Semilir angin menggoyangkan anak rambut gadis yang kini berjongkok memandangi batu nisan yang tersemat dua buah nama. Kemudian, tangan kananya terulur untuk menaburkan bunga untuk nyekar dan menyiramkan sebotol air agar tanah yang mengubur dua jasad orang tuanya tidak kering. Meski kematian mereka telah berlalu, air mata gadis itu selalu saja menggenang. Banyak hal yang sebenarnya ingin dia ceritakan, tentang pernikahannya, tentang dirinya, hingga tentang wanita yang selalu bersemayam di hati suaminya. Hani menengadahkan kedua tangan, memanjatkan doa kepada Sang Pencipta, hingga kristal bening di pelupuk mata bulatnya tidak dapat dibendung lagi. Diciumnya pusara kedua orang tuanya seraya menarik garis senyum tipis. Dihapus air mata yang masih mengalir dengan tangan kiri lalu berkata, "Maa

