Dengan tergesa setelah mandi, aku masuk ke dalam kamar closet-ku yang luasnya hampir sebesar sepertiga dari kamar tidurku. Membuka semua pintu lemari dan aku tidak menemukan rok simpel yang manis sejauh mataku memandang. Aku punya delapan lemari yang empat di antaranya berisi koleksi dress acara penting, tas-tas, dan segala keperluan untuk dunia keartisan lainnya. Kemudian empat lemari sisanya untuk koleksi pakaianku yang ‘normal’ dan nyaman. Puluhan kaus-kaus, jeans, jaket-jaket kasual dan pakaian yang tidak memiliki manik-manik atau blink-blink di jahitannya. Kemudian satu setengah rak besar untuk koleksi sepatu-sepatu dan sneakerku yang keren-keren. Aku punya koleksinya sneaker edisi tahun 1970 sampai edisi terbaru. Namun, sekarang, dengan sedih aku harus meninggalkan mereka semua. Se

