bc

Setelah Kuserahkan Kehormatanku

book_age18+
3.3K
FOLLOW
21.1K
READ
love-triangle
possessive
goodgirl
drama
sweet
city
dragons
virgin
wife
husband
like
intro-logo
Blurb

Putri Kirana, diam-diam mencintai kekasih sahabatnya. Ia simpan rasa itu sendiri.Tanpa ada niatan sedikitpun untuk merebut atau menggoda Putra Prabaskara dari Devina Anggraeni, sahabatnya.

Ia simpan rapi dan rapat. Sampai tidak ada satu orang pun yang menyadarinya. Karena ia pun sangat menjaga jarak pada Putra. Tentunya demi menjaga hatinya sendiri sekaligus hati sahabatnya.

Tapi malam itu, ketika ia menginap di apartemen Devina. Kebetulan Devina sedang pergi. Putra tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk dan mencumbunya. Saat itulah Putri benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia menyerahkan kehormatannya pada pria itu.

Lalu apa yang akan terjadi setelahnya, ketika kemudian Putri hamil anak Putra?

Simak ceritanya dan jangan lupa untuk TAP LOVE di pojok kiri bawah.

chap-preview
Free preview
Menyerahkan Kehormatan
Putri menarik selimutnya sebatas d**a untuk menutupi tubuh polosnya. Rasa malu, rasa bersalah, dan rasa marah pada dirinya sendiri, bercampur menjadi satu. Melemparkannya pada sebuah kubangan penyesalan yang sangat dalam. Hingga ia berharap ada mesin waktu yang bisa membawanya kembali ke waktu beberapa jam lalu untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah ia lakukan. Perlahan ia membawa tubuhnya untuk bangkit. Ketika kesadarannya mulai pulih dan kewarasannya mengatakan bahwa tidak seharusnya ia diam di sini dan larut dalam sesal yang tidak akan merubah apapun. Ia harus pergi, melarikan diri dan menanggung sendiri tindakan bodoh yang telah ia lakukan. Dengan gerakan terburu, gadis itu memakai kembali pakaiannya, merapikan rambut panjangnya yang tergerai kusut masai seadanya dengan menggunakan jari-jari tangannya yang gemetar. Betapa detak jantungnya saat ini menggedor kuat rongga dadanya hingga terasa menyakitkan. Ia harus segera pergi sebelum Devina datang dan ... pria yang kini terbaring dengan selimut sebatas pinggang, menampilkan tubuhnya yang sempurna itu terbangun dan tersadar bahwa wanita yang baru saja bercinta dengannya itu bukan kekasihnya, melainkan dirinya. Putri Kirana. Sahabat Devina. Entah, apakah saat ini ia masih pantas disebut sebagai sahabat setelah apa yang baru saja ia lakukan. "Maaf ...." Putri mengucap kata itu lirih dengan bibir bergetar bersamaan dengan setetes buliran bening yang akhirnya meluncur bebas dalam penyesalannya. Di mana seharusnya ia tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Seharusnya ia menghindar ketika Putra yang datang dalam keadaan mabuk itu mencumbunya, mengira dirinya adalah Devina. Tapi cinta yang ia miliki pada pria itu, membutakannya dan membuatnya menyerahkan kesuciannya, kehormatannya. Sesuatu yang seharusnya ia serahkan hanya kepada pria halal yang kelak menyuntingnya. Bukan sekarang. Bukan pula pada pria yang merupakan kekasih sahabatnya sendiri. Pria yang selama ini ia cintai dalam diam. Dua tahun lamanya, ia menyimpan rapi dan rapat perasaan itu. Hingga ia yakin tak akan ada satu orang pun yang akan menyadari perasaannya. Bahkan tak satu kalimat cinta pun tertuang di buku hariannya untuk sang pujaan hati. Cinta itu hanya ia simpan rapat di hati. Bahagianya, ia nikmati sendiri. Sakitnya, ia tangisi sendiri. Ia berjanji, bahwa apa yang ia rasa pada pria itu hanya akan menjadi rahasianya. Tapi malam ini ia kalah. Ia salah. Ia berdosa. Tapi ia berjanji, bahwa dosa ini, ia akan menanggung semuanya sendiri. Langkahnya sudah sampai di depan pintu ketika gadis itu memutuskan untuk berhenti dan akhirnya berbalik menuju ke sisi pembaringan. Di mana Putra Prabaskara tertidur begitu lelap di atasnya. Cukup lama, gadis itu menatap wajah yang selama dua tahun ini ia kagumi, ia cintai dalam diam. Ada perasaan takut melingkupinya. Tapi Putri merasa bahwa mungkin ini terakhir kalinya ia akan melihat wajah ini. Karena ia tidak sanggup menanggung rasa malu dan rasa bersalah yang membebaninya saat ini. Ia tidak yakin sanggup berhadapan dengan pria ini ketika pria itu sadar nanti. Meski mungkin bukan dirinya yang Putra lihat saat percintaan mereka tadi, melainkan sosok Devina. Ia juga tidak akan mungkin sanggup berhadapan dengan Devina nanti, setelah mencuranginya. "Maafkan aku," bisiknya lirih. "Selamat tinggal. Maaf, sudah mencintaimu." Gadis itu membungkuk, mendaratkan sebuah ciuman perpisahan di pipi pria itu dengan penuh perasaan. Sebelum kemudian mundur dengan wajah basah penuh air mata dan berlari keluar. Melarikan diri dari semuanya. Karena mungkin memang itu yang terbaik, untuk hatinya, untuk semua orang. Karena telah menyimpan rasa yang salah pada pria yang tak seharusnya ia cinta. Tanpa Putri tahu, ketika pintu kamar itu menutup. Mata Putra membuka sempurna, menatap langit-langit kamar yang remang itu dengan perasaan entah. Ia memang mabuk tapi ia masih sadar, ia tahu dengan siapa ia bercinta dan entah setan apa yang merasukinya. Ia memang datang untuk Devina, tapi ketika Putri yang menyambutnya. Awalnya ia tidak berniat melakukan sejauh ini. Namun ketika gadis itu tak memberikan penolakan dan seakan memberi lampu hijau padanya. Putra seakan kehilangan kendali diri serta kewarasaannya. Bahwa tidak seharusnya ia melakukan ini. Tapi nafsu lebih berkuasa, hingga inilah yang terjadi akhirnya. "Dia mencintaiku?" gumamnya sendiri di antara keheningan yang melingkupi. Keningnya berkerut dalam, antara menahan nyeri di kepalanya sekaligus juga karena sebuah tanda tanya besar yang hadir. Putri. Entah siapa nama lengkapnya. Gadis pendiam yang merupakan sahabat kekasihnya, Devina. Ia tipe yang ketika menjalin hubungan dengan wanita, hanya fokus pada pasangannya. Tidak begitu peduli atau perhatian dengan orang-orang di sekeliling pasangannya. Kecuali, orang itu membawa masalah untuk hubungan mereka. Dan gadis itu. Mungkin hanya sekali dua kali mereka berinteraksi, untuk urusan yang berhubungan dengan Devina. Tidak ada yang aneh dengan gadis itu. Mungkin karena orangnya juga terlihat sangat pendiam. Sangat berbeda dengan Devina yang banyak bicara. Entah bagaimana mereka bisa berteman. Dulu, Putra tidak begitu peduli dengan hal itu. Pria itu bangkit sembari memegangi kepalanya yang pusing. Ia bukan peminum. Ini adalah pertama kalinya. Karena ia sangat butuh pelarian dari masalahnya. Ia juga bukan pria yang suka melakukan seks bebas. Ini juga pertama kalinya, dan yang terjadi malam ini benar-benar di luar rencana dan kendalinya. "s**t!" umpatnya. Ia merasa gila dengan yang terjadi malam ini. Buru-buru ia memakai pakaiannya kembali. Tak peduli dengan keadaan ranjang yang carut marut. Yang ia pikirkan adalah segera keluar dari apartemen Devina. Entah kemana perempuan itu. Putra kini tak peduli lagi. Sebenarnya ia sengaja datang malam ini untuk melampiaskan amarahnya pada perempuan itu dan mengakhiri hubungan mereka. Tapi semua malah tak berjalan sesuai rencananya. Putra hampir saja meninggalkan kamar remang itu, sebelum kemudian ia teringat sesuatu dan berbalik. Menghidupkan lampu dan menatap sebuah noda merah di tengah sprei putih itu. Tanpa pikir panjang ia langsung menarik kain putih itu, mencari paper bag atau apapun yang bisa ia gunakan untuk membawa barang itu tanpa menimbulkan kecurigaan atau perhatian orang yang melihatnya. Lalu melangkah keluar sembari menahan pening di kepalanya akibat efek alkohol yang masih tertinggal. *** "Dev, nggak papa kita sampai begini?" Sudah dini hari dan mereka sedang dalam perjalanan dari hotel tempat mereka menghabiskan malam panas mereka. Setelah sebelumnya happy-happy di klub malam bersama kawan-kawan mereka yang lain. "Kita cuma happy-happy ya, Wa. Nggak lebih." Devina sedikit lemas akibat efek alkohol sekaligus malam panas yang ia lalui bersama Dewa. "Iya. Aku juga tahu kalau itu, Dev. Aku cuma takut dibunuh aja sama Putra." Dewa melirik wanita cantik yang nampak terduduk lesu di sampingnya itu. "Putra nggak bakalan tahu, selama kita berdua tutup mulut." Devina menjawab ketus. Akhir-akhir ini ia terlalu kebablasan hingga berakhir di ranjang bersama Dewa. Salah satu teman dekat prianya yang nyaris dua tahun ini ia jauhi. Karena Putra tidak mengijinkannya berteman dengan pria manapun. Putra Prabaskara itu sempurna. Tampan, mapan dan selalu menuruti apapun yang ia mau. Hanya satu kekurangannya, yakni, pria itu super posesif, terlalu mengekangnya. Bahkan pria itu mengatur pertemanannya. Bukan hanya teman pria yang musti ia jauhi. Teman wanitanya pun diseleksi dan yang menurut pria itu membawa pengaruh buruk. Harus ia jauhi. Dan sepertinya hanya Putri satu-satunya teman yang lolos seleksi dan tak pernah Putra komplain sejauh ini. Nyaris dua tahun hubungan mereka ini, Devina berusaha mencuri-curi kesempatan untuk bisa bermain-main di luar. Tapi lebih seringnya ia patuh. Hingga lamaran dari pria itu membuatnya menggila. Tentu ia bahagia dengan lamaran itu. Sedang yang ia lakukan akhir-akhir ini hanyalah sebatas party, perpisahan dengan kesenangan dunia malam. Karena setelah menikah dengan Putra nanti. Devina tidak yakin bisa menikmati kebebasannya. Hanya saja memang harus ia akui bahwa ia kebablasan akhir-akhir ini. Biasanya ia hanya sampai mabuk tidak sampai melakukan seks seperti yang terjadi beberapa hari terakhir. "Putra tahu kalau kamu ... nggak perawan lagi?" tanya Dewa hati-hati. Bukan apa-apa, tipe pria seperti Putra biasanya akan mempermasalahkan hal semacam itu. Ia yakin seratus persen. "Dari awal aku udah bilang, kok, kalau aku nggak perawan. Dia itu cupu dan cinta mati sama aku, Wa. Dia bakalan terima aku apa adanya," ucapnya dengan tawa jumawa. "Serius, Dev?" tanya Dewa takjub. "Hemm." Devina mengangguk dengan senyum tipis. Putra bisa menerima keadaannya, karena ia mengatakan bahwa ia mengalami pelecehan seksual saat remaja. Dan semudah itulah Putra percaya pada kebohongannya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu ia takutkan. Pria itu sudah ada dalam genggamannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook