BAB 1

1184 Words
    "Ngapain lo mandangin poster orang jinjit sampae mau keluar matanya gitu?" Desti mengerucutkan bibirnya sambil menatap Dewa kesal.     "Ini tuh namanya gerakan pointe work gak gampang buat sampai ke tahap ini. Usianya minimal 11 tahun untuk meminimalisasi cedera. Walau sangat menyakitkan, tapi terlihat sangat anggun dan elegan. Filosofinya untuk menampilkan yang terbaik, harus disertai usaha yang keras." Dewa mencibir penjelasan Desti yang tidak dia mengerti sedikitpun.     "Alahh jinjit begitu doang mah gue juga bisa." Ujarnya pongah. Desti langsung mendaratkan pukulan tepat di kepala sahabatnya yang sok tahu itu, menggunakan berkas kantor yang sedang dipegangnya. Membuat Dewa mendengus kesal sambil mengusap-usap bagian yang terkena pukulan.     "Ini bukan sekedar jinjit. Untuk melakukan pointe work dibutuhkan dukungan seluruh badan. Termasuk otot kaki dan otot perut. Karena itu latihan dan pemanasan sangat penting. Orang yang kerjanya molor kaya lo mana bisa." Ujar Desti menggebu-gebu. Saat ini mereka sedang berada di salah satu mall dekat kantor. Kebetulan jam isyirahat dan mereka sedang bosan makan di kantin. Sekalian mencari suasana yang lebih mendukung untuk sedikit membahas pekerjaan yang sesikit rumit.     "Sok tau lo, kaya lo bisa aja. Gue yakin kalau libur juga kerjaan lo cuma molor sambil nonton spongebob kan?" Desti tersenyum tipis menanggapi kalimat Dewa. Menghembuskan nafasnya perlahan mengurangi sesak yang tiba-tiba saja menyerang dadanya.     "Balik kantor yuk, 15 menit lagi masuk." Ucap wanita itu sambil melirik arloji mungil di pergelangan tangannya. Dewa mengangguk sambil mengikuti langkah sahabatnya itu menuju parkiran.     "Eh, meeting nanti siang batal yah?" Ucap laki-laki itu begitu mobilnya berhasil keluar dari parking area. Membuat Desti mengerutkan dahinya bingung.     "Kata siapa lo?" Ucap wanita itu tidak percaya.     "Makanya punya handphone jangan cuma buat stalking mantan aja di Ig. Baca tuh grup kantor." Desti meringis sambil membuka handphone yang sejak tadi didiamkan di dalam tas.     "Yahh beneran batal yah?" Ucap Wanita itu kecewa.     "Gue sih seneng, gak perlu nahan ngantuk dengerin materi meeting. Lo pasti kesel yah gak bisa pandangin tuh boss duda sampai puas? Dasar genit lo." Kalimat Dewa sontak melahirkan lirikan permusuhan dari seseorang di sebelahnya.     "Tau darimana lo pak Dika duda? Sok tahu." Ujar wanita itu tidak terima.     "Lah! Apa sebutanya buat laki-laki yang punya buntut tapi gak punya istri?" Desti mendengus.     "Biarin, duda tapi masing gantengan dia daripada lo?" Wanita itu memeletkan lidahnya sengaja membuat Dewa kesal.     "Ganteng juga gak mungkin lirik lo." Balas laki-laki itu dengan senyum menyebalkan.     "Biarin! Nanti juga lama-lama suka." Dewa mencibir.     "Ngimpi aja terus sampai lebaran monyet bubar!" Desti tertawa mendengar pilihan kalimat yang diucapkan sahabatnya itu.     Mereka saling melontarkan kalimat aneh hingga tanpa terasa mobil yang mereka naiki berhenti di parkiran kantor. Dan sesuatu di depan sana, sangat sukses membuat Desti yang tadi sedang tertawa Terbahak mendengar lelucon Dewa, Diam membisu tanpa mampu bersuara. Begitu juga dengan Dewa yang juga langsung mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus.     "Des, itu kan..."     "Sssttt... Jangan berisik!" Potong Desti cepat.     "Wah parah banget sih" Ujar laki-laki itu menanggapi.     ***     "ta ta ta ta ta ta.." Suara celotehan Regarta memenuhi seluruh ruangan Dika. Laki-laki itu sedang berkutat dengan tumpukan pekerjaan dihadapanya sambil sesekali tersenyum menanggapi bocah gembul yang sedang asik bermain dengan squishinya itu.     Drttt.. Drtttt..  Getaran ponsel di laci meja membuatnya berhenti sejenak dari berlembar-lembar grafik dan diagram yang sedang di telitinya.     "Halo Jun ada apa?" Ucapnya. Seseorang diseberang sana tampak ragu untuk mengutarakan maksudnya.     "Apaan sih lo am emm amm emm aja dari tadi " Ucap Dika gak sabar.     "Lo udah tahu belum kalau si Fika mau nikah?" Deg! Seperti ada yang meremas jantungnya. Hari ini adalah tepat enam bulan mereka putus. Atau lebih tepatnya Dika diputuskan oleh Fika. Dan selama hari-hari panjang itu, tidak pernah sedikitpun laki-laki itu mampu mengenyahkan bayangan Fika dari hatinya. Lalu sekarang! Mendengar kabar itu rasanya seperti tertimpa gedung pencakar langit.     "Udah, kenapa?" Ujar laki-laki itu berbohong. Juno terdengar menghembuskan nafasnya lega.     "Huh! Gue fikir lo belum tahu. Syukur deh lo keliatannya biasa aja. Lagian yah Dik cewek kaya Fika gak pantes juga lo galauin." Dika terkekeh dibuat-buat.     "Iya lah gue bisa dapet yang lebih dari dia." Ucap laki-laki itu sombong. Nyatanya seumur hidupnya hanya pernah ada Fika. Tidak pernah ada wanita lain. Begitupula setelah mereka putus hingga saat ini. Tidak pernah terfikir di benak Dika untuk cepat-cepat mencari pengganti Fika. Tapi lihatlah wanita itu! Dia sudah mau menikah. Secepat ini? Luka di hati Dika bahkan belum kering.     "Nah gitu dong. Jadi cowok tuh jangan lurus-lurus banget. " Ujar Juno sambil tertawa.     Tok.. Tok..tok..     "Eh ada yang ngetuk pintu gue tuh, nanti gue telpon lagi yah?"     "Siyapp pak Manajer!" Dika tersenyum mendengar nada geli dalam kalimat juno. Laki-laki itu memang senang sekali meledek Dika dengan sebutan itu semenjak dia menduduki posisi manajer keuangan di perusahaan cabang milik kakak iparnnya itu.     "Masuk!" Ucap Laki-laki itu tegas. Terlihat salah satu staff dari keuangan memasuki Ruanganya. Dika tidak begitu ingat namanya karena dia merupakan karyawan yang tergolong baru. Tapi yang Dika tahu, wanita itu sedikit genit dan centil. Serta make upnya sedikit berlebihan. Membuat laki-laki itu berfikir bahwa karyawanya itu pasti memiliki lebih dari satu pacar di luar sana. Semua wanita nyatanya sama saja. Fika yang berpenampilan sederhana dan keliatan baik-baik nyatanya mampu mematahkan hati Dika hingga berkeping-keping. Apalagi wanita yang penampilannya seperti karyawan dihadapanya itu? Pasti lebih parah. Dika mengucap doa dalam hati, semoga saja dia senantiasa di jauhkan dari wanita jahat yang begitu banyak berkeliaran di muka bumi ini.     "Pak ini lap...-"     "Taruh saja di meja dan silahkan keluar." Potong laki-laki itu tegas. Tanpa menoleh sedikitpun. Pandangannya bahkan masih tertuju pada grafik dihadapannya. Seolah lebih menarik dari wanita cantik yang sedang merengut kesal karena sikap cueknya itu.     "Baik pak, permisi." Setelah mendengar suara pintu tertutup, Dika menghebuskan nafasnya lega. Laki-laki itu tidak bodoh. Dia tahu persis bahwa karyawan genitnya itu menaruh hati padanya dan selalu saja berusaha untuk menggodanya. Karena itu, secara terang-terangan laki-laki itu menunjukan sikap penolakan. Mengantisipasi ada sumber patah hati lain selain Fika. Mendirikan dinding kokoh untuk menjaga hatinya. Memastikan bahwa perasaanya tidak lagi jatuh pada orang yang salah. Tanpa sedikitpun ingat bahwa sang pemilik alam semesta, punya sejuta cara untuk membolak-balikan hati manusia.     "Wanita jaman sekarang lebih bahaya dari serangan nuklir korea utara." Gumamnya. Entah pada siapa. Mungkin saja untuk dirinya sendiri. Mencoba mengingatkan kembali bahwa Wanita adalah makhluk yang perlu di waspadai. Separah itulah efek patah hati yang dirasakan Dika. Mungkin bisa saja disebut pobia. Atau bisa juga dibilang jera. Tanpa sedikitpun ingin mencoba, mungkin saja setiap jiwa memiliki cara mencintai yang berbeda. Terserah jika semua orang menganggapnya cengeng. Nyatanya Yang merasakan bagaimana sakitnya adalah dika seorang Diri. Orang lain hanya mencibir tanpa sedikitpun ingin memahami.     "Halo Janis!"     "Iya pak!" Sekertarisnya itu memang sangat cekatan dalam menerima panggilan dari Dika. Kurang dari 10 detik.     "Siapa Nama staff keuangan yang baru masuk ruangan saya?" Dahi Janis tampak berkerut. Pasalnya bossnya tidak pernah sekepo ini terhadap karyawanya.     "Desti pak, ada masalah pak?" Ujarnya penasaran.     "Nggak papa, cuma tanya" Setelahmya terdengar nada telpon diputus sepihak.     "Baiklah, jadi Namanya Desti." Laki-laki itu tidak sadar bahwa dia baru saja melakukan hal yang diluar kebiasaanya. Dengan alasan Klise bahwa seorang boss harus mengenal karyawannya. Membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ada sedikit ketertarikan yang sedang coba di sangkalnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD