Kenyataan Pahit

1994 Words
Kia terus duduk di ruang tamu menunggu kedatangan suaminya, tapi sepertinya tak ada tanda jika suaminya itu akan pulang malam ini. Kia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, melihat kamar pengantin yang sudah dihias. Entah siapa yang melakukan itu semua, tapi ia yakin semua itu bukanlah suaminya. Walaupun pernikahan ini karena perjodohan dan tanpa cinta, tetap saja Kia merasa ada yang perih di hatinya menerima kenyataan ia harus mengalami semua ini. Seharusnya ini adalah hari bahagianya, tapi semua itu seperti hanya impiannya saja. "Bunga ini sangat indah, sangat disayangkan berada di kamar pengantin yang salah, semua ini tak ada gunanya di kamar ini," gumamnya menatap kelopak bunga warna yang menghiasi kamar pengantin mereka. Ia pun membereskan semua kelopak bunga itu kemudian menyimpannya di sudut ruangan, mengambil selimut lain dan ia pun mencoba untuk tidur. Walau Ziko bersikap dingin dan tak menganggapnya ada, ia berjanji dalam hati akan membuat Ziko melihatnya sebagai seorang istri, mencintainya dan menganggapnya ada. Ia tak akan menyerah untuk mempertahankan pernikahan mereka. Sementara itu Ziko mengantar Kiran kembali ke Apartemen setelah menikmati pesta dan berjalan-jalan dengan mobil barunya. "Kamu mau ke mana? Malam ini menginap di sini saja ya," pinta Kiran memainkan kancing baju Ziko "Terima kasih tawarannya, tapi aku akan menginap di sini saat sudah menjadi suamimu, untuk saat ini bersabarlah," ucap Ziko menarik pinggang Kiran kemudian mengucap singkat bibirnya. "Aku tak masalah jika kau menginap malam ini," ucap Kiran lagi dengan bernada merayu mengalungkan tangannya di leher Ziko. Ziko melepas tangan Kiran, "Aku akan terus menghormati hubungan kita, aku sangat mencintaimu. Aku pulang dulu kita bertemu lain waktu, jangan terlalu sibuk aku akan terus menunggu sampai kau mau mengatakan iya untuk menjadi istriku. Sekali lagi selamat ulang tahun, aku pulang dulu," ucap Ziko berlalu pergi meninggalkan Apartemen Kiran. Kiran menghentakkan kakinya dia sangat kesal saat Ziko lagi-lagi menolaknya, "Apa salahnya sih menginap di sini tak usah berlaga jual mahal terus," kesal Kiran membanting pintu Apartemennya meluapkan kekesalannya. Ziko selalu mengutarakan niatnya untuk menikah. Namun, Kiran terus menolak dengan alasan masih ingin berkarir dan tak mau jika karirnya sampai hancur karena pernikahan mereka. Ziko yang sudah sampai di Apartemennya terlihat begitu senang telah menghabiskan waktu dengan Kiran, Ia bersiul sambil terus berjalan masuk. Namun, langkahnya berhenti saat melihat alas kaki Kia di depan pintu. Ziko baru mengingat jika ia sudah menikah dan ada Kia di Apartemennya saat ini. Ziko membuka kamarnya, di mana kamar itu telah diberikan kepada Kia. "Sepertinya dia sudah tidur, syukurlah dia tak menungguku." Ziko kembali ingin menutup pintunya. Namun, saat ingin menutup pintu ia melihat tumpukan kelopak bunga mawar di sudut kamar itu. "Pasti ibu yang melakukannya," ucap kembali menutup pintunya kemudian ia pergi ke kamar lainnya. Hari ini sangat berat baginya, ia menikah dengan orang yang tak dicintainya dan menunggu orang yang dicintainya menerima lamarannya. Pagi hari Ziko terbangun saat mencium aroma masakan dari luar, dia pun berjalan gontai membuka pintu kamar dan melihat Kia yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Ziko menghampiri Kia dengan muka bantalnya, melihat makanan yang sudah tersaji di meja makan yang terlihat sangat menggiurkan. "Apa kau yang memasak semua ini?" tanyanya yang mulai mencicipi makanan yang ada di meja makan. "Iya, ini semua aku yang buat. Maaf ya aku tak terlalu pandai memasak," jawab Kia yang masih terus merapikan meja makan. "Rasanya sangat enak, aku suka," ucap Ziko kemudian Ia pun duduk dan dengan sikap Kia mengambil piring menyendokkan nasi dan meletakkannya di depan Ziko. Kia tersenyum melihat Ziko makan dengan lahap masakan yang dibuatnya. Kia yang tadinya ragu untuk memasak untuk suami takut jika masakannya tak sesuai seleranya merasa bahagia melihat Ziko yang menghabiskan makanannya. "Hari ini aku akan pergi bekerja dan kembali pulang Saat tengah malam, jika kau mau kau bisa pergi ke rumah ibu." "Nggak usah, Mas. Aku tunggu di rumah aja," jawab Kia. "Baiklah jika itu yang kau mau," ucap Ziko beranjak dari duduknya, ia sudah selesai makan. "Oh ya. Apa kau bisa memindahkan barang-barangku ke kamarku?" ucap Ziko menatap Kia. Kia hanya mengangguk samar, 'Apakah kami benar-benar akan berpisah kamar," batinnya. Melihat anggukan dari Kia, Ziko pun kembali berjalan masuk ke kamar yang sudah diberikan oleh Kia, semua pakaiannya masih ada di sana. Kia menghela nafas berat, "Sepertinya aku harus lebih giat lagi mengambil hati suamiku, aku yakin suatu saat nanti dia juga akan menganggapku istrinya." Kia kemudian membereskan meja makan. Tak lama kemudian Ziko keluar dengan berpakaian rapi, Ia pun langsung keluar tanpa pamit lagi pada Kia. Kia hanya melihat punggung suaminya, baru saja ia ingin mengantarnya. Namun, Ziko sudah menghilang di balik pintu. Dengan gontai Kia berjalan masuk ke kamarnya dan mulai membuka lemari Ziko, mengusap pakaian Ziko yang tergantung di sana. "Tak bisakah kita tidur satu kamar, kita ini sudah menikah kau punya hak atasku, aku hanya ingin memulai hubungan kita," lirihnya. Namun, Ia pun sadar akan situasi pernikahan mereka. "Baiklah mari kita pindahkan semuanya," ucapnya kemudian mulai memindahkan barang-barang Ziko seperti apa yang diminta suaminya itu. Sementara itu Ziko yang sedang sibuk di kantornya dengan tumpukan berkas karena urusan perjodohan wasiat kakeknya menyita waktu. Tak lama kemudian telepon berdering dan itu panggilan dari Kiran. Ziko langsung menghentikan aktivitasnya. Sesibuk apapun dia jika menyangkut kekasihnya itu ia akan mengabaikan semua pekerjaannya dan mengutamakan Kiran. "Halo, Sayang. Ada apa?" jawab Ziko mengangkat panggilan Kiran. "Aku hanya ingin memberitahu jika seminggu ini aku tak bisa menemanimu, aku ingin keluar kota." "Ke luar kota? Selama seminggu? Apa itu tak terlalu lama? Aku pasti akan sangat merindukanmu!" "Sayang, aku pergi cuman seminggu. Aku pergi juga untuk pekerjaanku, aku ada tawaran pekerjaan di sana jika semua sudah selesai aku akan langsung pulang dan menemuimu." "Tak bisakah kau berhenti bekerja, biar aku yang membiayai semua hidupmu. Aku masih mampu membeli apa saja yang kau inginkan, cukup diam dan selalu ada saat aku membutuhkanmu." "Sayang, kamu tahu kan aku bekerja bukan hanya untuk uang, tapi aku merasa puas dengan hasil kerjaku saat orang-orang meneriakkan namaku, aku masih punya banyak impian. Aku ingin lebih terkenal dari sekarang, aku ingin semua orang mengenalku dan menyukaiku." "Tak bisakah cukup aku saja yang menyukaimu?" Kirain tertawa di seberang sana, "Sayang, kamu itu bukan hanya menyukaiku, tapi juga mencintaiku begitupun sebaliknya. Jadi kamu tak usah cemburu dengan para fansku, dihatiku tetaplah hanya ada kamu," ucapnya yang tahu jika kekasihnya itu selalu saja cemburu pada fans pria yang selalu mengirimkannya barang-barang mewah padanya. Ya, ada beberapa pengusaha terkenal yang terang-terangan memberikan hadiah dan menyatakan perasaannya pada Kiran. Namun, Kiran yang sudah memiliki hubungan dengan Ziko mengabaikan mereka semua. Hanya orang-orang terdekat mereka yang tahu hubungan mereka. Sebagai seorang selebriti Kiran harus merahasiakan hubungannya dengan seorang pria untuk menjaga popularitasnya. Sementara itu Kia yang sudah selesai merapikan barang-barang suaminya di kamar tamu merasa puas dengan hasil kerjanya, dia juga merapikan pakaiannya sendiri dan menyimpan semuanya di lemari Ziko sebelumnya. Namun, ia terhenti saat melihat sebuah kotak di dalam laci lemari tersebut. "Ini kotak apa?" gumam Kia, ia pun membawa kotak tersebut dan duduk di sisi tempat tidurnya dan mulai membuka kotak tersebut. Kia membeku melihat apa yang ada di dalam kotak itu, begitu banyak foto-foto Ziko dengan seorang wanita. Ia pun mulai melihat foto itu satu demi satu semuanya terlihat sangat mesra, bahkan di salah satu foto Ziko tak mengenakan atasan dan wanita itu menggunakan lingerie. Mereka berciuman, foto yang sangat menjijikkan menurut Kia, ia pun langsung meletakkan kembali foto itu ke kotaknya dan melihat foto-foto yang lain. "Siapa wanita ini, apakah dia kekasih Ziko? Sepertinya aku pernah melihat wanita ini, tapi dimana ya?" gumam Kia memperhatikan wajah Kiran. "Mungkin ini hanya masa lalunya," ucapnya kembali merapikan kotak tersebut menyimpannya kembali di tempatnya semula, ia tak ingin membuat kesalahan dengan menyentuh barang pribadi Ziko tanpa izin. Kia melihat jam di dinding, sebentar lagi adalah jam pulang kantor, walau Ziko sudah mengatakan jika ia akan pulang terlambat. Namun, Ia tetap memasak makan malam untuk suaminya dan berharap suaminya akan kembali memakan makanannya dengan lahap. "Aku harus terlihat cantik di mata suamiku, mungkin dengan begitu lambat laun Ziko akan tertarik denganku," ucap Kia yang sudah selesai membuat makan malam. Ia pun menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya, membersihkan sisa-sisa aroma bumbu masakan di tubuhnya. Saat sedang merias wajahnya dia bisa mendengar suara pintu terbuka. "Itu pasti mas Ziko," ucapnya kemudian melihat penampilannya. Setelah memastikan semuanya Kia bergegas keluar menyambut suaminya. "Biar aku bawa." Kia mengambil tas kerja dan Jas Ziko yang menggantung di lengan suaminya. Ziko duduk untuk melepas sepatunya. Namun, lagi-lagi Kia yang melakukannya. Ia duduk berjongkok melepas sepatu dan kaos kaki Ziko. "Mas mau makan atau mandi dulu?" "Aku mau mandi dulu," jawab Ziko. Kia berdiri menyimpan sepatu Ziko dan langsung kembali menyambar tas dan juga jas Ziko, berjalan dengan cepat menuju ke kamar Ziko. Ziko hanya memperhatikan gerakan-gerakan Kia yang terus melayaninya. Ia mengerti jika Kia sekarang adalah istrinya. Namun, ia tak ingin mendapatkan semua layanan seperti apa yang dilakukan Kia saat ini. "Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ziko yang melihat Kia masih di kamar mandinya. "Aku menyiapkan air mandi mu," jawab Kia. "Tidak usah! Aku bisa sendiri. Keluarlah!" ucap Ziko yang sudah berada di kamar mandi berdiri di belakang Kia. Kia hanya mengangguk dan menuruti apa yang Ziko katakan. Ia pun keluar dari kamar mandi. Namun, Kia tak tinggal diam ia kembali menyiapkan pakaian untuk suaminya dan menyimpannya di atas tempat tidur "Semoga saja Ziko suka dengan pilihanku," gumam pelan Kia dan keluar dari kamar itu. "Kenapa Mas Ziko lama sekali?" Kia yang terus aja mondar-mandir di depan pintu kamar Ziko, yang sejak tadi tak keluar kamar. Jam makan malam telah lewat. Kia kemudian memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut. "Ada apa?" tanya Ziko yang sudah keluar menemui Kia yang masih berdiri di depan pintu. "Aku sudah memasak makan malam, kita makan dulu," ajak Kia. Ziko yang tadinya asik menelpon dengan Kiran akhirnya menghentikan teleponnya. Mereka makan malam bersama, lagi-lagi Kia melayani Ziko layaknya seorang istri pada umumnya. "Kia aku tahu kau sekarang adalah istriku, terima kasih melayaniku seperti ini. Kamu juga tahu sendiri 'kan seperti apa pernikahan kita? Tak ada cinta di antara kita. Aku tahu semua ini bukan salahmu, kita sama sama-sama korban dari perjodohan ini dan tak bisa menolaknya." "Tidak, Mas. Walau ini hanyalah sebuah perjodohan, tapi aku sudah menerima pernikahan ini. Pernikahan kita nyata di hadapannya Allah, Aku adalah istrimu dan Mas adalah suamiku, aku tak masalah melayanimu sebagai seorang istri karena memang itu adalah kewajibanku." "Aku tahu apa maksudmu, tapi aku tak ingin memberi harapan pada pernikahan kita. Maaf aku sudah memiliki wanita yang aku cintai, aku sangat mencintai kekasihku dan aku tak ingin menyakitinya dengan memberitahu pernikahan kita ini padanya." Kia meremas ujung bajunya di bawah meja, dan mencoba menahan rasa perih mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria yang sudah mengikrarkan ijab kabul atas namanya. "Itulah sebabnya aku tak menggelar pesta yang meriah pada pernikahan kita. Aku tak ingin orang-orang tahu tentang pernikahan kita dan itu sampai ke telinga Kiran, kekasihku." Hati Kia terasa tersayat, perih. Namun, ia mencoba untuk menahan air mata yang ingin menerobos ingin keluar dari pelupuk matanya, dan hanya mendengarkan apa yang Ziko katanya. "Aku tahu kau wanita yang baik, aku tak akan mengikatmu dalam pernikahan ini kamu bebas melakukan apapun yang kau mau, bahkan jika kau memiliki pria lain yang kau sukai, kau katakan saja padaku aku tak akan melarang hubungan kalian." "Apa maksud dari perkataanmu, Mas?" ucap Kia, bersama dengan itu jatuh sudah air matanya. "Bagaimana mungkin aku menyukai pria lain. Aku ini seorang istri dan tak mungkin aku melakukan itu." Kia menatap mata Ziko, pandanganya buram karena air matanya. "Kia, tolong mengertilah, tak ada harapan untuk pernikahan kita. Jika memang kau menyukai pria lain kita bisa mengakhiri pernikahan ini, pernikahan yang seharusnya tak ada." Kia tertunduk. Apakah seperti itu pernikahan mereka di mata suaminya. "Terima kasih makan malamnya, aku permisi," ucap Ziko kembali ke kamarnya tanpa menyentuh makanan yang telah di sajikan di hadapannya. Mendengar hal itu pupus sudah harapannya untuk merebut cinta suaminya. "Ayah, kebahagiaan apa yang kau siapkan untukku." Kia terisak setelah mendengar Ziko menutup pintu kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD