“Aku tahu ini gila, tapi aku sungguh-sungguh mengatakannya. Ma … ayo menikah denganku!” Detik itu juga, aku langsung blank. Saat ini aku hanya bisa mengerjapkan mata seperti orang bodoh. Apa-apaan ini? Kenapa bagian ini tidak berubah? Apa karena aku hanya fokus mengubah alurku dengan Mas Rendra, jadi yang berubah hanya yang berhubungan dengannya saja? Dengan Mas Gala, aku hanya mengubah seperlunya. Apa artinya, hal-hal yang inti tidak akan brubah? Apa benar begitu? “Ma? Salma? Nasalma!” “H-hah? Apa, M-mas?” aku tergagap karena seolah baru saja disadarkan dari dunia yang kubangun sendiri. “Kamu di café mana sekarang? Aku akan ke situ.” “Aku d-di Pawon Kinanthi.” “Oh, aku tahu. Kamu duduk di meja berapa?” “E-ee …” aku melirik mejaku. “Meja nomor sembilan, lantai dua. Arah kanan dar

