Menghabiskan Waktu Bersama

865 Words
Barra mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir tipis Lily, kemudian ia tersenyum, dan detik selanjutnya ia semakin mendekatkan wajahnya, perlahan meluma*t bibir itu, awalnya tidak ada balasan dari Lily, tapi semakin lama membuat Lily membalasnya, mendapat balasan dari wanita yang sangat ia cintai, membuat hasrat Barra semakin menggebu. Lily perlahan memerjamkan matanya, lamuta*n dan hisapan di bibirnya semakin memburu, membuat ia kewalahan untuk mengimbangi. Barra memainkan lidahnya di dalam mulut Lily, menghis*p dan mela*mut lidah wanita itu, tangan Barra pun mulai menjelajahi bagian sensitif Lily, meraba paha putih, mulus wanita itu, dan perlahan membuka kancing piyama yang Lily kenakan. Ciuman Barra turun ke leher jenjang Lily, membuat wanita itu tanpa sadar mendesah, Barra yang mendengar desahan Lily semakin menyalakan api di tubuhnya dan melancarkan aksinya. Hisapan yang di tinggalkan di leher putih Lily menimbulkan begitu banyak bekas kemerahan, nafsu Barra yang sudah menggebu membuat setiap titik leher Lily memerah akibat ciumannya. Kini ciuman Barra turun ke bagian gunung kembar kenyal milik Lily, entah sejak kapan piyama dan pengaman gunung kenyal itu terlepas, Barra mulai menghisap punting yang berwarna kecoklatan itu, dan salah satu jemarinya mulai memainkan punting satunya lagi. Desahan Lily semakin tak tertahan, ia meremas rambut Barra, dan melengkungkan tubuhnya untuk menawarkan lebih kebada Barra. Barra menyudahi permainannya, ia menatap wajah Lily, pandangan mereka bertemu, gejolak hasrat yang membara, pandangan mereka mulai berkabut. Barra kembali menciu*m dan meluma*t bibir ranum Lily, detik selanjutnya ia menggendongnya, membuat Lily melingkarkan kakinya di pinggang Barra, perlahan Barra membawa langkahnya menuju ke ranjang, dengan sangat hati-hati Barra menidurkan tubuh Lily tanpa melepas ciuman mereka. Barra menindah tubuh Lily, kemudian ciumannya turun ke leher, membuat Lily kembali mendesah. "Aahhh,, eeummm.." Barra sudah tidak tahan lagi, celana yang ia kenakan mulai menggembung, membuat senjatanya mulai sesak berada di dalam sana, dengan cepat ia membuka celannya. Lily yang melihat senjata Barra begitu besae dan menjulang ke atas, ia langsung membuang pandangannya ke samping, wajahnya mulai bersemu merah. Barra ingin membuka celana piyama Lily, tapi gerakan tangannya tertahan oleh tangan Lily, membuat Barra mengerutkan keningnya, tatapannya mengisaratkan sebuah pertanyaan, Lily yang mengerti akan tatapan dari Barra, ia pun mengutarakan ucapannya. "Lakukan dengan pelan, aku tidak ingin berakhir di rumah sakit seperti kemarin." Barra tersenyum, ia pun meraih tangan Lily dan mencium bagian punggung tangannya. "Iya Baby, aku akan melakukannya dengan sangat pelan." Barra mulai membuka celana piyama Lily, kini Barra dapat melihat bagian intim Lily yang masih tertutup kain segi tiga berenda warna merah cerah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Perlahan Barra mencium paha Lily, dan membuka lebar, ia mencium terus sampai ke bagian intim Lily, perlahan membuka segitiga berrenda itu, dan kini terpampang nyata bagian intim Lily yang sangat terawat. Barra mulai memainkan Lidahnya di dalam sana, menghisap dan mencumbunya, membuat tubuh Lily menegang, desahan dan desahan terus terlontar dari mulut Lily.. "Aaahhh... Eeeuummmm,,,,,, aahhhhh.." Cairan putih kental keluar dari intim Lily, menandakan wanita itu telah klimaks pertama kalinya. Barra kembali mencium Bibir Lily, "Aku mulai Baby." Lily mengangguk, kemudian memejamkan matanya karna merasakan kejantanan Barra yang mulai di gesek-gesekkan di area intimnya. Detik selanjutnya, Barra menghentakkan miliknya kedalam intim Lily yang masih sempit itu, membuat desahan Lily menggema di dalam kamar. Barra terus memacu senjatanya, hingga menimbulkan bunyi di sana, erangan dan desahan Lily membuat Barra semakin bersemangat.. "Aahhh.. Aahhh.." "Panggil nama ku Baby. Aahhh." Gumam Bara di sela kenikmatannya.. "Barra,, euumm,, aahh.." "Tuan Baby, terus mendesah sayang, aku menyukainnya." "Aahh,, uumm,, pelan ahhh,, pelan Barra." "Ini begitu nikmat Baby, aku sangat bersemangat." Barra mengganti posisinya, membuat Lily mengambil kendali permainan, Lily yang berada di atas membuat ia mau tidak mau menjalankan tugasnya. Lily memaju mundurkan bokongnya, ia mencengkram erat lengan Barra, tubuhnya melengkung ke depan, menikmati kenikmatan yang memabukkan itu, gunung kembarnya terguncang naik turun, membuat Barra gemas dan meremasnya, kemudia ia melamut punting kembar itu secara bergantian.. "Aachhh,, Barra, aku sudah tidak tahan,, aahhh." "Iya Baby, terus sayang." ucap Barra yang membantu Lily untuk klimaks ketiga kalinya, tapi Barra belum sama sekali. Lily terjatuh di tubuh Barra, keringat yang membasahi tubuhnya, dan nafas yang memburu. "Aku lelah Barra." "Tapi milikku belum mencapai puncak Baby." Barra tidak memperdulikan ucapan Lily, kini ia yang mengambil alih permainan, Barra berlutut di belakang b****g Lily, dan mulai memasukkan senjatanya, ia terus memaju mundurkan tubuh Lily dan kejantanannya, sesekali meremas b****g Lily dan memukulnya. "Aahh,, Barra,, ahh." desah Lily karna merasakan kenikmatan.. "Oh my Lily, kau begitu memabukkan, aku suka gaya seperti ini Baby, aahh, aahh,, ini sangat nikmat sayang." Entah sudah berapa jam terus dan tanpa henti Barra memacu kejantanannya, kini senjatanya mulai berkedut, dan puncak kepuasannya telah tiba, Barra mempercepat ritme permainan, dan "aahhhh, eeuumm,, aahhh." desahnya saat mencapai puncak kenikmatan. Barra terjatuh di atas tubuh Lily, dengan senjatanya yang masih berada di dalam intim Lily, keringat yang membasahi tubuh keduanya, nafas yang menggebu, Barra membawa tubuh Lily kedalam pelukannya, dan ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. "Kau menikmatinya?" tanya Barra dengan mata yang terpejam. "Eeuumm." Lily hanya berdehem, karna ia seperti tidak lagi memiliki kekuatan hanya untuk menjawab dengan ucapan berbagai kata. "Tidurlah." Barra mengecup puncak kepala Lily dan kembali memejamkan matanya. Bersambung. Jangan lupa pencet Love ya kawan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD