Astaga, pikir Anya kenapa juga dia bisa terjebak di sini, benar- benar sangat bosan weekend tanpa Evan. Olga mendapat job foto cosplay game yang sedang populer, kalau mendengar game, dia pasti teringat pada Aric.
Seperti deja vu, Anya kemudian melihat sosok Aric di sana. Dia dikerumuni oleh fans-nya.
"Gila, itu si Aric?" desis Olga. "Hun, gue beneran nggak tau kalau bakal ada dia di sini. Kalo tau, gue nggak bakalan ajak lo."
"Santai aja, gue nggak apa."
Aric menghampiri mereka, "Eh hai." Dia melambai.
"Lo berubah banget ya sekarang," kata Olga. Anyapun mengiakan perkataan sahabatnya itu.
"Haha kenapa? Terpesona lo sekarang sama gue?" ejek Aric pada Olga.
"Enak aja lo," rutuk Olga.
"Eh gue traktir yuk, anggap aja reuni." Olga memandang Anya. "Udahlah lupain masa lalu, gue juga udah nggak masalah Anya jalan sama Evan. Masa selamanya mau musuhan?" Aric tertawa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerima ajakan Aric itu.
"Sayaanggg ...." Seorang wanita cantik seperti boneka menghampiri mereka.
"Lho Mey?" Ternyata Olga mengenalnya.
"Hai Olga. Kalian mau ke mana?" Wanita yang dipanggil Mey itu menggelayut pada lengan Aric.
"Mereka temenku, kami mau makan siang bareng," kata Aric. Terdengar suaranya sedikit tidak suka.
"Kamu nggak ngajak aku?" rengek Mey lagi dengan manja.
"Kamu masih ada kerjaan, kan?" ujar Aric lagi. Tapi Mey masih merengek. Anya dan Olga jadi gelisah.
"Ini Olga dan Anya," sahut Aric. Mey melepas tangannya dari Aric. Dia memandang sekilas pada Anya.
"Ya udah deh, aku masih banyak kerjaan. Daagg." Mey pun pergi meninggalkan mereka.
Di luar dugaan sangat menyenangkan berbincang dengan Aric, apalagi mereka bertiga dulu kerap ngobrol bareng. Anya jadi mengingat masa-masa saat berpacaran dengan Aric, di mana dia selalu tertawa. Tapi entah kenapa dengan Evan, Anya mencintai pria itu begitu dalam.
Mereka bertukaran nomor kontak dan berjanji untuk menyempatkan diri bertemu lagi.
"Wah beda banget si Aric. Gue sampe ngences liat body-nya," kata Olga.
"Heii." Anya tertawa, Olga selalu saja ceplas ceplos.
"Baguslah kalian berdua sudah move on, jadi nggak ada yang sakit hati lagi. Ya kan? Ya kan?"
Anya mengangguk. Dia juga sedikit gembira, paling tidak perasaan sedikit lega.
"Eh tapi sekilas wajah Mey agak mirip kamu sih, by."
"Masa? Mungkin memang tipe Aric kali, hun," jawab Anya sekenanya.
***
Evan menelponnya sudah pukul 10 malam, pasti kerjaannya banyak sekali. Wajahnya terlihat lelah tapi tetap tersenyum saat melihat Anya.
"Evan."
"Ya, baby."
"Mmpph kamu jangan marah, aku mau cerita sesuatu."
"Oh ya, apa itu?"
"Tadi aku sama Olga makan bareng Aric."
Evan menghela nafas, dia memalingkan wajahnya.
"Kamu tau kan, aku nggak suka kamu ketemu dia." Evan berbisik nyaris lirih. "Mana tau dia ada niat terselubung."
"Nggak Evan, dia juga sudah memiliki pacar yang sangat cantik."
"...."
"Evaannn ...." Anya merengek manja.
"Ya udah, tapi lain kali nggak usah, ya."
Anya mengangguk.
"Aku kangen berattt ...." Evan berkata. "Kirimin aku video kamu besok, yang banyak."
"Kalau gitu aku juga mau."
"Baby, aku susah pegang handphone kalau lagi di yard."
"Ya udah, cepetan pulangnya."
"Iya sabar." Mereka melakukan video call sampai Anya tertidur.
***
Drasea Office
Bu Lily masuk ke ruangan mereka, kemudian memanggil Anya ke ruangannya. Anya mengikuti.
"Ada apa, bu?" tanya Anya.
"Anya, apa kamu berminat menjadi sekretaris?"
Anya kaget, dia adalah seorang staff PR jelas dia nggak mau.
"Tidak, bu, saya suka jadi staff PR."
Bu Lili melipat tangan di pinggang, kemudia menghela nafas.
"Sekretaris direktur, gaji dan grade-nya lebih tinggi."
Anya terhenyak, dia tidak punya pengalaman apalagi sebagai sekretaris direktur.
"Tapi bu, saya tidak ada pengalaman apalagi untuk menjadi sekretaris direktur." Itu tandanya Anya akan bertanggung jawab terhadap sekretaris level GM ke bawah.
"Aku juga heran, Pak Jared secara khusus memintaku. Memang posisi sekretarisnya sedang kosong saat ini tapi harusnya dia bisa ambil dari departemen secretary kenapa harus dari kita".
Anya terdiam saja, Bu Lily melanjutkan, "Apa kamu ada hubungan pribadi dengan Pak Jared?"
Anya menjawab cepat, "Tidak bu. Sama sekali tidak kenal."
"Ya sudah, nanti aku sampaikan, tapi seandainya dia tetap memaksa, mau tidak mau kamu terpaksa ditransfer Anya."
"Bu ...."
"Paling tidak sampai Pak Jared menemukan sekretaris yang lebih cocok."
Anya keluar ruangan dengan lunglai, dilihat dari tipikal Pak Jared yang kerap temparamen itu bisa dipastikan bawahannya akan mendapat pressure yang besar. Bukannya Anya tidak kuat bekerja di bawah tekanan, tapi masalahnya, dia tidak punya background sekretaris sama sekali. Apalagi perusahaan sebesar ini, bukannya mudah menjadi seorang sekretaris.
"Hei." Lana memanggilnya, "Ada apa Anya? Kusut sekali."
Anya menghenyakkan tubuhnya ke kursi, "Aku mau ditransfer ke departemen sekretaris."
"Kenapa gitu? Memang sekretaris siapa?" Tora ikutan menguping pembicaraan mereka.
"Pak Jared."
"Hah?!" Mereka serentak menganga.
"Tapi kenapa kamu?" Lana juga bertanya heran. Anya menggeleng lemah.
"Ya ampun jangan-jangan Pak Jared tertarik sama kamu," kata Tora.
"Tora!" Mbak Risa tiba-tiba muncul. "Jangan membicarakan bosmu seperti itu."
Tora diam dan kembali ke komputernya.
Saat jam makan siang di kantin, Anya mencoba menghubungi Evan tapi tidak diangkat, dia harus segera berkonsultasi dengan Evan. Tapi posisi Evan sekalipun tinggi dia masih di bawah Pak Jared, apalagi ada isu yang mengatakan mereka tidak akur. Padahal mereka sering terlihat bersama, Pak Jared juga kerap memuji pencapaian Evan saat meeting, pikir Anya. Menu kantin yang enak membuat Anya tidak berselera.
Ada w******p dari Aric.
"Hi, lagi makan siang nih? Lusa aku mau ajak kamu dan Olga nonton turnamenku. Gimana?"
Anya mengetik, kemudian menghapusnya. Kemarin mereka bertukar kontak dan Anya nggak enak kalau menolak. Apalagi Aric terlihat tulus ingin mereka berhubungan baik, belum lagi pacar Aric yang seperti boneka barbie itu. Akhirnya Anya membalas.
"Oke, nanti aku tanya Olga dulu ya."
"Ok."
Anya melihat jam tangannya, masih ada waktu 10 menit sebelum jam makan siang berakhir. Anya naik ke lift, di lantai 10 lift terbuka. Pak Jared! Anya kaget melihat sosok itu masuk bersama 2 orang staf. Dia mundur ke sisi lain lift.
Pak Jared menatapnya, "Ikut saya ke ruangan."
Kata-kata itu membuat Anya sangat deg-degan dan cemas. "Baik, pak." Anya rasa suara itu bergetar.
Anya ikut ke ruangan Pak Jared, pertama kalinya dia menginjakkan kaki di lantai ini. Lantai yang hanya bisa dicapai kelas manager ke atas.
Pak Jared bersandar di mejanya, "Kenapa kamu nunduk begitu sih. Saya serem ya?"
Anya semakin kaget, "T-tidak pak."
"Bagaimana kamu bisa jadi staff Drasea dengan sikap tidak percaya diri begitu?"
Seketika Anya tersadar, "Maafkan saya, pak. Saya memang gugup."
Pak Jared tertawa, "Lucu sekali kamu. Apa Bu Lily sudah menyampaikan permintaanku?" Anya mengangguk.
"Kenapa kamu menolak?"
"Background saya PR pak."
"Saya rasa sama saja. Mulai besok kamu bekerja sebagai sekretaris saya."
Ucapan Pak Jared seperti hukuman mati bagi Anya, bukan sesuatu yang bisa dibantah. Anya menatap sepatunya yang berwarna khaki, sepatu yang dia pilih bersama Evan saat pertama bekerja disini.
"Kenapa saya, pak?" tanya Anya.
"Kenapa? Karena saya suka kamu."
Anya tersentak, A-apa ini termasuk pelecehan di tempat kerja? Apa laki-laki ini seorang don juan?'
"Tiga bulan probation, kalau kamu tidak sanggup, saya tidak akan memecatmu, silahkan kembali menjadi staf PR."
Kata-kata itu seketika menenangkan Anya. Dia mengangguk sebelum keluar dari ruangan.
***
Malam yang membosankan lagi, Anya sebenarnya ingin mengatakan peristiwa tadi pada Evan kalau besok dia akan menjadi sekretaris Pak Jared. Kepalanya berputar. Dia sedikit cemas kalau Pak Jared punya maksud lain.
Dia terus menghubungi Evan tapi belum juga diangkat, sibuk sekali. Anya sedikit kesal. Dia mengirim foto seluruh badannya di cermin. Kemudian mengirimkan foto lingerie berwarna pink. Nakal. Anya tersenyum geli.
Tapi hingga pukul 11 malam Evan belum juga membalas pesannya. Anya akhirnya tertidur masih dengan menggenggam ponselnya.
Dia terbangun saat alarmnya berbunyi, Anya memesang alarm di ponsel juga di jam weker untuk jaga-jaga. Dia melihat ponsel ada beberapa misscall dari Evan pukul 12 malam. Astaga baru balik jam segitu, dia membaca pesannya.
"Oh God, aku mau liat kamu pake itu, baby. Rindu menembus awan."
Anya tertawa, dari mana Evan dapat ide menulis kata-kata rayuan itu? Seketika Anya ingat mulai hari ini dia akan menjadi sekretaris Pak Jared. Ya ampun dia belum bilang ke Evan. Anya mengirim pesan lagi.
"Aku ditransfer ke departement sekretaris, jadi sekretaris Pak Jared. Nggak tau kenapa. Miss youu muchh much mucchhhh ..."
Tapi sampai Anya berangkat, Evan belum membalas pesan itu.
***