Sally benar-benar bingung harus menanggapi sikap Sean seperti apa. Hubungan mereka melebihi dari teman hanya saja tidak tepat kalau dibilang bersahabat kalau sikap dan perlakuan Sean kepadanya semanis gula. Pacaran juga bukan karena Sean tidak pernah mengungkapkan rasa sukanya meskipun sudah beberapa bulan mereka selalu berkomunikasi dengan cara yang sedikit kurang lazim. Dan sekarang Sean memintanya untuk menunggu dirinya sampai selesai kuliah supaya tidak dekat-dekat dengan pria lain. Hal ini sudah diluar batas kewajaran sebuah perteman ataupun persahabatan. Bahkan teman tapi mesra saja masih boleh berdekatan dengan pria lain.
“Halo… Sally… Kamu masih disana kan? Kok ngak ada suaranya.” Tanya Sean meragu dengan debaran jantung menggila. Dia sangat sadar apa yang diucapkan barusan pada Sally adalah hal tergila dan ternekat yang pernah ia lakukan seumur hidupnya pada seorang gadis.
"Eh iya! Sori soalnya aku bingung sama kamu Sean.”
“Bingung kenapa?”
“Maaf kalau pertanyaan aku ini agak berani ke kamu. Sebenarnya aku ini siapa buat kamu sampai kamu bilang begitu sama aku? Menurut aku kamu juga ngak berhak untuk ngatur aku berteman sama siapa juga kan. Aku juga sama ngak berhak ngatur kamu soal berteman. Di Amerika nanti juga aku ngak akan tahu kamu berteman sama siapa begitu juga sebaliknya."
Sally memberanikan diri memancing Sean untuk memperjelas hubungan mereka. Rasanya aneh saja dia tidak boleh bergaul dengan cowok lain padahal dirinya dan Sean bukan sepasang suami istri yang harus menjaga diri. Meskipun mereka pacaran pun Sally merasa masih berhak untuk menentukan dengan siapa dia boleh berteman.
"Sebelum masuk sekolah, aku mau ngajakin kamu makan siang. boleh? Tenang saja, aku bakalan minta ijin sama mama kamu langsung."
Bukannya mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Sally malah dikejutkan dengan ajakan Sean sampai harus datang meminta ijin. Tentu saja dia kaget, seumur-umur belum pernah ia bercerita menyukai cowok pada sang mama.
"Hah!! Ke rumah?"
"Aduh, Sally. Jangan teriak dong, kupingku sakit ini."
"Yah maaf. Tapi mau ngapain juga sih? Nanti juga masuk sekolah bisa ketemuan ngobrol di kantin. Ngak perlu pakai acara ijin ke mamaku. Gila kamu ih! Mau dimarahin sama mama aku trus aku dipindahin sekolah gara-gara ada cowok datang ke rumah. Kamu lupa aku belum punya KTP, Sean."
"Yah pas masih liburan dan aku cuma mau ajak kamu makan siang, ngak salah kan. Lagian kamu masih di bawah umur, tentu saja aku harus ijin sama mama kamu dong. Ngak sopan kalau janjian diluaran sembunyi-sembunyi."
Mendengar penuturan Sean yang benar adanya membuat Sally dihargai, setidaknya kalau mamanya tahu pun Sean pasti tidak akan berani berbuat macam-macam. Hanya saja Sally ragu dengan reaksi mamanya nanti. Baru saja dibahas ternyata orangnya datang mengetuk pintu.
“Ehm oke, kamu minta ijin sama mamaku sekarang saja kebetulan dia baru masuk kamarku nih." Ucap Sally dengan polosnya ketika Carol mengetuk pintu dan masuk membawakan segelas air putih.
“Boleh mana aku ijin saja sekarang.”
Sedangkan Carol terperanjat mendengar putrinya menyebut tentang dirinya soal ijin kemudian Sally menyodorkan ponselnya pada sang mama. Dengan berbisik Carol bertanya pada Sally.
“Siapa?”
“Sean teman Sally mau ijin ngajak aku pergi. Mama jangan marahin dia yah.”
Sambil menyeringai tersenyum dengan mata mendelik Carol menerima ponsel tersebut. "Halo, siapa ini?"
"Ha-hallo, Tante, saya Sean teman sekolah Sally." Sapa Sean yang ternyata berhasil membuatnya gugup seketika mendengar suara mama-nya Sally.
"Oh, jadi ini Sean yang sering ngobrol sama Sally"
Deg.... Sean dibuat terkejut mendengar perkataan Carol yang artinya Sally sudah bercerita pada sang mama tentang dirinya. Sedangkan Sally ikut terkejut dengan mata melotot pada Carol berpikir apa selama ini mamanya sudah tahu dia sering mengobrol dengan Sean setiap malam.
"Iya Tan, gini aku mau minta ijin mengajak Sally makan siang besok, sebelum jam tujuh sore saya akan antar pulang lagi. Boleh Tan?"
"Tante terserah sama Sally, kalau dia mau ngakpapa asal kamu janji tidak berbuat macam-macam sama Sally."
"Baik Tante, terima kasih. Aku janji ngak akan macam-macam kok, suer deh." Sambil menjulurkan dua jarinya ke atas meskipun tidak ada yang melihat sikapnya.
Carol tersenyum sambil mengembalikan ponsel tersebut pada Sally.
“Jam tujuh sudah harus di rumah.” Ucap Carol perlahan pada Sally kemudian keluar kamar sambil tersenyum.
Ada satu rasa senang dalam diri Carol melihat bagaimana Sean menghargai putrinya dan juga bangga pada Sally yang berusaha berterus terang tentang apapun kepadanya. Setidaknya pengalaman pahit mereka saat tinggal bersama Bianca dan Dania mulai dilupakan putrinya. Meskipun usia putrinya belum boleh berpacaran namun pemikiran Carol yang modern membuatnya mengijinkan terlebih putrinya bersikap jujur dan prianya juga tidak main belakang bersembunyi mengajak Sally pergi tanpa sepengetahuannya.
"Sal, mamamu tahu tentang aku?” Sean bertanya dan sedikit malu melanjutkan percakapan mereka seiring degupan jantungnya yang sudah kembali normal.
"Aku sama mama itu dekat banget. Semuanya pasti aku cerita ke mama. Cuma dia teman bicara aku, kenapa? Kamu keberatan?” Ucap Sally berbohong sengaja agar Sean tidak berani macam-macam kepadanya.
"Oh, ngak kok. Bagus malahan kalau dekat sama orang tua. Lagian mendingan ijin sama mama kamu di rumah baru kamu yang sekarang daripada ketemu sama keluarga tiri kamu. Dengar dari cerita kamu saja aku sebel banget. Kamu sekarang sudah lebih tenang kan?” Tanya Sean sekedar mencari tahu tentang keadaan Sally setelah pindah dari rumah papa tirinya.
“Jauh lah, lebih tenang mau ngapa-ngapain juga. Mood tiap hari ngak dibanting-banting sama mama tiri dan Dania itu.”
“Baguslah, syukurlah aku juga ikut lega. Oke deh besok jam 11 aku jemput yah. Kita makan siang trus aku mau ajak kamu ke pantai sebelum sunset, jadi kamu jangan sampai salah pakai baju karena kita mau ke pantai juga."
"Oke see you."
Sally menjatuhkan tubuhnya rebah di atas kasur dengan tawa renyah merasa senang sekali. Baginya besok ajakan Sean seperti ajakan kencan dan kali pertama Sally merasakannya namun di sisi lain Sally juga merasa sedih kalau ingat sebentar lagi ia akan berpisah dengan Sean untuk menempuh pendidikan di Amerika.
Sabtu pagi Sally bangun, sarapan dengan ibunya dan mandi. Ia bersiap-siap untuk dijemput Sean bahkan ketika mendengar suara deru mobil, jantungnya semakin berdegub kencang.
“Sean bawa mobil? Kirain Mama naik motor.” Ucap Carol semakin lega setelah mengintip ke jendela.
Dengan sopan Sean berkenalan dan meminta ijin Carol yang tentu saja langsung di iyakan Carol. Saat bertemu dengan Sean, Carol merasa seperti pernah mengenal Sean tapi entah dimana.
Sean meminjam salah satu mobil milik ayahnya agar tidak ada yang melihat mereka jalan berduaan karena ia malas jika sampai harus bertemu teman sekolah mereka nanti meskipun dia sudah membayangkan naik motor berduaan dipeluk dari belakang oleh Sally.
Dalam perjalanan keduanya nampak canggung bingung harus mulai pembicaraan tidak seperti waktu mereka bicara secara daring. Akhirnya Sally yang lebih dulu memulainya mengingat sifat Sean yang memang datar.
"Sean, kita mau makan di mana? Atau mau ke mall mana?"
"Kita ngak ke mall. Nanti juga kamu bakalan tahu."
Bingung dengan ucapan Sean, Sally langsung menoleh. "Eh kamu ngak rencana nyulik aku kan, kamu uda janji sama mamaku loh. Kalau ngak ngemall mau ke mana sih." Canda Sally namun wajahnya sengaja dibuat serius.
Sean tertawa mendengar sangkaan Sally. "Yah ngak lah, muka aku memangnya tampang penjahat yah. Ngak perlu securiga itu lah. Beneran ajak kamu ke restoran buat makan tapi ngak ke mall. Pokoknya spesial deh hari ini. Lagian kalau ngemall trus ketemu teman sekolah malas aku besoknya pasti jadi gossip." Tutur Sean seperti menyiratkan sesuatu dengan senyuman manisnya.
Sean mengajak Sally makan direstoran jauh dari mall, agar tidak terlihat teman lain. Dia risih dengan teman sekolah yang kerap menggodanya apalagi Mira yang selalu mengejarnya. Dan Sally sependapat dengan Sean soal yang satu ini. Mira memang sangat menjengkelkan, itu sebabnya dia selalu berusaha menghindar dari Mira jika sedang di sekolah.
Ternyata Sean mengajak Sally makan di restoran yang cukup jauh dari rumah mereka. Sebuah restoran jepang makan sepuasnya karena Sean tahu Sally suka sekali dengan sushi. Bedanya Sean sengaja memesan tempat private terpisah dari para pengunjung umum lainnya.
Bibir Sally tidak berhenti membulat mengagumi dekorasi ruangan ini. "Wow restoran ini keren banget Sean, aku ngak pernah ke sini pasti mahal banget deh. Padahal aku berharap kita makan makanan cepat saji di mall gitu, murah dan kenyang."
"Aku malas ketemu teman sekolah di mall, mendingan begini berdua lebih nyaman ngobrolnya ngak ada yang ganggu. Kamu mau makan banyak juga cuma aku yang lihat kok." Canda Sean menggoda Sally.
"Tau deh si cowok ganteng idola sekolah. Kamu tuh kayak artis tahu ngak, aku sering banget dengerin anak SMA semua kelas suka manggilin kamu gitu. Oh iya, kamu sering ke sini sama Mark dan Mira?"
"Sama Mark pernah. Soal Mira aku sama dia ngak pernah pergi berduaan, baru sama kamu saja kok pergi berduaan sama cewek." Jawab Sean mencoba mengoreksi pemikiran Sally tentang hubungannya dengan Mira.
"Loh, gosip di sekolah yang aku dengar itu kalau kamu sama Mira pacaran. Tapi kok aneh yah kamu ke tempat begini sama Mark. Apa jangan-jangan gosip para cowok di sekolah benar kalau kamu itu…."
“Namanya juga gosip, gonggongan si pendusta.” Uajr Sean membuat kepanjangan dari gosip yang membuat Sally tertawa.
“Tapi kadang aku sedikit percaya loh sama gosip tentang kamu dan Mark, soalnya kalian berdua tuh gimana gitu. Jangan-jangan Ceri cuma jadi pajangan status buat nutupin kekurangan kalian.” Ujar Sally yang sengaja menggoda.
Sean berdiri dan mendekati Sally lalu membungkukkan tubuhnya. Wajahnya menatap dekat Sally hingga hidung mereka hampir menempel padahal Sally sudah reflek mundur. Jangan ditanya semerah apa pipi Sally sekarang.