"Ah." teriak Lily saat Barra menarik kakinya.
"Kau terkilir, jadi aku membantu mu."
Lily menepis tangan Barra. "Menyingkirlah." Lily berjalan ke luar kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Barra sambil menarik tangan Lily.
"Bukan urusanmu, penguntit sialan."
Barra geram dengan ucapan Lily, ia pun menarik paksa tubuh Lily dan membopongnya masuk kekamar, Barra menjatuhkan tubuh Lily di atas ranjang dan menindihnya.
Tubuh Lily gemetar, ia takut jika Barra akan nekat. "Kau mau apa?" Tanya Lily sambil menahan pergerakan tangan Barra.
Barra mengusap pipi Lily dengan ibu jarinya, dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya, tapi Barra kembali menyatukan pandangan mereka, kini tatapan mereka bersatu.
"Aku hanya merindukanmu." Jawab Barra dengan terus memandang Lily dan jemarinya ia mainkan di rambut panjang gadis itu.
Lily terdiam, menelan salivanya saja terasa sakit seperti menelan bongkahan batu, apalagi untuk mengeluarkan suara, ia benar-benar tidak mampu.
"Kenapa diam?" Tanya Barra sambil merubah posisi Lily menjadi di atasnya.
Posisi yang begitu dekat membuat Lily terasa sesak, hanya untuk bernafas saja terasa berat. "Lepaskan aku." Lirih Lily.
Barra tertawa, kemudian kembali membuat posisi Lily di bawahnya. "Di mana keberanianmu yang selalu mengumpatku?"
Lily mendorong tubuh Barra dan pria itu jatuh ke samping, dengan cepat Lily berdiri dan merapikan baju tidurnya yang berantakan.
Lily menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Apa tujuanmu selama ini menguntit ku? Dan menaruh kamera di setiap sudut ruanganku?"
Tampak pria itu tidak terlalu merespon pertanyaannya, ia malah memerjamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya di atas kasur empuk milik Lily.
"Ranjang ini terlalu kecil, tapi kita masih bisa melalukan yang lebih b*******h di atas sini." Ucap bara sambil menepuk-nepuk kasur Lily.
Lily bergidik ngeri, ia sudah cukup dewasa untuk mengerti kemana arah pembicaraan Barra, ia berjalan dengan cepat keluar kamar, tapi langkahnya seketika terhenti saat pintu kamarnya tiba-tiba tertutup, siapa lagi pelakunya jika bukan Barra.
"Kau mau kemana Baby?" Tanya Barra yang sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lily.
Lily meronta dan memukul tangan Barra. "Lepaskan aku, dasar pria brengs*k, lepaskan." Teriaknya sambil terus memukuli tangan Barra.
Barra membalikkan tubuh Lily menghadapnya, ia tersenyum tipis. "Bahkan setiap inch tubuh mu, aku sudah melihatnya setiap hari, saat kau menggosokkan sabun cair di setiap lekuk tubuh mu," bisik Barra di telinga Lily. "Ahh,, itu benar-benar membuatku tidak tahan." Imbuh Barra saat sudah merenggangkan kedekatan tubuhnya.
Tentu saja itu membuat tubuh Lily gemetar dan geram, "apa! Kau bahkan menaruh kamera di dalam kamar mandi ku?"
Lily memukul d**a bidang Barra dengan kuat, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan pria itu, Barra membopong tubuh Lily seperti karung beras, kemudian ia mempereratkan tindihan di tubuh Lily saat sudah di atas kasur.
Barra mengunci kedua tangann Lily di atas kepalanya, tentu saja gadis itu memberontak tidak terima dengan perlakuan Barra padanya.
"Jangan terlalu agresif My Lily, itu membuatku semakin gemas."
"Dasar penguntit gil*, lepaskan aku."
"Diam!" Bentak Barra dengan suara lantang, sontak membuat mata Lily berembun dan menjatuhkan butiran bening.
"Jika kau terus menangis, jangan salahkan aku jika aku berbuat semakin kasar pada mu."
Air mata Lily pun tiba-tiba terhenti, sepertinya Barra pun mampu mengendalikan air mata Lily, dengan cepat Lily menghentikan isak tangisnya.
"Kau cukup menuruti perkataanku jika kau ingin aku perlakukan dengan lembut, apa kau mengerti?" Lily dengan polos mengangguk.
"Buka mulut mu." Perintah Barra seperti tidak ingin ada penolakan.
"Untuk apa?"
"Aku tidak ingin mengulangi setiap perkataanku." Hardiknya penuh penekanan.
Dengan sedikit ragu Lily perlahan membuka bibirnya. Barra memasukkan sesuatu kedalam mulut Lily dan menutup bibir gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Telan, jika kau memuntahkannya, kau akan menanggung semua itu dengan lebih menyakitkan."
Lily menggelengkan kepalanya, menahan air mata yang akan terjatuh ke pipinya.
"Telan." Bentak Barra yang membara di keheningan malam.
Dengan terpaksa Lily menelan sesuatu yang entah apa itu,
Barra tersenyum dan bangun dari posisinya, ia mengambil segelas air putih dan meminumnya, mengarahkan bibirnya ke bibir Lily, awalnya wanita itu menolak, tapi lagi-lagi tatapan membunuh Barra membuat Lily tidak bisa berbuat apa pun.
Barra menaruh gelas itu di atas meja dekat ranjang, kemudian ia membuka bajunya.
"Kau mau apa?" Tanya Lily dengan suara seraknya.
"Ingin mandi, kenapa? Apa kau ingin mandi bersama ku?"
"Apa yang akan kau lakukan, pergilah dari sini."
"Emm,, aku ingin melakukan apa ya kira-kira, ahh,, aku rasa, melakukan apa pun itu tidak perlu meminta persetujuan dari mu." Ucap Barra yang kemudian pergi meninggalkan Lily.
Saat di ambang pintu kamar mandi Barra kembali membuka suaranya. "Jangan mencoba kabur, karna sampai ke ujung dunia pun aku dapat menemukanmu."
Tunggu beberapa menit lagi oh My Lily, setelah obat itu bereaksi, kau yang akan berlari kedalam pelukanku. Gumam Barra kemudian melanjutkan niatnya untuk mandi.
Lily menghembuskan nafas pasrah, karna memang benar ucapan dari Barra, entah sudah berapa kali ia pindah ke kota lain, tapi dengan hitungan jam Barra dapat menemukannya.
Semakin lama tubuh Lily semakin tidak nyaman, rasa panas menjulur ke seluruh tubuhnya, keringatnya mulai membasahi tubuhnya, Lily bangun dari posisinya, mencari sesuatu di dalam lacinya, tetapi ia tidak dapat menemukan obat pereda rasa panas yang terasa aneh di tubuhnya.
Lily berjalan menuju kulkas, ia mengambil botol berisi air dan menenggaknya habis, tapi rasa panas di tubuhnya tidak kunjung mereda.
Ia menempelkan keningnya ke pintu kulkas, Lily meneteskan air matanya, "apa yang kau berikan padaku penguntit sialan, apa tujuanmu melakukan ini kepadaku?" Lily tenggelam dalam isak tangisnya.
Rasa panas di tubuh Lily sedikit berkurang saat sesuatu menyentuhnya. Ia menoleh kesamping dan mendapati Barra yang hanya menggunakan handuk menutupi sebagian tubuhnya, dengan air yang menetes dari rambutnya dan mengalir di tubuh berototnya itu, membuat Lily menelan sudah.
"Apa kau membutuhkan aku untuk meredakan rasa sakit di tubuhmu?" Tanya Barra sambil tersenyum manis.
"Obat apa yang kau berikan pada ku?" Tanya Lily sambil memulihkan penglihatannya yang sedikit pudar.
Barra membantu Lily untuk berdiri, ia mengunci pergerakan Lily yang masih berdiri di depan lemari pendingin.
"Peluk aku, itu akan mengurangi panas di tubuhmu, dan kau akan merasakan sesuatu, dan meminta kenikmatan yang lebih." Bisik Barra ke daun telinga Lily.
Gadis itu menuruti ucapan Barra, karna percuma jika ia terus bernegosiasi dengan pria itu, pasti tidak akan menemukan titik temu.
Lily memeluk tubuh Barra dengan erat, Barra pun menggendong Lily seperti seorang Ayah yang menggendong anaknya, ia menidurkan tubuh Lily di atas ranjang dan Barra berada di atas tubuh Lily bertumpuan kedua lutut dan siku tangannya.
"Apa kau menginginkan ku?" Tanya Barra sambil terus membelai pipi Lily yang sudah memerah.
"Beri aku obat penawarnya." Pinta Lily dengan suara seraknya.
"Mintalah dengan lembut sayang."
Bersambung.
___iklan___
Netizen: obat apa sih thor yang Barra kasih ke Lily? ?
Author: obat perangsang?
Netizen: lo kok jahat sih thor,?pasti nanti ada adegan panasnya?gue demen yang ginian tho?
Author: bet dah?pikiran lu pada gitu amat.
Netizen:lah kan elu yang nyesatkan thor?
Author: tapi ini cerita buat umur 18++ loh ya?
Netizen: emang lu tau thor, kalo yang baca novel lo umurnya di atas 18.
Author: au ah?yang penting udah gue kasih tau?
Lanjut baca ya, jangan lupa kasih LIKE dan tinggalin komen NEXT, jangan lupa kasih LOVE????