya, dia benar-benar lelah. Ke mana Evan? Evan tak terlihat di kamarnya. Anya melihat pesan di handphone-nya. Bersiaplah aku menunggu di restaurant. Anya mandi dan mengenakan gaun, karena dia tau mereka akan dinner. Anya memasuki restaurant, restaurant itu sepi pengunjung. Musik biola mengalun memainkan lagu romantis. Evan berdiri menyambutya, dia mengenakan vest berwarna coklat dan kemeja terang. Tersenyum dengan sangat tampan. Anya duduk di depannya, memesan sirloin steak dan wine. Pemain violin mendekati mereka dan memainkan lagu love song. Tiba-tiba Evan berlutut di hadapannya mengeluarkan kotak dari sakunya. "Anya Casthy Divandra, maukah menikah denganku?" Anya menutup mulutnya dengan kedua tangan, sekalipun Evan telah melamar dia melalui mama tapi Anya tetap kaget Evan melakukan hal ini juga melamar dengan suasana romantis. Anya mengangguk, Evan memasangkan cincin di jari manisnya. Anya merangkul Evan dan mereka berciuman. Evan masih merengkuh pinggang Anya sepanjang perjalanan mereka ke kamar. Evan membuka kamar, semerbak wangi menyeruak lantai dan tempat tidurnya dipenuhi kelopak mawar. "Evan, kapan kamu menyiapkannya?" Seperti di film-film saja, keluh Anya, tapi wanita mana yang tidak suka. "Ah Evan." Evan menggendong Anya ala bridal style dan membaringkannya di ranjang. Kelopak mawar putih dan merah menyentuh kulitnya. "I love you, my fiance," bisik Evan mencium Anya lagi. "Mmhh ...." "Apa?" "Kamu licik," desah Anya. "Loh kenapa?" "Aku suka banget malam ini." Evan menurunkan ciumannya ke leher dan d**a Anya. "Gaun yang cantik," bisik Evan. "Sayangnya dia tak diperlukan." "Kamu tuh licik," erang Anya. "Hmm kenapa lagi sih?" "Sengaja buat kayak gini buat minta imbalan, menang banyak kamu." Wajah Anya cemberut. "Kalau gitu aku tunggu perintah kamu, kamu mau aku gimana?" Evan menjentik hidung Anya. "I want you to be satisfied," bisik Anya. "Oh baby, nakal sekali kamu." Evan melanjutkan serangannya, Anya tertawa geli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD