I Can't Without You.

1152 Words
Musim gugur hampir berakhir, cuaca sudah mulai mendingin dalam beberapa hari salju pun diperkirakan akan turun, orang-orang juga sudah mulai menggunakan mantel begitupun Ara meski ini tahun ketujuhnya berada di Korea ia masih saja merasa kesulitan menghadapi cuaca disana, pagi ini ia sedikit flu tangannya pun sudah ditutupi sarung tangan sebab ia merasa sedikit menggigil, awalnya gadis itu berniat tidak pergi ke kantor tapi ia tidak mau merepotkan Kang Sol dengan memberinya pekerjaan ekstra padahal ia juga hanya seorang pegawai baru. Gadis itu masih sempat menggerutu ditengah kondisinya tentang bagaimana ia belum menikmati musim gugur sebab sangat sibuk dengan pekerjaannya, benar-benar dibuat sibuk. Meski ia amat sangat menikmatinya. "Kau sakit?" tanya Kang Sol setibanya Ara di sana, ia melihat wajah Ara yang memerah. "Euumm." Ucap gadis itu dengan sedikit mengangguk setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi. "Hari ini kita akan sangat sibuk sebab sajangnim memiliki banyak schedule, kau yakin bisa mengerjakannya?" Kang Sol terlihat sedikit khawatir, ia menatap Ara sebentar sebab gadis itu tak kunjung menjawabnya. "Ini hanya flu biasa, aku akan minum obat kau tak perlu khawatir." Ara menggosok hidungnya dengan telunjuk karena sedikit kesulitan bernafas. "Baiklah." Meski begitu Kang Sol tetap tidak yakin. Namun ternyata benar dugaan Kang Sol apa yang Ara ucapkan hanya untuk menenangkan kekhawatiran Kang Sol saja ia bahkan tak sempat makan siang sebab tugasnya yang masih banyak, matanya terasa perih membuat Ara lebih lambat mengerjakan satu laporan saja. Ia sudah tidak tahan lagi, gadis itu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju toilet dengan terus memegang kepalanya sampai disana ia membasuh muka dan matanya yang mulai berair, ia berharap tubuhnya kembali normal jika di siram air dingin namun ternyata nihil, teorinya itu salah. Ia mengucapkan kata-kata untuk menguatkan diri bahwa sebentar lagi jam kerjanya akan usai. Gadis itu memang selalu begitu setiap kali musim dingin datang apalagi ketika puncaknya di bulan januari nanti ia akan sulit untuk bangun dari tempat tidur karena menggigil dan demam meski penghangat ruangan sudah di nyalakan nyatanya itu tidak banyak membantu, dulu saat ia masih bersama Jae Hwan ia tidak banyak khawatir sebab lelaki itu beserta bibi yang bekerja di apartemen akan membantunya namun 3 tahun terakhir ia mengalami hari yang benar-benar sulit. "Aneh, bahkan urusan musim saja mengingatkanku padanya." Ia bergumam sendiri sambil menatap cermin di wastafel, hidungnya mulai berair kemudian ia menarik selembar tissue dan mengusapkannya ke bagian tersebut lalu pergi dari sana dengan langkah gontai. "Kau sudah serahkan laporan keuangan tadi pagi?" tanya Kang Sol ketika Ara kembali duduk di kursinya. "Astaga, aku benar-benar melupakannya!" Ara kemudian mencari-cari sebuah map berwarna merah di laci kerjanya setelah benda di temukan kemudian ia membawanya ke ruangan Jae Hwan sementara Kang Sol hanya menatapnya khawatir. "Kau baik-baik saja?" kali ini Jae Hwan yang bertanya sebab ia tahu Ara selalu tidak kuat dengan cuaca dingin namun Jae Hwan tidak mendapat jawaban, Ara kemudian meraba-raba kursi di dekatnya badannya mulai limbung dan pandangannya kabur, ia mencari pegangan untuk berdiri namun tubuhnya sudah benar-benar tidak kuat. Jae Hwan terlihat sedikit panik ia membaringkan Ara di sofa, dan Ara tidak menolak gadis itu demam badannya juga panas ia sudah berniat membawa Ara ke rumah sakit namun kali ini gadis itu menolak. "Jangan berlebihan, biarkan aku berbaring sebentar saja." Ia menahan tangan Jae Hwan yang tengah memegang ponsel. "Baiklah, kau butuh apa?" "15 menit saja, lalu aku ingin makan setelah itu." Ara sedikit tersenyum di tengah kondisinya, benar-benar gadis yang Jae Hwan kenal dahulu meski dalam keadaan apapun ia tetap ceria gadis yang bahkan tawanya menular. Jae Hwan menyukai caranya. "Kau, membuatku tidak tahan lagi!!" ** "Kau membuatku tidak tahan lagi!!" Jae Hwan menatap Ara namun gadis itu sudah memejamkan matanya ia mengusap rambut cokelat gadis itu wangi shampo yang ia kenal menguar dari sana, gadisnya tidak banyak berubah. Jae Hwan tetap disana menikmati 15 menit yang ia miliki dan berharap Ara tidak tahu bahwa pria itu sudah melewati batas dengan memandang gadis itu lebih dari seharusnya. Jae Hwan menaikan suhu ruangan agar gadisnya merasa lebih hangat ia juga meminta Kang Sol membeli samgyetang (sup ayam ginseng) yang biasa Ara nikmati saat kondisinya seperti ini. Sekertaris nya itu tidak bertanya apapun ia mulai paham apa yang terjadi antara Ara dan atasannya dan ia tidak mau ikut campur. Ara bangun ketika jam kerjanya habis atau lebih tepatnya satu jam kemudian ketika ia mulai mencium aroma ginseng yang kuat rasa laparnya muncul, Jae Hwan tidak ada disana gadis itu melirik sekeliling ruangan dan tidak mendapatinya, ia mengambil sendok di samping mangkuk samgyetang nya dan mulai mengambil satu sendok besar "Waahhhh masshiseoyo (ini benar-benar enak)!" mata gadis itu melebar, ia tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya ketika makanan enak itu melewati lidah dan tenggorokannya. "Kau menyukainya?" Ara terkejut hingga tersedak karena Jae Hwan datang tiba-tiba. "Pelan-pelan!" ucap pria itu dengan sedikit khawatir. "Eung." Ara menjadi salah tingkah dengan sendok yang masih menempel di mulutnya tanpa sadar ia seperti dipergoki melakukan hal memalukan meskipun tidak begitu. "Aku akan mengantarmu pulang, jam kerjamu juga sudah habis." Ucap Jae Hwan sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Kau ... astaga kau tidak membangunkan ku?" "Ahh maafkan aku sajangnim maksudku bukan begitu." "Kaja (ayo pergi)!" Jae Hwan hanya tersenyum sambil merapikan dasinya lalu memberikan Ara mantel miliknya, Ara tidak menolak namun gadis itu menyadari mantel yang digunakan Jae Hwan adalah pemberian darinya dulu, ia menatap Jae Hwan yang berjalan lebih dulu tiba-tiba perasaan hangat menghampirinya. Ara menggeleng berusaha menyadarkan dirinya bahwa kewaspadaannya terhadap lelaki itu tidak boleh menurun. Ara tidak boleh begini. Ia tiba di apartemennya setelah diantar Jae Hwan, untungnya seorang atasan yang mengantarnya pulang tidak menyebabkan keributan di antara karyawan lain sebab mereka pasti mengira itu hanya sebatas urusan kerja. Ara menjadi lebih lega. Ponselnya berbunyi sebuah pesan masuk dari Kang Sol yang menanyakan kondisinya, kemudian ia membalasnya dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ara berbaring di tempat tidurnya yang hangat mantel yang Jae Hwan berikan tergantung di depan lemari, mantel berwarna cokelat sepanjang lutut itu membuatnya mengenang satu hari dengan Jae Hwan ia teringat ketika hari itu mereka tengah berjalan-jalan di dongdaemun street sambil menikmati satu cup besar gelato, Ara melihat mantel bulu tersebut dan langsung menyukainya ia memaksa Jae Hwan mencobanya padahal saat itu musim panas. "Ara-ya musim dingin masih sangat lama, kita bisa membelinya di tempat lain. Eung!" "Yaaaa, aku ingin membelikannya untukmu, coba berbalik aku ingin melihatnya." Jae Hwan lalu berbalik dan memutar meski dengan sedikit terpaksa ia tidak mau melihat Ara kesal. "Ahhjussi aku akan membelinya," "Kau tahu harganya tidak seberapa tapi aku membelinya dengan uang dari hasil kerja part time." "Kau tidak perlu melakukannya, tapi karena ini milikku jadi aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Jae Hwan sambil menerima mantelnya yang telah di bungkus. "Gomawo Ara-ya." Jae Hwan kemudian memeluk Ara dan mencium puncak kepala gadis itu. "Yaaaa, lepaskan aku semua orang menatap kita!" Wajah gadis itu memerah, ia malu karena dipandangi beberapa orang yang lewat, "Waeee?" Jae Hwan malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Ara tersenyum dengan tingkah kekasihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD