Pingsan

786 Words
Lily membuang nafas kasar sebelum ia memulai perkataannya. "Barra." Lily memanggil dengan pelan, sosok pria yang sedang memunggunginya itu. Pria itu menoleh dan berdehem, kemudian kembali menyelesaikan aktivitasnya. "Apa tujuanmu menguntitku selama ini?" "Karna aku menginginkanmu." "Jika hanya itu alasanmu, kau bisa langsung menemuiku, tanpa harus menerorku dengan berbagai hadiah yang kau kirim." "Aku hanya ingin saja." Pria itu membawa dua piring nasi goreng, dan menyodorkan satu piring di hadapan Lily. "Aku ingin, dan sangat-sangat ingin memilikimu, tapi dulu aku belum ada keberanian untuk bertemu denganmu, dan sekarang, setelah aku memiliki semuanya, akan memilikimu seutuhnya dan manjakanmu dengan kejayaanku." "Cih... Kejayaanmu?" Lily tertawa. "Apa kau ingin menebus kesalahanmu tadi malam dengan merayuku atas apa yang kau miliki?" Barra mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya dan mengangguk. "Mungkin itu salah satunya." Imbuhnya. "Kau..." "Sudahlah, kau makan saja sarapanmu, untuk menyesalinya pun percuma, semalam kau juga menikmati, kita manusia normal, jadi wajar saja jika kita saling membutuhkan sesuatu yang seperti itu." Barra menyela ucapan Lily, dan menjelaskan pendapatnya yang menurutnya benar. Lily menggenggam erat sendok yang ia pegang. "Memang benar atas apa ucapanmu, tapi aku wanita baik-baik, tidak pantas melakukan itu jika belum menikah, aku mau melakukannya karna kau menjebakku." Jawab Lily dengan lantang dan penuh emosi. Barra menghentikan makannya, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Apa lagi yang kau sesali, sebelum kejadian tadi malam, aku sudah melihat setiap inch tubuhmu, kau kau mau, ayo kita menikah sekarang juga." Ada rasa malu dan amarah yang tergambar dari wajah Lily, gadis itu bangkit dari duduknya, dan masuk kedalam kamar. Lily menutup pintu kamar dengan kasar, perlahan ia merosot jatuh ke lantai bersandaran dengan pintu, tangis yang ia tahan membuat dadanya semakin sesak. Gedoran dari balik pintu ia abaikan, rasa malu dan marah menjadi satu, hidupnya benar-benar di kendalikan oleh pria yang merenggut kesuciannya tadi malam. Apa aku harus menyesalinya, apa yang sudah aku lakukan tadi malam, aku rasa menyesal pun percuma, karna semua itu tidak akan kembali seperti semula, apa ini takdirku, tidak memiliki keluarga dan berakhir hidup dengan menyedihkan. Ucapan dia semuanya benar, apa aku akan berakhir dalam genggamannya. Gumam Lily di sela tangisnya. Lily berjalan guntai menuju kasur yang menjadi saksi bisu perbuatannya tadi malam, terdapat bercak darah di sana. Lily terjatuh lemas. Barra yang sudah tudak tahan, akhirnya ia mendobrak pintu kamar Lily. "Lily." Teriaknya saat melihat wanita itu terlulai lemas di lantai. "Baby, kamu kenapa? Baby bangunlah." Barra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk menjemputnya di rumah Lily. ********** "Dok. Dokter. Tolong pacar saya Dok, cepat periksa dia." Teriak Barra sambil berlarian membopong Lily. Beberapa suster pun membantunya. "Anda tidak di perbolehkan masuk Tuan." Ucap salah satu suster, kemudian hilang di balik pintu yang tertutup. Barra mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk di salah satu kursi yang terdapat di depan ruangan pasien. "Lo apain tu cewek sampai pingsan gitu?" Tanya Rio yang baru saja tiba di sana. "Diem Lo." Jawab Barra cuek. "Baru berani ketemu aja langsung Lo buat pingsan, parah lo Bar." Ledek Rio sambil tersenyum. "Sekali lagi gue denger lo ngomong, gue potong entar tu lidah." "Huuuu.. Seremnya." Jawab Rio kembali meledek. Barra menatapnya dengan tatapan membunuh, membuat Rio tidak berani mengganggunya lagi. "Sorry, gitu aja marah." Ucapnya yang sudah duduk di samping Barra dan memegang lengan pria itu. Pintu ruangan Lily terbuka, terlihat Dokter dan suster keluar dari sana, dengan cepat Barra berdiri dan bertanya bagai mana keadaan wanitanya. "Tidak ada hal yang serius, pacar Tuan hanya kelelahan saja, sebaiknya jangan terlalu panjang menghabisi waktu bersama." Saran Dokter itu yang sedikit tersenyum dan menepuk pundak Barra, kemudian ia pergi meninggalkan pria yang terdiam itu. Setelah kepergian Dokter, Rio tidak bisa menahan tawanya, ia terus tertawa sampai memegangi perutnya. Plakkk Barra memukul kepala Rio. "Apa yang lucu?" Seperti kilat, tawa Rio langsung terhenti dan wajahhnya berubah serius. Barra memegang jemari Lily yang lemas. "Maafkan aku Baby, maafkan aku." Ia mengusap-usap puncak kepala wanita itu dan menaruh punggung tangan Lily di pipinya. "Kedepan aku tidak akan membuatmu seperti ini lagi, aku akan melakukannya dengan lembut." "Ck.. Ck.. Ternyata Bos hacker bisa bucin juga, keseringan nonton vidio porn* lo, jadi bucinnya tingkat maniak." Ledek Rio yang kemudia lari menutup pintu, ia takut jika tertangkap oleh Barra dan pasti akan membuat nyawanya melayang. Bersambung.. ___iklan___ Author: maaf up nya sikit?akunya lelah? Netizen: lama banget sih lu thor up nya?sekali up cuman sikit? Author: akunya mau lahiran, mikirin naskah mulu, bayi gue di dalam sana nendang-nendang terus? Netizen: ternyata authornya lagi bunting, pantesen encer banget ngarang cerita hauredangnya?? Author: buat kalian meleleh sendirikan?? Netizen: dosa thor, dosa? Author: heleh, padahal yg cerita ada begituannya yang kalian cari?? Netizen: au ah, yang penting bener? Author: lah kan?? Jangan lupa komen next✌
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD