Rutinitas

769 Words
Lily bangun cukup pagi, karna hari ini ia ingin mencuci baju dan beres-beres rumah, kelelahan berkerja sering membuatnya tidak sempat membereskan rumah. Suara musik dari speaker menemani pagi Lily, sesekali gadis itu mengikuti lirik lagu yang ia dengar. "Ah.. Terlalu banyak barang, jika terus begini bakal penuh ruangan ini dengan hadiah dari orang misterius itu." rutuk Lily saat menyusun semua hadiah yang ia dapatkan. Ranjangnya hampir di penuhi oleh boneka berbagai macam bentuk dan ukuran, ada yang tingginya seperti dirinya, kotak sepatu tersusun rapi di sudut lemari, hingga tingginya sama seperti tinggi lemari, paper bag berisi baju di setiap sudut, karna lemari Lily sudah tidak muat menampungnya, tas bermerek yang harganya mungkin ratusan juta tergeletak sembarangan, karna memang tidak ada tempat lagi untuk menyimpan barang-barang itu. Awalnya Lily sering membagikan hadiah itu kepada rekan kerjanya, tetapi ia terus mendapatkan berbagai teror, jadi mulai saat itu ia mengurungkan niatnya. Lily tengah asik mengepel lantai kamarnya, terdengar sebuah ketukan pintu di luar, Lily pun keluar untuk melihat siapa yang bertamu sepagi ini. Ceklek Lily memutar handle pintu, terlihat sosok wanita paruh baya berdiri di hadapannya sambil membawa tappaware berwarna kuning. "Ini buat kamu sarapan." "Apa ini Bi?" tanyanya dan menerima tappaware itu. "Ini sup rumput laut dengan daging sapi, bagus untuk kesehatan kamu, kamu butuh nutrisi yang banyak, agar semua pekerjaanmu tidak ada kendala." Lily tersenyum. "Makasih Bi, tau aja kalo pagi Lily jarang buat sarapan, Bibi memang yang terbaik." Lily memujii sambil mengacungkan jempol. Wanita itu tertawa. "Kamu masih apa?" "Ah.. Aku masih beres-beres ni Bi, ayo masuk dulu." Wanita itu pun masuk, Lily meletakkan pemberian wanita itu di atas meja makan sederhana, hanya terdapat dua kursi di sana. "Tambah banyak ya Ly barang-barang mu." "Emm.. Iya ni Bi, nggak tau siapa yang iseng selalu ngirimin Lily hadiah." "Dia penggemar mu yang misterius." ucap Bibi sambil meledek. "Bibi apaan sih, oya aku ada sesuatu buat Bibi." Lily mengambil sebuah paper bag coklat dan memberikannya kepada wanita paruh baya itu. "Apa ini Ly?" "Itu tas Bi, tasnya cukup mahal dan mewah, Lily nggak pantes pakai itu, jadi buat Bibi aja, Bibi kan suka keluar kota." "Tapi nggak apa-apa ni, nanti kamu dapet teror lagi." "Enggak apa Bi, Lily nggak akan open teror yang dia berikan." "Makasih ya Ly, kamu anak yang baik." "Iya, sama-sama Bi." "Yaudah kalau gitu Bibi pamit ya." Lily tersenyum dan kembali menutup pintu saat wanita paruh baya itu sudah pergi. Ya, wanita itu adalah pemilik rumah yang Lily tempati, namanya Fatma, tetapi Lily sering memanggilnya dengan sebutan Bibi. Lily sering di antar makanan, gadis itu sudah menganggap Fatma seperti keluarga, dan sering memberinya hadiah yang ia dapatkan, walaupun mendapat ancaman dari sang pemberi hadiah, tetapi Lily tidak takut, karna hadiah itu ia berikan kepada Fatma yang sudah di anggap keluarga. Fatma sering menolak, tetapi Lily tetap memaksanya. Lily melirik jam di dinding, terlihat jam menunjukkan pukul 07.20, Lily mempercepat sarapannya dan bergegas mandi. Setelah selesai dengan ritual mandi bebeknya, Lily membuka lemari baju, mengambil rok jeans selutut dan di padu padankan baju kemeja putih berlengan pendek, memakai make up tipis, dan hari ini ia memakai sepatu maroon hadiah yang tadi malam ia dapatkan. Lily sudah terbiasa dengan semua hal itu, karna sudah hampir tiga tahun ia menjalani hidup seperti ini, Lily sudah lima kali berpindah ke kota lain, dan menjual atau menyumbangkan hadiah yang ia dapatkan, tetapi tetap sama saja, orang misterius itu tetap dapat menemukannya dan melakukan hal yang sama, tanpa menunjukkan wujud aslinya. Lily mengambil benda pipih yang ada di dalam tasnya, "halo Yu." "Ly, Lo udah berangkat belum?" "Ini lagi mau berangkat." "Tolong Gue bisa nggak?" "Apaan?" "Tolong beliin Gue roti di sebrang jalan tempat biasa kita nongkrong, gue nggak sempat sarapan tadi pagi." "Oke." Sambungan telepon pun terputus, Lily berangkat kerja seperti biasa, menyusuri trotoal sambil mendengarkan alunan lagu favoritnya. "Kamu cantik Ly, jadilah wanita baik dan penurut, saat ini aku belum berani menunjukkan diriku di depanmu, jika sudah tiba waktunya, aku akan berusaha menunjukkan siapa penggemar miateriusmu ini." gumam pria yang menggunakan topi berdiri di samping halte. Bersambung. ___iklan___ Netizen: eh thor siapa sih pria misterius itu? Outhor: ?lu kalo mau tau tetap lanjut dong bacanya, jangan lupa tinggalin like, komen dan love? Netizen: etdah?gini amat ya author nya. Author: kan biar cerita gue terkenal? Netizen: ngarep bener lu jadi hiatus sih thor? Outhor: bet dah?biarin nape, buat gue bahagia dikit gitu? Netizen: awas aje lu thor, kalau udah gue kasih yang elu mau, trus ceritanya kaya di lebel ikan terbang? Author: makanya kasih dulu yang gue mau, biar otak gue encer buat mikir kelanjutannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD