Keduanya membiarkan waktu berjalan tanpa kata lagi, udara sore yang berhembus melalui sela kaca jendela mobil membuat Ara mengeratkan pelukan di lengannya lalu menekan tombol di pintu mobil agar kacanya semakin rapat, ia merogoh clutch bag nya lagi mencari-cari sesuatu disana.
"Kau mencari sesuatu?"
"Eung ... vitamin milikku." Ara tampak sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa menatap Jae Hwan.
"Vitamin?"
"Ginseng merah." Ara menjelaskan sambil tangannya tetap mencari sampai ke saku mantelnya.
"Aahh ... kita berhenti di depan, kau bisa membelinya lagi!" Ara menyetujuinya ia tidak membantah saran dari pria itu.
Ara dan Jae Hwan kembali ke mobil setelah 10 menit, ia tidak hanya membeli vitaminnya namun juga satu tas belanja penuh cemilan, Pria itu tidak menggerutu seperti dahulu ketika melihat Ara membeli cemilan yang kadang tidak ia makan dan sampai kedaluwarsa di dalam kulkas ia bahkan terlihat senang bahwa ia pernah memiliki hari menyenangkan dengan berdebat bersama gadis itu tentang hal sepele.
"Kau mau makan sesuatu yang hangat sebelum pulang?" Jae Hwan menawarinya untuk mampir di sebuah kedai seolleongtang (sup tulang sapi).
"Kull (setuju)!" gadis itu bahkan terlihat antusias membuat Jae Hwan tersenyum. Lagi. Pria itu memang lebih banyak tersenyum akhir-akhir ini.
Kedai itu ramai tapi untungnya mereka bisa mendapat tempat duduk, tak lama seorang pelayan menghampiri keduanya ia seorang wanita paruh baya dengan celemek berwarna merah.
"Dua seolleongtang." Jae Hwan memesan tanpa perlu Ara beritahu lagi.
"Ahh ahjumma (bibi) aku juga ingin kimbab dan soju." Ara tersenyum pada Jae Hwan sebab tanpa ijin menambah pesanannya.
"Kau tidak boleh mabuk, aku tidak mau melihatmu tidak bekerja besok!" Jae Hwan menasihati gadis itu sambil menatap ke samping menghindari bertatapan langsung dengan Ara.
"Tentu saja, aku hanya menghangatkan tubuh dengan sebotol saja. Janji!" gadis itu mengacungkan dua jarinya agar Jae Hwan percaya.
"Baiklah!"
Tidak ada seorang bos yang ikut campur urusan pribadi bawahannya seperti Jae Hwan dan Ara tanpa keduanya sadari obrolan mereka terdengar begitu akrab dan protektif.
Satu jam kemudian, Ara malah sudah menghabiskan 2 botol soju. Jae Hwan hanya memandangnya tidak habis pikir. Lupakan soal janji gadis itu bahkan hampir saja mengangkat tangannya lagi untuk memesan kalau saja tidak di tahan oleh Jae Hwan.
Jae Hwan di buat kesal juga dengan pandangan beberapa lelaki pada gadis yang bekerja sebagai sekretarisnya itu, ia memang memakai rok yang pendek dan harus semua orang akui gadisnya terlalu cantik.
"Kau benar-benar." Jae Hwan tampak sedikit geram, "kita pulang sekarang!"
pria itu berdiri dari kursinya dan berniat membantu Ara bangun.
"Sebentar lagi. Aku ingin melihatmu sebentar lagi." Ara bergumam, hampir tidak terdengar oleh Jae Hwan tapi masih bisa ia cerna dengan baik. Lelaki itu tertegun, dalam hatinya terasa seperti akan ada harapan gadis itu melupakan masa lalu mereka. Juga luka yang Jae Hwan berikan. Hari seperti itu akhirnya datang.
"Ara-ya." Ucap Jae Hwan setelah lama terdiam memandangi gadis itu tanpa bosan melupakan keinginannya untuk menarik Ara pulang.
"Hajima (jangan) ...."
"Ne?"
"Jangan memanggilku seperti itu, kau membuatku mengingat dirmu."
"Aku tidak tahan denganmu, semua yang kau lakukan sampai hari ini aku tidak bisa membencimu,"
"Ku pikir sudah, tapi melihatmu lagi. Aku salah,"
"Aku hanya ingin melupakanmu, menjauh sebisa mungkin sebab aku tidak sanggup seandainya kau mengulangi hal yang sama." Matanya berkaca, lelaki itu tidak pernah melihatnya begini lagi ia membiarkannya mengeluarkan semua perasaan itu agar Ara bisa melihatnya sebagai seseorang yang baru.
"Ara-ya, kau mau memulainya lagi dari awal?" gadis itu tidak menjawab ia hanya memandang Jae Hwan yang duduk di seberang mejanya, ada jejak air mata di pipi gadis itu dengan pipi memerah karena alkohol juga karena pria di hadapannya.
"Aku tidak meminta persetujuan mu tapi bersiaplah!"
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
**
Ara tidak menepati janji yang ia buat dan malah mabuk sampai tidak sadarkan diri batasnya memang hanya 2 botol saja setahu Jae Hwan dan itu sudah lebih dari seharusnya jadi pantas jika ia sampai seperti itu.
Jae Hwan menggendong Ara ketika mereka turun dari mobil, Ara merasakan sedikit getaran ketika mereka menaiki lift namun otaknya tidak dapat merespon dengan baik.
Pelayan menyambut Jae Hwan di sana seorang ahjumma yang Ara kenal tersenyum hampir seperti terkejut, gadis itu juga samar-samar melihat ruangan yang ia masuki, kamar dengan cat berwarna grey dan tempat tidur ukuran king size dengan sprei putih ada sebuah tulisan di dindingnya yang samar namun tidak terbaca jelas sebab pandangan gadis itu sudah kabur namun rasa-rasanya ia pernah ke tempat itu.
"Kau membawaku kesini?" Ara tersadar ini bukan kamarnya namun ia tahu sekarang tengah berada dimana.
"Eung, aku tidak akan mengganggumu. Kau istirahat saja." Ara tidak membantah, kepalanya pusing dan terasa berputar ia butuh tidur.
Gadis itu terbangun dengan perasaan lebih baik, ia memandang sekeliling dan ingat bahwa semalam ia tidur di kamar lelaki itu. Kamar mereka dulu. Ruangan yang masih sama, ada tv berukuran 50 inchi yang biasa mereka gunakan untuk menonton film sambil berbaring dan mengunyah cemilan juga meja rias berwarna putih milik Ara yang sempat di perdebatkan Jae Hwan karena lelaki itu tidak suka, Ara tiba-tiba tersenyum mengingatnya.
Lampu tidurnya pun masih sama, Ara ingat sebab ia yang membelinya. Ia menoleh dan terkejut tulisan di dinding yang gadis itu kenali
'love is just a word. until someone arrive's to give it meaning - Paulo Coelho'
Ara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air matanya mengalir di antara sela jemarinya, ia terisak seketika semua hal melintas di pikirannya kenangan tentang mereka dulu semua hal yang indah tidak pernah bisa Ara lupakan, bahkan kesalahan Jae Hwan yang membuat mereka berpisah terasa seperti bukan apa-apa. Ara rindu, ia tidak bisa berbohong mengatakan bahwa ia membenci lelaki itu dalam hatinya ia rindu.
Jae Hwan terbangun mendapati Ara menangis memeluk lututnya membuat lelaki itu seketika terperanjat menghampiri gadisnya.
"Kau baik-baik saja?" Jae Hwan mengusap puncak kepala gadis itu tanpa tahu apa-apa, menariknya mendekat untuk ia peluk. Jae Hwan sedikit terkejut sebab Ara tidak menolak.
"Mianhae (maafkan aku)." Ucap Ara di sela tangisnya.
"Gwenchanha, nado mianhaeso (tidak apa-apa, maafkan aku juga)."
Ara sebenarnya tahu kejadian 3 tahun lalu bukan sepenuhnya salah Jae Hwan, seorang wanita yang tidak ia kenal itu hanya mengambil kesempatan saat Jae Hwan mabuk namun gadis itu tidak cukup dewasa untuk memaafkan, ia menutup telinga bahkan ketika semua orang menjelaskan situasinya pada Ara. Ara hanya peduli pada apa yang ia lihat. Juga patah hati yang di timbulkan.
Namun kini ia sadar, ia membuat keputusan yang salah dengan melepaskan Jae Hwan membuat mereka hancur dengan cara masing-masing.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Jae Hwan semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
Ara kemudian mengangkat wajahnya memandang lelaki yang ia rindukan 3 tahun belakangan, menangkup pipi lelaki itu dengan telapak tangannya seperti dulu lagi dan entah siapa yang memulai lebih dulu kini bibir mereka sudah menyatu. Ada rindu di sana, Jae Hwan merindukan bibir lembut gadisnya setelah sekian lama.