Ara tengah menyiapkan sarapan paginya, telur gulung, nasi hangat, dan semangkuk penuh sundubu jjigae. Ya, gadis itu perlu menghangatkan tubuhnya dengan makanan yang hangat dan sedikit pedas meskipun ini terlalu pagi untuk lambungnya menerima sesuatu yang pedas tapi ia lebih peduli dengan fakta bahwa ia tidak akan bisa menjalani harinya di tengah musim dingin tanpa makanan seperti itu.
Ara masih punya waktu setengah jam sebelum masuk kantor, ia mengambil mantel cokelat milik Jae Hwan, ya milik lelaki itu. Lalu membuka satu sachet stik berwarna merah dan hitam yang berisi ekstrak ginseng merah menggigitnya di mulut dan sedikit demi sedikit menyesapnya, rasanya terlalu pedas dan kuat namun Ara harus membiasakan diri sekali lagi ini karena ia tidak ingin sakit seperti kemarin dan menyusahkan semua orang meskipun dulu ia akan menolak bagaimanapun ia di paksa meminumnya.
"Aku tidak tahu kau mulai menyukai ginseng merah?" tiba-tiba Jae Hwan menghampirinya ketika ia menunggu lift di lobby.
"Ahh sajangnim." Ara mengambil stik ginseng merah di mulutnya dan sedikit membungkuk, Jae Hwan hanya tersenyum melihat tingkah Ara.
"Aku tidak mau sakit lagi dan menyusahkan semua orang." Lanjut Ara dan Jae Hwan hanya memandangnya sambil tersenyum menatap sesuatu yang di gigit dengan bibirnya.
"Anda juga mau?" Ara merogoh clutch nya dan menyodorkan satu stik yang sama pada Jae Hwan.
"Gomawoyo Ara-ya!" lelaki itu lalu membukanya dan menghisap isinya sampai hampir habis dalam satu kali teguk.
"Wahhh aku bahkan butuh waktu lama untuk menghabiskannya." Ara takjub.
Ini hal baru yang Ara ketahui tentang Jae Hwan karena seingatnya dulu Jae Hwan tidak pernah meminum suplemen seperti itu.
"Kau harus menghabiskannya dalam sekali minum supaya tidak berlama-lama menikmati rasa pahitnya."
Ara tertegun, ia tidak mengerti tapi itu terdengar seperti Ara tidak boleh berlama-lama larut dalam rasa pahit dalam hatinya. Ia kemudian tersenyum skeptis dan menyadarkan dirinya sendiri.
"Ahh dan satu lagi, kau bisa berbicara banmal (non formal) denganku saat kita berdua, seperti dulu." Jae Hwan lalu masuk ke lift terlebih dulu meninggalkan Ara yang terpaku disana, kemudian lelaki itu memberi isyarat dengan matanya untuk Ara juga ikut masuk
Ara mengikuti saja tanpa berkata lagi.
Pria itu memandangi Ara terus menerus dari dalam ruangannya, ia senang memilih interior dengan one way mirrored glass di sekeliling ruangannya sebab ia bisa puas menatap keluar tanpa disadari oleh orang lain. Gadisnya tengah sibuk dengan beberapa panggilan telepon dan mencatat beberapa hal sementara Kang Sol tengah pergi keluar untuk mengurus beberapa schedule.
"Ara ssi, kau terlihat sibuk?" Calvin datang dengan membawa sebuah map di tangannya.
"Eung, aku meninggalkan banyak pekerjaan karena kemarin terkena flu." Gadis itu menjawab setelah selesai dengan pembicaraannya di telepon.
"Kau mau bertemu sajangnim?"
"Tidak, kau harus memeriksa ini dulu dan meminta tanda tangannya untukku." Calvin menyerahkan sebuah map berwarna merah.
"Ahh benar ... Aku akan memeriksanya setelah ini. Gomawoyo Calvin ssi!"
"Yaaa, sekali kali kita harus berbicara bahasa indonesia supaya tidak ada orang yang mengerti." Calvin berbisik di depan Ara tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang memandang kesal ke arah keduanya.
Ara lalu tertawa renyah, tawa yang Jae Hwan rindukan sebab setiap kali melihat dan mendengarnya ia selalu ingin ikut tertawa, itu menular.
"Oke, nanti kita ngomong bahasa indonesia ya!" Ara berbicara dalam bahasa ibu dan tertawa lagi ia sudah lama tidak melakukannya kecuali ketika berbicara di telepon dengan keluarganya di sana.
triiiinnngggg triiiiinnnnnggggg
telepon berbunyi Ara dan Calvin menghentikan tawanya seketika, mereka tahu itu pasti dari ruangan berdinding kaca di depannya, keduanya saling menatap sebelum akhirnya Ara mengangkat dering panggilan tersebut.
"Kau ke ruanganku sekarang!"
Ara bahkan belum mengucapkan apapun ketika panggilan terputus, ia bisa mendengar sedikit nada marah dalam suara Jae Hwan.
'Ahh apalagi ini,' batin gadis itu sambil melangkah masuk.
Ara keluar dari ruangan Jae Hwan setelah 15 menit berdiri disana tanpa tujuan yang jelas, gadis itu tidak paham betul apa mau atasannya tersebut. Jae Hwan hanya terdiam kemudian menanyakan pekerjaan yang bahkan Ara sudah serahkan, setelah itu hanya Ara yang menonton bosnya bekerja dengan komputer di depannya ia merasa sangat kesal dan ingin marah dan kakinya juga pegal berdiri mematung namun matanya malah di manjakan dengan adanya Jae Hwan disana tanpa sadar gadis itu terpaku pada sosok tersebut, ia kemudian mengerjapkan mata tidak ingin terus berlarut dalam pusaran masa lalu.
Ara mengurut kakinya yang sedikit pegal karena terlalu lama berdiri lalu bersandar di kursi kerjanya yang nyaman, ia menyadari Kang Sol belum juga kembali padahal jam kerja mereka hampir usai, Ara melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 4 sore kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Lagi-lagi Jae Hwan memperhatikan dari dalam, entah kenapa ia kesal melihat gadis itu tertawa dengan seseorang di telepon dan tanpa sadar menekan tombol extension dan kembali telepon di meja Ara berbunyi, ia memandang kesal ke arah ruangan bosnya.
"Ne sajangnim?" ucap Ara ketika sampai di ruangan bosnya.
"Kau tahu ini masih jam kerja?"
"Aku tidak suka melihatmu bercanda atau berbicara dengan orang lain saat pekerjaanmu belum selesai."
"Ahh joesonghamnida sajangnim (maafkan saya pak Direktur), tapi saya hanya bertanya apa Kang Sol ssi butuh bantuan karena ia belum juga kembali."
Jae Hwan tersenyum tipis mendengar jawaban Ara, ia juga menjadi sedikit salah tingkah karena sudah kesal tidak jelas pada gadis itu.
"Eung, kau bisa kembali ke mejamu." Tanpa basa basi lagi Ara langsung membungkuk dan keluar dari ruangan tersebut ia benar-benar lelah harus di bolak balik ke ruangan bosnya berkali kali tanpa tujuan yang jelas.
"Sekali lagi, dan aku akan marah!" ucapnya kesal memberi peringatan pada batas kesabarannya sendiri.
Tepat pukul 5 ketika ia mengambil clutch bag nya dan berniat untuk pulang namun lagi-lagi telepon sialan itu berbunyi. Ara mengumpat. Ia tidak mengangkatnya dan langsung pergi ke ruangan bosnya tanpa permisi.
"Aaahhh wae?"
"Jam kerja ku sudah usai dan kau masih ingin memanggilku?"
"Sekarang apa? semua pekerjaan hari ini sudah selesai, aku juga sudah mencatat apa yang harus di follow up besok, semua schedule mu sudah aku atur dan manage bersama Kang Sol ssi."
"Apa lagi?"
Jae Hwan hanya memandang Ara sambil menahan tawa, ia benar-benar kembali menjadi Ara nya yang dulu
"Kau suka sekali mengoceh Ara ssi." Ia masih menahan senyumnya sementara Ara sudah memasang wajah kesal.
"Aku akan mengantarmu pulang, cuaca semakin dingin kau tidak boleh sakit. LAGI!" Jae Hwan memberi penekanan pada kata terakhirnya seolah itu adalah peringatan.
"Tidak perlu, saya bisa naik bus."
"Aku bukan sengaja ingin mengantarmu pulang, tapi kita searah kan."
"Kau tidak sedang menghindari ku bukan?"
Ara tidak bisa membantah lagi, ia tahu Jae Hwan lelaki itu meski lembut dalam berucap tapi ia tidak suka di tolak.
Ara akhirnya duduk di samping Jae Hwan dengan canggung, lalu ponselnya berbunyi panggilan masuk dari Calvin.
"Hey!"
"Sorry, aku balik duluan. Aku janji besok deh!"
"Ohh dahh."
Ara menutup teleponnya sambil sedikit tersenyum, Jae Hwan kesal karena ia tidak paham apa yang Ara bicarakan dengan Calvin ia hanya mengerti bahwa gadis itu memiliki janji selebihnya Jae Hwan tidak mau menerka dan ia terlanjur cemburu meski tidak ingin diakuinya.
"Ini Korea, berbicaralah dengan bahasa yang orang lain mengerti!"
"Wae?"
"Aku memang tidak ingin ada yang tahu apa yang kami bicarakan."
"Lagi pula, aku pernah mengajarimu sedikit. Ahh tapi itu sudah lama sekali kau pasti lupa." Ucap Ara sambil mengibaskan tangannya.
"Aku tidak pernah lupa apapun yang berhubungan denganmu."
Jae Hwan dan Ara saling menatap tiba-tiba karena lelaki itu mengatakan hal yang seharusnya tidak ia mulai sebab cerita itu tanpa akhir meski Ara ingin semua berakhir. Ara tidak bisa mengingatnya lagi. Ia tidak ingin.