Kuinjakkan kakiku dengan setengah berlari ke dalam arena. Kutunjukkan kartu anggota tim dari Marco untuk dapat masuk ke dalam paddock bersama yang lainnya, sebelumnya aku menitipkan koperku secara khusus dipenitipan barang di depan. Aku tidak mau kerepotan membawanya dengan badanku yang mulai gemetar, lagi pula arlojiku sudah berteriak. Aku tak mau kehilangan start. Sama seperti tiap tahunnya, arena sangat ramai, ratusan ribu orang mendekam di tribun, bersorak sorai menunggu pertandingan dimulai. Aku merasakan sesuatu yang sangat tak nyaman saat melangkah ke dalam arena yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi tubuhku yang tidak fit. Ada suara keributan lain yang masuk ke dalam pikiranku, teriakan histeris dan jerit memilukan. Di samping itu, aku harus berjalan melewati hampir

