Bab 22

1269 Words

Panas dan sedikit perih menjalar dari punggung tangan sebelah kiriku. Aku terbangun. Membuka mata dan menemukan diriku sendiri tengah terbaring di ranjang pemeriksaan yang sangat kukenal, klinik medis yang berada di arena. Selang infus terpasang rapi di punggung tanganku. Gelombang rasa yang sangat tidak menyenangkan menguasaiku. Menyebalkan! Batinku kesal. Kenapa aku harus pingsan? Aku bangun dan duduk, sedikit pusing tapi merasa lebih baik. Kucoba melepas selang infus untuk mengurangi rasa payah akan kondisiku saat ini. Aku jarang sekali jatuh sakit, sepanjang tahun aku merasa sekuat kuda tapi aku memilih pingsan di arena saat putaran terakhir. Memalukan sekali. Pintu ruangan dibuka, Alex masuk terburu dengan kondisi basah kuyup. Dia masih mengenakan wearpack lengkap, wajah bersemu me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD