Lily sedang mencuci piring di dapur khusus, malam ini adalah malam minggu, pengunjung di lestoran terlihat ramai, Lily dan Linda sampai kualahan.
"Ramai kali malam ini ya Ly." ujar Linda teman satu profesi dengan Lily.
"He'em Lin, rasanya mau patah ni tangan Gue."
"Nasip kita yang terlahir jadi orang kurang beruntung Ly."
"Jalani aja lah Lin, mau gemana lagi."
"Besok ke Mall SKY GRUB yuk Ly."
"Mau ngapain kesana Lin?"
"Jalan-jalan sambil beli sesuatu apa gitu."
"Gue nggak janji ya."
"Ayo dong Ly, sesekali pun, lagian besok kan kita udah gajian."
Lily tersenyum. "Yaudah, nanti kita pulang minta izin dulu sama Pak Agung, kalau besok kita nggak masuk."
"Asiappp." jawab Linda sambil gaya hormat.
"Tapi besok Gue ajakin si Ayu ya."
"Iya nggak apa-apa, makin rame kan makin seru."
"Yaudah yuk buruan kita siapin, biar cepet istirahat, capek banget Gue." ucap Lily dan di angguki oleh Linda.
*********
Lily melirik jam tangan yang ada di pergelangannya, gadis itu menghela nafas kasar. "Udah hampir jam satu Lin." ucap Lily yang duduk di kursi yang ada di dapur.
"Iya ni Ly, pegel semua badan Gue, nggak kaya biasanya."
"Yaudah kita pulang yuk." ajak Lily yang sudah mengambil tasnya di gantungan.
"Jam segini masih rame ya Ly." ujar Linda sambil menyamakan langkahnya dengan Lily.
"Iya, namanya juga kota nggak pernah tidur Lin." jawab Lily sambil menjilat es krim yang ada di tangannya.
Linda duduk di salah satu kursi yang ada di taman, gadis itu membuang nafas kasar. "Ah,, capeknya jadi orang miskin, udah kerja capek, pulang masih jalan kaki."
Lily ikut duduk di samping Linda. "Nggak boleh sering-sering ngeluh Lin, syukuri semua nikmat yang di kasih Tuhan."
Linda menatap Lily, gadis itu yang di tatap temannya tampak heran dan mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"
"Lo masih sering dapet hadiah dari orang misterius itu Ly."
Lily menjawab dengan exspresi malas. "Masih." kemudian ia menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku nggak tau apa tujuan dari orang itu, hampir tiga tahun aku hidup di penuhi bayang-bayangannya, terkadang aku membuang kado yang dia berikan, tetapi di hari yang sama di ngirim kado lebih banyak." imbuhnya panjang lebar.
"Eh Ly,"
Wanita itu yang di panggil namanya menoleh, menunggu kelanjutan perkataan temannya.
"Entar orang itu pria tua dan memiliki tujuan lain, Lo harus hati-hati."
Lily menaikkan bahunya, "entahlah, Gue males bahas itu, yuk kita pulang." ajak Lily yang sudah melangkahkan kakinya duluan.
Beberapa menit berjalan di trotoar, akhirnya Linda sampai di kostnya, tinggalah Lily yang berjalan sendirian sambil memainkan handphonenya.
Lily tengah asik mengecek sosial medianya, tanpa melihat jalan.
"Aauhh.." teriaknya kesakitan saat tersandung pinggiran aspal. "Lah handphone ku pakai acara rusak lagi." keluhnya saat melihat layar handphonenya yang pecah dan padam.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya seseorang yang mengulurkan tangan di depan Lily.
Lily mendongakkan pandangannya, tampak sosok pria berbadan tegab dan berkulit putih berdiri di depannya, pahatan di wajahnya yang terlihat sempurna, membuat Lily sejenak melamun.
"Hai." ucap pria itu kembali.
"Ah. Iya, aku nggak pa-pa." saat Lily ingin bangun, kakinya terasa sakit dan kembali terjatuh.
"Kaki kamu terkilir."
"Sepertinya begitu."
"Ayo saya antar, itu mobil ku." tunjuk pria itu ke arah mobil yang terparkir di pinggil jalan.
"Tidak usah, saya bisa jalan pelan-pelan, rumah saya pun sudah dekat."
"Tidak perlu sungkan, mari saya bantu." pria itu meraih tangan Lily dan memapahnya masuk kedalam mobil.
Dari kejauhan tampak seseorang di dalam mobil memukul setir berulang kali. "b******k, siapa pria itu, berani menyentuh wanita ku." rutuknya penuh emosi.
"Makasih ya udah nganterin saya pulang."
"Tidak perlu sungkan, saya hanya sekedar membantu, kalau begitu saya pamit."
"Iya." Lily tersenyum ramah, kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.
"Ahh.. Malam yang panjng, malam yang cukup melelahkan."
Lily merentangkan kedua tangannya di atas kasur, tidak selang lama ia pun terlelap, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
******
Jam pukul 03.30 dini hari, seseorang pria masuk kedalam rumah Lily, pria itu masuk sangat santai seperti rumahnya sendiri, ia berjalan menuju kamar Lily.
Handle pintu di putar secara pelan, terlihat wanita yang tidur meringkuk di atas ranjang.
Pria itu duduk di pinggir ranjang, menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik Lily. "kamu sangat cantik Ly." gumamnya sambil tersenyum.
Lily menggeliat dan akan jatuh ke lantai, dengan sigap pria itu menahan dengan tubuhnya, Lily pun terjatuh di atas tubuh pria itu.
Pria itu tampak susah mengatur nafas, detak jantungnya memburu, perlahan ia membenarkan posisinya dan menggendong Lily untuk kembali menidurkannya di ranjang.
Lily memeluk tubuh pria itu dengan erat, seperti sedang memeluk guling, pria itu tidak dapat bergerak dan ikut berbaring di ranjang yang kecil itu.
"Kau cukup menggemaskan sayang." ucapnya lirih sambil membalas pelukan Lily.
Pria itu terus mengecup kening Lily, rasanya ia tidak ingin berpisah, tetapi itu tidak mungkin baginya, karna saat ini ia belum siap.
Pria misterius itu meninggalkan Lily pukul 05.00 pagi. Sebelum pergi ia memeluk erat tubuh Lily dan mencium keningnya, kemudian mencium bibir ranum Lily dan meninggalkan cap kepemilikkannya di leher jenjang Lily.
Bersambung
___Iklan__
Netizen: oh thor, siapa sih pria misterius itu?
Author: au ah?aku pun nggak kenal?
Netizen: lah? lu gemana sih thor, buat tensi gue naik?
Author:kalau penasaran lanjut baca dong, tinggalin like dan komen, trus love yang banyak?
Netizen: bet dah?gue tunggu thor, awas aja kalau kelamaan?
Author:siap komandan?asalkan votenya di banyakin?