Setelah melakukan kegiatan panas yang entah berapa kali di musim semi saat ini, membuat Lily kehabisan tenaga, deru nafas yang terasa hangat menyapu bagian lehernya, Lily menggeliat dan mendapati Barra yang tertidur pulas di pelukannya, gunung kembarnya yang terbebas dari pengaman menempel di wajah Barra.
Lily perlahan memundurkan tubuhnya, tapi pinggangnya di tahan oleh Barra. Lily pun memukul pelan punggung Barra untuk melepaskan rengkuhannya, tetapi Barra bergumam, agar Lily tetap diam, hanya dalam beberpa menit saja. Lily pun menurutinya, sambil memainkan rambut Barra yang sedikit panjang itu.
Lily berdehem, menetralkan nafasnya sebelum mengutarakan apa yang ia pikirkan.
"Ehmm... Barra." Panggil Lily dengan nada lembut. Dan di balas hanya dengan deheman oleh Barra..
"Aku boleh meminta sesuatu pada mu?"
Barra mendongakkan wajahnya, menatap Lily dengan kerutan di keningnya. "Kamu ingin sesuatu? Mobil, tas, sepatu atau perhiasan?" Tanya Barra dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iihh... Bukan itu Barra."
"Lalu apa?"
"Aku ingin kembali bekerja, menemui teman-temanku, dan menghirup udara segar di luar, aku bosan di sini Bar, tidak ada yang bisa aku lakukan, semua pelayanmu melarangku."
Barra mengeratkan pelukannya, dan mendaratkan ciuman di kedua gunung kembar milik Lily sebelum menjawab ucapan wanita pujaan hatinya.
"Mintalah yang lain, aku akan menurutinya, tapi jangan minta yang membuat kita berjauhan, aku tidak ingin kehilangan mu kembali Lily."
"Jika kamu tidak mengizinkan, aku akan beneran pergi jauh dari mu, agar kamu tidak bisa menemukan aku lagi." Ancam Lily
"Kamu mengancamku?"
"Iya, karna kamu mengurungku, tanpa memikirkan aku yang bosan hidup seperti burung di dalam sangkar emas, bergelimangan harta, tetapi tidak bisa pergi kemana pun."
"Tidak,,, aku tidak mengizinkan mu." Barra kembali memejamkan matanya.
Lily mendorong tubuh Barra dengan paksa, membuat pria itu seketika membuka kedua kelopak matanya. Lily mengambil posisi duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala kasur.
"Aku sudah memintanya dengan lembut, bahkan aku sudah menyerahkan mahkota ku, aku hanya minta kehidupan normalku." Lily memautkan kedua tangannya di depan d**a, dan membuang pandangannya ke samping.
Barra menghembuskan nafas kasarnya, kemudian ia meraih celana boxernya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan santai di depan Lily.
Duduk di tepian kasur dan memandang Lily, tangannya mengacak rambut Lily dengan lembut.
"Baiklah,, aku akan mengizinkanmu, tetapi satu kali lagi ya?" Ajak Barra sambil tersenyum mesum..
"Aku lelah,, sedari pagi kamu terus memakanku, sampai sekarang perutku sama sekali belum masuk sebutir nasi."
Barra tidak memperdulikan ucapan Lily, ia langsung menggendong tubuh polos Lily, dan membawanya ke kamar mandi, di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuh polos mereka, Barra kembali memacu kejantanannya penuh hasrat yang memburu.
Meminta sekali, tapi berakhir entah sudah berapa kali, begitu tinggi hasrat bercinta Barra, yang seperti tiada habisnya.
********
Ayu terus menghubungi nomor Lily, sudah satu minggu ia tidak mendapat kabar dari sahabatnya itu, bahkan nomornya tidak aktif.
"Lily kemana ya?" Tanya Ayu kepada Jino yang duduk menghampirinya.
"Entah, tidak seperti biasanya dia tidak ada kabar, kostnya pun kosong, aku bertanya kepada ibu kost, katanya dia pergi tidak ngekost di situ lagi."
"Apa jangan-jangan dia di culik ya kak, trus di jual ke om-om kaya." Tebak Ayu membuat Jino mendaratkan jenggungan di kepala Ayu.
"Pikirannya yang enggak-enggak aja."
"Jadi gemana donk, atau kita laporin aja kepolisi, karna ini sudah satu minggu kak."
"Apa dia sama sekali tidak memberi tahu mu sebelumnya."
Ayu menjawab dengan gelengan kepala, membuat Jino memainkan jemarinya di meja dan memikirkan keadaan Lily.
"Mungkin dia pulang kampung menemui sawdaranya." Ucap Jino dan mendapat anggukan kepala dari Ayu. "Bisa jadi kak."
Bersambung...