Pagi hari Kia terbangun dan menatap wajah suaminya yang sedang duduk disisi tempat tidurnya, saat ini Kia hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Ziko meminta haknya bukan hanya sekali. Namun, beberapa kali malam tadi membuat Kia kelelahan mengimbangi suaminya.
Ia melihat punggung siku yang duduk disisi tempat tidur, terlihat bekas cakaran di sana.
Kia menggigit bibir bawahnya saat mengingat jika luka carakan itu adalah ulahnya semalam.
'Apa Ziko marah padaku karena luka itu,' batinnya melihat Ziko hanya berbalik dan melihatnya sekilas dan kembali fokus pada ponselnya.
Kia melihat Ziko terus tersenyum melihat layar ponselnya.
Baru saja Kia ingin menyapanya. Namun, Ziko seperti sedang ingin menelepon seseorang, Kia pun mengurungkan niatnya dan menunggu sampai urusan suaminya itu selesai.
"Halo Sayang, kamu di mana?" tanyanya pada lawan bicaranya.
"Sayang?" gumam Kia pelan.
Mendengar kata sayang dari mulut Ziko yang ditujukan kepada wanita lain membuat hati Kia terasa tersayat, masih terasa perih sisa percintaan mereka semalam. Namun, dengan santai Ziko mengatakan sayang pada seseorang di balik ponselnya.
"Aku sedang tak ingin ke kantor. Aku akan menjemputmu!"
"Baiklah aku tunggu," jawab seseorang di balik telepon.
Kia bisa melihat jika suaminya itu terlihat begitu bahagia saat mematikan ponselnya.
AZiko berbalik menatap kepada Kia yang juga menetapnya.
"Aku ada urusan diluar dan mungkin aku malam ini tak pulang. Ingat! Kau tak usah menungguku, tidur saja di kamarmu," ucap Ziko berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Setelah apa yang kita lakukan semalam tak ada sedikitpun rasa cinta dihatimu untukku? Atau setidaknya hargailah aku sebagai istrimu, aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Tak bisakah kau juga menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami, kau tak usah mencintaiku cukup menghargaiku saja," lirih Kia menghapus air matanya.
Walau ia sudah tau jika suaminya itu memiliki hubungan dengan wanita lain. Namun, tetap saja hatinya merasa sakit menerima kenyataan itu.
Kia berjalan kembali ke arah kamarnya dengan melilitkan selimut itu di tubuh polosnya, berjalan dengan sangat pelan di mana area sensitifnya terasa sangat perih karena permainan Ziko semalam. Walau ia sudah tak sanggup untuk menahan perihnya. Namun, Ia tetap membiarkan Ziko untuk menuntaskan apa yang diinginkannya, tapi sepertinya pengorbanannya semalam sama sekali tak berarti buat seorang Ziko.
Kia bergegas mandi dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Ziko keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian rapi, memakai jeans dan juga kemeja dipadukan dengan jaket berwarna putih, terlihat begitu tampan.
"Mas, sarapan dulu! Aku sudah membuat ini untukmu," ucap Sarah menarik kursi agar Ziko mau duduk di sana, mau makan bersamanya pagi ini.
"Maaf aku sedang buru-buru," jawab dengan sedikit berlari keluar dari Apartemen.
Kia yang sudah melihat pintu tertutup dan Ziko sudah keluar dari Apartemen mereka hanya bisa menghela nafasnya.
Kia pun sarapan sendiri, kegiatan semalam sungguh menguras energinya.
Tak lama kemudian Ziko kembali membuat Kia begitu senang, Ia berpikir Ziko akan menemaninya untuk sarapan, tapi ternyata Ziko langsung berlari menuju ke kamarnya tanpa melihat Kia sedikitpun.
"Ada apa? Kau mau sarapan dulu?" tanyanya dengan penuh harapan.
"Tidak aku melupakan dompetku, oh ya …" Ziko mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, pakailah ini beli keperluan yang kau butuhkan. Maaf aku tak bisa menemanimu aku sedang sibuk," ucapnya memberikan kartu tersebut kepada Zahra kemudian kembali dengan terburu-buru berlari keluar dari Apartemen tersebut.
Ya, Ziko baru saja membuat janji dengan Karin dan Ziko tahu Kiran orang yang sangat sibuk dan tak suka menunggu membuat ia dengan terburu-buru menghampiri kekasihnya itu yang ternyata sudah menunggu di parkiran Apartemen nya.
"Sepertinya memang seperti ini rumah tangga kami, aku harus belajar menerimanya," ucap Kia melihat kartu yang diberikan Ziko padanya, "Kita lihat apa yang bisa aku lakukan dengan kartu ini," ucapnya memilih untuk kembali ke kamarnya. Hari ini ia memilih untuk beristirahat, seluruh tubuhnya terasa remuk karena ulah Ziko semalam.
Sementara itu Ziko langsung menghampiri mobil Kiran dan mereka pun pergi menuju ke sebuah klub malam, dimana salah satu sahabat Kia berulang tahun di sana.
"Ingat ya nanti saat disana kamu jangan peluk-peluk aku, anggap saja Kita ini hanya teman," ucap Kiran yang saat ini sedang menempel di d**a bidang Ziko.
"Sampai kapan kita merahasiakan hubungan kita ini, apa kamu tak suka saat orang-orang mengetahui jika kamu adalah kekasihku?"
"Bersabarlah tunggu beberapa saat lagi saat semua kontrak kerjasama ku sudah selesai. Aku akan mengumumkan hubungan kita. kamu tahu sendiri kan dalam kontrak itu aku tak boleh menjalin hubungan dengan seorang pria," ucap Kiran memainkan tangannya di d**a bidang Ziko, ia sengaja membuka kancing kemeja Ziko dan bermain disana. d**a bidang itulah bagian favorit dari Kiran.
"Apa ini? Kenapa dadamu ada bekas luka seperti ini?" tanya Kiran mengerutkan keningnya, membuat Ziko pun menunduk melihat dadanya, ternyata benar di sana ada beberapa luka.
Ziko terdiam, Ia baru mengingat jika semalam saat melakukan penyatuannya, Kia mencakarnya di beberapa tempat, tapi itu bukan masalah bagi Ziko mengingat itu adalah pengalaman pertama Kia.
"Bukan apa-apa," jawab Ziko menutup kembali pakaiannya.
"Kamu nggak macam-macam Kan? Itu terlihat seperti luka bekas cakaran?" tanya Kiran merasa curiga menatap kekasihnya itu.
"Aku sudah bilang ini bukan apa-apa, jangan dibahas lagi," jawab Ziko.
Kiran berpikir tak mungkin itu adalah luka bekas cakaran saat Ziko bercinta, dengannya saja ia menolak jadi mana mungkin ia melakukannya dengan wanita lain.
Kiran percaya pada pemikirannya sendiri, kemudian Ia pun mengabaikan luka bekas cakaran tersebut, mereka masuk ke klub malam dan mulai berpesta dengan teman-teman kiran yang lainnya.
"Kiran Sampai kapan kita di sini? Aku merasa tak nyaman," bisik Ziko mengajak Kiran ke tempat yang lebih baik daripada klub malam, Ziko sebenarnya tak suka dengan tempat-tempat seperti itu. Namun, karena Kiran menyukainya Ia pun ikut-ikutan pergi ke tempat seperti itu demi menyenangkan kekasih itu.
"Nikmati saja pestanya, beberapa saat lagi juga acaranya selesai," bisik Kiran membuat Ziko pun kembali duduk di tempatnya, sementara Kiran duduk bersama dengan teman-teman artis lainnya.
Satu persatu pengunjung pun sudah pulang dan tersisa teman-teman akrab dari Kiran saja membuat ia langsung menghampiri Ziko dan duduk di pangkuannya. Menyodorkan segelas minuman.
Dengan senang hati Ziko meminumnya. Namun, saat merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhnya Ziko menurunkan Kiran dari pangkuannya.
"Kiran apa yang kau berikan padaku?"
"Hanya sedikit, kau tenang saja, Sayang. Aku akan membantumu."
"Aku sudah mengatakan jika aku tak akan menyentuhmu dan pastikan jika kau juga tak mengizinkan siapapun menyentuhmu," tegas Ziko.
Ziko dengan terburu-buru pulang ke Apartemennya meninggalkan Kiran yang terus menahannya. Saat ini Ziko sudah terpengaruh oleh obat yang membangkitkan gairahnya, begitu masuk di Apartemennya ia langsung masuk ke kamar Kia.
"Mas?" Kia yang sedang duduk santai sambil menonton terkejut saat Ziko tiba-tiba masuk dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikannya, tatapan penuh nafsu dan ingin menerkamnya dan benar saja Ziko dengan kasar menariknya dan menghempaskan kia ke atas kasur. Mengobati rasa haus terbakar gairah karena pengaruh obat-obatan tersebut.
Jika kemarin malam Kia melakukannya dengan sepenuh hati. Namun, tidak dedi pelupuk matanya saat Ziko mencapai pelepasannya, terkulai lemah di sampingnya. Ia merasa tak dianggap sebagai seorang istri, tapi hanya sebagai pemuasngan malam ini. Setetes air mata jatuh nafsunya suaminya.