Bab 13. Menunggu Diriku

1521 Words
Hubungan curhat di malam hari antara Sean dan Sally terus berlangsung sampai tanpa terasa semester pertama tahun ini berakhir, setelah pengambilan rapot semua murid libur dan masuk kembali 2 minggu kemudian. Sean dan Sally juga semakin dekat dan mulai saling nyaman bahkan sesekali Sean berani meminta panggilan video dengan alasan rindu pada Sally sambil bercanda. Sedangkan Sally hanya bisa menerima perlakuan Sean sambil berusaha menahan diri untuk tidak terjebak dalam perasaan lebih dalam lagi pada Sean karena sampai sekarang Sean belum menunjukkan tanda-tanda untuk menjadikan Sally sebagai pacarnya. Mama Sean berencana membawa Sean ke Amerika untuk liburan dan menikmati salju disana sekaligus melihat universitas di salah satu kota tempat kampus kenamaan yang memang menjadi cita-cita Sean. Samuel, papa kandung Sean mendukung keinginan putra satu-satunya itu meneruskan kuliahnya di universitas pilihan Sean. Hanya saja liburan kali ini sedikit berat bagi Sean bahkan mulai menyesali cita-cita yang ia pilih dua tahun lalu. Sebagai anak dengan berbagai kemudahan fasilitas, Sean selalu menuruti nasihat kedua orang tuanya. Namun tetap saja masih ada kekosongan di hati Sean meskipun dirinya hidup dalam gelimang harta sang ayah. Semua karena status mama-nya yang pernah menyandang sebagai selingkuhan sang papa alias pelakor walaupun keadaan sebenarnya sudah dijelaskan oleh Samuel dan Reina. Hanya saja kehadiran mereka berdua diantara putri Samuel yang membuat jarak diantara mereka bertiga sebagai anak-anak kandung Samuel. Sean sendiri sudah mengikuti beberapa persyaratan tes masuk di universitas ternama di sana. Dan Sean diterima oleh dua universitas sekaligus. Maka dari itu, ayah dan ibu Sean membawanya ke Amerika untuk mencarikan tempat tinggal terdekat dengan kampus dan memenuhi kebutuhan Sean jika ia sudah kuliah nanti. Kedua kakak tiri Sean yang kebetulan juga kuliah di sana merasa senang. Siena kakak tertuanya sudah lulus lebih dulu dan Salma kakak keduanya sedang kuliah di tingkat akhir. Papa Sean sengaja mempertemukan seluruh anak-anaknya untuk liburan bersama karena Sean dan kedua kakaknya ternyata sekandung namun dilahirkan dari rahim yang berbeda. Ibu Siena dan Salma bernama Camila, Samuel dan istri pertamanya bercerai karena Camila kedapatan berselingkuh dengan mantan pacarnya waktu kuliah dulu bahkan Siena dan Salma sampai harus menjalani tes DNA demi meyakinkan Samuel bahwa dua anak perempuan dari pernikahannya dengan Camila adalah memang darah dagingnya. Samuel yang terpuruk kemudian jatuh cinta dengan Reina yang adalah sekretaris baru saat itu. Sikap lembut dan keibuan Reina membuat Samuel merasakan perhatian yang tidak pernah didapati saat menikah dengan Camila dulu. Reina muda pun jatuh cinta pada Samuel bahkan rela melahirkan Sean meskipun ia sendiri memilih menikah tanpa pesta demi menghargai kedua putri Samuel yang masih kecil waktu itu. Kakak tiri Sean awalnya tidak dapat menerima kehadiran Sean dan mama nya dan menuduh papa mereka sudah selingkuh lebih dulu dengan Reina sebelum bercerai dari mama mereka. Awalnya Siena dan Salma tidak mempercayai cerita papa mereka sampai mereka melihat sendiri Camila yang ternyata sudah menikah lama dengan pacarnya itu bahkan sedang hamil. Karena sikap sabar Reina yang tulus menerima mereka dengan tangan terbuka, akhirnya kakak tiri Sean menerima kehadiran mereka berdua. Sedang Sean merasa berbeda dari kedua kakaknya dan sering menyendiri bila sedang berkumpul dalam acara keluarga besar karena ia sering mendapatkan gunjingan tidak enak dari keluarga Samuel yang saat itu menentang perceraian Samuel dengan Camila tanpa tahu hal yang sebenarnya. "Sean, kamu akan mengambil jurusan apa? Mungkin aku bisa bantu merekomendasikan dosen pembimbing untukmu suatu saat nanti. Jangan sungkan buat bertanya sama aku loh." Tahu sifat adik bungsunya yang pendiam, Salma berusaha mendekati Sean memakai alasan bantuan untuk menciptakan percakapan antar saudara. "Akan aku pikirkan, Kak. Terima kasih tawarannya." Jawab Sean dingin tanpa menoleh sedikitpun. Melihat sikap datar Sean, Salma menghela panjang nafasnya. Sulit sekali meyakinkan adik tirinya ini bahwa mereka sudah bisa menerima Sean sebagai adik kandungnya sekarang. Dulu mereka juga masih terlalu kecil dan belum dewasa secara pikiran, itu sebabnya sering menuduh dan mengejek Sean sampai dia menangis. Tapi hebatnya Sean tidak mengadukan semua perkataan jahat mereka pada Samuel maupun Reina karena tidak ingin memperpanjang keributan. "Sean, jangan sungkan dengan kami berdua yah. Mungkin kita pernah bersikap buruk sama kamu dan Mama Rei, tapi itu dulu karena hasutan Mama Camila yang membuat kami membenci kalian apalagi waktu itu keluarga Papa juga ikutan benci jadi kami pikir memang Mama Rei yang salah waktu itu. Sekarang kita sudah dewasa dan tahu yang sebenarnya, kamu itu ngak salah. Kita juga ngak bisa pilih mau jadi anak siapa kan? Kalau dipikir kembali aku sama Salma malu rasanya sama perbuatan kami dulu." Giliran Siena bicara sambil menepuk bahu Sean mencoba lagi meyakini pria itu. Sean juga sudah melupakan rasa sakit dimasa kecilnya namun pembawaan dirinya yang memang irit bicara sulit untuk mengekspresikan dirinya dengan leluasa. "Sudahlah, yang lalu sudah berlalu. Aku juga tidak marah kok hanya belum terbiasa saja seperti ini." Sahutnya memberikan senyuman kecil. Setelah melihat dan mendapatkan tempat tinggal yang tepat, keluarga Sean melanjutkan liburan ke pulau Hawaii selama 4 hari dan kembali pulang ke Jakarta. Siena yang baru lulus ikut pulang ke Jakarta dan bekerja di salah satu cabang perusahaan Samuel memulai karienya dari bawah sebagai staf. Selama liburan Sean hanya mengirim pesan kepada Sally dan mengirim foto liburannya, tapi fotonya semua tidak ada wajah Sean hanya pemandangan saja. Yang membuat Sally terharu ditiap foto yang dikirim selalu ada tambahan kata "Andai ada kamu di sini temani aku." Sally bingung dengan sikap Sean, pria itu memperlakukannya dengan manis layaknya seorang pacar tapi Sean tidak pernah menyatakan perasaan suka ataupun memintanya menjadi pacar. Kalaupun hanya sebagai teman rasanya kelewat romantis dengan perhatian Sean.. Sally juga sudah mengetahui rencana Sean yang akan melanjutkan kuliah di Amerika. Satu sisi Sally sedih dan belum rela berjauhan dengan sean meskipun mereka hanya berteman namun sebagai anak dan pelajar ia harus fokus dengan pendidikannya. Inilah yang ditakuti Sally soal pacaran, perasaan sukanya pada Sean semakin besar namun ia juga tidak suka perasaannya digantung begini. Dan hal ini mulai menyita fokus belajarnya hanya untuk memikirkan hal-hal tentang Sean. Ponsel Sally berbunyi nama My boy friend tertera di layar. Senyuman gadis itu timbul seketika hanya melihat siapa yang menghubunginya. Bahkan hingga sekarang Sally enggan mengganti nama kontak yang disimpan Sean pada ponselnya itu seakan sedang mengiyakan apa yang ditulis Sean tidak peduli apa alasan Sean waktu pertama kali ia protes. Toh buktinya sekarang malah dirinya yang tidak rela mengganti nama kontak di ponselnya sendiri. "Halo.." "Hai, Sal, kangen ngak sama aku?" Tanya Sean tanpa basa-basi terdengar sumringah suaranya di telinga Sally. Sally tertawa setiap kali Sean menggombali dirinya. "Ditanya kangen kok malah ketawa. Jadi ngak kangen yah?" "Cuma merasa lucu aja sama kelakuan kamu tuh. Kalau di sekolah kayak ngak kenal sama aku, tapi kalau ditelepon gini kayak udah kenal aku lama banget. Lucu kan." Ledek Sally masih tertawa. Namun tawa Sally perlahan berubah jadi tegang ketika tidak ada tanggapan dari Sean membuat Sally kebingungan. "Sean, kamu marah yah?" Sally mulai merasa bersalah berpikir sudah menyinggung perasaan Sean. Namun beberapa detik kemudian gadis itu sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar suara tawa Sean. "Hahaha ada yang kena tipu, aktingku jago juga." Sean tertawa senang membalas Sally. "Ihh kamu yah, kirain beneran marah. Nyebelin banget sih." Terdengar suara Sally merajuk manja. "Lagian memangnya kamu mau lihat aku marah? Jangan deh nanti kamu takut lagi ngak mau dekat-dekat. Aku serem loh kalau lagi marah." "Kamu sudah pulang liburan?" "Hem, sudah tadi siang sampai." "Wah senang dong jalan-jalan di sana, sudah dapat tempat buat tinggal pas kuliah nanti?" "Sudah. Tapi ngak gitu menyenangkan buat aku soalnya ngak ada kamu yang nemani aku nanti. Aku khawatir sama kamu juga." Lihat kan, bagaimana Sally tidak merasa diistimewakan dengan ucapan Sean yang mengkhawatirkan dirinya. Sally sudah bercerita tentang kisah pahit hidupnya dengan sang mama, itu sebabnya aku khawatir sama kamu. "Ngak boleh gitu, Sean. Kamu harus bersyukur loh karena banyak yang liburan malah harus membantu orang tuanya bekerja cari uang. Aku contohnya nih sekarang harus bisa bantu mamaku memasak buat kateringnya. Kalau kamu tinggal nikmatin aja kan." Tutur Sally mencoba membuat Sean mensyukuri nikmat pemberian Tuhan kepadanya. Carol akhirnya memutuskan pergi dari kediaman suaminya daripada terus mendengar sumpah serapah dari mulut Bianca dan Dania setiap hari. Kini mereka tinggal berdua saja di sebuah rumah kecil dari uang tabungan Carol yang disimpannya. "Cerewet kamu kayak emak-emak." Seru Sean tidak terima dinasehati. "Biarin, siapa suruh begitu ngak ada bersyukurnya jadi orang." Keduanya pun tertawa setiap kali adu debat. "Sal, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Jawabnya harus jujur." "Nanya apaan sih? Serius amat?" Sally pun ikutan mode serius mendengar suara datar Sean balik lagi. "Kalau aku kuliah nanti, kamu mau tunggu aku?" Sally bukannya tidak mengerti maksud pertanyaan Sean. Hanya saja rasanya tidak lazim kalau harus menjawab pertanyaan itu sekarang. "Memang kenapa Sean? Aku kan tetap di sini lahwong masih sekolah kok. Kalau pas kamu pulang ke Jakarta masih bisa cari aku di sekolah." Sahut Sally setengah bercanda. "Ck, maksud aku, kamu ngak boleh dekat sama cowok lain selain sama aku. Gitu loh."Timpal Sean penuh penekanan gemas. Mendengar penuturan Sean, jantung Sally berdegub kencang. Apa maksud Sean sampai melarangnya bergaul dengan pria lain. Bukankah namanya egois, seenaknya saja mengikatnya tanpa status dan memintanya untuk menunggu sampai Sean selesai kuliah. Bahkan sekarang Sally sampai bingung harus senang atau justru sedih dengan permintaan Sean barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD