Kesabaran Seorang Istri

2193 Words
Semalaman Kia tak bisa tidur, Ia terus memikirkan nasib pernikahannya. Kia mengambil air wudhu dan melakukan shalat sepertiga malamnya, ia terus melakukan dzikir coba menenangkan hatinya yang sangat sakit mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Namun, Ia terus mencoba berpikir jika semua itu hal yang wajar. Mereka menikah karena sebuah perjodohan, mereka menikah bahkan sebelum mereka saling mengenal. "Aku harus mencoba merebut hati suamiku, setidaknya aku punya usaha untuk memperbaiki Rumah tanggaku. Jika memang aku sudah berusaha dan sikapnya padaku tak berubah, tetap menolakku aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku pasrahkan semua hanya padamu," ucap Kia menengadahkan tangannya kepada sang penciptanya. Kia terus terjaga hingga adzan subuh berkumandang, Ia pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Kia yang ingin mempertahankan dan mencoba untuk memperbaiki rumah tangganya, berusaha untuk menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya, ia pun menuju ke dapur dan membuat sarapan untuk Ziko. "Semoga saja mas Ziko suka dengan nasi goreng buatanku," ucapnya dengan bersemangat menata nasi goreng tersebut di atas meja. Kia menunggu dengan sabar dan sesekali melihat ke arah pintu kamar Ziko, ia berusaha untuk terlihat bahagia walau ada goresan luka di hatinya. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Kia langsung menoleh ke arah pintu kamar. "Mas, aku sudah buat sarapan. Mas sarapan ya sebelum ke kantor," ucap Kia menghampiri Ziko yang berjalan ke arah pintu keluar. "Aku sedang terburu-buru, aku sarapan di kantor saja," ucapnya berjalan dengan cepat keluar dari Apartemennya. "Apa Mas mau aku bawakan makan siang ke kantor?" tanya Kia sedikit berlari mengejar Ziko. Namun, Ziko tak menjawab dan berlalu dengan cepat menutup pintu Apartemen mereka. Mendapat perlakuan itu Kia hanya menghela nafasnya, mengusap dadanya menguatkan dirinya sendiri. "Siapa sebenarnya wanita yang masih di cintai mas Ziko," gumam Kia melihat ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Ia pun berjalan gontai menuju ke meja makan melihat nasi goreng buatannya, yang tak tersentuh oleh Suaminya. "Ayah doakan Kia, semoga Kia bisa mengetuk pintu hati mas Ziko agar bisa melihat ketulusan hati Kia, Ayah!" lirih Kia kemudian Ia pun duduk dan mulai memakan nasi goreng buatannya. Nasi itu terasa hambar di mulutnya. Namun, Kia menghabiskannya, ia harus tetap kuat dan tegar ini baru permulaan dari kehidupan rumah tangganya. Kia menanamkan keyakinan di hatinya jika suatu saat sikap suaminya itu akan berusaha. Siang hari Kia kembali membuat makan siang. Kali ini ia berencana untuk membawa makan siang ke kantor Ziko. Dengan bersemangat Kia memasak makanan istimewa yang pernah ia buat dan memasukkannya ke kotak bekal. "Semoga saja mas Ziko suka dengan masakanku dan kali ini mau memakannya." ucapnya kembali mencicipinya memastikan jika rasa masakan yang dibuatnya sesuai diharapkannya. "Oh iya. Aku kan belum tahu alamat kantornya. Aku akan coba menelpon Ibu," ucapnya mencoba untuk menelpon mertuanya. Setelah mendapatkan alamat, Kia yang tak tahu kota tersebut memberanikan diri untuk mendatangi kantor Ziko dengan alamat yang diberikan oleh mertuanya. "Pak! Apa Bapak yakin ini kantor yang tertera di alamat ini?" tanya Kia pada sopir taksi yang mengantarnya. "Iya, Bu. Ini alamat yang Ibu berikan, Ibu ingin bertemu dengan seseorang di kantor ini?" "Saya baru di kota ini dan Suami saya bekerja di sini. Saya hanya ingin mengantarkan makan siang untuknya," jawab Kia ramah pada sopir taksi yang seumuran dengan ayahnya. "Suami Ibu pasti bahagia mendapat perhatian dari istrinya," ucap sopir taksi membuat hati Kia semakin bersemangat menghampiri Ziko. "Terima kasih. Pak, saya cuman sebentar apa Bapak bisa menunggu saya di sini?" tanya Kia yang sudah merasa akrab dengan bapak sopir taksi tersebut. "Tentu saja, Bu. Saya akan menunggu." Mendengar jawaban itu Kia pun keluar dari taksi tersebut, berjalan pelan sambil melihat-lihat kantor yang entah berapa lantai. Gedungnya sangat tinggi dan besar, Kia tak menyangka jika suaminya adalah pemimpin dari perusahaan tersebut. Gedung perkantoran itu 10 kali lipat dari gedung perkantoran tempatnya bekerja dulu. Dengan langkah pasti dia menghampiri resepsionis "Permisi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa resepsionis tersebut menyambut kedatangan Kia. Kia yang sudah pernah bekerja di kantor tahu aturan kantor, jika Ia tak boleh sembarangan masuk apalagi jika ia ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan tersebut, walaupun Ziko adalah suaminya tetap saja Kia tak memiliki janji dan juga tak ada yang tahu jika dia adalah istri dari bos mereka. "Saya ingin bertemu dengan pak Ziko." "Apa Ibu sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Resepsionis. "Nggak, Mbak. Saya hanya ingin membawakannya makan siang," ucap Kia memperlihatkan kotak bekal yang di bawahnya. "Ibu siapanya Pak Ziko?" tanya Resepsionis lagi memastikan, ia tak ingin sembarang mengambil barang atau mengizinkan orang lain masuk tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pimpinannya. "Saya …." "Dia saudara saya dari kampung," ucap Ziko yang tiba-tiba muncul di belakang Kia. Ada sayatan kecil yang kembali tergores di hatinya, saat mendengar suaminya mengakuinya sebagai seorang saudara bukan sebagai seorang istri sebagaimana status mereka sebenarnya. "Mas, aku bawakan bekal ini untukmu maaf jika aku lancang datang ke kantormu." "Ya sudah berikan kotaknya, kamu boleh pulang!" Kia memberikan kotak bekal yang dibawanya dan beranjak pergi dari kantor itu. Kia bisa melihat wajah tak suka yang Ziko tunjukkan padanya. "Hufff ... aku harus tetap sabar. Aku yakin suatu saat nanti aku pasti berhasil," gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Kia berjalan cepat menuju ke taksi yang sedari tadi menunggunya. "Bagaimana, Bu? Suaminya sudah ketemu?" "Iya pak, terima kasih ya sudah menunggu. Kita kembali ke Apartemen." Ziko bisa melihat taksi yang ditumpangi Kia sudah meninggalkan area kantornya pun berjalan menghampiri satpam yang sedang mengawasi sekitaran kantor. "Pak ini untuk bapak," ucapnya memberikan bekal makan siang yang tadi diberikan oleh Kia. "Ini untuk saya, Pak?" "Iya, aku sudah makan," ucapnya kemudian Ia pun kembali masuk ke ruangannya. Di dalam taksi, kita terus melihat ke arah luar jendela. Walaupun kecewa dia tak mau berputus asa, Kia menelpon Ibu mertuanya dan menanyakan makanan kesukaan Ziko. "Ziko orangnya tidak terlalu memilih makanan, tapi jika kamu ingin membuat masakan yang disukai, kamu bisa membuat rendang. Itu salah satu makanan kesukaannya." "Baiklah, Bu. Aku bisa memasak rendang. ya sudah terima kasih ya, Bu. Aku akan coba membuatnya," ucap yang mengakhiri panggilannya, senyum kembali terbit di bibirnya dia akan mencoba merebut hati suaminya dengan melakukan apa yang disukai oleh suaminya termasuk menyiapkan makanan kesukaannya. "Pak, kita ke supermarket dulu ya! Aku ingin membeli beberapa bahan masakan." Setelah membeli semua bahan Kia pun langsung pulang ke Apartemen dan mulai memasak rendang yang menurut mertuanya adalah salah satu makanan kesukaan suaminya. Setelah memastikan semuanya sudah siap dia pun dengan tak sabar menunggu Ziko. Namun, hingga jam 09.00 malam Ziko tak kunjung datang. Kia bahkan berkali-kali menghangatkan makanan agar makanannya masih tetap hangat saat suaminya datang. "Kenapa mas Ziko belum juga pulang. Apa dia sedang sibuk di kantor," gumamnya mengambil ponsel dan ingin menelpon Ziko. Namun, ia kembali ragu melakukannya takut jika tindakannya mengganggu pekerjaan Ziko. "Aku akan menunggu sebentar lagi," gumamnya melihat Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Namun, tak ada tanda-tanda yang di tunggunya akan pulang. Di pulau Bali. Ziko dan Kiran sedang makan malam di tepi pantai. Ziko yang sudah sangat merindukan kekasihnya walau baru dua hari berpisah memutuskan untuk menghampiri Kiran di tempat bekerjanya di pulau Bali, Ia menggunakan pesawat jet pribadi miliknya. "Sayang malam ini menginap ya, temani aku," rengek Kiran dengan manja. "Baiklah, aku juga sudah merasa lelah jika harus pulang malam ini. Aku akan kembali besok pagi saja," ucap Ziko mengantar Kiran ke kamar hotelnya. Namun, begitu akan masuk ke dalam kamar Ziko menghentikan langkahnya. "Ada apa? Masuklah!" ucap Kiran menarik tangan Ziko untuk masuk ke kamarnya. "Tidak, aku memang akan menginap di pulau ini, tapi di kamar yang berbeda darimu. Ayo masuklah dan beristirahat besok kau akan bekerja lagi kan?" ucapnya mengecup kening Kiran kemudian sedikit mendorongnya masuk dan menutup pintu kamar Kiran. Ziko bisa mendengar kekasihnya itu menggerutu tak terima saat Ia kembali menolak tidur sekamar dengannya. "Aku tak akan menyentuhmu sampai kita menjadi pasangan halal dan aku tak yakin bisa menahan diri jika kita tidur di kamar yang sama," ucap Ziko kemudian Ia pun masuk ke kamarnya yang berada tepat di depan kamar Karin. Sementara itu di Apartemen Kia yang terus menunggunya tak sengaja tertidur di ruang tamu. Kia bahkan melewatkan makan malamnya demi menunggu suaminya pulang dan ingin makan bersamanya. Suara adzan Subuh membangunkan. "Astagfirullah, aku ketiduran," ucapnya yang baru menyadari jika sekarang sudah masuk waktu subuh. Ia pun melihat makanan yang ada di meja makan, makanan yang masih utuh. Kia kemudian berjalan pelan menghampiri kamar Ziko mengantuknya beberapa kali kemudian mencoba membuka pintu kamar yang tak terkunci. Ternyata Ziko menginap di luar. Kia hanya bisa menghela nafas, ia kembali mendapat kekecewaan dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Namun, bukan dia namanya jika ia akan menyerah. "Baiklah! Mungkin mas Ziko sedang lembur dan tidur di kantor," ucapnya mencoba menghibur dirinya sendiri. Siang hari Kia kembali menghangatkan rendang yang dibuatnya dan kembali mendatangi kantor Ziko. "Pak tunggu aku lagi ya. Aku hanya mengantarkan makan siang ini," ucap Kia pada Pak sopir yang sama yang mengantarnya kemarin. Kia turun dari taksi. Namun, kali ini ia sedikit ragu. Kia tak langsung masuk ke perusahaan Ziko, Ia ini memastikan apakah Ziko ada di kantor atau tidak. "Halo Mas. ini aku. Apa Mas ada di kantor?" tanya Kia setelah Ziko menjawab panggilannya. "Iya, aku ada di kantor. Memangnya kenapa?" jawab Ziko berjalan ke arah jendela dan melihat ke arah bawah, dia bisa melihat Kia berada di samping pos Satpam.. "Aku membawa makan siang untukmu. Apa aku boleh membawanya ruanganmu?" "Tidak usah. Sekarang aku sedang merapat dan rapatnya mungkin masih lama. Kamu titipkan saja makanannya pada satpam yang ada di sana. Aku akan meminta satpam untuk membawanya ke ruanganku setelah rapat ku selesai." "Ya sudah,Mas. Aku akan menitipkannya pada Satpam," ucap Kia sedikit kecewa karena tak berhasil menemui Ziko. Kia menuruti apa yang Ziko katakan, memberikan makanan itu pada satpam yang ada di sana. "Pak, aku titip makanan ini ya untuk pak Ziko katanya Nanti deh dia akan menghubungi bapak ucapnya memberikan makanan itu kepada satpam kemudian ia kembali ke taksi meninggalkan perusahaan itu. Ziko yang kembali melihat Kia sudah pergi menelpon satpam dan mengatakan jika makanan itu untuknya saja. Saat perjalanan pulang Kia yang merasa kesal memutuskan untuk berjalan-jalan di Mall terbesar yang ada di kota tersebut. "Iya tak punya tujuan, Kia hanya ingin menenangkan dirinya dengan berjalan-jalan sambil melihat-lihat barang yang ditawarkan di Mall tersebut. Matanya tertuju pada baju piyama yang terlihat sangat seksi. "Aku akan coba memikat hati mas Ziko dengan pakaianku. Mungkin makanan kurang berhasil," ucapnya kemudian ia membeli dua pakaian seksi dengan warna yang berbeda hitam dan merah maroon. Tak ingin kejadian kemarin malam terulang lagi, sebelum menyiapkan makan malam Kia menelepon Ziko, terlebih dahulu menanyakan apakah dia ingin makan di rumah atau ingin makan di luar. "Aku makan di luar, aku ada rapat di restoran. Kau tak usah menungguku aku pulang agak larut malam." "Ya sudah, Mas. hati-hati ya saat pulang nanti," ucap Kia matikan panggilannya. Kia makan malam dengan sisa rendang yang dimasaknya, ia malas untuk memasak makanan baru jika untuk dirinya sendiri. Setelah makan Kia masuk ke kamarnya dan membersihkan dirinya, melihat dua piyama seksi yang ada di tempat tidur. "Kenapa aku seperti wanita yang menggoda seorang pria dengan pakaian seksi, tapi tak apa mas Ziko kan suamiku," gumamnya kemudian mengambil piyama yang berwarna hitam yang terlihat lebih seksi dari piyama warna maroon yang dibelinya. Setelah memakai Kia melihat penampilannya di cermin. Ia malu sendiri melihatnya. Kia sebelumnya belum pernah memakai pakaian yang seminim itu, dadanya hampir terlihat sempurna begitupun dengan bagian bawahnya yang jauh di atas lutut. "Semoga saja kali ini usahaku berhasil," gumamnya kemudian Ia pun keluar dan menunggu Ziko di ruang tamu sambil melihat di internet bagaimana cara merayu suami. Kia yang merasa kelelahan tak sengaja kembali tertidur di ruang tamu, Ziko datang dan melihat Kia masih menunggunya. "Dasar," gumam nya pelan. "Aku kan sudah memintamu untuk tak menungguku, kenapa kamu masih tidur di sini," seru Ziko yang bisa melihat rambut Kia di balik sofa.. Ziko berniat untuk membangunkan Kia. Namun, saat berjarak dekat dengan Kia, Ziko baru menyadari pakaian yang dipakai Kia terlihat begitu seksi, kulit mulus putihnya begitu tampak indah di matanya. Ziko Pria normal dan semua itu mampu membangkitkan gairahnya. Tanpa sadar tas kerja yang di bawahnya pun terjatuh. "Mas, sudah pulang?" tanya Kia yang terbangun karena suara tas Ziko yang terjatuh. "Iya, aku baru saja pulang," jawabnya dengan terbata-bata. Ziko menghembuskan nafas pelan untuk menetralkan reaksi tubuhnya. "Mas sudah makan?" "Iya, aku sudah makan." "Mau mandi atau Mas mau langsung tidur?" tanya Kia yang lupa dengan pakaian yang dipakainya, ia menghampiri Ziko dengan santai. "Aku merasa gerah, aku akan mandi dulu." "Aku akan menyiapkan air hangat," ucapkan langsung berlalu menuju ke kamar Ziko. Ziko yang tadinya ingin menolak tak bisa menghentikan Kia yang sudah masuk ke kamarnya. Ziko yang tak bisa menahan dirinya menghampiri Kia di kamar mandi. "Mas airnya sudah siap, Mas bisa mandi," ucap Kia ingin keluar dari kamar mandi. Namun, Ziko langsung menariknya. "Apa kau mau menemaniku?" tanya Ziko dengan nafas yang memburu, detak jantungnya sudah tak karuan. Ziko menarik pinggang Kia, tak memberikan jarak di antara mereka. Kia mengerti apa yang diinginkan Suaminya, ia pun mengangguk. Membiarkan suaminya menyentuhnya mungkin dengan begitu perasaan cinta akan timbul di hati mereka. Kia menerima setiap sentuhan suaminya yang merupakan pengalaman pertama untuknya begitu pun Ziko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD