Bab 15. Patah Hati Sebelum Mencintai

1525 Words
Sean menatap tajam wajah Sally. Terlihat dari caranya menatap Sally memberitahu kalau ia tidak suka Sally terus membahas tentang Mira yang memang tidak ada hubungan dengannya sama sekali. Apalagi soal gosip antara dirinya dengan Mark. "Mau aku buktikan kalo gosip itu salah?" Tantang Sean dengan seringai tersenyum membuat Sally bergidik, kondisi jantung berdebar antara merasa bersalah atau perasaan aneh yang ia rasakan saat hembuasan nafas Sean terasa begitu dekat di bibirnya yang membuat darahnya berdesir bertatapan sedekat ini mengalir sampai terasa aneh di perutnya terasa. "Ish, apaan sih kamu. Minggir…" Sally mendorong Sean mundur, kulit putih wajahnya berganti kemerahan membuat Sean tersenyum gemas melihat reaksi gadis ini. Untung saja pelayan restoran masuk membubarkan obrolan mereka yang berakhir dengan rasa canggung Sally. Sambil menikmati makanan Sally diam sambil mendengar Sean banyak bercerita tentang dirinya. “Aku sudah pernah bilang kalau aku dan Mark sama seperti kamu dan Ceri. Kami cepat akrab setelah kenal dan dia satu-satunya teman yang tulus menurut aku selama ini. Aku dan Mark sudah sahabatan sejak lama sampai sekarang dan dia selalu ngikutin aku. Nanti Mark juga bakalan kuliah bareng sama aku di Amerika, Ceri pasti sudah kasih tahu kamu kan.” Sally mengangguk sambal mengunyah sashimi salmon di dalam mulut. Rasanya sudah lama sekali tidak menikmati makanan semewah ini. Dulu pernah makan bersama Papa Raka itupun sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan istri pertamanya. Bagi Sally makan di tempat mewah bukan hal mengagetkan, namun sejak Briana mulai bersikap keterlaluan pada Carol, Raka mulai mengalah karena kalau terus bersikap keras kepala maka yang akan menerima akibatnya adalah Carol dan Sally. Itu sebabnya Carol dan Sally tidak pernah lagi makan bersama Raka bertiga saja. Sedangkan saat acara keluarga, Briana menyuruh Carol dan Sally bersembunyi di kamar mereka agar tidak membuat malu dirinya dan Dania. “Sebenarnya aku mulai tidak bersemangat ke Amerika tapi semua sudah diatur dan aku ngak mungkin mundur.” “Bisa diterima di universitas disana itu ngak mudah loh. Jangan disia-siakan kesempatan itu.” “Hem, aku tahu. Tapi kalau ngak ada kamu nasib aku gimana? Tiap malam sudah terbiasa ngobrol sama kamu, sedangkan disana nanti pas aku malam kamunya belum bangun, pas aku pagi disini sudah malam. Kangen juga susah kan mau video call nanti sulit cari waktunya.” Ucap Sean panjang lebar sambil terkekeh cengengesan. Inilah yang dimaksud hubungan tidak lazim Sean dengan Sally. Percakapan setiap malam via telepon itu selalu didominasi dengan Sean yang lebih banyak bercertita. Padahal di sekolah sikap keduanya seperti orang yang tidak terlalu dekat meskipun belakangan ini mereka sering makan saat jam istirahat sekolah bersama Mark dan Ceri tentunya. Bedanya kali ini Sally langsung melihat wajah Sean ketika berceloteh dengan segala banyolan konyolnya disertai tawa renyah yang baru kali ini dilihatnya. Biasanya hanya ia dengar saja setiap malam. “Kita ke tempat lain yuk.” “Kemana?” “Pokoknya ikut saja deh.” Setelah makan, Sean mengajak Sally ke sebuah toko perhiasan membuat gadis itu bingung. "Kita mau ngapain ke sini?" "Tolong bantu aku mencarikan sebuah gelang untuk pacarku nanti." Terkejut hingga tidak mampu bereaksi, Sally mencoba untuk terlihat biasa saja. Padahal hatinya seperti tertimpa batu, berat disertai rasa kecewa mendengar perkataan Sean.Tiba-tiba paru-parunya seperti kekurangan pasokan oksigen, sesaknya sampai ngilu tembus ke belakang. Benar kan dia sudah salah mengartikan sikap manis Sean terhadapnya selama ini. Bagi Sean dirinya hanya teman dekat atau mungkin teman nyaman diajak bicara. ‘Jadi gua hanya teman mengobrol saja baginya. Bego banget loe Sal, sok ke ge-er an. Tahan jangan bete sekarang, loe mesti nyari gelang dulu buat pacar Sean. Siallann…" Batin Sally merutuki kebodohan dirinya. Sean menengok ke belakang menatap Sally yang masih diam terpaku dekat pintu masuk toko perhiasan itu. "Sal, kok diam. Kamu mau kan bantu aku cari kan. Ehm, soalnya kamu kan cewek, jadi pasti tahu lah selera sesama cewek. Dan aku nurut selera kamu saja, pilihan kamu pasti bagus dan berkelas. Ayo…" Sambil menarik tangan Sally mendekati etalase perhiasan keduanya pun duduk. "Kalau aku boleh tahu, pacar kamu tipe nya gimana? Jadi aku bisa pilihin sesuai karakternya." Sally menjawab mencoba bersikap tegar bahkan lebih sering menunduk seolah sedang memilih barang menyembunyikan reaksi bodoh karena matanya sering berkaca-kaca menahan rasa kecewa. "Ngak beda jauh dari kamu sih,Sal. Dia manis, cantik, periang kalau sama aku dan teman dekatnya saja, suka ceplas-ceplos dan ngak materialistis juga serta baik hati dan tidak sombong." Tuturnya dengan candaan di akhir pura-pura tidak menyadari perubahan sikap di wajah gadis pujaannya itu. Sally membayangkan sosok perempuan pujaan Sean pasti seperti putri kerajaan terlebih Sean bercerita dengan wajah terlihat seperti sedang mengagumi gadis itu. Sally pun menerka-nerka siapa gadis itu apakah masih satu sekolah atau di sekolah Sean dulu. Sikap misterius Sean di sekolah selama ini sudah pasti tidak akan ada yang tahu seperti apa Sean dulunya. Jadi tidak heran kalau mungkin dia punya pacar sejak SMP. Bisa jadi kan. Bahkan kini Sean sengaja berdiri tepat di sebelah Sally hingga lengan Sean dan bahu Sally saling bersentuhan mengingat tinggi Sally hanya sampai leher Sean saja. ‘Ngapain juga duduk nempel gini, udah tahu punya pacar. Dilihat pacarnya nyaho dia, eh… jangan deh nanti gua dikira selingkuhan dia lagi. Hais… Coba kalau belum punya pacar, pasti berbunga-bunga ditempel begini. Hidup gua tragis amat sih.’ Gerutu Sally berpura-pura tidak menyadari kedekatan mereka berdua. Sengaja Sally bergeser memberi jarak seolah yang dilakukannya terlihat natural demi keselamatan jantung dan otaknya yang mulai tidak waras namun Sean malah ikutan bergeser menempel dengan wajah tidak bersalahnya malah tersenyum menatap etalase gelang yang sedang mereka lihat. Mata Sally tertuju pada sebuah gelang putih dengan lambang melingkar seperti angka delapan tiduran. Telunjuknya menunjuk dari atas kaca display gelang pilihannya. "Ini, aku yakin dia pasti suka, Sean." "Kalo kamu dikasih ini suka ngak?" Sean mencoba memastikan kembali membuat Sally mendelik kesal. "Ck kamu gimana sih. Kan aku yang pilih, kalau kata kamu dia mirip aku pasti dia suka karena aku suka lihat sama lambang ini. Kata orang artinya infinity atau keabadian. Jadi aku ikut mendoakan biar hubungan kamu sama pacar kamu abadi." Ucap Sally bertentangan dengan isi hatinya. "Gelang ini hanya ada satu saja dan sengaja dibuat satu saja, karena memang diukir spesial untuk orang spesial. Dan ucapan pacar kamu ini betul sekali, keabadian memiliki arti agar cinta yang memakainya untuk selamnya.” Kata pelayan toko tersebut. "Andai ada dua, aku minta mama bantu nambahin tabungan aku buat nambahin kurangnya." Sahut Sally sambil mendesah sengaja menyiratkan rasa kecewanya dengan membawa nama mamanya sebagai alasan. "Baiklah saya beli ini." Seakan tidak menghiraukan gerutuan Sally soal gelang yang sudah dipilihnya, Sean malah meminta pelayan toko membungkus pesanannya dengan kotak spesial. Sean membayar dengan kartu debit ditangannya. Untuk harga gelang tersebut bagi seorang pelajar pasti sangat mahal dan mewah tapi Sean membayarnya tanpa ragu. Dilihat dari sisi pengorbanan harus menguras uang tabungan sebanyak itu sudah pasti Sean sangat mencintai pacarnya itu. Pupus sudah harapan sally, patah hati sebelum boleh mencintai. Ingin rasanya Sally pamit pulang saja sekarang kalau memikirkan sakit hatinya tapi Sean pasti akan menaruh curiga tentang perasaannya dan Sally tidak ingin sampai Sean tahu. Mereka kembali ke mobil setelah Sean mendapatkan barang yang diinginkannya. Sally hanya diam memandang kosong ke depan, rasanya malas sekali menunggu sampai malam tiba. Dalam hatinya apa berpura-pura sakit saja biar cepat diantar pulang ke rumah. “Sal, habis ini kita ke pantai yah.” Terkejut dengan tempat tujuan selanjutnya, Sally menoleh menatap Sean. “Ke pantai? Mau ngapain disana? Jam segini mah panas, Sean.” Tanya Sally mengernyit. Bukannya apa, kalau bisa inginnya pulang saja ke rumah sekarang. ‘Jangan bilang kalau sekarang dia mau aku mencarikan spot terbaik buat ngasih gelang ini ke pacarnya. Aduh apa aku bilang lagi dapat bulanan aja yah biar Sean nganterin pulang ke rumah. Malas banget sih dijadiin konsultan percintaan dia.’ Gerutu Sally tanpa sadar bibirnya ditekuk. Pasti setelah ini Sean akan mulai bercerita tentang hubungannya dengan sang pacar. Sudah patah hati, naas harus memilihkan gelang untuk pacarnya dan sekarang harus mendengar sesi curhatan Sean. Sally hanya takut tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya nanti dihadapan Sean. “Lihat sunset lah. Udah mau sore kan pasti bagus banget langitnya. Katanya sunset hari ini bagus warnanya kemerahan dan jarang terjadi. Mau yah…” Gelang yang dibeli tadi Sean masukkan ke dalam saku kemejanya. Pria itu menyalakan mobil tanpa memperhatikan wajah cemberut Sally ataupun memberi kesempatan Sally untuk protes. Bahkan gadis itu diam sepanjang jalan menuju pantai. Tersirat tatapan sedih di dalam lamunannya menoleh ke jendela samping. ‘Aku tidak boleh kecewa dan sedih. Dari awal aku sendiri yang bilang ngak mau pacaran, tapi kenapa juga Sean bersikap manis ke aku kalau dia punya pacar kenapa juga bukan pacarnya yang dia telepon setiap malam. Sekarang dia minta aku milih gelang buat pacarnya kenapa aku merasa kayak dipermainkan gini sih. Apa pacar Sean juga sedih pisah sama dia nanti atau jangan-jangan mereka bakalan sama-sama kuliah di sana. Hais… Naas banget nasib kamu, Sal.. Sal..’ Ujarnya bermonolog dalam hati sambil menghela nafas sedalam mungkin. Sean melirik Sally yang sedang cemberut hanya mengulum senyuman menantikan kejutan yang akan ia berikan pada wanita yang sudah mengisi hatinya sejak awal bertemu. Bukannya tidak menyadari raut kekecewaan di wajah Sally tapi memang itu tujuannya hari ini demi kejutan di pantai nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD