Bab 1 : Jurus Kepepet Shanie.
>
Saat gue membuka mata, kecelakaan sialan itu terjadi. Secara otomatis netra ini terpejam erat saat mobil yang gue dan orang tua gue tumpangi jungkir balik. Entah apa yang terjadi berikutnya. Satu hal yang pasti adalah seluruh tubuh terasa ngilu, kami terkocok dalam ruang sempit dan terombang ambing. Rasa sakit, ngilu, kebas, mual, dan pusing datang mendadak. Kepala gue berputar-putar, sementara pandangan buram dan memutih. Decitan rem mendadak yang beradu dengan aspal memekik tajam. Suara dentuman keras terdengar dari berbagai sisi, mengagetkan. Lalu serpihan kaca berhamburan. Menyerang seluruh bagian tubuh kami. Gue meringis, merasakan perih dari goresan berdarah. Napas sesak, dan diri gue seutuhnya gemetar. Ada benda keras yang menghimpit kami dalam lempengan yang mungkin sudah enggak berbentuk lagi.
Entah apa yang terjadi berikutnya, tubuh gue menyusut secara tiba-tiba. Saat melihat bayangan diri sendiri melalui kaca, hati ini mencelus ke satu titik di mana gue benci banget sama diri sendiri. Begitu sadar gue sudah menjadi Shanie yang masih berusia dua belas tahun. Merah, itu adalah warna yang mendominasi ingatan gue. Bau anyir dan cairan lengket yang mengalir di sekitar tubuh, membuat perut menggila. Berkali-kali gue mencoba bangkit, berteriak sekeras mungkin, dan meronta. Namun, nihil. Sama sekali enggak ada suara yang keluar. Gue putus asa. Pemandangan terakhir yang bisa ditangkap mata gue adalah kondisi mengenaskan papa dan mama. Air mata gue enggak bisa ditahan lagi, dan menangis sejadinya. Keadaannya begitu gelap, dingin, kosong, dan menakutkan. Seolah ikut berputar menertawakan gue, menyaksikan kesedihan seorang anak yang kehilangan hampir seluruh isi dunia dan—
“Hani, bangun.”
Gue merasa ada yang datang, dia mengguncang tubuh gue. “Hani, bangun!”
Keringat sebesar biji jagung meluncur dari kening gue. Dengan napas memburu gue berusaha keras membuka mata. Kerongkongan gue tercekat, dan rasanya haus banget.
“Kamu kenapa, Hani? Ada yang sakit?” Wanita yang sudah hidup tiga per empat abad itu tampak khawatir. “Mimpi buruk lagi? Kamu berdo’a sebelum tidur, ndak?”
Gue cuma menggeleng, kemudian perlahan mata gue terpejam lagi. Seiring dengan kepala yang semakin landai rebahan di bantal. Dalam sepersekian detik ada perasaan tenang begitu melihat wajah Eyang.
“Bangun, Nduk, matahari sudah lewat setengah lingkar, tho!”
Gue mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng kuat. Lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya sekaligus. Mengusir bayangan mimpi menyeramkan yang entah kenapa muncul lagi setelah bertahun-tahun menghilang. Wanita tua yang selama ini sudah merawat gue itu tampak kesal, tapi tetap duduk di pinggir ranjang sambil mengelus rambut sebahu gue.
“Eyang ….” Gue malah menggeser kepala ke atas pangkuan Eyang. “Kapan mimpi itu bisa hilang?”
Eyang cuma melirik, tapi kemudian menoyor kepala gue agar kembali ke kasur. “Eyang-eyang, ya boleh, tapi kepalamu itu jangan kurang ajar, tho, Han!”
“Hehe, iya, iya. Hani ‘kan cuma mau dipangku Eyang. Udah lama.” Gue cengengesan.
“Kamu udah dua tahun jadi pengangguran, apa ndak capek, tho, Han?” Eyang tiba-tiba menarik napas, lalu membahas topik ceramah andalannya: yaitu masa pengangguran gue yang dinilai Eyang sudah terlalu lama. “Teman-temanmu itu lho, udah jadi orang semua. Kamu doang yang masih gini-gini aja!”
“Emang Hani bukan orang dimata Eyang?” Gue mencebik, mencoba membuat Eyang. “Hani tuh masih nunggu kesempatan yang bagus, Eyang. Biar Hani punya gaji seratus juta sebulan!”
“Ngawur!” Eyang langsung memotong, “Hani, kamu tuh harus mulai serius, Nduk. Eyang ndak bisa selamanya di sisimu, tho?”
Senyum gue luntur. Pembahasan ini sensitif banget buat gue. Dalam hidup ini Tuhan sudah mengambil dua sosok pelindung gue, masa sekarang tega mau ngambil satu-satunya tempat gue bergantung? Apa perlu gue nyogok malaikat maut biar datangnya di-pending dulu?
“Eyang sudah semakin tua, jangan sampai nanti kamu mati kelaparan karena ndak punya pekerjaan setelah Eyang berpulang.” Eyang menatap lurus dengan mata tuanya yang coklat jernih. “Mau bilang apa nanti ke Mama dan Papamu, kalau kamu kelaparan setelah Eyang tinggal?”
“Eyang enggak akan kemana-mana, ‘kan?” Gue membalas tatapan lurus wanita renta itu. “Hani enggak akan biarin Eyang pergi kemanapun.”
“Kamu ndak bisa mendahului takdir, Hani.” Eyang berdecak kembali. Pipi keriputnya semakin kempot. “Intinya Eyang mau kamu cepat kerja, Nduk!”
“Tapi cari kerja tuh su—”
“Kamu mana tahu!” Eyang memotong.
“—sah.”
“Wong kerjamu cuma makan tidur, mana pernah Eyang lihat kamu pergi cari kerja kayak orang normal, tho?” Lagi-lagi Eyang menyerobot ucapan Hani.
Gue memberengut, “Emang Hani enggak normal?”
“Pikirmu?” Eyang malah balik bertanya, “Apa normal kalau ada lulusan universitas sudah menganggur dua tahun dan belum kerja? Salah univ-mu atau kamu sing ndablek, tho, Nduk!”
Gue semakin memberengut. Sumpah, kenyataannya gue memang sudah mencari pekerjaan ke semua platform online. Jangankan pekerjaan yang sesuai jurusan, lowongan lintas jurusan pun sudah gue coba. Bahkan gue juga mengajukan lamaran sebagai istri muda CEO marketplace bukawaroeng.com yang katanya duren sawit. Duda keren sarang duit. Namun, dari ratusan surat lamaran yang gue kirimkan online setiap minggu, paling hanya dua atau tiga yang membalas. Sekadar menginformasikan kalau gue enggak sesuai kriteria yang mereka cari. Eyang pasti enggak akan paham hal kayak ini, ‘kan? Sudah gue duga, memang.
“Pokoknya kamu harus kerja, Nduk. Eyang ndak peduli di mana atau sama siapa. Sing penting kamu dapat kerjaan. Mau jadi kasir Alpamaret atau tukang sapu kantor juga Eyang ndak marah, yakin!” Eyang berseru menggebu-gebu. “Kalau sampai minggu depan ndak dapat pekerjaan juga, terpaksa Hani harus angkat kaki dari rumah Eyang . Paham?”
“Eyang?!” Gue melotot saat mendengar pernyataan terakhir Eyang. “Eyang seriusan mau ngusir Hani?”
“Iya, kalau kamu ndak kerja, lebih baik keluar dari rumah ini. Biar Eyang ndak pusing ngurusin pengangguran abadi!” Eyang menegaskan titahnya. “Ndak ada kerjaan, ndak boleh makan tidur di rumah Eyang.”
“Eyang—” please kawinkan sadjah cucumu ini, Eyang. Asal tampan, kaya, berkelakukan baik, rajin menabung, dan tidak sombong daku rela.
“Ndak mau tahu. Cari kerja sana!” Eyang menebalkan telinganya, meninggalkan gue yang masih merajuk di dalam kamar.
Sementara itu gue jadi harus berpikir super keras. Pasalnya selama ini Eyang bahkan enggak pernah memukul, tapi sekarang nyatanya gue terancam diusir. Dasar Eyang, mentang-mentang enggak pernah memukul, sekalinya kesal mau ngusir. Untung aing sayang, rawrr, guk-guk, meong! Harus apa aku tuh? Hiks.
Otak buntu, dan kemageran gue malah semakin high level. Tubuh gue ngerentek, meronta-ronta minta rebahan lagi di kasur. Pada akhirnya gue cuma merebahkan kembali diri gue ke ranjang empuk. Bergelung lagi dengan selimut lalu melanjutkan tidur yang sempat terjeda. Semoga kali ini gue mimpi nikah sama Lee Min Ho.
* * * * *
Kayaknya udah lewat tiga hari sejak Eyang melakukan ultimatum sekaligus pengancaman perihal usir mengusir. Sudah sebanyak waktu itu pula yang sudah gue buang karena enggak tahu harus mulai mencari kerja dari mana. Kalau sekadar mantengin laptop dan berselancar di platform lowongan online lagi, sih, kayaknya enggak akan menghasilkan pekerjaan juga. Mengharap jodoh ganteng bin kaya macam oppa-oppa Korea juga kayaknya mustahil. Masa iya gue harus menunggu mukjizat datang, itu sih sama saja berharap kuda nil bertelur anak kadal. Ambyar!
Menurut analisa gue, Eyang enggak terlalu serius, sih, sama ucapannya. Karena sejak pembahasan tiga hari yang lalu, hari-hari kami berjalan damai seperti biasa. Gue tetap bisa makan tidur macam ulat kasur, dan Eyang masih santuy. Namun sebuah kenyataan akhirnya menampar gue luar dalam. Secara misterius seluruh pakaian gue lenyap dari lemari, dan lo tau apa kata Eyang?
“Eyang, kayaknya ada maling, deh!”
Posisi gue baru selesai mandi, baru bangun juga. Tepat saat jam dua siang tadi Lena menelepon dan minta bantuan untuk menginput data excel. Cewek itu berjanji akan membelikan makan siang super enak, dan tentu saja makhluk pemuja makanan kayak gue enggak bisa menolak sama sekali. Masalahnya adalah … begitu membuka lemari semua pakaian gue hilang. Demi anak tetangga yang kencingnya miring, ini baju-baju gue pada kemana? Kenapa lemari gue kosong melompong?
“Eyang, kok sampai ke pakaian dalam juga enggak ada, ya?” Gue masih memanggil Eyang. “Malingnya suka k****t polkadot pink sama garis-garis ungu, ya?”
“Maling apa, sih, sembarangan kamu, Hani!” Eyang muncul tergopoh-gopoh, sementara kening gue berkerut. “Semua pakaianmu udah Eyang packing, tuh, di sana!”
Mampus, gue, mampus! Duh, kalau kayak gini ceritanya Eyang udah serius macam Kim Jong Eun. Seandainya gue memberontak pasti langsung ditembak mati. Gue menatap Eyang sambil mencebik, dengan tatapan memelas. Eyang tampak acuh, dan trik sok sedih gue auto gagal. Saat menoleh, gue melihat tumpukan dua koper dan satu tas ransel bertumpuk di pojok kamar.
“Itu ada di situ, Eyang ndak kuat nyeret ke teras.” Wanita tua itu berdecak dan mendengkus sekaligus. “Tapi kalau kamu masih santai-santai, nanti Eyang lempari sekalian biar tetangga pada tahu, terus gibahin kamu!”
“Ih, Eyang kok serius?” Gue mencoba merajuk, walau geli-geli nyoi tapi mana tahu ampuh. “Hani, ‘kan, cucu kesayangan Eyang.”
“Ndak mempan, Hani. Cari kerja sana!” Eyang berbalik tanpa memperhatikan wajah gue yang hampir menangis. “Pokoknya waktumu sisa empat hari. Kamu harus dapat kerja, Nduk, paham?”
“Hampa, Eyang!” Akhirnya gue berseru pasrah menghadapi keseriusan si Eyang.
Gue melirik ponsel di atas nakas, ada chat dari Lena yang menunjukkan tempat ketemuan kami. Otak gue emang enggak terlalu bersahabat sama angka, tapi maknyus kalau dipakai buat mencari kesempatan dalam kesempitan. Entah kenapa muka Lena terus terbayang-bayang di benak gue. Sepeninggal Eyang, gue pun cepat-cepat membongkar pakaian yang sudah di-packing rapi itu. Untungnya enggak sulit mencari baju yang cukup pantas untuk keluar. Mungkin ini adalah saat yang tepat buat gue mengemis pekerjaan, atau bahasa kerennya memanfaatkan koneksi. Soalnya, seingat gue, Lena bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik terbesar nomor empat se-Indonesia.
So, enggak pake lama, langsung aja gue berangkat ke lokasi pertemuan gue dengan Lena. Demi meredakan amarah Nini Gunung, alias Eyang, gue rela menguras saldo ojol-pay yang cuma lima belas ribu itu. Tadinya gue mau naik angkot, tapi takut telat. Enggak apa-apa lah, gue anggap saja itu sebagai investasi. Semoga Lena punya pekerjaan bagus untuk gue nanti. Meskipun Eyang tidak akan marah walau gue berprofesi sebagai kasir Alpamaret atau cleaning service sekalipun, tetap saja gue sangsi. Harga diri tetaplah harga diri. Apa jadinya kalau waktu jaga kasir nanti gue harus ketemu laki tetangga yang beli kondom sama bini mudanya? Atau, gimana jadinya nasib gue kalau pas Jungkook datang melamar gue malah asyik ngepel di lobby? Bayangin aja, gue ogah!
“Hey, Shan, cepet banget, lo!” Seorang cewek menyapa ramah, kemudian duduk di depan gue. Dia Lena, dan sama sekali belum berubah. Karena doi bukan power ranger.
“Eiy, Len, datang juga akhirnya!” Gue membalas tak kalah ramah. “Gimana, gimana?”
“Haha, apanya?” Lena tertawa renyah. “Ntar dulu, ah, lo enggak mau pesan apa dulu, gitu?”
Si anyink, bikin jiwa gak tahu diri gue meronta-ronta aje!
“Gue kebetulan udah makan. Mana sini yang harus gue bantu?” Akhirnya gue berbohong, enggak tahu kenapa. Mungkin masih ada sedikit jiwa kebenaran dalam diri gue. Yah, minimal gue harus pura-pura harus tahu diri, masa sudah makan enak menodong kerjaan juga.
“Halah, jangan sok suci, lo! Apaan sih, buru-buru banget.” Lena masih tertawa sambil membolak-balik menu. “Udah, lo mau makan apa, gue bayarin, kok. ‘Kan gue yang ngajak ke sini, minta bantuan pula.”
Mulut gue emang lemes maksimal, fix. “Bayarinnya full apa enggak, nih?”
“Eits! Jangan salah Anda,” Lena berucap lebay, “mau makan kepala naga pun, saya sanggup bayar!” Ia melanjutkan, “holang kaya!”
“a***y, auto sungkem gue sama Kanjeng Mami!” Gue cekikikan seru. “By the way, Gue mau minta bantuan.” Tawa gue lenyap, berganti mimik serius. Berbarengan dengan perubahan air muka Lena yang juga ikut serius.
“Mau minta bantuan apa, sih?” Lena akhirnya mengalihkan seluruh atensi pada gue. “Cerita dong, kayak ke siapa aja!”
Gue cuma mengulum senyum. Lena masih persis seperti enam tahun lalu, saat gue mengenal cewek itu di masa ospek kampus. Dari sekian banyak anak cewek yang berkenalan dengan gue, cuma Lena yang enggak meledek nama belakang gue dengan embel-embel ‘musuhnya Ramayana’. Nama pemberian papa memang unik, Dari pada meletakkan namanya sebagai marga gue, beliau lebih memilih ‘Rahwana’ yang diambil dari tokoh antagonis kisah cinta ikonik Ramayana dan Dewi Shinta. Shanie Rahwana, nama yang juga membuat gue punya dua nama panggilan, Hani dan Shanie. Yah, meskipun cuma satu orang yang memanggil gue dengan nama Hani selain Eyang.
“Bukan masalah besar, sih, cuma agak lucu aja.” kata gue pada akhirnya.
“Kenapa, kenapa?” Lena antusias, “Wah, gila sih, udah lama banget enggak ngobrol kayak gini, ya.”
“Itu, Eyang ngancem mau ngusir gue kalau sampai akhir minggu nanti enggak dapat kerjaan.” gue mulai bercerita. “Yah, you know lah, Len, gue emang udah jadi pengacara sejak lulus dari kampus. Nah, tiba-tiba Nini Gunung ide dong. Katanya gue harus cari kerja dalam seminggu, atau dia mau ngusir gue dari rumah!”
Senyuman Lena sukses tertarik lebar, matanya menyipit diiringi suara ledakan tawa. “Anjir! Lagian lo juga, sih, jadi pengacara kok sampai dua tahun!”
“Yah, mau gimana lagi, Len, lo mah enak. Belum lulus aja udah diterima jadi auditor magang WWG. Sumpah, gue tiap minggu kirim lebih dari seratus surat lamaran, dan enggak ada yang nyangkut.” gue malah mengeluh. “Mungkin gue emang cocoknya jadi pengacara, alias pengangguran banyak acara!”
“Udah gue bilang, mending lo buka warung pecel lele depan kampus aja!” Lena masih cekikikan. “Suka enggak percaya, sih, kalo dikasih tahu.”
“Tempe!”
“Oke, fine, jadi intinya lo butuh kerjaan?” Lena masih tertawa renyah. “Kantor lagi cari VE, tuh.”
“Hah, VE apaan?”
“Vocational Employee, alias anak magang.” Lena melanjutkan, “gajinya emang enggak sebesar yang junior auditor, tapi lumayan. Kalau seandainya lo lulus VE, bisa jadi tetap. Terus kalau udah dua tahun jadi junior, di tahun ketiga lo bisa ngajuin jadi senior. Jenjang karirnya jelas, dan lo enggak bakal diusir Eyang.”
Gue cuma mengerjap beberapa kali. “Gajinya bisa seratus juta, enggak?”
“Yeh, sinting! Lo jualan anak badak di pinggir jalan juga belum tentu sebulan seratus juta, Shanie!” Lena berseru gemas.
“Ya kali, namanya juga usaha.” Gue cengengesan.
“Mau apa enggak, nih?” Lena berucap setengah meledek, sambil ngakak. “Kali aja bukan cuma kerjaan, tapi lo juga bisa dapat pacar.”
“Pacar? Sejenis hewan melata, atau serangga? Gara-gara kerjaan aja gue hampir diusir.” Gantian gue yang ketawa. “Jadi gue harus ngapain buat jadi anak magang di kantor lo?”
“Ya, kayak biasa. Kirim CV lah, fotonya yang cakep, kalo pake kemeja putih jangan pake BH hitam.” Lena tertawa lagi.
“Sialan, lo, Len!” Gue mendengkus sambil tertawa, mengingat kejadian saat wisuda. Kebaya putih, bra warna hitam. Mana talinya lupa dilepas. Yah, wassalam deh nyeplak kemana-mana.
“Email ke gue aja, nanti gue forward ke HRD. Ini lagi peak season, jadi mereka pasti terima lo.” Lene melanjutkan, “beneran, kantor lagi butuh banyak orang.”
“Kalau enggak?” Gue menatap dengan Lena tepat di manik hitamnya yang jernih. “Diusir dong, gue?”
Lena cuma cekikikan. “Tenang, ntar gue dukunin HRD-nya. Lo mau jaran goyang apa semar mesem? Haha.”
“Ya, kali, Len.”
“Pasti diterima. Tunggu aja email konfirmasinya, paling lambat ada panggilan interview buat besok pagi.” Lena meyakinkan. “Nah, sekarang tugas lo bantuin gue input angka-angka ini ke excel.”
“Tetep, ya, inget.” Gue mencebik.
“Iya lah, makan enak gratis, minta kerjaan udah gue kasih, masih mau mangkir? Enggak tahu diri, lo!” Lena berseru heboh.
“Sialan, Len!” Gue tertawa lagi, entah sudah seheboh apa kami berdua di sini. “Kayak baru kenal gue kemaren sore, lo. Ini, sih, belum seberapa. Haha.”
“Iya, iya. Siapa, sih, yang enggak paham sama kelakuan absurd lo itu!” Lena tertawa lagi.
* * * * *
bersambung dulu, ya, gengs~
Yuk, jangan lupa untuk dukung triple S menyelesaikan misi cinta mereka #uhuk. Berikan dukunganmu dengan cara TAP LOVE atau klik ADD. Kalau kalian sudah TAP LOVE atau klik ADD, maka secara otomatis cerita ini akan bertengger di library kalian. Sehingga setiap kali aku update, kalian akan dapat deh notifnya. Kuy, cepat-cepat TAP LOVE atau klik ADD sekarang juga!