Awal Pertemuan

1007 Words
Seminggu sudah berlalu, Lily melakukan aktifitas seperti biasanya, tidak ada yang berbeda sebelumnya, tapi kini suasana di cafe cukup berbeda. Jino yang biasanya ramah kepada Lily, seminggu terakhir ini, Jino menghindar dari gadis itu, bahkan pria itu membuka suara hanya seperlunya saja. Lily bertanya kepada Ayu, apa yang terjadi dengan perubahan sikap Jino yang dingin hanya kepada dirinya, tetapi Ayu pun tidak mengetahui alasannya. "Kak." Panggil Lily pelan. Jino tetap diam, tangannya tengah di sibukkan meracik pesanan pelanggan. Lily mendekat dan memegang lengan Jino. "Kak." Panggilnya lagi sambil menampakkan raut wajah memelas. Jino hanya melirik sekilas, kemudian mengantarkan pesanan pelanggan yang ia buat tadi. Lily menghampiri Jino yang duduk di salah satu kursi di sana. "Kakak, kenapa diemin Lily sih?" Sebenarnya Jino tidak ingin seperti ini, mendiamkan Lily adalah hal terberat dalam hidupnya, karna Lily adalah wanita yang ia suka sejak mereka pertama kali bertemu, tepatnya saat Lily pertama kali masuk kerja. Tetapi Jino tidak ingin hidupnya di penuhi dengan hal yang mengerikan, entah apa yang ia sembunyikan, dan entah alasan apa yang membuat ia menjauhi Lily. "Kenapa Ly." Bukannya menjawab pertanyaan Lily, pria itu membuka suara dengan sebuah pertanyaan juga. "Kakak yang kenapa? Lily salah apa sama kakak, kok kakak diemin Lily." "Kamu nggak salah apa-apa kok." "Tapi sikap kakak ke Lily berbeda dari biasanya." Jino seperti enggan menjelaskan, saat ia ingin membuka bibirnya, panggilan dari pelanggan yang baru datang membuat Jino terselamatkan, pria itu pun bangkit dari duduknya dan melayani pelanggan. "Hufff,, kak Jino kenapa sih? Menghindar terus dari aku, buat sebel aja." Rutuk Lily saat di tinggal Jino. ******* Langit sudah berwarna jingga, perlahan matahari mulai tenggelam, malam pun telah tiba, langit mulai menggelap dan terdapat ribuan bintang di atas sana. Sosok gadis yang berambut panjang tengah duduk di balkon kecil yang ada di kamar kost nya, tangannya memegang segelas s**u coklat, pandangannya mengarah ke langit. Entah apa yang Lily pikirkan, wajahnya datar tanpa exspresi, Lily tersadar dari lamunannya, rasa penasaran di pikirannya mulai meluas, hatinya tidak nyaman, seperti seseorang tengah mengintainya, tetapi tidak ada wujudnya di sana. Beberapa hari yang lalu Lily mendapatkan sebuah kamera kecil yang terpasang di mata boneka yang ia taruh di atas meja, ia pun semakin curiga dengan ruangan kamarnya. Gadis itu mengecek di beberapa tempat, dan menemukan benda yang sama. Mulai sejak itu Lily sering menginap di rumah Linda. Bahkan jarang pulang kerumah. Lily menyesap s**u yang ada di tangannya, pandangannya menerawang jauh entah kemana, hingga sebuah ketukan pintu membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. Lily malas membukanya, ia berfikir pasti penggemar misteriusnya yang mengirimkan hadiah, ketukan pintu kembali terdengar semakin kuat, Lily mendengus kesal, ia bangun dari duduk nyamannya dan berjalan ke arah pintu. Lily jalan mengendap-endap saat mendekati pintu, telinganya ia tempelkan ke daun pintu, mencoba mendengarkan sesuatu di luar sana, tidak ada suara lain selain ketukan pintu. Lily sedikit merinding, ia tidak ingin bersuara, ide gilanya pun muncul, Lily mengambil kursi dan menaruhnya di dekat pintu, pelan-pelan ia menaiki kursi itu, niat hati ingin mengintip dari lubang angin yang ada di atas pintu, siapa orang yang berada di luar sana, tapi kakinya terpeleset dan ia jatuh. "Aauu.." Teriaknya saat bokongnya menyentuh lantai. Lily mengusap-usap keningnya yang terkena pinggiran kursi, ketukan di pintu semakin kuat, dan tiba-tiba terdengar suara dobrakan. Braagkk Pintu kamar kost Lily terbuka, Lily yang berada di belakang pintu semakin meringkuk ketakutan, sosok pria berpakaian hitam dan menggunakan topi muncul dari balik pintu. Lily merapalkan doa agar pria itu tidak melihatnya, tetapi dengan penerangan yang cukup di kamarnya, tidak mungkin sosok pria itu tidak melihat, bahkan semut pun dapat terlihat. "Lily." Pria itu memanggil namanya, tentu saja membuat gadis itu semakin bergetar ketakutan, keringan dingin pun membasahi keningnya Pria itu mengedarkan pandangannya. "Kau dimana? Apa terjadi sesuatu." Kini pandangan mereka bertemu. Lily kaku di tempatnya, pria itu pun menghampirinya. "Apa kau tidak pa-pa." Bibir Lily masih terbuka, ia tidak menyangka siapa yang ada di depannya saat ini, berulang kali ia memerjapkan matanya, tetapi pandangannya masih sama. "Apa kaki mu sakit?" Pertanyaan pria itu menyadarkan Lily, dan gadis itu mendorongnya dengan kuat. "Jangan mendekat, kau siapa, apa kau pria penguntit itu." Pria itu kebingungan untuk menjawab pertanyaan Lily, membuat Lily semakin yakin dengan instingnya. "Ternyata benar, apa tujuanmu mengirimku begitu banyak hadiah, dan kenapa kau terus mengikuti ku?" Lily ingin berdiri, tetapi ia terhuyung, karna pinggangnya terasa nyeri, denggan sigap pria itu menopang tubuh mungil Lily, sejenak mereka saling menatap, dengan cepat Lily mengambil topi yang pria itu pakai. Saat sudah jelas Lily melihat siapa pria itu, ia di buat terkejut, pasalnya pria yang di hadapannya kini adalah pria yang sebelumnya ia liat di siaran Tv. "Kau." Ucap Lily pelan sambil berjalan mundur. Barra jalan mendekat, dan ia mengunci pergerakan Lily di tembok dengan kedua tangannya, Barra menatap Lily begitu dalam. "Kau mau apa, pergilah, sebelum aku berteriak." "Teriaklah sekencang-kencang mu Baby, tidak ada yang berani mengganggu kita." "Apa maksud mu?" Barra membelai wajah Lily, dan menyelipkan rambut Lily kebelakang telinga. "Kau tidak perlu tau, jadilah wanita penurut seperti biasanya." Lily mendengus kesal. "Cih,, kau pikir siapa dirimu, menjauhlah dari ku, aku benci pria pengecut seperti mu." Lily mendorong d**a bidang Barra. Tetapi Barra semakin mendekatkan tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Lily, membuat gadis itu menahan nafasnya, "menyingkirlah, kau membuatku susah bernafas." Barra mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala. "Aku akan memberimu nafas buatan Baby." Barra mendekatkan wajahnya, hingga ia dapat merasakan deru nafas Lily yang wangi stawberry. "Menyingkirlah, jangan lecehkan aku pria gil*." Maki Lily yang tidak di respon oleh Barra. "Aahh.." Teriak Lily Bersambung Woey.. __iklan__ Netizen: ?tuh Lily teriak kenapa thor. Author: entah, gue pun nggak tau? Netizen: ?lah kan elu yang nulis thor. Author: tapi gue lupa apa yang akan terjadi sama mereka, habis pembacanya sikit. Netizen: dasar gile lu thor?pusing gue dapetin kang nulis gini? Author:au ah, kayanya mau di tamatin aja ceritanya, sepi bet. Netizen: sabar dong thor, ?gitu aja udah nyerah, Author: kasih love dan komen next yang bnyak dong, biar akunya semngat nulis dan gak cepet tamatin cerita ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD